"Kamu kemana aja sih ditelepon kok nggak diangkat!" Bu Elsye langsung mengomeli Airin di detik pertama ia melihat batang hidung Airin.
"Makan siang!" jawab Airin acuh tak acuh.
"Ya bisa kan teleponnya dijawab!" Bu Elsye mulai kesal.
"Maaf, menjawab panggilan telepon saat makan siang bukan bagian dari job desk saya." jawab Airin dengan malas malasan.
"Kita dalam masalah!" tukas Bu Elsye terlihat sedikit panik.
"Kita? Kita siapa?" Airin balik bertanya.
"Kamu tau kan siapa yang saya maksud?" jawab Bu Elsye sambil merendahkan suaranya. Khawatir orang di sekitar mereka mendengar pembicaraan ini dan mencurigai mereka.
"Kenapa saya terlibat? Itu kan urusan kalian?" tanya Airin dengan nada ketus.
"Ikut saya! Kita bicara di tempat lain!" tukas Bu Elsye sambil menarik tangan Airin. Lebih tepatnya menyeret Airin agar mau mengikuti langkahnya menuju ke basement tempat mobilnya diparkir.
Tak lama kemudian, keduanya meluncur dengan kendaraan Bu Elsye menuju ke suatu tempat.
Mereka berdua sama sama diam. Airin malas mengajukan pertanyaan atau apapun pada Bu Elsye. Dia malas berdebat atau semacamnya. Apalagi kondisi Dirga akhir akhir ini menyita pikirannya. Membuat Airin makin malas dan lelah untuk sekedar melawan kata kata Bu Elsye.
Tapi melihat arah mobil meluncur, Airin menyadari kemana tujuan mereka. Dan dia langsung merasa kesal.
“Kita mau kemana?”
“Mas Nugi nungguin, dia mau ngomong ama kamu.”
“Yang saya tanya kita mau kemana, bukan ketemu sama siapa!”
“Ke tempatnya Mas Nugi! Di apartemen saya! Judes banget sih kamu? Saya ini atasan kamu! Nggak ada sopan sopannya kamu sama saya!”
“Maaf, saya cuma sopan dan hormat sama orang yang layak dihormati. Kalau sama orang bermoral rendahan yang kelakuannya macam sampah, untuk apa saya menunjukkan sopan santun?” ujar Airin sinis.
“Kamu!” Bu Elsye ingin memuntahkan semua makian ke telinga Airin. Tapi ia mengurungkannya. Selain karena ia takut Airin akan membalas dengan kata kata yang lebih pedas dan akan melukai harga dirinya, saat ini mereka juga sudah tiba di apartemennya.
“Mau ngapain orang itu ketemu saya?” tanya Airin saat mereka berdua sudah berada di dalam lift menuju unit apartemen Bu Elsye.
“Ada yang mau dibahas sama kamu. Penting.”
“Suruh singkat aja ngomongnya. Ini masih jam kerja. Saya bukan kalian yang suka korupsi. Sekalipun cuma korupsi waktu, saya tetap nggak sudi.” Ujar Airin tenang tapi membuat Bu Elsye nyaris naik pitam.
Dia ingin sekali membalas ucapan pedas Airin tadi, tapi pintu lift sudah terbuka dan Airin sudah lebih dulu melangkahkan kakinya keluar dari lift.
Di dalam apartemen mewah itu, Nugroho sudah menunggu dengan santai di sofa. Di depannya, setumpuk dokumen terlihat memenuhi meja.
“Mas, ini Airin.”
“Ada apa?” tanya Airin tanpa basa basi dan tidak menunjukkan sikap hormat sedikitpun.
“Begini Airin. Duduk dulu, ada yang mau saya bicarakan sama kamu. Waktu itu kan kamu sudah membantu..”
“Langsung saja. Nggak usah basa basi!” potong Airin ketus.
“Oke oke. Duduk dulu. Kita bicara pelan pelan.” Jawab Pak Nugi, mengabaikan rasa kesalnya melihat anak kemarin sore ini membentaknya seperti tadi.
“Mau bicara apa?”
“Begini, kamu kan tau kalau saya terlibat dengan sejumlah dana..”
“Maksudnya korupsi lima ratus milyar?” potong Airin ketus.
“AIRINA!” bentak Bu Elsye. Tapi Pak Nugi mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Bu Elsye tenang dan ia yang akan menangani masalah ini.
“Oke, kesalahan yang saya buat saat itu memang berat dan beresiko. Dan saat ini PKK sudah mencium kecurigaan.” Ujar Pak Nugi gelisah. Ia menyebut PKK, Pemberantas Kejahatan Korupsi dengan suara bergetar.
“Terus?” Airin bertanya dengan sikap tenang. Padahal dalam hati ia terkejut dan ketakutan setengah mati mendengar kata PKK.
“Ya artinya kita semua dalam masalah besar.”
“Kita? Kenapa kita? Kenapa saya terlibat? Itu masalah kalian. Bukan masalah saya!” ujar Airin tegas. Ia setengah mati menyembunyikan getaran suaranya.
“Kamu lupa tentang uang yang kamu terima setiap bulan? Kamu pikir itu uang apa? Uang belas kasihan? Saya bukan dinas sosial, dan kamu bukan fakir miskin yang harus saya santuni.” Ujar Pak Nugi berapi api.
“Memang anak ini nggak tau diri, Mas.” Bu Elsye menimpali.
Airin mendengus dan tersenyum sinis.
“Uang? Yang kalian kirim tiap bulan? Memangnya saya yang minta? Kalian yang memaksa saya menerima uang itu. Apa kalian sudah lupa, saya menolak mentah mentah saat pertama kali disodori uang itu! Dan kalian malah memaksa saya menerimanya dengan mengirimkan uang itu ke rekening saya! Dan malah mengirimkannya tiap bulan tanpa saya minta! Dan asal kalian tau, uang itu utuh di rekening saya, tak pernah saya sentuh sepeserpun!”
“Itu tidak menutup fakta bahwa kamu terlibat! Kamu pikir PKK akan percaya kalau kamu menolaknya?” cecar Bu Elsye.
“Uang itu akan saya kembalikan sekarang juga! Akan saya transfer sekarang juga!”
“Oh, oke. Kalau begitu, sekalian kembalikan uang milyaran yang kamu gunakan untuk membayar hutang hutang pacarmu itu!” ujar Pak Nugi tenang.
Airin mendadak bungkam. Orang orang sialan ini memang b******n! Mereka tau itu diluar kemampuannya.
“Akan saya kembalikan!” Airin masih berusaha menunjukkan cakarnya meski ia tau itu tak berguna.
“Sudahlah Airin. Lebih baik kamu ikuti permainan kami. Sekali lagi saja. Cukup sekali, setelah itu kamu bebas, kamu boleh keluar dari arena permainan sesuka hatimu.” Ujar Pak Nugi lagi.
“Apa maksudnya?” tanya Airin dengan nada curiga.
“Kamu harus membantu saya cuci tangan, agar Elsye terlihat tidak bersalah dan kita berdua pun bisa melawan hukum dan nantinya akan bebas..”
Airin memaki dalam hati. Dasar tikus tikus sampah! Mereka mencoba meloloskan diri dengan menjadikannya tameng? Setelah selama ini menggerogoti? Kurang ajar!
“Kamu pikirkan saja dulu, Airin. Tidak perlu jawab sekarang. Nanti kita pelan pelan bicara lagi sambil santai, kalau kondisi kamu tidak sedang emosi seperti ini.” Ujar Pak Nugi lagi.
Airin menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki sambil tersenyum sinis. Ia benar benar muak dengan tikus sampah di depannya ini.
“Maaf, saya menolak bicara apapun lagi! Silahkan kalian berbuat sesuka hati. Uang kalian akan saya kembalikan sesegera mungkin. Dan jangan pernah mimpi saya mau membantu sampah busuk seperti kalian agar terbebas dari jerat hukum!” Airin meraung marah.
“Anak sialan!” Bu Elsye memaki Airin.
“Kalian yang sialan! Mulai besok saya resign dari kantor! Dan jangan coba coba menghubungi saya lagi! Semoga kalian berdua tertangkap dan membusuk di penjara!”
Airin meninggalkan mereka dan membanting pintu di belakangnya.
Bu Elsye mengejarnya dan ingin menampar Airin. Tapi Pak Nugi menahan tangannya dan menyuruh Bu Elsye membiarkan Airin pergi.
“Biarkan saja dia. Nanti ada saatnya dia akan datang sendiri pada kita dan saat itulah ia sadar kalau dirinya juga tikus seperti kita. Kita harus punya rencana matang menaklukkan tikus kecil itu.” Ujar Pak Nugi tenang.
Sementara di luar sana, Airin menangis..