Bab 34. DUA SEJOLI

1501 Kata
Perempuan itu mempersilahkan Airin masuk. Tadinya ia hanya melihat sekilas ke arah Airin dan matanya kembali tertuju pada kotak perhiasan yang Airin bawa. Tapi beberapa detik kemudian, ketika tatapan mereka bertemu, Elsye langsung terperangah. "Kamu?" "Selamat siang Bu Elsye, eh, maaf, Ibu Tita. Saya Airin.."Ujar Airin tenang. Berbanding terbalik dengan Bu Elsye yang terlihat sangat panik dan wajahnya mendadak pucat. Sekilas Airin melihat tangannya gemetar.  "Kamu? Kamu karyawan First TV kan? Kamu reporter kan? Dari divisi olahraga sepakbola betul kan?" tanya Bu Elsye bertubi tubi. Ekspresi penuh kekhawatiran dan ketakutan jelas terbaca di wajah cantiknya. Airin tersenyum ramah.  "Betul, Bu Elsye. Saya Airina Siddiqa Amanah. Saya bekerja di First TV, Bu. Saya dari divisi sport yang biasa meliput tim nasional sepak bola." jawab Airin tenang. Ia sangat berusaha menjaga ekspresinya agar tetap datar.  Bu Elsye terlihat sangat terkejut dan panik. Saat itulah dia sadar bahwa saat ini penampilannya benar-benar berantakan dan tidak karuan. Baju tidurnya yang tipis dan minimalis, membuat lekuk tubuhnya terlihat kemana-mana. membuatnya langsung merasa tak nyaman. "Sebentar.. Kamu tunggu ya.. Kamu masuk dan duduk aja dulu.. Tunggu di sini sebentar ya, saya mau ganti baju dulu." ujar Bu Elsye cepat dengan nada gugup. Airin tau, dia setengah mai menyembunyikan getaran dalam suaranya, menyembunyikan kepanikannya. "Baik, Bu.." jawab Airin tenang. Bu Elsya setengah berlari menuju kamarnya dan langsung panik mengambil pakaiannya dari dalam lemari. Ia mengenakan pakaiannya secara terburu-buru. Sementara Airin terlihat sangat tenang. Ia merasa sangat puas dan senang sudah menangkap basah perselingkuhan Bu Elsye dan laki-laki yang membukakan pintu tadi.  Semua orang juga tau itu bukan suaminya. Dan sejak awal kedatangannya, Airin sudah menduga itu pasti Pak Nugroho Sucipto. Orang nomor satu di Organisasi Sepakbola Nasional yang namanya sering disebut sebut Bu Elsye dan  Bu Keyla di rooftop dengan sebutan Mas Nugi.  Bukan satu dua kali Airin bertemu dengan Pak Nugroho saat meliput berita sepakbola, pada saat pertandingan, ataupun mewawancarainya secara langsung. Tapi sepertinya Pak Nugroho tak sadar kalau orang yang ia temui hari ini adalah Airin, reporter olahraga sepakbola di First TV yang sudah sering bertemu dengannya. Sambil menunggu, Airin melihat lihat berkeliling. Ternyata di sini lubang tikus mereka. Sebuah apartemen mewah di kawasan elite yang berkelas. Di sini pasti sarangnya mereka berdua, tempat yang selalu mereka gunakan untuk bertemu secara diam diam. Saat mengamati meja di sampingnya, mata Airin tak sengaja tertuju pada sebuah frame yang berisikan sebuah foto dua sejoli ini. Foto itu dipajang manis di dekat meja tempat Airin duduk. Tidak hanya satu, tapi deretan foto mereka di berbagai tempat terpajang rapi. Tanpa pikir panjang Airin diam diam memotret foto foto itu. Oke, Airin tau ini ilegal. Sebuah perbuatan ilegal yang tidak boleh ia lakukan, mengambil foto di rumah orang lain tanpa seizin yang punya rumah. Ya, Airin tau betul kalau dia tidak boleh sembarangan memotret barang milik orang lain. Tapi tekadnya untuk mengungkap perselingkuhan dan terutama korupsi yang dilakukan Bu Elsye dan Pak Nugroho membuatnya menutup mata dan telinga rapat rapat dari aturan yang berlaku, dan tetap mengambil foto yang ia perlukan sebagai bukti.  "Mm.. Kamu.. Maaf tadi siapa namanya?" tiba tiba Bu Elsye kembali ke ruang tamu setelah membenahi penampilannya yang tadi sempat acak acakan. Sama acak acakannya dengan si pria. Entah apa yang mereka lakukan sebelum Airin datang tadi. "Saya Airina, Bu.. Panggil aja Airin, atau Rin.." "Oh.. Iya.. Airin. Kita sering ketemu di kantor ya? Saya sering lihat kamu di kantor.." ujar Bu Elsye mencoba menjalin keakraban. Dalam hati Airin mencibir. Heleeeh.. Sering ketemu apaan? Sering lihat katanya? Padahal aku ini bukan levelnya. Kalau ketemu langsung tatap tatapan aja dia sok sok nggak kenal. Sekarang bilang katanya sering ketemu? Sering liat aku? Hiiih.. Bohong. Batin Airin kesal. "Iya, Bu.. Saya juga sering banget lihat Ibu dari ruangan saya.." jawab Airin basa basi. "Oh iya, kok kamu bisa ada di sini? Kenapa kamu yang anterin pesanan saya? Biasanya Mbak Dewi kan?" tanya Bu Elsye terlihat sekali mencoba menyembunyikan kegugupannya. "Oh iya, Bu. Tadi saya belum selesai memperkenalkan diri. Outlet perhiasan etnik tempat Ibu memesan perhiasan mutiara ini milik Ibu saya, Bu. Saya Putri tunggalnya Ibu Sofia. Ibu saya titip salam, Bu. Mohon maaf Ibu saya tidak bisa mengantarkan langsung perhiasan mutiara pesanan ibu. Karena beliau sedang ada tamu. Mbak Dewi juga nggak kesini karena sedang kurang enak badan. Jadi saya diminta untuk mengantarkannya." jawab Airin sambil tersenyum ramah. "Ooh.. Kamu anaknya Bu Sofia.." sahut Bu Elsye masih belum bisa menyembunyikan kegugupannya. "Ini pesanannya, Bu. Silakan diperiksa lagi satu persatu. Ini satu set perhiasan mutiara air laut itu ya, Bu. Sudah sesuai pesanan atau masih ada yang kurang, Bu?" tanya Airin mencoba bersikap biasa saja.  "Oh? Eh.. Iya.." "Sudah lengkap, Bu?" "Eh? Apa? Oh.. Iya.. Iya.." Bu Elsye menjawab nyaris terbata. Jangankan memeriksa isi kotak perhiasannya, bahkan membukanya saja tidak. Ia sudah kelihangan fokus dan gugup setengah mati. Jadi ia hanya mengambil pesanannya tanpa membuka kotaknya apalagi memeriksa isinya.  Dia sangat panik saat ini. Bagaimana tidak, salah satu staf di kantornya memergokinya sedang bersama dengan laki laki yang bukan suaminya di sebuah apartemen? Dan laki-laki itu pula yang tadi membukakan pintu! Yang lebih parah, dirinya adalah istri orang dan si laki laki adalah suami orang! Apa kata dunia? "Airin.. Mmm.. Begini Airin.." "Iya, Bu?" tanya Airin setelah melihat Bu Elsye tidak melanjutkan pembicaraannya dan membiarkan jeda lama di antara mereka berdua. "Mmm.. Yaa.. Jadi gini, Airin. Saya di sini ini hanya menginap semalam saja.." Tiba-tiba, tanpa ditanya, Bu Elsye mengklarifikasi tentang keberadaannya di apartemen itu, bahkan tanpa Airin minta. Beberapa detik sesudah itu, Elsye menyesal mengatakannya. Semakin memperlihatkan kalau dirinya salah dan mencari cari alasan untuk pembenaran. Dalam hati Airin bersorak melihat kepanikan Bu Elsye.  "Oh iya, Bu, maaf pembayarannya via transfer atau tunai ya, Bu?" tanya Airin mengabaikan klarifikasi Bu Elsye tadi. Ia justru bersikap tak peduli, membuat Bu Elsye semakin gelisah karena tak bisa menebak isi hati Airin.  "Oke.. Untuk pembayarannya saya transfer aja ya.. mana nomor rekeningnya?" tanya Bu Elsye yang semakin gugup. "Ini Bu Elsye. Ini invoice-nya. Di sini sudah tertera nomor rekening dan jumlah yang harus ditransfer." jelas Airin masih tetap santai. "Eh? Apa? Oh.. Oke.. Baik, saya transfer sekarang ya.." Bu Elsa masih panik sambil mengeluarkan ponselnya dengan sikap yang sama sekali tidak tenang. Berkali kali ia melihat ke arah pintu kamarnya. Airin tau betul ia menyembunyikan tikus besarnya di sana, berharap Airin tidak mengenalinya tadi. Dalam hati Bu Elsye berdoa semoga kekasih gelapnya itu tidak keluar dari kamar dan menampakkan diri. Tapi tidak lama kemudian, yang Bu Elsye takutkan terjadi. Sosok laki-laki keluar dari kamar itu persis seperti dugaan Airin. Dia sudah tampak rapi. Akhirnya Airin bertemu dengannya. Dia Nugroho Sucipto. "Kamu beli sesuatu ya sayang?" tanya Pak Nugroho pada Bu Elsye.  "Hah? Iya. Perhiasan mutiara." jawab Bu Elsye pelan. "Kok tumben kamu pakai alamat rumah kita ini? Biasanya dikirim ke kantor kan?" tanya Pak Nugroho lagi.  Bingo! Ceweknya mati-matian menutup aib, cowoknya enteng banget buka kedoknya sendiri! Mampus! Airin tertawa dalam hati. Seketika perkataan Elsye tentang dirinya yang sekedar menginap terpatahkan dengan pertanyaan Pak Nugroho barusan. "Iya outletnya di dekat sini. Aku udah lama langganan jadi pemilik outlet nya sudah tahu kalau alamat aku di sini."  jawab Bu Elsye yang terlihat semakin gelisah. Ia sangat malu kata-katanya tadi terpatahkan. Tapi Airin tetap memasang ekspresi netral dan sikap yang tidak peduli. Padahal diam-diam di dalam hati ia terus bersorak.  Mampus kalian berdua! "Bu Els.. Mmm.. Bu Tita sudah jadi langganan VIP kita, Pak.. Kita memang tidak pernah menggunakan jasa kurir untuk menjaga komunikasi dengan customer. Dan supaya produk kita sampai dengan utuh dan dalam keadaan baik, Pak.." jawab Airin santai. "Wah.. saya suka pelayanannya.. Bagus.." jawab Pak Nugroho memuji. "Terimakasih Pak. Baik, ini berarti sudah selesai semua ya, Bu? Pembayaran sudah saya terima. Saya permisi dulu kalau begitu ya Bu Tita.. Pak..Mmm.." "Nugi."  "Oh, iya, Pak Nugi. Terima kasih atas pembeliannya.." "Iya sama sama Mbak.. Nanti kalau ada koleksi terbaru boleh diinfo lagi ke Bu Tita ya. Biar saya borong. Saya senang sekali kalau ada outlet yang pelayanannya memuaskan begini Jadi kita nggak usah capek capek harus mengunjungi outletnya. Seperti ini, saya suka sekali, orangnya datang langsung mengantarkan. Apalagi nggak pakai kurir, jadi kita masih bisa ngecek barangnya sesuai atau tidak dengan pesanan. " Pak Nugroho memuji sambil mengacungkan jempol. Airin tersenyum. "Terimakasih, Pak.." "Pantes kamu terus-terusan beli perhiasan di outlet ini. Jadi pelanggan VVIP. Pelayanannya memuaskan banget. Iya kan sayang?" tanya Pak Nugroho pada Bu Elsye. Tak sadar bahwa saat ini ini Bu Elsye dalam kondisi sangat panik. "Terima kasih, Pak kami akan terus berusaha meningkatkan pelayanan. Baik kalau begitu saya permisi.." "Oh iya. Terima kasih Mbak." Pak Nugroho mengantar Airin sampai ke depan pintu sementara Bu  Elsye mematung di tempatnya. Sambil berjalan ke arah mobilnya, Airin bersenandung dalam hati. Hatinya sangat senang sudah menangkap basah keduanya sedang melakukan perselingkuhan. Apalagi Bu Elsye terlihat sangat shock dengan kedatangan Airin tadi. Dua Sejoli itu ternyata tinggal bersama di apartemen ini. Satu bukti lagi sudah ku kantongi. Tinggal menunggu kapan saat yang tepat untuk kubuka ke ruang publik. Airin membatin dengan dengan tekad yang kuat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN