Bab. 33 TAMU TAK TERDUGA

1977 Kata
Airin menarik lagi jempolnya yang sudah nyaris menekan tombol hijau di ponselnya. Nama Mas Irwan tertera di layar ponsel. Airin sudah nyaris putus asa saat ini, rasanya ingin meledak. Rentetan permasalahan yang beberapa minggu terakhir mengganggunya mulai berdampak pada pikiran dan fokusnya. Terutama tentang Bu Elsye dan perbuatan kotornya. Bukan Airin mengesampingkan permasalahan Dirga, tapi yang ini lebih mengusiknya. Membuatnya terus menerus ingin berbuat sesuatu, bukan hanya diam saja melihat perbuatan curang mereka. Airin ingin sekali membicarakan masalah ini dengan seseorang. Dan saat ini pikirannya tertuju pada Mas Irwan. Dengan Mas Egi dia tidak mungkin berdiskusi. Sudah jelas, orang yang bermain aman seperti Mas Egi akan menolak mentah-mentah terlibat.  Dengan Maya? Ah.. entahlah. Sejak Airin menceritakan tentang Bu Elsye dan Bu Keyla pada Maya, ia seperti menolak terlibat dan justru bersikap seolah tidak ada apa apa. Membuat Airin sedikit menyesal menceritakan semua padanya. Dan sekarang masalahnya sudah semakin membuat Airin gelisah. Apalagi setelah ia mencari tau tentang Organisasi Sepakbola Nasional, ternyata di sana banyak sekali masalah. Entah itu kasus suap di kalangan pemain yang terkena hukuman disiplin kepada komisi disiplin OSN, tujuannya agar mereka terbebas dari sanksi, belum lagi adanya indikasi pengaturan skor pertandingan yang berbuntut masalah judi bola, ada pula wasit yang dianggap terang terangan memihak tuan rumah, sampai yang terbaru, adanya masalah keuangan di tubuh Organisasi Sepak bola Nasional yang menyebabkan gaji pemain dan pelatih tertungak dan selama berbulan bulan belum juga dibayarkan. Kalau ingat pembicaraan Bu Elsye dan Bu Keyla di rooftop tentang uang lima ratus milyar yang di korupsi ketua umum OSN saat itu, dan menghubungkannya dengan kasus tertunggaknya gaji pemain dan pelatih, darah Airin mendidih. Dasar koruptor! Ratusan orang menderita karena hak nya belum juga diterima, ia malah dengan kurang ajarnya berfoya foya dengan perempuan simpanannya berlibur keliling dunia!  Airin mulai merasa stress dan ia tahu berat badannya turun gara gara memikirkan masalah masalah yang akhir akhir ini menderanya. Ia merasakan pinggangnya mengecil ketika mengancingkan celana jeans nya, terasa sekali bagian pinggangnya lebih longgar. Ibu dan Ayah juga sering mengatakan hal yang sama tentang berat badan Airin. "Kamu kok kurusan, Rin? Diet ya? Udah nggak usah ikut ikutan diet diet segala, nanti malah kurang asupan, bisa sakit nanti." ujar Ibu saat susutnya berat badan Airin mulai terlihat. "Kamu sering lembur dan pulang malam, Rin, Terus liputan kemana mana, bikin laporan sampai subuh juga kan? Ayah sering lihat kamu jam tiga pagi masih ngetik. Aktivitas sebanyak itu harus diimbangi dengan nutrisi yang cukup, Rin. Jangan lupa makan. Minum vitamin. Jangan sampai sibuk kerja tapi malah kesehatan sendiri terganggu." nasihat Ayah panjang lebar. "Ah, nggak kok ya, Yah. Rin makannya banyak dan selalu tepat waktu kok. Kan selalu bareng sama temen temen yang lain." Airin menyangkal semua ucapan Ayah. "Terus itu kenapa kelihatan banget kurusan gitu? Pipi kamu tirus banget kayak gitu. Kamu diet ya?" tanya Ibu. "Ih, nggak lah, Bu. Ngapain amat diet segala? Bu, berat badan Rin kan udah ideal, nggak gemuk, dan juga nggak pernah deh Rin ikut ikut diet diet kayak gitu. Nggak ada gunanya buat badan, Bu." Airin menyanggah perkataan ibu. "Tapi kenapa kamu tuh kelihatan banget kurus kering gitu kenapa coba?" cecar ibu. "Sekarang Rin lagi ikut program healthy food aja, Yah, Bu. Jadi emang Rin lagi coba makan makanan yang organik, yang nggak terlalu banyak diolah, yang sehat lah. Jadi ini tuh bukan kurus, tapi membentuk badan jadi lebih ideal." kilah Airin sekenanya. Lagi lagi ia salut dengan otaknya yang sangat pintar berbohong kalau kekepet. "Ah, kamu malah keliatan kayak kurang gizi gitu. Healthy food apaan coba?" cibir ibu. "Iiih Ibuu, ini bukan sembarang kurus. Rin tuh coba atur makanan yang lebih sehat aja, karena kan jarang olahraga. Ini walaupun kurus dan kelihatan lebih kecilan, tapi yang penting sehat, Yah, Bu.." Airin berkilah lagi saat itu. Tapi jauh di lubuk hatinya sendiri, Airin sadar, perasaan tertekan stress dan bingung karena memikirkan permasalahan yang tumpang tindih di benaknya lah yang membuat berat badan Airin dari hari ke hari semakin menyusut. Aku harus bicara sama Mas Irwan. Kalau nggak, aku bisa meledak! Batin Airin. Tapi ia masih ragu-ragu, setengah dari dirinya masih belum berani bicara pada Mas Irwan. Ya Airin tau, Mas Irwan pribadi yang berbeda dengan mas Egi. Mas Irwan adalah jurnalis yang kritis dan tidak tebang pilih dalam memberitakan. Dari hasil diskusi diskusi nya dengan Airin dulu Airin sedikit banyak paham cara pemikiran Irwan dan ia tahu Irwan pasti tidak akan tinggal diam jika melihat kejahatan korupsi di sekitarnya, meskipun itu oleh atasannya sendiri. Tapi kemudian Airin menarik lagi jempolnya, tak jadi menekan tombol hijau. Ia ragu, apakah Mas Irwan yang dulu dan yang sekarang masih sama idealisnya. Ada dua hal yang membuat air yang bimbang dan mengurungkan niatnya menelepon dan berdiskusi dengan Mas Irwan. Pertama, Mas Irwan sudah menikah saat ini. Dan tentu saja sama seperti Mas Egi, pastilah hal yang pertama ada di pikirannya adalah ia tidak boleh kehilangan pekerjaan karena ia harus menafkahi istri dan anaknya. Yang kedua, sekarang Mas Irwan sudah pindah ke divisi news dan Bu Elsye Dianita adalah atasannya langsung. Yang Airin khawatirkan adalah Mas Irwan tidak akan mau membantunya karena berkaitan dengan divisi nya. Bahkan yang Airin paling khawatirkan adalah jangan jangan Mas Irwan juga terlibat? Ah! Nggak mungkin! Nggak mungkin! Airin menampik kata batinnya sendiri sambil geleng geleng kepala. Airin menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal dengan frustrasi. Ia benar benar bingung harus bagaimana.  Akhirnya Airin tak jadi menghubungi Mas Irwan dan malah melempar ponselnya ke atas kasur dengan cepat. Ia memutuskan untuk tidak jadi berbicara dengan Mas Irwan atau siapapun juga. Lebih baik sekarang ia mencari cara menyelesaikan semuanya sendirian. Ia tau sendirian jauh lebih aman dan tenang karena tidak melibatkan orang lain.  "Rin? Airin?" terdengar suara Ibu memanggilnya sambil mengetuk pintu kamarnya." "Iya Bu.." jawab Airin sambil membuka pintu kamarnya. Ibu melangkah masuk ke kamarnya. "Kamu hari ini libur kan ya?" tanya ibu pada Airin. "Iya libur, Bu. Kan sabtu ini Rin nggak ada liputan. Emang nya kenapa, Bu?" "Kamu mau nolongin ibu sebentar nggak?" tanya ibu sambil duduk di kursi yang ada di samping kanan tempat tidur Airin . Persis di bawah jendela. "Sekarang?" "Iya, sekarang. Kamu lagi nggak ada kerjaan kan?" "Kalau sekarang nggak sih, Bu. Emang mau minta tolong apaan?" "Ke luar sebentar mau ya?" "Oke. Aku juga lagi bosen di rumah. Kenapa, Bu? Mau beli bahan makanan lagi di supermarket?" tanya Airin. Ibu menggeleng cepat. "Bukan.. bukan itu, Rin. Ibu mau minta tolong anterin mutiara ke customer sebentar. Bisa nggak, Rin? Deket sini kok. Di apartemen nggak jauh dari sini.." pinta Ibu lagi. "Loh? Emangnya Mbak Dewi kemana, Bu? Biasanya Mbak Dewi sama Pak Rusli yang anter barang customer?" "Dewi lagi nggak enak badan, kasian, hari pertama datang bulan katanya. Perutnya nyeri dan badannya pegel pegel semua. Lagian Pak Rusli juga lagi nggak bisa nganterin. Lagi ada hajatan di kampungnya. Kemarin dia udah minta izin sama Ibu kalau hari ini nggak bisa masuk kerja. Kamu aja nggak apa apa ya, Rin?" "Oooh gitu.. Ya udah deh nggak apa apa." "Tapi kamu aja ya? Ibu nggak ikut ke sana nggak apa apa kan? Ibu sekarang nggak bisa ikut nganterin soalnya siang ini Tante Septi sama temen temen pengajian ibu mau ke datang ke outlet. Katanya mau lihat produk baru. Ya Ibu terpaksa nemenin mereka ngeliat liat outlet kan?" "Oh ..ya udah nggak apa apa deh, Bu. Ntar Rin anterin." "Sip sip.." "Eh ngomong ngomong dimana Bu di apartemennya?" tanya Airin. "Di Setiabudi." jawab Ibu. Lalu Ibu menyerahkan selembar kertas bertuliskan nama apartemen di kawasan setiabudi lengkap dengan lantai dan nomornya. Airin membacanya sekilas dan mengangguk tanda paham. "Oke oke.. Rin ganti baju dulu ya, Bu.." "Ya udah, mutiaranya udah dipacking Dewi kemarin. Kamu mampir di outlet dulu aja ya, ambil paketnya di meja kasir, sekalian jalan ke apartemen customer-nya. Kan satu arah." "Oke, siap nyonyaaah.." "Sip, makasih ya, sayaang.." "Sama sama Ibu sayaang.." Airin menutup pintu kamarnya dan bergegas berganti baju. Ia melakukan segala hal sambil terus berpikir tentang dua masalah yang selalu menggelayuti benaknya belakangan ini. Airin sepertinya memang butuh keluar rumah untuk mencari udara segar. Dan membantu ibunya mengantarkan pesanan sepertinya adalah alternatif terbaik saat ini untuk menyegarkan otaknya yang ruwet. Sudah enam tahun terakhir ini Ibu menggeluti bidang usaha perhiasan Etnik. Sejak dulu Ibu Airin memang memiliki hobi membuat perhiasan etnik berbahan dasar seperti mutiara batu alam, perak, dan macam-macam lagi. Dan sekarang outlet milik Ibunya itu sudah berkembang cukup besar. Ibu juga sudah mempekerjakan beberapa karyawan untuk membantunya menjalankan usaha kecilnya itu.  Meskipun hanya sekedar untuk mengisi waktu luang ibu dan sekaligus mengalihkan rasa bosannya, tapi ternyata saat ini bisnis perhiasan etnik milik ibu cukup banyak peminatnya. Kadang di hari libur seperti ini Ibu sering meminta tolong air untuk mengantarkan pesanan ke beberapa customer nya. Ini bukan kali pertama Airin membantu ibu mengantarkan pesanan. Sejak awal bisnisnya berdiri, Ibu memang selalu membuat segala sesuatu di outletnya serba eksklusif. Mulai dari desain yang terbatas, bahan yang berkualitas, sampai layanan yang terbaik hingga customer merasa puas.  Ibu bahkan tidak pernah menggunakan jasa kurir untuk mengantarkan pesanan. Selalu saja Dewi dan Pak Rusli, karyawan Ibu, yang mengantar semua pesanan ke customer. Ibu tidak pernah menggunakan jasa kurir. Selain beresiko karena harga perhiasan yang ibu buat memang tidak murah, Ibu pun selalu meminta karyawannya mengantar sendiri pesanan demi menjaga komunikasi yang baik dengan customer.  "Bu, Airin jalan dulu ya.." "Iya, jangan lupa perhiasannya diambil di outlet, Rin.." Ibu mengingatkan. "Iya, Bu. Ini Rin mau ke outlet dulu ngambil perhiasannya." jawab Airin,.  "Iya hati-hati ya, Rin. Makasih ya sayang.." "Iya Ibu ih, makasih mulu kayak bukan ama anak sendiri aja." tukas Airin sambil tertawa kecil. Ibu ikut tertawa. "Ya Udah Rin jalan ya, Bu.. Assalamualaikum.." pamit Airin sambil mencium tangan Ibu. "Waalaikumsalam.." jawab Ibu. Hari ini Airin memilih berpenampilan santai dengan mengenakan jeans dan kaos lengan pendek saja. Dia juga hanya mengenakan sepatu slip on berwarna gelap dan menjepit rambut panjangnya asal-asalan. Ia pun tidak mengenakan make up sama sekali. Toh dia hanya keluar sebentar saja mengantarkan pesanan. Untuk apa berdandan? Sampai di lantai dua puluh tiga apartemen yang dimaksudkan Ibu, Airin mengecek ponselnya, alamat customer ia simpan di sana. Airin mulai mencari nomor kamarnya dan langsung menekan bel begitu kamar yang dicari ia temukan. Setelah tiga kali menekan bel, sosok seorang pria membuka pintu. Airin tertegun melihatnya. Meskipun penampilannya berbeda jauh dengan yang biasa Airin lihat. Ia bukan lagi sosok pria berpenampilan parlente yang biasa ia wawancarai saat tengah bekerja, kali ini sosok itu hanya mengenakan celana pendek sebatas lutut dan kaos oblong berwarna putih. Rambutnya acak acakan. Pria itu balas menatap Airin dengan pandangan menyelidik. Wajah Airin terasa familiar. Ia seperti pernah melihat Airin sebelumnya. Tapi kapan dan dimana bertemu Airin ia tak ingat sama sekali. Mungkin karena penampilan Airin saat itu pun berbeda jauh dari biasanya. Tanpa make up, dan sangat casual. Berbeda jauh saat ia sedang meliput sebagai reporter dan mewawancarai pria ini. Itu sebabnya pria ini tak mengenali. "Maaf, Pak, ini betul rumah Ibu Tita?" tanya Airin santun. Berusaha bersikap normal. Padahal jauh di dalam hati dia sangat terkejut. Tiba-tiba ia bisa menebak, siapa Ibu Tita yang menjadi customer Ibunya. Jangan-jangan... "Oh iya benar. Maaf, mbak ini siapa?" tanya pria itu bingung. "Saya dari outlet perhiasan etnik, Pak. Ingin mengantarkan pesanan untuk Ibu Tita.." "Oh.. oke, sebentar ya, Mbak.. Tita? Tita? Sayang? Ini ada yang nyariin." Panggil laki-laki itu. "Siapa?" suara seorang perempuan terdengar dari dalam. "Ini, mbak nya ini mau nganterin paket dari toko.. apa tadi, Mbak?" "Perhiasan mutiara Pak.." "Perhiasan mutiara, sayang.." "Oooh iyaa.. suruh masuk aja dulu, sayang.." jawab si perempuan lagi. Tidak lama kemudian, keluar seorang perempuan yang masih mengenakan gaun tidur. Airin terkejut bukan main. Benar dugaanya tadi. Wanita yang bernama Tita dan customer tetap ibunya adalah orang yang beberapa hari ini ada dalam pikiran Airin.  Seolah sudah diatur Tuhan, mereka pun bertemu.  Ya, yang ada dihadapan Airin saat ini adalah dia. Elsye Dianita!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN