Bab 42. I E D

1052 Kata
"Skorsing? Setahun?" "Iya.. satu tahun larangan bertanding." Airin mengerang sambil menangkupkan kedua telapak tangannya menutupi wajah. Sementara Dirga hanya tertunduk dengan luapan perasaan bersalah yang semakin menghimpitnya. "Abang? Abang.. Ya Allah.." "Maafin abang, Na." "Kenapa coba? Kenapa coba Abang minta maaf sama aku? Ini karir abang! Hidup abang! Kenapa abang kok bisa bisanya menghancurkan hidup abang sendiri? Dan jangan minta maaf sama aku! Abang harus menyesali semuanya dan memperbaiki diri. Itu demi abang sendiri bukan demi aku!" Dirga menghela nafas kesal. Lebih terdengar seperti mendengus dan itu membuat kening Airin berkerut kesal. "Abang marah?" "Na, abang ke sini bukan mau berantem." "Loh? Siapa yang ngajak berantem? Aku?" "Kamu bisa nggak Na nggak usah marah marah?" "Terus abang maunya apa? Aku diem aja? Atau aku bilang nggak apa apa abang, ini cuma kesalahan kecil, semua orang juga pernah melakukan kesalahan, jangan terlalu dipikirin. Gitu? Maunya abang gitu?" "Na!" "Apa? Apa aku salah kalau meminta abang jangan bertindak seceroboh ini lagi? Abang lebih memilih didiamkan di pinggir jurang sampai terpeleset sendiri atau ditarik paksa supaya nggak jatuh ke dasar jurang?" "Iya abang tau, Na." "Aku di sini mengingatkan abang, supaya abang sadar yang abang lakukan itu berbahaya untuk diri abang sendiri! Abang sudah hampir dua puluh enam tahun! Harusnya abang jangan lagi bersikap kekanakan dengan sembarangan bertindak tanpa pikir panjang! Mukulin wasit? Apa nggak ada cara lain yang lebih cerdas untuk mengajukan protes?" "Na! Jadi kamu anggap aku bodoh?" "Loh? Kenapa menarik kesimpulan sendiri? Memangnya aku bilang begitu?" "Kamu jelas jelas bilang aku nggak cerdas! Kamu jangan keterlaluan! Oke, kamu merasa hebat, pintar, pendidikan tinggi karir bagus, sebentar lagi S2, nggak kayak aku yang cuma lulusan SMA, anak kampung bodoh yang cuma bisa main bola!" "Abang kok ngomongnya gitu sih?" "Udahlah! Sekarang jadi ribut terus tiap ketemu!" "Terus itu salah siapa? Salah aku? Yang ngajak ribut kan abang?" "Airina! Aku cuma mau ketemu kamu untuk menenangkan diri! Dulu, seberat apapun masalahku kamu nggak pernah marah! Kamu selalu support, kamu selalu menenangkan. Sekarang?" "Dulu kamu nggak pernah buat masalah! Yang buat masalah orang lain! Bukan kamu! Kalau sekarang apa? Kamu kan yang buat masalah sendiri? Kamu yang ceroboh dan nggak bisa nahan emosi!" "Kamu pikir kenapa itu bisa terjadi? Kamu pikir aku sudah begini dari dulu? Aku begini gara gara kamu yang selalu buat aku kesal! Balas chat lama banget! Ditelepon lama banget baru diangkat! Selalu ngajak berantem padahal ditanya baik baik! Dan kemarin! Kamu main badminton saat aku lagi mau berangkat pertandingan penting! Aku telepon nggak diangkat! Kamu bikin aku hampir gila!" "Oh jadi kamu nyalahin aku? Jadi ini semua salahku!" "Kamu memang berubah kan? Kamu juga jadi lebih cepat tersinggung! Lebih cepat kesal! Dan seolah olah nggak mau lagi berbagi cerita sama aku!" "Jadi menurut kamu ini salah aku? Kamu sadar nggak sih kenapa aku jadi begini?" "Ya mana aku tau! Kamu nggak pernah lagi mau cerita sama aku! Setiap ketemu selalu kelihatan kesal!" "Aku kesal karena capek, Bang! Aku capek ketakutan setiap hari! Aku capek terpaksa menuruti kemauan koruptor itu! Aku capek sama pergolakan batin aku sendiri! Aku capek bohong terus terusan sama orang tua aku! Aku capek tertekan terus! Aku pengen bebas dari semua ini! Aku capek jadi tameng terus! Ak.." Airin tiba tiba menghentikan semua ucapannya. Ia tersadar sepenuhnya kalau apa yang dia katakan bisa membuat Dirga terluka. Airin tadi sangat emosi, tak sadar kalau ucapannya itu bisa sangat menyinggung Dirga. Dirga menatap Airin dengan raut sedih sekaligus marah. Hatinya terluka, harga dirinya juga ikut hancur berkeping keping. "Jadi kamu lelah?" "Udahlah Bang. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bicara. Kita sedang sama sama emosi." jawab Airin mencoba meredam suasana tak nyaman di antara mereka. Airin tau situasi mulai memanas dan ia tak ingin pembicaraan mereka nanti diakhiri dengan kata kata yang membuat diri mereka sendiri menyesal sudah mengatakannya. "Na." "Udahlah Bang. Aku mau pulang." "Tapi aku belum selesai ngomong!" "Besok aja kita lanjutin, sekarang bukan waktu yang.. ABANG!!!!" Airin berteriak kesal saat Dirga membenturkan kepalanya ke kemudi. Berkali kali Dirga melakukannya sampai keningnya memerah. Airin menariknya, mencoba mencegahnya berbuat hal yang sama. Tapi Dirga menepis tangan Airin. Sekarang ia memukul kaca samping dengan tinjunya, Airin berteriak kencang. "ABANG!! KAMU APA APAAN!!" Dirga tak menjawab, kali ini dia mengincar rear view mirror yang ada di depannya. Spion tengah mobil itu menjadi sasaran kemarahannya. Dirga membabi buta menarik dan mematahkan benda itu di depan mata Airin. "ABANG!! KAMU KENAPA!!" Dirga tak menjawab, ia membuka kaca mobil dan berusaha meraih spion luar. Benda itu jadi sasaran berikutnya yang akan ia patahkan. Tapi Airin memeluknya sambil menangis. Dirga terdiam. Ia tersadar dan berhenti mengamuk. Saat itu juga Airin sadar, Dirga tidak baik baik saja. Dia sakit.. *** "IED?" "Iya. Intermittent Explosive Disorder. Kemungkinan begitu, tapi hanya kesimpulan sementara kalau mendengar dari ceritamu." ujar Nadya sambil menatap mata Airin. Nadya adalah salah satu sepupu Airin yang berprofesi sebagai psikolog. Karena kejadian kemarin, Airin menganggap Dirga sedang tidak sehat mentalnya. Mungkin dia depresi karena masalah masalahnya, atau mungkin ada sebab lain. Yang jelas Airin yakin ia butuh pertolongan profesional untuk membantunya pulih. Dan satu satunya orang yang terpikirkan oleh Airin adalah Nadya. "IED itu persisnya gimana Nad?" "Jadi kondisi orang yang didiagnosis IED ini biasanya ditandai dengan ledakan amarah dan kekerasan berulang yang membabi buta, Rin. Dan semua itu tidak terencana. Ledakan emosi itu juga tidak beralasan, setiap kali terpicu oleh provokasi yang biasanya sangat remeh." jelas Nadya. Airin teringat lagi kejadian kemarin. Hanya karena pertengkaran kecil, Dirga bisa mengamuk seperti itu. Apa mungkin dia memang menderita Intermittent Explosive Disorder? "Jadi ledakan amarah yang dilampiaskan oleh mereka yang divonis IED ini bisa amat sangat agresif, Rin. Bisa sampai merusak barang dan properti di sekitar, bisa juga menjerit terus menerus, bisa juga mendadak mencaci maki dan mengumpat sampai keluar sumpah serapah, dan bahkan bisa sampai mengancam dan secara fisik menyerang hewan atau menyerang orang lain." jelas Nadya lagi. Airin teringat Dirga yang memukuli wasit saat merasa keputusan wasit tidak adil di pertandingan beberapa waktu yang lalu. "Tapi ini kesimpulan sementara ya, Rin. Belum pasti. Perlu observasi dan pertemuan dengannya juga tidak bisa satu dua kali." ujar Nadya lagi. Airin mengangguk. Ia merenungi semua penjelaskan Nadya dan menghubungkannya dengan perilaku Dirga beberapa waktu terakhir. Apakah dia baik baik saja? Atau jangan jangan dia memang menderita Intermittent Explosive Disorder? Airin menghela nafas dan tak tau harus berbuat apa..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN