Bab 37. PERUBAHAN ARAH ANGIN

1072 Kata
Dia ini manusia apa shuttlecock sih? Dipukul malah balik lagi, dipukul lagi balik lagi! Pukul beneran juga nih lama-lama! Tukas Airin dalam hati sambil mengaduk aduk minumannya. Daging buah kelapa berlarian di dasar gelas, dikejar sendok yang dimainkan Airin. "Ada apa lagi, Bu Elsye?" tanya Airin ketus. Anak ini nyalinya segunung! Mirip anak anjing menyalak ke arah serigala! Bukan jenis keledai bodoh yang mudah dikendalikan macam si Maya! Bu Elsye menggumam dalam hati sambil menyilangkan lengan di depan dadaa. Senyumnya mengembang, berusaha terlihat ramah. Tapi di mata Airin, senyum itu tak ada bedanya dengan seringai licik. "Saya mau nawarin sesuatu sama kamu.." "MasyaaAllah, Bu, gigih banget ya, Ibu nih. Saya nggak mau nego apa-apa sama Ibu. Saya jurnalis, bukan sista sista olshop!" bentak Airin, bersiap pergi dari tempat itu. "Gimana kalau uangnya bukan buat kamu? Tapi buat Mr. Goalkeeper kesayangan kamu itu?" Skak mat! Airin membeku di tempatnya. "Apa.. Apa, Bu?" Kirain sekokoh beringin, ternyata serapuh brokoli! Akarnya nggak kuat, gampang banget digoyang. Dasar bocah kemarin sore. "Makanya duduk dulu sini dong. Jangan buru-buru. Kan saya belum selesai ngomong. Atau jangan jangan kamu udah ada janji lain ya? Sama Dirga Reditya?" tanya Bu Elsye dengan senyum misterius. Airin terdiam, menatap Bu Elsye dengan lirikan curiga. Nyalinya sedikit menyusut. Wah sial! Kartu truf ku udah di tangan penyihir ini. Dapat darimana dia? "Mau bicara di sini, atau di tempat lain?" "Mau Ibu apa?" "Loh? Masih nanya? Kamu kan udah tau maunya saya apa." "Saya tau tapi nggak mau." "Masih nggak mau? Gimana kalau saya tawarkan ke Dirg..." "Kita bicara di luar aja, Bu!" Bu Elsye menahan tawanya dalam hati. Dia langsung merasa mendapat angin segar melihat sikap Airin. Mereka lalu meluncur ke arah restoran tempat Airin dan Bu Elsye pernah bertemu sebelumnya. "Mau minum apa?" "Apa aja. Saya ke sini bukan mau minum." "Santai aja dong, adik kecil.. Jangan buru-buru. Negosiasi itu harus dilakukan dengan sabar." jawab Bu Elsye sambil membolak balik daftar menu. Airin muak sekali dengan sikapnya itu. Dia ingin sekali merebut daftar menu itu dan melemparkannya ke wajah cantik di depannya ini. "Kopi mau?" "Iya." "Kopi apa?" "Apa aja." "Kopi vietnam? Atau latte aja?" "Latte." "Caramel? Vanilla?" Airin menghela nafas sambil meredam emosinya sendiri. Serigala betina ini sengaja membuatnya kesal. Dia tau Airin sudah tidak sabar ingin menyelesaikan pembicaraan ini. "Vanilla aja ya?" "Iya." "Mau makan?" "Nggak." "Saya mau, laper. Mmm.. pesen apa yaaa?" "Bu!" "Oke.. oke.. santai aja kali.. Abis saya pesen makan kita bicara yaa.." Tak lama kemudian, secangkir vanilla latte hangat, secangkir teh chamomile, dan sepiring spring roll terhidang di depan mereka. Dengan gayanya yang anggun, Bu Elsye menghirup teh nya dan mengambil sepotong spring roll yang tadi ia pesan. "Mau Ibu apa?" "Loh? Bukannya sudah jelas? Saya cuma ingin kamu diam. Nggak susah kan? Cuma diam aja loh, nggak saya suruh ngapa ngapain. Cukup bersikap tenang, hapus semua yang kamu rekam dan foto, lalu kamu bisa beraktivitas seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa. Gampang kan?" "Kalau saya menolak?" "Mmm.. pertanyaannya coba diganti deh. Kalau saya terima? Gitu.." "Ibu kan tau saya nggak mau nerima." "Masa? Coba simak dulu sampai selesai penawaran saya. Kalau kamu terima, saya akan transfer delapan milyar ke rekening kamu. Langsung! Detik ini juga. Atau mau langsung aja ke rekening ibunya Dirga?" Airin terdiam membeku. Seolah sebongkah es menghantam kepalanya. Jantungnya berdetak kencang. Kepalanya langsung pusing. Airin penasaran setengah mati. Tau dari mana dia? "Kamu nggak perlu capek capek mikir saya tau darimana rahasia besar kamu dan pacar kamu itu. Yang harus kamu camkan dalam hati adalah fakta bahwa kamu berurusan dengan Elsye Dianita, dan saya bukan orang sembarangan!" Bu Elsye menegaskan kata terakhir dengan intonasi yang berbeda. Airin masih diam. Mencoba menahan semua emosi yang mendadak ingin menyeruak keluar. Adil kah ini? Kenapa arah angin justru berubah? Airin tau ini bukan sinetron atau film, ini dunia nyata, dimana orang jahat bisa menang dari orang yang berniat baik sepertinya. Airin menyadari satu hal lagi. Superhero itu hanya fiktif! Dirinya berharap menjadi superhero dengan memberantas kejahatan, sekarang harus bertekuk lutut bahkan sebelum sempat menyerang. "Oh iya, satu lagi. Tadinya saya mau pecat kamu, tapi pacar saya, Mas Nugi, terlalu baik hati. Dia bilang kamu jangan dipecat. Memelihara musuh lebih baik daripada menendangnya jauh. Jadi, kamu saya pelihara di dekat saya yaa.. Kamu saya pindahkan ke divisi news. Saya kalau nawarin nggak tanggung tanggung, kamu langsung saya masukkan ke prime time, news anchor di sana kurang. Jadi kamu isi slot jam 7 malam, bareng saya. Bukannya kamu fans saya ya? Katanya dulu cita cita kamu kan bisa jadi pembaca berita, satu frame sama saya?" tanya Bu Elsye sambil tertawa kecil. Airin benar benar muak! "Kok diam sih? Masih kurang? Apa perlu saya transfer sekarang? Kontrak kerja kamu untuk pindah divisi juga udah saya siapin kok. Saya orangnya rapi, tertata. Selalu menyiapkan segala sesuatunya dengan matang. Kayaknya kamu harus banyak belajar dari saya, Airin." ujar Bu Elsye lagi, dengan sikap makin menyebalkan. Airin mengepalkan kedua tangannya, menahan segala emosi yang siap keluar tak terbendung. Otaknya macet, dia tidak bisa memikirkan apa-apa saat ini. Bu Elsye mendorong vanilla latte Airin. "Kamu minum dulu deh, biar lebih tenang. Tarik nafas, sambil mikirin semua tawaran saya. Tapi jangan lama lama ya. Saya orangnya gesit. Nggak suka kalau ada masalah menggantung kelamaan." Ya Allah apa yang harus aku lakukan? Aku hanya ingin berbuat baik. Kenapa jadi begini? Apa aku abaikan saja? Toh aku nggak rugi. Paling paling dipecat. Bisa cari makan di tempat lain. Atau paling resikonya nanti nama baik Abang sedikit tercoreng kalau berita ini tersebar. Toh itu nggak akan mempengaruhi karirnya? Tapi gimana dengan hutang hutang abang? Bisa langsung lunas sekejap mata kan? Tapi kan ini salah. Airin bimbang, benar benar tidak tau harus berbuat apa. Segala sesuatunya mendadak terasa buntu. Arah angin benar benar telah berubah. Saat ini Airin merasa kalah. Tiba tiba ponselnya berbunyi. Dirga. Airin ragu, dia membiarkannya. "Eh, pas banget, Mr. Goalkeeper, kekasih hatimu tercinta telepon tuh. Kok nggak diangkat? Angkat aja. Sekalian bilang ke dia, jangan khawatir, hutang ibunya segera lunas. Sekalian aja minta nomor rekeningnya. Uang segitu sih kecil, lima ratus milyar aja gampang kok dapetnya." Airin marah sekali mendengar kalimat itu. Dia sudah mengambil keputusan. Dia tidak mau!! "Saya menolak uang haram kalian berdua!" tegas Airin. "Yakin?" Baru saja Airin ingin berteriak yakin, sebuah pesan singkat masuk dari Dirga dan tak sengaja terbaca olehnya. Na tolong angkat! Penting banget! Sekarang! Telepon berdering lagi. Airin terpaksa mengangkatnya. "Halo?" "Na! Ibu bunuh diri!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN