Bab 39. TERJEBAK

1140 Kata
Dua orang asisten melepas clip on mic dari blouse Airin. Bu Elsye menepuk ringan pundak Airin dan tersenyum lebar sambil berulang kali memuji Airin. "Kalau saya tau potensi kamu sebesar ini, sudah dari dulu saya pindahkan kamu berita prime time bareng saya." ujar Bu Elsye, terang terangan memujinya di depan beberapa staff yang semuanya menyetujui pendapatnya tadi. Iya, harusnya dari dulu, tanpa perlu repot menjadikan saya bagian dari perbuatan kotormu dulu baru bisa bergabung di berita prime time! Airin membatin kesal.  "Rin.. ikut ke ruangan saya ya?" ujar Bu Elsye diikuti anggukan Airin. Sudah hampir satu bulan sejak Airin menerima tawaran Bu Elsye untuk menutup mulutnya demi Dirga. Dan ini sudah lewat dari seminggu wajah Airin setiap hari muncul di berita jam tujuh malam bersama Bu Elsye.  Sebuah kejadian luar biasa bagi orang tuanya. Dreams come true. Begitu kata Ibu dengan bangga. Ayah juga mengatakan hal yang sama. Karena mereka tau, inilah impian Airin sejak remaja. Menjadi penyiar berita, dan membacakan berita bersama dengan Bu Elsye, idola tersayangnya. Kalau saja orang tua nya tau, dia tidak menginjak anak tangga menuju impiannya, tapi justru diseret naik lift yang kotor untuk naik ke tujuannya itu, Ayah dan Ibu pasti marah besar. "Mbak Airin keren banget. Jarang jarang loh Bu Elsye memuji orang sampai segitunya." Alia, salah satu staff memuji Airin sambil melepaskan jas Airin clip on wireless nya. Airin hanya tersenyum. "Masa sih, Mbak?" tanya Airin basa basi. "Iya, bener. Mbak Airin tau kan kenapa pendapat Bu Elsye benar benar didengarkan?" imbuh Alia lagi. "Nggak, Mbak. Saya nggak tau. Emangnya kenapa, Mbak?" tanya Airin. "Karena Bu Elsye sangat selektif dalam semua hal. Bahkan soal pedapatnya, ia juga sangat selektif. Nggak mudah memberi pujian, nggak gampang membuat dia terkesan. Jadi kalau dia sudah bilang bagus, berarti memang benar benar bagus." jawab Alia panjang lebar. Airin tersenyum tapi dalam hati mencibir. "Memangnya saya bagus, Mbak? Menurut Mbak Alia gimana?" "Ya bagus lah. Sekaliber Bu Elsye aja bilang Mbak Airin bagus dan punya potensi besar, apalagi saya. Saya sih dari awal juga udah suka banget sama perform nya Mbak Airin." ujar Alia lagi. Airin tertawa dan mengucapkan terima kasih atas pujian Alia. Setelah berbasa basi sebentar, ia pun pamit dan melangkah menuju ruang kerja Bu Elsye meski dengan berat hati. Airin enggan sekali bertemu Bu Elsye di luar pekerjaan mereka membacakan berita. Ia selalu menghindar dan malas berinteraksi dengan Bu Elsye. Airin mengetuk pintu saat sudah tiba di ruang kerja Bu Elsye.  "Masuk." suara Bu Elsye terdengar dari dalam.  Airin membuka pintu dan melangkah masuk. Dilihatnya Bu Elsye sedang duduk di kursi nya dan tampak menekuri sesuatu di meja kerjanya. Tiba tiba ponsel Bu Elsye berdering. "Sebentar, saya angkat dulu ya, Rin. Penting." ujar Bu Elsye lagi.  "Iya, Bu. Silahkan." jawab Airin tanpa tersenyum sedikitpun.  "Halo? Iya, Mas?" Bu Elsye menjawab telepon sambil memberi isyarat pada Airin agar duduk. Airin menurutinya dan duduk di depannya dengan enggan. Airin berkali kali melihat jam di pergelangan tangannya dengan terang terangan. Berharap Bu Elsye memahami gesture nya kalau ia tak ingin berlama lama membuang waktu di sini. "Oke, Mas. Ini sudah ada di ruanganku. Nanti aku sampaikan. Makasih ya, Mas." Pasti itu si pejantan. Makanya betina satu ini menganggap panggilan telepon ini penting. Ujar Airin dalam hati. Ia langsung menebak bahwa yang menghubungi Bu Elsye pasti Pak Nugi. "Maaf ya, Rin, agak lama. Mas Nugi tadi ngasih tau sesuatu yang penting." ujar Bu Elsye. "Iya." jawab Airin dengan ekspresi wajah datar. Sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. "Jadi gini, singkat saja ya, ada yang mau saya sampaikan sama kamu." "Menyampaikan apa Bu?" "Lebih tepatnya menyerahkan titipan untuk kamu." jawab Bu Elsye. "Titipan untuk saya? Titipan apa? Dari siapa?" "Iya, titipan untuk kamu, Airina Siddiqa Amanah. Dari Mas Nugi, ini titipannya." Bu Elsye menjawab pertanyaan Airin sambil menyerahkan sebuah amplop coklat tebal. Menggesernya ke hadapan Airin. Kening Airin berkerut. "Apa ini, Bu?" "Kamu buka aja." "Apa sih?" cetus Airin sambil mengintip isi amplop tebal itu. Dia terdiam, lalu menghela nafas dan mendorong benda itu kembali ke hadapan Bu Elsye. "Ini untuk apa?" tanya Airin dengan nada ketus. "Untuk kamu." "Saya nggak tanya ini untuk siapa, saya tanya ini untuk apa?" Airin mulai gusar. "Santai dong. Nggak perlu keluar taring begitu. Baru kali ini saya lihat orang marah dikasih hadiah." "Saya ulangi ya, Bu. Ini untuk apa? Kenapa dikasih ke saya?" tanya Airin lagi. Mengabaikan jawaban Bu Eslye sebelumnya. "Pertama tama, pelankan suara kamu. Percuma selama sebulan ini kamu capek capek berpura pura punya hubungan baik dengan saya kalau hari ini kita bertengkar dan jadi gosip sekantor? Yang jelas yang rugi kamu. Bisa dibilang nggak tau diri, sudah diangkat jadi news anchor, malah ngebentak saya, iya kan?" jawab Bu Elsye membuat Airin bertambah marah. Tapi ia menahan semua amarahnya. Dia tak ingin membuat keributan apapun lagi dengan penyihir ini. Sudah cukup dia membuat Airin emosi setiap hari. "Saya ulangi sekali lagi, Bu. Ini untuk apa?" tanya Airin sabar. "Itu bagian kamu. Sebagai upah tutup mulut.." bisik Bu Elsye. Airin mengambil amplop itu dan melemparnya sampai benda itu jatuh ke pangkuan Bu Elsye, dia benar benar merasa direndahkan bahkan diinjak injak harga dirinya. "Ambil kembali atau saya buang! Saya nggak sudi! Cukup sekali saya terlibat dengan urusan kotor ini." bentak Airin tapi tetap dengan suara rendah. "Heii.. santai dong.. coba denger dulu saya ngomong. Kamu ini masih muda kok temperamen banget. Nanti belum tua sudah kena stroke baru tau rasa.." Bu Elsye menasehati Airin sambil tertawa menyebalkan. "Apalagi yang mau saya dengar? Sudah cukup." "Kamu itu sudah sekali dapat bagian. Aturan mainnya, sekali kamu dapat, seterusnya kamu akan dapat, sekali masih ada bagian kamu, ya terima saja." ujar Bu Elsye enteng. Airin tertawa sinis. "Aturan main itu kalian yang buat! Karena kalian yang bermain, bukan saya. Saya cuma salah satu orang yang tidak sengaja melintas di arena permainan dan kalian paksa ikut bermain! Sekarang saja keluar dari permainan! Jangan coba coba tarik saya kembali ke sana! Silahkan kalian teruskan permainan tanpa saya!" Airin membentak lagi. "Oooh.. Tidak bisa.. Aturannya, siapapun yang masuk ke arena, harus menyelesaikan permainan. Jadi kamu tidak punya pilihan selain ikut terlibat." ujar Bu Elsye tenang. "Saya nggak sudi! Terimakasih! Maaf, saya permisi, dan tolong jangan ganggu saya lagi!" Airin membentak Bu Elsye tajam. Lalu berlalu dengan cepat. Ia menahan diri untuk tidak membanting pintu di belakangnya.  Dengan gusar, Airin berjalan menuju ke ruang make up, mengambil tas nya yang tertinggal. Sampai di ruang make up, Airin langsung mengambil ponselnya. Ia butuh pelampiasan kemarahan saat ini. Ia memilih menelepon Dirga untuk meredakan semua kekesalannya. Tapi Airin mengurungkan niatnya saat melihat notifikasi di ponselnya. Sebuah pemberitahuan dari bank bahwa ada sejumlah dana masuk ke rekeningnya. Airin memaki dalam hati melihat sejumlah angka tertera di sana. Dan ia nyaris melempar ponselnya saat melihat nama si pengirim dana. NUGROHO SUCIPTO. Saat itu juga Airin tau, ia sudah terjebak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN