"Introspeksi, Ga.. Introspeksi.. Ini akibatnya kalau kamu nggak bisa menahan diri."
"Iya coach. Maaf."
"Maafin itu gampang, Ga. Konsekuensinya ini yang susah. Bukan cuma buat klub dan Timnas, tapi buat karir kamu sendiri." ujar Herry, pelatih Dirga, saat mereka berdua duduk di pinggir lapangan, usai latihan pagi. Dirga mencabut rumput di dekat kakinya sambil menggumamkan kata maaf berkali kali.
"Memang kemarin itu curang. Tapi bukan begitu juga cara kamu protes. Kamu kalau ngeliat kejadian kemarin bener bener kayak anak SD, Ga! Dan beratnya lagi, yang kamu pukuli itu wasit! Kalau sekedar pemain lawan, mungkin kamu cuma kena denda. Tapi ini? Wasit Ga!"
"Iya coach, saya salah." Dirga menghela nafas. Tangannya masih terus mencabuti rumput asal asalan.
"Kamu kenapa, Ga?"
"Ha? Apa coach?"
"Kamu itu kenapa?"
"Saya? Saya.. nggak kenapa kenapa coach.”
“Kamu punya masalah pribadi?”
“Nggak coach, nggak ada.”
“Saya tau kamu sedang ada masalah keluarga. Apa karena itu?”
“Ah, nggak coach, itu udah lama, lagian udah selesai juga masalahnya. Kejadian kemarin itu nggak ada hubungannya sama masalah keluarga saya coach.”
“Ya bagus kalau memang bukan karena masalah pribadi. Kamu harus profesional, Dirga. Jangan mudah terganggu. Jangan gara gara masalah pribadi terus prestasi kamu turun. Kamu itu masih dijajaran pemain terbaik. Harusnya kamu pertahankan. Kamu beruntung, klub masih mempertahankan kamu dan nggak menendang kamu keluar. Jangan sampai karena temperamen kamu itu kamu kehilangan kontrak dengan klub!”
“Iya coach.”
“Jangan pernah bertindak impulsif lagi di lapangan. Harus sabar. Sekalipun di curangi, kita bisa usut nanti. Jangan kamu lampiaskan kekesalan kamu dengan perilaku agresif di lapangan!”
“Iya coach. Maaf coach.”
Dirga terus menunduk dalam dalam. Sementara Coach Herry terus melihat ke arahnya dengan tatapan yang bisa diartikan perpaduan kesal dan kasihan.
“Sepanjang karir saya, baru kamu atlet yang saya latih yang disanksi larangan bertanding satu tahun! Satu tahun itu nggak sebentar! Tapi wajar, kamu tau, wasit Richard itu rahangnya sampai bergeser dan hidungnya patah. Setan apa yang merasuki kamu waktu itu. Tenaga kamu kuat banget. Butuh enam teman kamu yang menyeret kamu menjauhi wasit itu. Dirga.. Dirga..” Coach Herry geleng geleng kepala sementara Dirga terdiam, tak tau harus bereaksi seperti apa selain mengatakan iya, atau maaf.
“Ya sudah. Sekarang kamu introspeksi. Ini kesempatan kamu merenungi semuanya. Jangan sampai kejadian ini terjadi lagi.” Ujar coach Herry sambil berdiri dan hendak bergerak menuju ruang ganti.
“Iya coach.”
“Dan satu lagi. Jaga perilaku kamu di mana pun selama masa skorsing ini. Jangan gegabah, jangan cari masalah. Kamu masih dipantau, diawasi komisi disiplin. Kalau sedikit saja kamu membuat masalah, akibatnya bisa fatal. Kamu bisa kehilangan karir dan masa depan kamu sebagai atlet terancam. Jadi jaga betul betul perilaku kamu!”
“Iya coach.”
“Ya sudah, saya masuk dulu. Ingat baik baik semua kata kata saya tadi!”
“Baik coach, terimakasih.”
Coach Herry menepuk bagian belakang celananya dan membersihkannya dari sisa tanah dan rumput yang menempel, lalu berjalan menjauhi Dirga yang termenung seorang diri.
Dirga menyesal. Benar benar menyesal. Ia sama sekali tak ingin bertindak agresif seperti kemarin. Tapi kenapa ia seolah kehilangan akal sehat saat itu? Seolah ada sisi lain dalam dirinya yang membuat otaknya tak bisa berpikir jernih.
Saat itu ia sama sekali tidak bisa mengendalikan amarahnya dan kesulitan mengontrol diri.
Bagaimana kalau hal serupa terjadi lagi di luar kesadaran?
Dirga menggeleng gelengkan kepalanya. Menyingkirkan semua pikiran buruk yang tiba tiba saja membuatnya berprasangka terhadap dirinya sendiri..
***
“Abang mau keluar sebentar, Cuma di deket deket sini doang. Sama anak anak. Nyegerin pikiran, Na. Rasanya sumpek banget.” ujar Dirga sambil merebahkan diri ke atas kasur.
Ia tengah menelepon Airin. Dirga lega sekali, setelah pertengkaran terakhir mereka, Airin langsung meneleponnya keesokan harinya. Sama sekali tidak marah ataupun mengungkit pertengkaran mereka. Meski Dirga sangat menyesal sudah membuat Airin takut karena ia sulit mengendalikan amarahnya dan merusak mobilnya sendiri.
Saat Dirga minta maaf, Airin menjawab kalau ia sudah melupakan semua itu dan meminta Dirga untuk tidak lagi mengungkitnya. Dan setelah itu, Airin anehnya justru memperlakukan Dirga jauh lebih lembut dan perhatian.
“Sama siapa aja, sayang? Mau kemana emangnya?”
“Yang jelas sih Abang sama Prio. Kalo yang lain nggak tau nih, Sigit yang ngajakin. Katanya kami mau ditraktir di cafe yang baru buka itu, nggak jauh dari asrama. Katanya pengen cobain kopinya.”
“Cafe Orion? Yang dekat Butik Melva?”
“Iya, yang itu. Kan rame terus sejak launching. Anak anak penasaran pengen nyobain kopinya.”
“Ohh, ya udah. Hati hati aja ya, Bang. Di sana rame banget. Kalau rame gitu orang suka lebih sensitif dan cenderung mudah tersinggung.” Ujar Airin.
Bukan tanpa alasan Airin berkata seperti itu. Ia ingat semua penjelasan Nadya tentang penderita Intermittent Explosive Disorder. Mereka mudah sekali tersinggung dan pemicu kemarahannya bisa dari hal hal yang kecil dan secara tak sengaja. Ia khawatir, di cafe yang ramai itu ada saja hal kecil yang menyinggung Dirga dan memicunya untuk berperilaku agresif.
“Nggak lah. Kan Abang sama anak anak maunya have fun. Mood juga lagi bagus. Lagian kita cuma sebentar kok, ngopi ngopi doang terus pulang. Jangan terlalu khawatir ya Na.”
“Oke.. Yang penting abang hati hati terus ya..”
“Iya sayang. Ya udah Abang jalan dulu yaa..”
Dirga memutuskan panggilan telepon dan bergabung dengan teman temannya yang lain menuju cafe. Ia butuh menenangkan diri dan melupakan semua masalahnya.
Sementara di seberang sana, Airin masih terdiam di tempatnya duduk. Entah kenapa malam ini perasaannya tidak enak..
***
“Halo? Airin? Ada keributan di cafe Orion! Ini aku mau liputan ke sana! Katanya ada yang berantem dan dua orang luka parah! Ada yang dibawa ke IGD Rumah Sakit Harapan!” Egi menelepon Airin dengan nafas terengah engah.
“Hah? Cafe Orion, Mas?” Airin mulai panik. Bulu kuduknya meremang, jantungnya berdegup kencang.
“Iya. Cafe Orion di depan asrama klub bola. Aku telepon kamu karena dapet kabar kalau yang berantem itu atlet sepakbola. Memang ini masih belum jelas. Ini aku lagi ke sana. Udah mau sampai. Itu cafenya udah keliatan dari sini. Coba kamu cari tau ke Dir..”
“Itu Dirga, Mas..” potong Airin dengan suara bergetar.
“Hah? Apa Rin?”
“Itu pasti Dirga!”
“Bentar bentar.. Aku baru sampe di lokasi.. Tadi kamu bilang apa?”
“Itu...”
“RIN! DIRGA!” Suara Mas Egi terdengar begitu keras sampai Airin merasa telinganya berdenging.
“Airin! Dirga dibawa ke kantor polisi! Dia sendirian mukulin dua orang di cafe. Dua orang yang dia pukuli itu luka parah!”
Airin terduduk lemas mendengar kabar dari Egi. Firasatnya benar..
Ia tau Dirga akan terlibat masalah malam ini..