"Puding mangga, jus mangga, ketan mangga, salah buah mangga, apalagi ini, Bu? Jangan bilang Ibu bikin nasi goreng mangga ya?" keluh Ayah sambil mencomot sepotong indramayu dari piring.
"Namanya juga musim mangga, Yah. Wajar lah apa-apa dibuat dari mangga. Ntar juga kalau musim durian, Ibu bikin serba durian. Puding durian, pancake durian, kolak durian, cake durian, ketan s**u durian, serabi durian.." jawab Ibu sambil tertawa.
"Sekalian aja bikin rendang durian tau rendang mangga, Bu." keluh Ayah ditimpali tawa cerah Ibu.
"Untung Airin doyan mangga, daritadi dia makan mangga pakai.. loh? Rin!! Airin! Ngapain itu kamu? Mangganya kok dicampur gitu?" Ayah kebingungan.
"Ini resep baru apa gimana, Rin? Opor mangga? Mangga dicelupin ke opor!"
"Rin?"
"Airin?"
"AIRIN!!"
"Hah? Apa yah?"
"Kamu makan apa?"
"Hah? Opor Yah.."
"Cobain dulu opornya.." ujar Ibu. Airin menyendok sesuap nasi opor ayam tanpa sadar bahwa ada sepotong mangga tertimbun di balik kuahnya.
"Enak?"
"Ih! Apaan ini! Rasanya aneh!"
"Kamu yang aneh! Kamu sendiri yang nyampurin mangga ke dalam opor ayam kamu." ujar Ibu ketus.
"Mikirin apa sih, Rin? Lagi makan malah ngelamun."
"Nggak lagi mikirin apa apa kok, Yah."
"Nggak mikirin apa apa tapi ada mangga di dalam opor kamu nggak tau? Kamu itu badan ada di sini tapi pikiran ada di planet lain, emangnya ayah sama ibu nggak tau apa?" cetus Ayah sambil geleng geleng kepala.
Airin cuma senyum senyum menahan malu. Ia kali ini tertangkap basah tengah melamun di meja makan. Ia sudah berusaha keras untuk tetap fokus dan mengenyahkan semua pikiran tentang Dirga, ibunya, keluarganya, masalahnya, dan dua sejoli koruptor itu dari pikirannya. Tapi gagal, semua kekhawatiran menyita hampir seluruh porsi benaknya.
"Kamu mikin apa?"
"Nggak ada, Yah.."
"Biasanya anak kecil belajar bohong itu mulai usia lima tahun, makin besar, berubah jadi jujur dan kebiasaan bohongnya hilang. Itu kalau anak baik. Tapi kalau anak jahat, kecilnya jujur, makin tua makin banyak bohongnya. Kamu masuk kategori mana?" sindir Ayah. Khas ayah, mau marah aja panjang lebar penjelasannya.
"Rin cuma mikirin kerjaan kantor, Yah."
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Ibu.
"Rin mau dipindah ke news, Bu." jawab Airin. Begitu lebih aman. Dan itu fakta. Ia tidak berbohong.
"Loh? Bukannya itu bagus, Rin? Kan kamu dari kecil cita-citanya jadi penyiar berita? Dandan cantik dan baca berita di studio? Bukan panas panasan di pinggir stadion jadi reporter sepak bola?"
"Iya, Bu.. Tapi Rin harus adaptasi lagi.."
"Aiih.. Sejak kapan adaptasi jadi masalah? Kamu itu cuma nervous Rin. Udah santai aja. Kapan mulainya?" tanya Ibu lagi. Airin mendadak terdiam dan tersadar, ia belum tau kapan akan muncul di prime time sebagai news anchor. Sebab jika ia sudah punya jadwalnya, artinya ia menerima tawaran Bu Elsye.
Dan jika ia menerima tawaran Bu Elsye, artinya ia tak ada bedanya dengan pencuri uang rakyat di luar sana.
* * *
"Keadaan Ibu gimana, Bang?"
"Na.. Abang minta maaf.."
"Aku lagi nanya sama Abang. Kenapa Abang malah minta maaf? Ibu baik baik aja kan? Nggak ada lagi kan yang ganggu?"
"Na. Abang tau ini nggak adil buat kamu, Na.."
"Dista udah pulang ke rumah kan? Udah aman kan? Udah nggak ada yang bakal mencelakai dia kan? Terus rumah gimana? Rumah sudah aman kan? Ibu juga sudah sehat kan? Karir abang bagus kan? Hutang lunas semua kan? Nggak ada lagi yang nagih kan? Semua baik baik aja kan???" Tanya Airin bertubi tubi dengan suara meninggi.
Airin tak tahan lagi, ia menangis tersedu-sedu. Dirga mencoba memeluknya tapi Airin melangkah mundur dan malahmemukul pundak Dirga bertubi-tubi.
Dirga membiarkan dadaa dan pundaknya dipukuli Airin. Membiarkan dirinya jadi sasaran luapan emosi dan segala sesal di hati Airin.
Airin telah memilih. Dan pilihannya itu salah. Dirga tau dirinya kejam. Ia membuat Airin memilih kesalahan dan membuatnya mengubur kebenaran. Dirga tau ia menghancurkan Airin dan melukai harga dirinya, hatinya, egonya, dan seluruh hal yang ia punya. Tapi Dirga sendiri tak punya pilihan.
Ia tak ingin kehilangan Ibunya, kehancuran keluarganya, dan pensiun dini di usia muda.
"Abang akan ganti semuanya, Na.. "
"Dengan apa? Uang? Abang pikir itu cukup? Abang pernah lihat vas bunga yang pecah bisa menyatu lagi seperti semula? Abang pernah lihat kayu yang tertancap paku kembali utuh setelah pakunya tercabut tanpa meninggalkan lubang sedikitpun? Pernah lihat itu?"
"Na.. Abang benar benar minta maaf.." sesal Dirga dengan perasaan bersalah menggunung di benaknya.
"Udahlah, Bang.. Udah terlanjur terjadi.."
"Abang salah, Na. Abang egois. Ini masalah abang, ini masalah keluarga abang, tapi yang susah kamu, Na. Yang harus menanggung semuanya kamu, yang tersakiti kamu, yang harus berkorban kamu, Na. Maafin Abang.."
"Udahlah, Bang. Nggak ada gunanya minta maaf. Tolong pastikan aja orang tua abang nggak lagi menganiaya anaknya sendiri. Nggak pernah lagi mencoba menghancurkan hati, hidup, dan masa depan anaknya dengan perbuatan mereka!!" nada suara Airin meninggi.
"Na.."
"Nggak jadi kiamat kan? Nggak jadi hancur kan? Ibu juga masih hidup sampai sekarang kaan?" Airin nyaris berteriak. Ia benar benar marah. Tapi ia tau, tak pantas dirinya marah pada Dirga. Tak adil rasanya menghakimi orang tua Dirga
menambah luka dan rasa bersalah Dirga. Itu pilihannya. Bukan pilihan Dirga. Toh, ia masih bisa memilih menolak tawaran dan menutup mata atas semua masalah Dirga, bukan menutup mata atas perbuatan kotor Bu Elsye dan Pak Nugroho di depan hidungnya!
"Abang akan menebusnya, Na. Abang akan lakukan apapun untuk menebusnya." Dirga kali ini semakin sulit menahan emosi, sesal, dan rasa bersalah di hati dan benaknya.
Dirga terduduk lemah. Ia bersimpuh di kaki Airin. Airin menengadah, bermaksud menahan lelehan air mata menggenang di pelupuk matanya, dan siap jatuh berderai seandainya sekali saja ia mengerjap.
"Abang nggak salah.." ujar Airin dengan suara bergetar.
"Maafin Abang, Na.." Dirga bersimpuh di kaki Airin. Air matanya jatuh. Hatinya betul betul hancur melihat orang yang sangat ia cintai harus berkorban begitu banyak untuk mengatasi semua masalah masalah yang menimpanya,
"Udah.. Abang nggak salah.. Maafin aku.. Nggak seharusnya aku menumpahkan dan melampiaskan semua ini pada Abang.." ujar Airin lemah. Setetes air mata yang tadi menggenang mulai jatuh perlahan.
Ia terisak. Dirga juga terisak.
Airin ikut berlutut di depan Dirga, tersedu sedan. Semua emosinya meluap saat itu juga. Dirga langsung memeluknya. Tak tega melihat Airin yang begitu nelangsa. Hatinya hancur berkeping keping. Perasaannya tak karuan.
Mereka saling memeluk sambil menangis.
Airin tau, setelah ini hidup dan hubungan mereka tak akan sama lagi..