Airin sadar, kasus korupsi dan perselingkuhan salah satu atasannya di kantor membuatnya nyaris melupakan masalah yang menimpa Dirga. Ia sangat merasa bersalah pada Dirga. Terlebih lagi, saat mereka bertemu, Airin melihat kondisi Dirga lebih mengenaskan dari dirinya sendiri.
Berat badannya turun drastis, wajahnya terlihat cekung, dengan lingkaran hitam di sekitar mata. Ia pun terlihat lusuh. Airin memeluknya erat. Ia sangat iba melihat Dirga. Biasanya Dirga terlihat enerjik dan penuh tawa, kali ini, semua energinya seolah terhisap habis.
Airin terus memeluk Dirga erat. Seolah ingin mentransfer semua tenaga yang ia punya untuk menguatkan Dirga. Dirga balas memeluknya erat. Tapi tidak mengucapkan sepatah katapun. Hanya deru nafasnya yang terdengar samar.
"Abang kurus banget.." lirih Airin berkata, sambil memegangi pipi Dirga yang nampak tirus.
"Kamu juga, Na. Kenapa jadi mungil banget gini?" Dirga memandangi Airin dengan tatapan sendu.
"Aku malah seneng, Bang. Kan lumayan, diet gratis, nggak perlu beli obat menghilang nafsu makan segala." canda Airin berusaha memecah kecanggungan karena satu sama lain saling mengkhawatirkan keadaan masing-masing.
"Abang minta maaf ya, Na. Gara-gara Abang kamu jadi banyak pikiran. Badan kamu sampai kurus gitu. Maafin Abang ya, Na. Abang bener bener minta maaf sama kamu." ujar Dirga dengan suara parau.
"Ih ngapain sih Abang minta maaf segala? Kan aku udah bilang dari awal kalau ini tuh bukan salah Abang. Jadi Abang nggak usah minta maaf segala deh." rutuk Airin sambil mengerucutkan bibir.
"Tapi tetap aja Abang ngerasa bersalah dan enggak enak sama kamu, Na. Apalagi sampai sekarang ini, bukannya ketemu solusi, semuanya malah jadi semakin rumit." sesal Dirga sambil menunduk menatap ujung sepatunya.
"Oh iya, kabar Ibu gimana, Bang? Katanya kemarin Ibu sakit lagi?" tanya Airin dengan nada khawatir.
"Iya, Na. Kemarin ibu dirawat lagi karena dehidrasi dan kekurangan nutrisi. Sejak Dista ngungsi di rumah tante, Ibu jadi nggak ada yang ngerawat dan merhatiin. Abang nggak sempat ngurusin Ibu, Na. Abang sibuk kesana kemari mencari solusi. Sementara Daffin dan Defri juga sibuk berhadapan dengan para penagih hutang. Ibu jadi selalu sendirian dan nggak terurus." jelas Dirga dengan penuh penyesalan. Meskipun Ibunya sudah menyebabkan masalah yang sangat besar, tapi Dirga tidak pernah menyudutkannya.
"Kami sudah minta ibu untuk ikut ke rumah tante bareng sama Dista, tapi Ibu menolak mentah mentah. Ibu bener bener nggak mau diajak ke sana. Padahal Dista sekaku mendapat perlakuan yang baik dari Tante, Suaminya, dan anak anaknya." ujar Dirga.
"Loh? Kenapa Ibu nggak mau, Bang?"
"Selain karena malu sama Tante, dan saudaranya yang lain, Ibu juga mau tetap bertahan di rumah itu dan ikut menghadapi para penagih hutang. Awalnya kami biarkan saja, tapi lama kelamaan Ibu semakin lemah lama-lama ibu sakit dan dirawat.."
"Ya Allah.. terus sekarang kondisi Ibu udah lebih baik kan, Bang?"
"Iya, sudah membaik, Na. Kemarin sore udah keluar dari rumah sakit."
"Syukur alhamdulillah.." Airin lega mendengar penuturan Dirga soal kondisi Ibunya.
"Dan setelah keluar dari rumah sakit itu, kami langsung membawa ibu ke rumah Tante. Biar ibu dekat dan selalu bareng sama Dista. Biar mereka saling menjaga."
"Iya sayang, memang lebih baik begitu. Nggak usah di dengerin omongan orang.."
"Abang juga ngomong gitu, Na. Ngapain dengerin omongan orang, toh mereka juga enggak bisa bantu kita. Akhirnya setelah kita semua ngomong begitu, Ibu nurut dan mau ikut ke rumah tante."
"Syukurlah..."
"Dan ternyata di sana semua tidak seperti dugaan Ibu. Tante justru menyambut kami dengan baik dan membantu Dista dan Ibu. Semuanya baik baik saja, Na."
"Syukurlah, Bang. Abang masih punya keluarga yang baik. Jadi ibu juga di sana bisa terjaga dan terawat kesehatannya." ucap Airin tulus.
"Iya, Na.."
"Oh iya, Abang.. Maaf ya sayang.. Sampai sekarang aku belum ketemu solusi dari semua permasalahan Abang. Mungkin nanti malam aku coba untuk ngomong sama Ayah.."
"Na! Nggak Na! Jangan ah! Mendingan nggak usah ngomong apapun sama Ayah. Abang nggak mau, Na." Dirga langsung panik begitu Airin menyebut nama Ayahnya.
"Nggak apa apa, Bang. Nggak ada salahnya kita coba. Kita nggak tahu isi hati Ayah seperti apa. Mungkin Ayah bisa bantu kan?" Airin bersikeras.
"Nggak ah, Na. Jangan. Abang nggak mau masalah ini sampai ke telinga Ayah ya, Na. Please.. Jangan bilang ke Ayah ya sayang?"
"Abang jangan gitu, sayang.. Nggak ada salahnya kita coba dulu. Nominal segitu kurasa Ayah punya kok. Kalau kita bicara baik baik, Ayah mungkin mau bantuin."
"Nggak, Na! Abang tetap enggak mau. Meskipun Ayah punya uang dengan nominal segitu untuk bantuin Abang, Abang tetap enggak mau minta tolong sama Ayah. Abang nggak mau kehilangan kamu, Na.."
"Abang.. Kata siapa kalau aku ngomong ama ayah berarti Abang akan kehilangan aku? Belum tentu,kan?"
"Belum tentu memang, tapi coba kamu pikir aja Na. Lagi lagi Abang ulang ulang terus ini. Kamu pikir ya, Na, nggak ada masalah ini aja Ayah terus- terusan nolak Abang tanpa Abang tau sebabnya. Apalagi sekarang? Kalau Ayah tau Abang punya masalah sebesar ini, bisa bisa..." Dirga menggantung kalimatnya.
"Tapi, Bang.."
"Pokoknya jangan apa minta tolong dan jangan bilang apa apa pada Ayah ya, Na?" pinta Dirga dengan raut wajah memohon.
Airin menghela nafas. Pelan dan berat. Walaupun dalam hati ia tau akan sangat sulit, tapi Airin tetap bertekad ingin bicara pada Ayah dan ingin minta bantuannya. Semoga Allah mengizinkan.
"Oh iya, Bang, aku mau tanya sesuatu."
"Apa itu, Na?"
"Abang kenal deket sama Pak Nugroho nggak?"
"Pak Nugroho? Pak Nugroho siapa Na?" Dirga mengerutkan kening mendengar pembicaraan yang tiba tiba langusng berubah arah.
"Itu.. Pak Nugroho yang ketua umum OSN, Bang.."
"Oh.. Pak Nugroho Sucipto ya?" tanya Dirga. Airin mengangguk.
"Hampir semua pemain kenal dengan beliau. Emangnya ada apa, Na?"
"Nggak kok.. Cuma pengen tau aja, kira-kira Abang tau tentang kehidupan pribadinya nggak? tanya Airin hati hati. Di luar dugaan, Dirga tertawa keras.
"Kenapa? Apa kabar miring tentang dia sudah sampai ke telinga wartawan ya?" tanya Dirga.
"Hah? Kabar miring apa?" Airin malah balik bertanya.
"Loh? Tadi kamu mau tanya apa, Na? Bukannya tentang perempuan perempuan di sekitar dia?" tanya Dirga.
"Hah? Oh iya.. Iya.. Salah satunya begitu itu.." jawab Airin.
"Emang kenapa? Kok tiba-tiba kamu penasaran soal masalah pribadinya? Atau jangan-jangan kamu mau meliput tentang keburukan OSN ya? Dimulai dari ketuanya gitu?"
"Ya nggak lah, Bang. Lagian ngapain juga aku ngerusak karirku sendiri dengan memberitakan hal negatif tentang kehidupan pribadi orang lain? Tugasku hanya meliput tentang pertandingan Tim Nasional. Nggak ada urusan sama ketua umum OCN sebenarnya"
"Terus, tadi ngapain nanya?"
"Nggak sih cuma pengen tau aja."
"Ah ngapain cuma pengen tau? Tumben banget. Kamu kan bukan tipe orang yang suka usil sama kehidupan pribadi orang lain? Abang Jadi curiga nih, jangan jangan.. "
"Jangan jangan apa? Abang jangan mikir aneh aneh deh.."
"Apa kamu kenal salah satu dari perempuan perempuan di sekitarnya?" tembak Dirga tepat sasaran. Airin terkejut bukan main dengan pertanyaan Dirga tadi.
Kok dia bisa tepat sasaran?
"Aah.. Udah ah, ngapain jadi ngomongin dia? Mendingan kita sekarang fokus dulu ke masalah Abang. Gini deh, aku boleh ya bicara sama Ayah? Boleh ya Bang? Nggak apa apa kok.."
"Aduh, itu lagi. Nggak mau, Na. Nggak usah. Please, Na..."
"Nggak akan merubah keadaan kok, Bang. Tenang aja. Lagian aku juga udah capek backstreet begini terus. Aku bakal ngomong sama ayah terus terang dan minta restu dari Ayah. Nanti kalau saatnya Abang dipanggil ke rumah sama Ayah, Abang siap ya?" pinta Airin.
Tiba-tiba orange juice yang diminum Dirga tersembur keluar saat ia tersedak mendengar ucapan Airin.
"Apa? Aduh.. Kamu yakin, Na?"
"Aku kenal Ayahku, Bang. Ayahku bukan orang yang picik. Dia pasti mengerti. Mungkin selama ini dia cuma meragukan keseriusan Abang. Karena jujur aja, banyak berita miring tentang para atlet sepakbola di luar sana. Terutama soal kebiasaan buruk mereka mempermainkan perempuan. Mungkin Ayah takut aku akan menjadi salah satu korban. Tapi itu kan karena Ayah belum kenal dengan Abang. Makanya Abang kenalan dulu sama Ayah, ya.. Mungkin setelah kenal Abang, Ayah akan melihat keseriusan Abang. Bagaimana bertanggung jawab nya Abang, dan bisa jadi Ayah malah akan berbalik menerima Abang meskipun dengan masalah Abang yang begitu besar. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, Bang. Itu kata Ayah loh, aku cuma copas aja. Ya dengan Abang jujur, mungkin Ayah akan terbuka hatinya. Karena Ayah adalah orang yang paling menghargai kejujuran. Jadi nggak apa apa ya, Bang, kalau nanti malam aku ceritakan pada ayah tentang masalah Abang, sekaligus minta bantuan Ayah dan Ibu. Oke sayang?"
Dirga hanya menghela nafas berat. Dalam hatinya ia malu dan takut sekali kalau nantinya ia akan kehilangan Airin. Tapi tak urung ia menganggukkan kepalanya sambil berdoa dalam hati, semoga apapun yang terjadi nanti, ia dan Airin akan diizinkan untuk tetap terus bersama.
***
"Selamat siang Bu Elsye.. Ada apa, Bu?"
"Siang.. Apa di sini ruangannya Airina Siddiqa Amanah?" tanya Bu Elsye.
"Oh iya, Bu. Betul. Tapi Airin sedang liputan. Ada yang bisa kami bantu, Bu?"
"Mmm.. Nggak kok, nggak saya cuma ada perlu sedikit dengan Airin. Nggak apa apa nanti aja saya ke sini lagi."
"Oh, baik, Bu, Nanti saya sampaikan sama Airin kalau ibu mencari dia."
"Oke, makasih ya.."
"Iya, Bu Elsye.. Sama-sama, Bu.."
Bu Elsye meninggalkan ruang kerja Airin dengan perasan galau. Ia betul betul gelisah. Sejak Sabtu kemarin ia sulit sekali tidur, bahkan nyaris terjaga sepanjang malam memikirkan apa yang terjadi ketika Airin datang ke apartemennya.
Bu Elsye tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan akhirnya selanjutnya setelah pertemuan mereka kemarin. Ia sendiri tidak kenal dengan Airin. Dan ia tidak bisa menebak tindakan apa yang akan Airin lakukan selanjutnya. Apakah ia akan menyebarkan ke seluruh kantor tentang hubungan terlarangnya dengan Mas Nugi? Atau Airin akan membiarkannya dan bersikap seperti tak terjadi apa-apa? Atau mungkin justru Airin akan memerasnya? Menjadikannya ATM berjalan dan terus merongrongnya dengan meminta imbalan tutup mulut?
Berbagai pikiran negatif berkecamuk di kepala Elsye. Sementara Airin saat ini sedang liputan dan tidak bisa diajak bicara. Elsye benar benar gelisah dibuatnya. Ia benar benar takut perselingkuhan terkuak ke ranah publik. Ia takut reputasinya hancur seketika karena masalah ini.
Akhirnya Elsye memutuskan untuk menunggu di ruang kerjanya sampai nantinya Airin pulang kembali ke kantor setelah liputan.
Setelah lebih dari tiga jam Elsye terus menunggu, tidak lama kemudian pintu ruang kerjanya diketuk seseorang.
"Selamat siang, Bu Elsye.." Airin muncul di depan pintu ruang kerja Bu Elsye dengan santai. Berbanding terbalik dengan Bu Elsye yang terlihat sekali tengah gugup dan gelisah.
"Selamat siang, Airin. Silakan masuk.." Elsye mempersilahkan Airin masuk ke ruangannya.
"Maaf, Bu Elsye, tadi saya dengar dari Maya, katanya Ibu mencari saya?" Tanya Airin dengan nada datar.
"Iya betul, saya memang mencari kamu. Ada hal sangat penting yang ingin saya bicarakan sama kamu."
"Oh ya? Ada apa, Bu Elsye?"
"Silakan duduk.."
"Baik, Bu. Ada apa Bu?
"Begini Airin. Saya bingung harus mulai dari mana. Jadi ini tentang kedatangan kamu ke apartemen saya hari Sabtu lalu" bisik Bu Elsye sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Ia sadar bahwa terlalu banyak mata dan telinga di sekitar ruangannya. Ia tau, meskipun terlihat baik baik saja dan tidak terjadi apa apa, tapi orang-orang di sekelilingnya pasti memasang telinga dan mata lebar-lebar untuk melihat dan mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Airin, kamu sore ini sudah selesai pekerjaannya?" tanya Bu Elsye.
"Udah Bu. Itu liputan terakhir saya." jawab Airin
"Kalau kamu senggang, bisa kita bicara di luar kantor?"
"Oh maaf, tentang apa ya, Bu?"
"Nanti saya jelaskan sambil jalan. Kamu bawa kendaraan?" tanya Bu Elsye.
"Iya saya bawa mobil Bu."
"Oke. kalau begitu pakai mobil kamu aja ya, biar mobil saya dibawa sopir."
"Baik, Bu.
"Nanti selepas jam kerja saya tunggu kamu di lobi. Oke?"
"Baik, Bu.." jawab Airin.
"Maaf, Bu Elsye, apa pembicaraan kita sudah selesai? Apa boleh saya pergi?" tanya Airin santun.
"Oh iya silahkan. Kamu boleh pergi."
"Baik, Bu, saya permisi dulu." ujar Airin santun sambil melangkah keluar ruang kerja Bu Elsye.
Dalam hati Airin bersorak. Akhirnya Bu Elsye pelan pelan akan membuka kedoknya sendiri.
Dan Airin bertekad tidak akan melepaskannya kali ini.
* * *
"Jadi begini, Airin. Saya bukan orang yang suka basa basi. Jadi lebih baik saya langsung ke pokok persoalan saja ya." ujar Bu Elsye ketika mereka berdua sudah berada di salah satu restoran yang dipilih Bu Elsye untuk tempat mereka berdiskusi.
“Iya, Bu, silahkan. Apa yang ingin disampaikan silahkan Ibu utarakan saja.” jawab Airin masih berusaha santun.
“Jadi begini, Rin. Ini tentang kedatangan kamu ke apartemen saya hari Sabtu lalu.”
“Oh iya. Memangnya ada apa, Bu? Apa ada yang salah dengan perhiasan mutiara yang Ibu pesan?”
“Tidak tidak. Bukan itu masalahnya. Ini tidak ada hubungannya dengan perhiasan mutiara yang kemarin saya pesan ataupun tentang outlet ibu kamu.” Jawab Elsye lagi.
“Oh syukurlah kalau begitu. Jadi ada apa, Bu?”
“Begini Airin, saya rasa kamu sudah tau siapa saya kan? Dan kamu juga tau kan siapa laki laki yang bersama saya pada saat kamu ke apartemen saya sabtu lalu?” tanya Bu Elsye setengah berbisik.
Airin bersorak dalam hati. Tapi ia tetap memasang ekspresi wajah yang netral.
“Oh iya. Saya tau beliau, Bu. Kalau tidak salah beliau adalah Pak Nugroho Sucipto ketua umum Organisasi Sepakbola Nasional. Saya beberapa kali bertemu beliau ketika liputan, dan beberapa kali juga beliau pernah saya wawancara.” jawab Airin panjang lebar. Tapi hanya itu yang ia katakan. Ia tidak balik bertanya kenapa Bu Elsye menanyakannya. Ia hanya menunggu dan membiarkan Bu Elsye menjelaskan kesalahannya sendiri.
“Mmm.. Begini Airin, mungkin kamu tahu saya kan ya? Saya masih terikat status sebagai ibu sekaligus istri dari orang lain. Begitu juga dengan Pak Nugroho dan mungkin kamu bertanya tanya kenapa kami sepagi itu berada ada di apartemen yang sama iya kan?"
“Maaf Bu, saya tidak terlalu memikirkannya karena memang saya tidak pernah mencampuri urusan pribadi orang lain. Hari Sabtu lalu tugas saya hanya mengantarkan perhiasan untuk ibu dari outlet yang dikelola ibu saya. Jadi kedatangan saya kemarin benar-benar hanya ingin mengantar pesanan. Bukan yang lain.".
“Oke, bagus. Kalau begitu saya hanya ingin memastikan kamu tutup mulut dengan apa yang kamu lihat saat itu.” dalam hati Airin mencibir. Dasar orang tidak tahu diri menyuruh orang lain merahasiakan permainan kotor mereka.
“Maaf, Bu. Seperti yang tadi saya bilang, Saya bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Jadi bolehkah saya meminta hal yang sama?" mendadak Airin bertanya pada Bu Elsye.
"Maksud kamu apa?" tanya Bu Elsye mulai tampak panik.
"Maksud saya, Ibu tolong juga jangan campuri urusan pribadi saya."
"Apa? Urusan pribadi kamu tuh apa?"
"Ibu dengan lancang memerintah saya untuk merahasiakan apa yang saya lihat. Padahal itu urusan pribadi saya mau bilang apa pada siapa kan? Itu yang namanya tidak mencampuri urusan orang lain. Apa saya salah?"
"Jadi kamu mau membocorkan rahasia itu ke mana mana? Sikap santun mu mana?"
Pembawaannya yang tadinya tenang dan santun menguap seketika. Terganti dengan kemarahan dan emosi yang memuncak. Airin sendiri tidak mau terpancing dan tetap tenang.
"Saya juga tidak bilang akan membocorkan rahasia itu kemana-mana. Sekali lagi itu urusan pribadi saya, Bu. Apakah saya akan merahasiakannya ataupun menceritakannya kepada sahabat saya, atau menceritakannya kepada orang lain di kantor? Toh itu hak saya. Lagipula saya tidak memfitnah. Saya hanya melihat kenyataan yang ada bahwa Ibu dan Pak Nugroho tinggal satu atap. Apakah saya salah?"
"Airin saya peringatkan kamu jangan macam-macam sama saya!"
"Saya punya daftar kejahatan ibu, bukan hanya sekedar perselingkuhan saja, Bu.."
"Hah? Apalagi inui?"
"Bagaimana halnya dengan kasus korupsi lima ratus milyar itu?" Airin tak tahan lagi. Dengan penuh emosi ia memuntahkan semua unek-uneknya selama ini. Dengan berani ia melawan Bu Elsye, atasannya di kantor.
"Kamu jangan kurang ajar! Kamu bisa saya pecat!"
"Oh saya tidak peduli, Bu. Silahkan pecat saya. Semua rahasia ibu ada pada saya."
"Kamu pikir saya takut? Mana buktinya?"
"Baik, Bu. Ibu menantang saya. Bukti pertama adalah perselingkuhan Bu Elsye dan Pak Nugroho." ujar Airin sambil membuka ponselnya dan memperlihatkan foto yang ia temukan di ruang tamu apartemen. Bu Elsye terbelalak.
"Kurang ajar! Lancang kamu! Berani-beraninya mengambil foto di rumah saya!"
"Sebentar, saya belum selesai, Bu. Yang kedua, saya punya bukti bahwa Bu Eslye dan Bu Keyla terlibat kasus korupsi yang dilakukan oleh Pak Nugroho." ujar Airin membuat bu Elsye makin pucat pasi.
"Maksud kamu apa??" wajah Bu Elsye berubah menjadi sangat tegang.
Airin kemudian memperdengarkan sebuah rekaman suara Bu Elsye dan Bu Keyla yang ia rekam di rooftop beberapa waktu yang lalu. Bu Elsye sampai terduduk lemas mendengarnya. Ia langsung merebut ponsel Airin dan menghapus file yang yang tertera di sana.
"Silakan dihapus Bu. Ibu pikir saya bodoh? Saya punya salinannya dan saya simpan di akun pribadi saya. Siap saya kirimkan via email ke mana saja yang saya mau.
"Airin.. Airin.. Apa mau kamu? Saya akan kabulkan semua permintaan kamu. Tolong kamu rahasiakan ini .."
"Ibu mau menyuap saya? Jangan samakan saya dengan Ibu! Saya tidak memanfaatkan orang lain untuk kepentingan pribadi saya! Yang saya inginkan hanya satu : mengangkat kasus ini ke permukaan agar tidak ada lagi kasus korupsi yang serupa.
"Airin tunggu! Saya mohon jangan lakukan itu.."
"Maaf bu saya tidak bisa memenuhi permohonan Ibu. Silakan kan Ibu pikirkan lagi. Saya beri Ibu waktu dua puluh empat jam untuk mengakui semua perbuatan ibu, jika tidak saya akan menyebarluaskan ini! Terima kasih. Saya permisi." Airin mengambil tas dan kunci mobilnya. Lalu ia berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Elsye menatapnya dengan tangan gemetar dan jantung berdebar.
Dalam hati ia bertekad sebelum ia dihancurkan, terlebih dahulu ia akan menghancurkan Airin.
Lihat saja nanti