"Kenapa masih liputan ke luar kota?"
"Kenapa nggak?"
"Kenapa malah balik bertanya?"
"Ya kenapa nanya yang udah jelas jawabannya?"
"Na, Abang nanya karena emang beneran nggak tau. Kamu tau Abang cuma lulusan SMA, nggak banyak pengetahu.."
"Itu lagi! Siapa sih yang meremehkan background pendidikan Abang? Kenapa jadi bawa bawa masalah itu?"
"Ya karena kamu ditanya malah gitu jawabannya."
"Ah, udahlah! Aku capek. Abang anterin aku pulang, atau aku pulang sendiri naik taxi?"
Airin membuat pertanyaan pilihan yang membuat Dirga tak berkutik dan hanya bisa menghela nafas. Akhir akhir ini Airin sudah jadi sumbu pendek yang mudah sekali meledak. Sedikit saja dia kesal, bisa langsung marah dan membentak. Seperti saat ini, Dirga hanya menanyakan kenapa Airin yang sudah jadi pembaca berita di studio, masih harus ke luar kota untuk meliput berita secara langsung. Bukannya itu tugas reporter?
"Abang cuma tanya, Na. Kenapa kamu meliput di lapangan lagi?" tanya Dirga saat mobilnya sudah meluncur ke arah rumah Airin.
"Abang, aku ini news anchor. Abang tau kan maksudnya news anchor itu apa? News Anchor itu bukan sekedar membawakan materi berita di depan kamera, tapi juga terlibat dalam dalam penulisan naskah dan proses editing berita, aku juga mewawancarai narasumber, harus bisa berimprovisasi untuk siaran langsung, memberi komentar dalam sebuah program berita, dan kadang aku juga handle acara diskusi."
"Ya justru itu, dengan semua keahlian kamu sebagai news anchor itu, kenapa sekarang kamu malah cuma meliput berita di lapangan lagi?"
"Apa? Cuma? Ntar dulu, pertama, semua yang aku jelasin tadi bukan keahlian aku pribadi, tapi memang sudah tugas seorang news anchor. Memang itu tugasku. Ahli atau tidak, yang namanya news anchor harus bisa melakukan semua tugas itu. Dan yang kedua, apa maksud abang cuma meliput? Abang meremehkan tugas liputan di lapangan atau gimana sih? Enteng banget mulutnya bilang cuma. Ini berita kunjungan Presiden ke daerah konflik, dan aku bertugas mewawancarai Presiden di sana? Apa itu bisa dibilang cuma? Sesederhana itu? Coba pola pikir abang itu diubah dikit deh, ini tuh nggak sesederhana cara berpikir abang!"
"Iyaaa.. Iyaaa.. Aku tau aku cuma lulusan SMA. Atlet yang bisa olahraga doang tapi otaknya kosong. Nggak kayak kamu yang pinter banget."
"Loh kok jadi ngomong gitu sih?"
"Yaa... Yaa.. Maaf.. Aku yang salah.."
"Abang ini bukan masalah siapa salah siapa bener ya? Ini tuh... Ah udahlah! Pinggirin mobilnya!"
"Na. Jangan ngambek kayak anak kecil!"
"Kamu yang mulai bikin aku marah!! Pinggirin mobilnya sekarang!!"
"Na!"
"Pinggirin atau aku loncat!"
"AIRINA!"
"STOP KUBILANG!"
Dirga menepikan mobilnya dengan kesal. Airin sampai terlonjak ke depan saat Dirga menginjak pedal rem. Untung Airin tertahan oleh sabuk pengaman. Airin buru buru melepas sabuk pengaman, mengambil tasnya dan bersiap membuka pintu mobil. Tapi Dirga menahannya dengan menarik tangannya.
"Na.. Abang minta maaf, kita bicara baik baik ya, Abang antar kamu pulang ya.."
"Lepas, aku mau turun."
"Na, Abang minta maaf, kita bicara baik baik Na.."
"Abang mungkin masih bisa bicara baik baik. Tapi aku nggak. Aku udah capek. Lepasin, aku mau turun!"
"Na.."
Airin menarik tangannya, dengan sekali sentak genggaman Dirga lepas dan Airin buru buru membuka pintu mobil. Tanpa banyak bicara, ia menghampiri taxi yang lewat dan buru buru masuk ke dalamnya.
Dirga hanya membeku di tempat, hatinya mendadak terasa kosong..
* * *
Dirga berdiri gelisah di boarding lounge. Ia berkali kali melirik layar ponselnya dengan gelisah. Ini sudah empat belas kali ia mencoba menghubungi Airin tapi ponsel gadis itu tidak aktif.
Dirga tau saat ini Airin sedang di luar kota, liputan untuk kunjungan Presiden. Tapi Dirga tau acara Presiden sudah selesai sejak siang tadi. Dan ini sudah jam tujuh malam, sudah lima jam berlalu dari saat Airin mewawancarai Presiden. Kenapa ponselnya masih non aktif? Apa susah sinyal?
Semalam Dirga sudah mengirim pesan singkat pada Airin bahwa malam ini dia berangkat ke Medan untuk pertandingan tandang klub nya. Airin tidak mengangkat teleponnya sejak hari mereka bertengkar, tidak juga membalas pesannya.
"Dirga? Nggak ikut?"
"Eh? Sorry coach." Dirga memasukkan ponselnya ke saku dan mengikuti langkah pelatihnya menuju gate lima, bersiap memasuki pesawat.
"Kamu akhir akhir ini bengong terus? Fokus!"
"Iya sorry coach. Tadi.. itu.. kepikiran, tas yang isinya.. itu.. sarung tangan semua.. sama sepatu sepatu itu.. udah masuk koper apa belum?" dusta Dirga nyaris terbata bata.
"Kamu ini gimana? Memangnya nggak diperiksa lagi?"
"Buru buru coach."
"Makanya kalau udah mau berangkat jangan tidur siang lagi!"
"Iya coach."
Dirga menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal. Sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan saat gelisah ataupun salah tingkah. Saat memasuki garbarata, ada antrian cukup panjang di depan pintu pesawat. Dirga memanfaatkan kesempatan itu untuk menghubungi Airin lagi.
Terdengar nada sambung yang membuat Dirga menghela nafas lega.
"Halo?"
"Na? Masih sibuk ya? Kok tadi nggak aktif?"
"Masih. Kenapa, Bang?"
Dirga terdiam. Kenapa? Apa sekarang dia harus menyiapkan alasan tertentu hanya untuk bisa ngobrol sejenak dengan kekasihnya sendiri?
"Halo?"
"Iya."
"Kok diem?"
"Nggak.. Nggak apa apa."
"Bang?"
"Ya?"
"Aku masih banyak kerjaan, udah dulu ya?"
"Sibuk banget ya? Nggak bisa ngobrol sebentar, Na?"
"Aku masih ada kerjaan."
"Ngerjain apaan?"
"Airin! Giliran kamu sama Mas Reza nih. Shuttlecock sama raketnya di kotak merah. Heh! Kamu ngapain? Buruan!"
Suara seorang perempuan terdengar meneriaki Airin. Dirga mematung. Shuttlecock? Raket? Yang dia maksud sibuk adalah main badminton? Sampai menolak ngobrol sebentar?"
"Abang.. udah dulu ya.."
"Na. Abang mau bicara sama kamu."
"Aduh.. aku udah ditungguin, Bang."
"Apa mereka mati kalau nggak main badminton sama kamu?"
"Hah?Apa?"
"Kamu sesibuk itu sampai nggak mau ngobrol sama aku? Apa main badminton juga bagian dari pekerjaan kamu yang menuntut untuk selesai saat ini juga? Sampai kamu nggak punya waktu buat bicara sebentar?"
"Apaan sih? Kenapa jadi ngajak berantem gini sih? Aku capek, mau nyegerin otak sebentar dengan olahraga nggak boleh emangnya? Aku main badminton loh, bukan clubbing! Bukan karaoke terus mabuk mabukan!"
"Ya tapi aku cuma minta waktu sebentar, apa segitu pentingnya badminton sampai nggak mau ngobrol?"
"Loh tadi aku tanyain kenapa jawabnya nggak apa apa? Maunya apa sih? Ya udah ngomong sekarang! Mau ngomong apa? Ngomong aja! Aku nggak jadi main badminton! Ngomong deh ngomong ayo!"
"Ah udahlah!"
Dirga menutup teleponnya. Moodnya hancur berantakan. Rasa kesalnya sudah memuncak.
"Dirga!"
"Iya coach!"
Untunglah sang pelatih memanggilnya di saat yang tepat. Kesadaran Dirga langsung kembali saat mendengar teriakannya. Kalau bukan karena teriakan itu, apa saja yang ada di dekatnya pasti hancur berkeping keping lantaran menjadi sasaran pelampiasan emosinya.
Dirga menarik nafas dan mencoba meredakan gemuruh amarah di dadanya.
Emosi ini sudah menumpuk. Ia akan melampiaskannya saat bertanding di lapangan. Hanya itu yang ia pikirkan. Ia tak ingin kemarahannya malah tersalurkan ke hal negatif, ia ingin kekesalan ini jadi sumber energi saat bertanding nanti.
Sementara jauh di sana, Airin terdiam di tengah lapangan. Shuttlecock melayang tanpa ia sentuh sedikitpun. Raketnya bahkan tidak terangkat. Airin tiba tiba sadar, hari ini adalah hari keberangkatan Dirga.
Dan ia justru merusak moodnya saat Dirga menuju pertandingan penting. Tiba tiba Airin menyesal dan langsung berlari ke pinggir lapangan, lalu mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Dirga.
Terlambat. Ponsel Dirga sudah tak aktif.
Airin hanya bisa menyesal..