Bab 36. MUSUH TERSEMBUNYI

1350 Kata
Airin masuk ke dalam mobil dengan tangan gemetar. Ia sendiri terkejut dari mana ia memperoleh keberanian sebesar itu untuk menentang Bu Elsye. Sekarang ia pasrah. Apa yang akan terjadi setelahnya sudah ia pasrahkan kepada Allah. Yang jelas Airin yakin ia sudah berada di jalan yang benar.  Tanpa sadar akhirnya Airin menekan serangkaian nomor telepon melalui ponselnya. "Halo? Iya, Na?" suara yang Airin rindukan terdengar di seberang sana. "Abaaaaaang..." "Halo? Na? Kamu kenapa?" "Abang dimana? Aku pengen ketemu Abang. Abang dimana sekarang? Aku takut sayang.." "Na kamu kenapa? Kamu nggak apa apa kan? Kamu dimana sekarang? Takut kenapaa? Dimana kamu, Na? Nanti Abang kesana." suara Dirga terdengar panik. "Nggak usah ke sini. Abang tunggu aja di di depan ATM kayak biasa. Nanti aku jemput Abang di sana." "Oke. Kamu hati hati ya.. Abang tunggu di ATM sekarang ya.."  "Iya, Bang." Airin mengemudi sambil gemetar ketakutan. Tidak lama kemudian, Airin melihat Dirga di samping ATM tempat mereka biasa bertemu. Saat Dirga masuk ke mobil, Airin langsung menceritakan semuanya dengan tubuh gemetar dari kepala sampai kaki.   Dirga terdiam. Dia sampai tak sanggup berkata-kata mendengar cerita Airin. Yang pertama, dia terkejut bukan main mendengar nama Nugroho Sucipto, ketua umum organisasi sepak bola nasional yang kemarin sempat disinggung Airin. Pantas kemarin Airin menanyakan hal pribadi tentangnya. Dan sekarang Dirga mendapat jawabannya. Sedangkan hal kedua yang membuat Dirga terkejut adalah ternyata salah satu perempuan yang ada di sekeliling Nugroho adalah atasan Airin di kantor dan Airin menangkap basah keduanya tengah berada di dalam apartemen bersama. Yang ketiga, yang paling membuat Dirga terkejut adalah soal korupsi besar-besaran yang dilakukan Nugroho di OSN. Nominalya mencapai hingga lima ratus milyar! Darah Dirga mendidih. Di saat ia dan rekan rekan lainnya belum menerima gaji berbulan bulan hingga saat ini, ternyata uang gaji yang merupakan hak mereka tertahan karena dikorupsi oleh para petinggi di OSN. Dan saat ini Airin menemukan buktinya tentang semua itu. Entah Dirga harus senang ataupun panik mendengar kabar ini. Satu sisi ia bangga pada Airin dengan idealismenya dan kejujuran serta tekadnya untuk menuntaskan kasus korupsi dari sisi seorang jurnalis. Tapi di sisi lain, Dirga justru sangat khawatir dengan keadaan Airin. Bukan hanya karena Airin bisa saja sewaktu waktu dipecat,. tapi karena Dirga tahu Nugroho bukan orang sembarangan. Ia bisa melakukan apa saja untuk meloloskan diri dari jerat hukum termasuk melakukan sesuatu yang mengerikan pada Airin. Dirga benar-benar khawatir saat itu tapi ia tidak mengatakannya pada Airin. Ia takut Airin menjadi panik dan justru membuatnya tertekan. "Abang minta tolong banget kamu hati hati ya sayang.. Jangan sampai semua ini nantinya akan membahayakan diri kamu sendiri." pinta Dirga sambil menggenggam tangan Airin penuh rasa khawatir. "Iya, Bang aku tahu itu. Dan itu sebabnya aku sekarang juga sedikit ketakutan. Maaf aku justru menambah beban pikiran abang. Padahal abang sendiri masih punya banyak masalah yang harus diselesaikan. Aku benar-benar minta maaf.." sesal Airin. Dirga menggeleng dan makin mempererat genggaman tangannya. "Nggak apa apa, sayang. Justru Abang bangga kamu punya keberanian sebesar itu. Kamu harus teruskan semua rencana kamu untuk membuat mereka terjerat hukum dan membayar semua perbuatan mereka. Jangan pikirkan Abang ya? Abang nggak apa apa." jawab Dirga menenangkan. Airin menatap Dirga dengan perasaan campur aduk sementara dalam hatinya ia juga merasakan kekhawatiran yang luar biasa. * * * "Belum pulang, May?" tanya Airin melihat Maya masih sibuk berkutat dengan pekerjaan, padahal ini sudah hampir maghrib. "Belum, Rin. Ada yang masih harus aku selesaikan." jawab Maya tanpa menoleh ke arah Airin. Ia masih terus menekuri laptopnya. Jarinya sibuk bermain di atas keyboard dan mengetikkan sesuatu di sana.  "Ya udah kalo gitu aku duluan aja ya, May?' "Oke.. Hati hati ya, Rin.." "Oke, May. Kamu juga jangan kemaleman ya.."  "Siiip.." Maya mengacungkang jempol. Airin keluar dari ruang kerjanya dan bergegas menuju ke parkiran.  Sementara Maya langsung terduduk lemas saat Airin menjauhi ruang kerja mereka. Maya menghela nafas lega melihat Airin meninggalkan kantor. Tanpa sadar, Maya mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan ketika ia merasa gugup dan gelisah. Hari ini sebetulnya Maya tidak mempunyai banyak pekerjaan. Ia berpura pura lembur agar Airin bisa pulang lebih dulu dan meninggalkannya sendirian. Maya meminum segelas air dengan cepat. Ia merasa tenggorokannya mendadak kering. Dengan gugup, ia menimbang nimbang lagi semuanya, apakah perbuatannya kali ini benar atau tidak. Apakah mau ia teruskan atau tidak. Maya sendiri masih ragu. Sebetulnya, jauh di dalam lubuk hatinya, ia tidak ingin melakukan hal ini. Tadi siang, mendadak seseorang menemuinya dengan maksud tertentu. Orang itu membawa satu kesempatan emas untuk Maya. Maya yakin, kesempatan ini hanya datang sekali seumur hidup. Ia tidak ingin menyia nyiakannya. Ia harus menerimanya meski untuk itu ia harus mengorbankan orang lain. Tiba-tiba perasaan bersalah Maya menyeruak lagi. Ia benar-benar tidak ingin melakukannya. Tapi sekali lagi ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini terpaksa ia lakukan demi bertahan di First TV dan demi impiannya. Kemudian Maya membulatkan tekadnya lagi. Ia membuang semua keraguan di dalam hatinya. Kemudian, dengan cepat ia mengambil ponselnya dan menekan serangkaian nomor telepon. "Halo?" "Halo. Selamat malam Bu Elsye.." "Iya selamat malam. Siapa ini?" "Saya.. Maya ya teman satu ruangan Airin yang kemarin ibu cari dan ibu ajak bicara tentang Airin.." "Oh iya! Maya, gimana, kamu mau terima tawaran saya?" "I.. iya Bu.. Saya sudah memikirkannya lagi.." "Bagus, kamu setuju untuk membantu saya, kan, Maya?" "I..iya, Bu.. Saya... Saya mau.." Maya terlihat sangat gugup. Tapi ia menguatkan tekadnya. "Gimana Maya, apa sudah ada perkembangan?" tanya Bu Elsye. "I.. Iya, Bu.. Sudah ada.. Ini ada yang mau saya laporkan.. Saya.. saya mau memberitahukan sesuatu pada Bu Elsye tentang Airin.." ujar Maya berusaha memantapkan hatinya. "Oh ya? Bagus..Mmm.. sebaiknya kita bicara kan lagi di luar. Nanti saya jemput kamu setengah jam lagi. Kamu tunggu saya di lobi ya?" "Baik, Bu.." Maya menutup sambungan telepon dengan perasaan gundah. Airin, aku minta maaf.. Batinnya sambil menghela nafas. * * * "Dirga Reditya? Dia pacaran sama Dirga Reditya? Kiper utama Timnas itu kan?" "Iya, Bu.." jawab Maya cepat. "Waah.. Makasih banyak, Maya. Ini informasi yang luar biasa! Tunggu dulu.. Bukannya Pak Jimmy menentang reporter yang menjalin hubungan dengan atlet?" tanya Bu Elsye. "Iya, Bu. Itu sebabnya mereka berdua pacaran diam diam tanpa sepengetahuan orang orang di kantor." "Hmm.. Oke.. Bisa saya jadikan ancaman!" tukas Bu Elsye senang. "Tapi, sebentar.. Anak itu keras kepala dan berani sekali. Ia bahkan tidak takut dipecat. Saya yakin, dia tidak akan takut kalau saya hanya mengancam akan memberitahukan Pak Jimmy tentang hubungannya dengan Dirga." "Soal itu.. saya punya informasi lainnya, Bu.." sahut Maya takut takut. "Nah! Bagus, Maya. Info apalagi?" "Mmm.. Tapi, Bu.." "Aduh, tapi apalagi? Kamu nggak percaya sama saya? Kamu tenang aja, saya nggak akan sebut nama kamu satu kalipun. Kenapa kamu masih ragu? Atau mungkin, uang yang saya janjikan sama kamu masih kurang? Nggak masalah. Sebutin aja nomor rekening kamu. Sekarang juga saya kirim uangnya." "Mmm.. Bukan begitu, Bu.." "Apalagi sih, Maya? Ah! Gini aja. Kalau kamu mau bekerja sama dengan saya, kamu akan saya angkat jadi pegawai tetap di First TV. Dan bukan hanya itu, saat nanti Airin dipecat, kamu langsung saya tunjuk menggantikan posisinya menjadi reporter tetap di First TV sport. Itu bukan perkara sulit untuk saya. Gimana?" Maya yang tadinya tidak ingin memberitahukan masalah Dirga yang ia dengar saat Airin menelepon Dirga di supermarket. Maya tau, itu masalah pribadi Dirga yang seharusnya tidak ia jadikan titik lemah Airin dan malah memberitahukan titik lemah itu pada Bu Elsye. Tapi apa yang ditawarkan Bu Elsye padanya saat ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Bayangkan saja, Maya tak hanya menjadi pegawai tetap. Tapi sekaligus menjadi reporter utama untuk acara First TV sport! Maya lalu menepis perasaan bersalahnya pada Airin dan Dirga. Ia lalu memberitahukan semuanya pada Bu Elsye. Termasuk masalah pribadi keluarga Dirga dan hutang hutangnya. Bu Elsye terbelalak tidak percaya. Tiba-tiba ia merasa angin segar berhembus ke arahnya. "Terima kasih, Maya.. Oh iya, uangnya sudah saya transfer ke rekening kamu ya.. Saya pergi dulu. Terimakasih informasinya. Soal pengangkatan kamu, akan segera dilaksanakan saat Airin dipecat. Oke?" "Ba.. Baik, Bu.." Maya tertunduk lemas. Dalam hati ia berkali-kali minta maaf pada Airin dan Dirga. Maafin aku Rin.. Aku memang jahat.. Maafin aku.. Tanpa sadar, Maya menangis..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN