BRAKKK!!!
Prio dan Rizal terlonjak mendengar pintu loker yang dibanting dengan keras. Mereka mengintip dari balik deretan loker. Terlihat Dirga, di depan pintu loker dengan tiga pasang sarung tangan, serta dua sepatu bola tampak berceceran di sekitar tempatnya berdiri.
Prio dan Rizal saling berpandangan. Kenapa orang ini? Tak lama kemudian, Arifin dan Robby bergabung dengan mereka karena terkejut mendengar suara keras barusan. Robby bertanya ada apa pada Prio, tanpa suara, hanya lewat gerak bibir, agar tak terdengar sampai ke telinga Dirga. Prio hanya angkat bahu menunjukkan ketidak tahuannya.
Dirga memungut sarung tangan dan sepatu dari dalam loker, lalu menjejalkan lagi benda itu sembarangan ke dalam loker, tapi benda itu jatuh lagi. Dirga menghela nafas, memungutnya lagi, lalu menjejalkannya lagi, tapi sepasang sepatu itu selalu bergulir dan jatuh ke lantai.
"AAAHHH!!!!" Dirga menendang pintu lokernya lagi dan membanting sepatu itu ke lantai.
Prio menggeleng gelengkan kepalanya melihat kejadian tadi. Ia berinisiatif menghampiri Dirga. Kapten Tim itu tidak mau Dirga terus kesal hanya karena sepatunya tidak muat di loker. Lagipula ini aneh. Sejak kapan Dirga mudah kesal seperti ini?
Dirga pernah terkena lemparan botol air mineral dari kursi penonton saat pertandingan tandang lantaran seorang supporter lawan kesal dirinya berhasil menepis tendangan penalti stiker andalan mereka. Tapi Dirga hanya tersenyum kecil dan mengabaikannya.
Dirga juga pernah terang terangan di provokasi oleh pemain lawan yang bertabrakan dengannya di luar kotak penalti. Sang lawan terang terangan mendorong bahu bahkan kepala Dirga sambil mengacungkan jari tengah, melontarkan makian dan kata kata kotor. Tapi Dirga hanya menjauh dan tak menanggapi.
Seorang pengendara motor ugal ugalan juga pernah menabrak spion mobilnya hingga patah. Harga spion itu tidak murah, dan si pengendara motor kabur sambil tertawa mengejek. Tapi Dirga membiarkannya pergi begitu saja.
Tapi sekarang? Hanya karena sepatu dan sarung tangannya tidak muat di loker, anak ini marah besar seolah baru saja dilecehkan harga dirinya? Prio tak habis pikir. Pasti ada yang tidak beres.
"Kenapa, Ga?" tanya Prio sambil memungut sepatu yang tadi baru saja dibanting Dirga. Yang ditanya hanya diam sambil menumpukan sebelah tangannya di deretan loker dengan nafas terengah engah.
"Udah mandi belom?" tanya Prio lagi. Mereka baru saja bubar latihan pagi. Dan sepertinya Dirga masih belum membersihkan diri. Benar dugannya, Dirga menggeleng.
"Mandi sana! Ini biarin aja." ujar Prio lagi. Dirga menatapnya sekilas, Prio memberi isyarat agar Dirga menuju shower dengan menggerakan dagunya. Dirga menurut.
Sementara Dirga mandi, Prio membantunya merapikan loker. Pantas tidak muat. Beberapa buah jersey tergulung sembarangan, jaket dan handuk juga terlihat dijejalkan asal asalan, membuat space di loker itu nyaris tak ada.
Prio mengeluarkan semua isinya, dan melipatnya satu persatu, lalu menyusunnya lagi ke bagian atas loker. Ia juga memasukkan semua sarung tangan dengan rapi ke dalam sebuah tas parasut kecil, dan terakhir meletakkan dua pasang sepatu yang tadi dibanting Dirga ke dalam loker bagian bawah.
Selesai mandi, Dirga kembali ke loker dan melirik lokernya, lalu menatap Prio dengan tatapan penuh rasa bersalah. Ia tak enak hati. "Makasih, Capt."
"Udah, sana masuk. Jangan gugup, jangan stress." ujar Prio sambil berlalu meninggalkan Dirga sendirian.
Ini kali kedua Dirga tantrum. Kemarin, di kamar, tak sengaja dia menumpahkan sedikit kopinya di karpet kamar. Ia mengambil tissue dan berusaha membersihkannya. Saat mengambil tissue itulah tangannya tak sengaja menyenggol kotak kecil berisi plester luka yang diletakkan di atas TV.
Benda itupun berjatuhan ke lantai dan berserakan. Dirga mengerang kesal, lalu malah membanting semua yang ada di atas meja ke segala arah. Untung dia tengah sendirian di kamar. Kalau tidak, sudah bisa dipastikan orang yang melihatnya mengira ia kesurupan atau semacamnya.
Setelah seisi kamarnya porak poranda, Dirga baru menyesal. Sekarang ia harus membereskan semuanya dan itu menyebalkan. Kenapa hal sekecil itu bisa jadi pemicu perilaku agresifnya? Entahlah. Dirga merasa sangat kesal, seolah ada tumpukan kekesalan yang mengkristal di dalam dirinya, dan kalau kristal itu tersentuh sedikit saja, ia langsung meledak.
Dan sekarang terjadi lagi. Hanya karena barang barangnya tak muat di loker, ia marah membabi buta seolah baru saja di serang dan di provokasi. Ah. Dirga merebahkan dirinya di tempat tidur sambil menatap langit langit kamar.
Besok malam pertandingan penting, aku harus tenang. Jangan sampai terprovokasi.
* * *
Ada yang tidak beres. Dirga tau ada yang tidak beres. Mulai dari penonton yang seolah dibiarkan saja melempari berbagai benda dari tribun ke arah lapangan, sampai wasit yang berkali kali meniup peluit padahal itu bukan pelanggaran. Entah memang kenyataannya seperti itu, ataukah hanya perasaan Dirga saja, ia merasakan aroma kecurangan tuan rumah dan wasitpun memihak pada mereka.
Dirga mengerang sambil memejamkan matanya. Kilatan cahaya berwarna merah menghalangi pandangannya. Sinar laser! Beberapa penonton terlihat mengarahkan laser ke arah wajahnya. Tapi Dirga mencoba mengabaikan dan tetap fokus. Tapi tak lama, sinar laser kembali terarah tepat di matanya. Benar benar mengganggu pandangannya. Dirga menghalangi sinar laser itu dengan tangan yang melindungi matanya.
Tidak lama kemudian, terdengar pihak panitia mengumumkan lewat pengeras suara, memberi tahu penonton agar berhenti mengarahkan sinar laser ke lapangan. Jika tidak, mereka akan kena sanksi dan pertandingan berikutnya terancam tanpa penonton.
Penonton menuruti perintah panitia dan berhenti mengarahkan sinar laser ke lapangan. Hanya ada satu dua yang masih mengarahkan sinar lasernya ke segala arah.
Tak lama kemudian, Dirga melihat bola bergulir ke arahnya, secepat kilat Dirga maju, berusaha melindungi gawangnya, ia berusaha merebut bola dengan tangannya, ia bertabrakan dengan pemain depan lawan. Keduanya jatuh ke rumput bersamaan dengan peluit wasit. Dirga sudah memperhitungkan hal ini. Pasti tendangan bebas. Ia sudah memperhitungkan semuanya.
Di luar dugaan, wasit mengeluarkan kartu kuning dari sakunya dan teracung ke arah dirga. Sesaat kemudian, wasit menunjuk titik putih di depan gawang. APA? PENALTI?
Dirga meraung marah. Ia jelas jelas melihat garis kotak penalti dan ia sudah memperhitungkan secara cermat gerakannya. Ia tau saat bertabrakan dengan pemain lawan, posisinya di luar kotak penalti. Kenapa wasit malah memberikan hadiah penalti pada pihak lawan?
Ia melihat keriuhan mulai terjadi. Rekan rekannya mengerubungi wasit yang melakukan protes keras. Tidak terima dengan keputusan kontroversial wasit itu. Tapi wasit menolak mendengarkan protes mereka, ia tetap pada keputusannya.
Dirga tak tahan lagi. Ia tak lagi mampu membendung semua rasa frustrasinya dan mulai berubah menjadi emosi yang memuncak. Ia berjalan cepat menerobos kerumunan pemain yang mengelilingi wasit, lalu dengan cepat dan tak terduga, Dirga menarik kerah wasit dan menjatuhkannya ke rumput. Tanpa seorangpun sanggup mencegahnya, Dirga sudah melayangkan pukulan ke rahang wasit, membuat semua terkejut dan langsung menariknya.
Dirga tak ingat apapun lagi. Ia hanya melihat sekelebat bayangan Prio dan Saiful yang menariknya menjauhi wasit, Rizal dan Umar yang memeluk pinggangnya, mencegahnya terus melakukan pemukulan, dan ia ingat ia masih sempat menendang wasit sebelum teman temannya dengan susah payah menariknya menjauh.
Dirga melihat wasit itu berdiri terhuyung di bantu hakim garis dan seorang wasit lainnya. Dirga juga masih sempat melihat kartu merah diacungkan ke arahnya. Dia melihat pelatihnya menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah, dan ia sendiri masih terus mengumpat, memaki, bahkan meneriaki akan membunuh wasit yang curang itu.
Ia gelap mata, meronta ronta ingin dilepaskan. Tapi keenam teman satu timnya dengan susah payah berhasil menariknya menjauhi lapangan. Pertandingan terhenti sementara, dan Dirga di kurung diruang ganti demi mencegah ia melakukan perbuatan brutal lainnya.
Pertandingan dihentikan.
Dirga baru menyadari keadaan.
Terlambat, cepat atau lambat ia akan menerima hukuman..