Bab 32. MENCURI DENGAR

1856 Kata
Wajah Maya mendadak pucat pasi. Ia terbatuk batuk hebat setelah mendengar cerita Airin. Airin buru buru mengangsurkan segelas air putih pada Maya. Maya langsung menenggaknya sampai tandas. "Ya Allah, Rin.. Boleh request nggak? Lain kali kalau cerita hal sepenting ini jangan pas lagi makan dong." protes Maya pada Airin. Mendadak nafsu makannya hilang setelah mendengar semua yang disampaikan Airin padanya. "Tapi gini, Rin. Sebentar.." Maya berbisik pada Airin sambil memandang berkeliling sambil mengawasi setiap sudut restoran. "Kenapa, May? Ini belum selesai, kita harus mikirin ren.." "Aduh.. Ntar dulu deh, Rin. Aku nggak tenang nih." Maya memotong ucapan Airin. "Kenapa sih, May?" "Kayaknya kita nggak bisa ngomong masalah sepenting ini di sini, Rin. Gimana pun juga, ini kasus yang sangat penting. Kurasa kita harus mengambil tindakan dengan pikiran jernih dan rencana yang betul betul matang, Rin." tukas Maya, masih dengan berbisik bisik. "Iya.. aku juga mikir gitu, May. Nggak tenang banget rasanya.." jawab Airin sambil ikut ikutan berbisik bisik. "Kita jangan gegabah, Rin. Karena ini menyangkut atasan kita di kantor. Gimana pun juga, meskipun kita beda divisi, Bu Elsye adalah pemimpin redaksi First TV. Apalagi semua yang kamu bilang belum terbukti. Kita jangan pernah sembarangan mengambil kesimpulan, Rin. Bisa gawat urusannya.." Ujar Maya. Suaranya direndahkan. Maya benar-benar takut ada yang mendengar dan menyebarkannya di kantor. Sebab saat ini mereka tengah berada di sebuah restoran di dekat kantor First TV. Bukan tidak mungkin ada beberapa karyawan First TV yang lalu lalang dan tak sengaja mendengar perkataan mereka. "Belum terbukti gimana? Ini udah ada buktinya, May!" sangkal Airin. "Hah? Serius, Rin?" "Ya serius lah. Kalau nggak, mana mungkin aku nekat nyeritain semua sama kamu, dan aku segelisah ini kalau semuanya belum terbukti!" tukas Airin kesal. "Kamu punya bukti? Mana buktinya? Coba aku liat." Pinta Maya penasaran setengah mati. Airin menggeleng cepat, memancing kerutan di dahi Maya. "Loh kenapa aku nggak boleh lihat?" "Aduh, bukannya nggak boleh, tapi.. aduh.. May, gimana kalau kita lanjutkan pembicaraan ini di tempat lain? Aku jadi ikutan ngeri nih." bisik Airin  "Ya udah yuk.." jawab Maya cepat. Airin buru-buru menyambar kunci mobilnya dan mereka berdua bergegas meninggalkan restoran.  Sepanjang perjalanan, mereka sibuk berdiskusi. Airin yang benar benar marah dan tidak menyangka Bu Elsye melakukan perbuatan serendah itu, dengan berapi-api menceritakan semuanya pada Maya. Sementara Maya masih setengah percaya dan setengahnya lagi menyangkal.  "Nih, May. Aku punya buktinya." ujar Airin cepat. Ia pun segera mengeluarkan rekaman suara yang ia ambil ketika Bu Elsye tengah berbicara pada Bu Keyla di rooftop beberapa waktu yang lalu. Setelah mendengar rekaman suara itu, wajah Maya bertambah pucat. Matanya terbelalak dan ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Rin kita harus ngapain? Jujur aku jadi takut banget." ujar Maya.  "Kenapa harus takut, May? Ini kejahatan, dan kita ini jurnalis. Tugas jurnalis apa? Mengungkapkan semua kejahatan dan kecurangan kepada publik kan?" Airin balik bertanya. "Tapi ini menyangkut kolega, Rin. Atasan kita sendiri." "Loh? Kenapa jadi tebang pilih? May, gimanapun juga kita ini jurnalis. Kita yang harus terdepan memberitakan kasus korupsi, bukan kita menyembunyikan kasus korupsi yang ada di lingkungan kita sendiri, mentang-mentang yang terlibat adalah atasan. Apalagi jika tidak terlibat dalam kasus korupsi itu, kenapa kita harus takut?" Airin menjawab dengan berapi-api. Maya menghela nafas. "Iya, Rin. Tapi apa nggak sayang karir? Kamu udah susah payah masuk First TVmengalahkan ribuan orang yang ingin mengincar posisi yang sama. Aku yakin kalau kita berani membuka kasus ini ke permukaan, bukan tidak mungkin pasti akan langsung dipecat, Rin. Coba dipikirkan lagi.." ujar Maya lirih. Saat mendengar penuturan Maya, Airin bukannya takut malah semakin bersemangat. "Aku nggak pernah takut, May! Yang memberiku rezeki bukan First TV tapi Allah. Jadi kalaupun aku dipecat, itu karena aku menyampaikan kebenaran. Apa Allah akan membiarkannya? Aku yakin, jika aku mengatakan kebenaran Allah tidak akan tinggal diam dan akan menolongku. Lagipula aku tidak ingin mengamankan posisiku di First TV dengan membela orang yang salah dan menyembunyikan kejahatan!" ujar Airin tegas. "Iya sih, Rin, nuraniku juga bilang begitu. Tapi terus terang aku masih takut .." ujar Maya lirih. "May, wajar banget kalau kamu takut. Aku sadar, kita juga nggak boleh gegabah, aku tahu itu. Kita harus merencanakan matang-matang gimana caranya agar mereka bisa dihukum setimpal sesuai dengan perbuatan mereka, tapi tetap saja kita harus berhati-hati" ujar Airin lagi. Maya diam saja. Matanya menatap lurus ke luar jendela. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu.  ***  Sejak kejadian hari itu, Airin jadi lebih sering mencari bu Elsye. Kadang dengan sengaja ia melewati ruangannya, kadang ia mencari tahu tentang atasannya itu di internet, bahkan Airin berkali-kali bolak-balik ke rooftop dengan harapan ia akan kembali memergoki mereka berdua tengah membicarakan soal Nugroho dan kasus korupsinya. Tapi sampai saat ini Airin belum menemukan bukti apapun lagi. Meski hanya dalam hati, ia terus bertekad ingin menuntaskan kasus korupsi ini dengan caranya.  Seorang jurnalis tidak pantas melakukan perbuatan serendah itu!  Sementara Maya, seolah tidak pernah terjadi apapun, ia bersikap biasa saja. Tidak ikut menyalahkan Bu Elsye namun tidak pula membelanya. Maya seolah menutup mata dengan semua yang pernah ia dengar dari Airin. Airin maklum. Ia pun tidak ingin melibatkan Maya. Saat itu ia hanya ingin menumpahkan semua unek uneknya pada seseorang dan orang itu kebetulan adalah Maya.  Airin tau, untuk masalah seperti ini tidak semua orang mau melibatkan diri. Untuk itu ia terpaksa menjalankan rencananya sendirian. Tapi sayangnya sampai saat ini Airin belum juga menemukan bukti apapun. "Rin, ntar pulang aku nebeng ya? Kebetulan aku mau ke arah rumahmu. Kamu mau langsung pulang kan? Boleh ya aku ikut?" pinta Maya pada Airin. "Oke, May. "Jawab Airin. Sore itu mereka pulang bersama tapi tidak satupun yang membahas masalah Bu Elsye. Airin menjaga suasana. Ia tak ingin Maya dan dirinya menjadi canggung. "Kamu buru-buru nggak, May?" "Nggak juga sih. Kenapa, Rin?" "Temenin aku sebentar ya, May. Ibu minta beliin bahan masakan. Kita ke supermarket dulu nggak apa apa ya, May?" tanya Airin pada Maya. "Nggak apa apa kok, Rin. Pas banget aku juga ada yang mau dibeli." jawab Maya. Beberapa menit kemudian, mereka terlihat asyik memilih wortel di rak sayuram. Tiba-tiba ponsel Airin berdering. Dirga. "Halo? Iya sayang?" "Na? Sayang kamu dimana?" tanya Dirga. "Ini lagi di supermarket, Bang, bareng Maya. Kenapa sayang?" "Ada yang harus Abang bicarakan, Na.."  "Halo? Abang? Kok suara abang putus putus? Abang dimana sih?" "Abang lagi pulang kampung, Na. Ini lagi di dekat rumah. Maaf Abang nggak bilang bilang dulu sama kamu sebelumnya. Kejadiannya terlalu cepat, Na. Abang benar benar bingung, nggak bisa mikir apa-apa lagi. Yang Abang lakukan cuma lari secepat mungkin ke bandara." sesal Dirga. "Apa? Jadi Abang di kampung? Abang suaranya kurang jelas.." Airin menatap layar ponselnya, lalu kembali menempelkan benda itu di telinga kanannya. "Tadi bilang apa, Bang?" "Maaf, Abang nggak bilang dulu sama kamu kalau Abang mau pulang ke kampung, Na.." "Oh.. Nggak apa apa, sayang. Aku ngerti kok. Abang pasti harus menyelesaikan banyak masalah di sana." "Iya, Na.. Makin lama makin rumit."jawab Dirga lirih. "Halo? Abang? Halo, Bang? Suaranya putus putus. Bener bener nggak jelas." ujar Airin. Ia kembali melihat ke layar ponselnya. Dan baru menyadari kalau sinyalnya lah yang membuat suara Dirga tidak jelas. "Abang, tunggu sebentar, ya.. Aku keluar dulu.. Ntar aku telepon abang lagi. Aku pindah ke tempat lain dulu yang sinyalnya lebih jelas. May tunggu sebentar ya, aku ada telepon penting.." ujar Airin pada Maya. "Oke, Rin. Aku tunggunya nanti di dekat kasir ya" jawab Maya. "Oke May.." Airin mengangkat jempol, lalu setengah berlari menuju pintu keluar. Ia duduk di dekat tempat parkir dan menelpon kembali Dirga dari sana. "Halo? Abang?" "Iya, Na. Suara abang udah jelas kan?" "Aduh kok masih nggak jelas sih ini?" Airin bolak balik mencari tempat yang sinyalnya bagus. "Masih nggak jelas, Na?" "Aduh kayaknya yang bermasalah speaker handphoneku nih, Bang. Sebentar ya aku cari tempat yang lebih sepi, nggak bawa headset, jadi ntar aku loadspeaker aja.." ujar Airin. Ia kemudian menemukan tempat yang sepi, di ujung parkiran, dekat tembok. Airin kemudian menyalakan speakerphone setelah memastikan tidak ada orang lain. "Halo sayang? Gimana tadi?" "Na.. Masalahnya udah semakin rumit. Tadi beberapa orang datang ke rumah, terus mengancam ingin memenjarakan Ibu. Mereka punya bukti surat perjanjian hutang piutang, dan di sana tertera pernyataan bahwa Ibu bersedia diproses secara hukum apabila tidak bisa membayar.." "Ya Allah.. itu bisa jadi barang bukti kalau mau buat laporan..." sesal Airin. "Dan nggak cuma itu, Na. Pihak bank juga datang ke sini. Sebentar lagi rumah ini akan disita bank." "Hah? Ya Allah.."  "Abang benar benar bingung, Na. Belum lagi rentenir yang setiap hari datang. Mereka membayar beberapa orang penagih hutang untuk mengancam dan menakut-nakuti. Tetangga mulai terganggu dan kemarin ketua RT sudah mulai mendatangi kami. Dia mewakili warga yang merasa sangat terganggu dengan teriakan para penagih hutang itu." "Ya Allah.. Ini udah makin gawat, sayang.." "Iya, Na. Abang benar benar bingung. Abang harus gimana sekarang, Na?" tanya Dirga. "Abang, aku punya sedikit uang tabungan. Gimana kalau kita pakai itu dulu, dan kita cicil sedikit sedikit. Paling tidak kita menunjukkan itikad baik untuk membayar hutang-hutang Ibu kan?" usul Airin. "Abang udah bicarakan itu dengan mereka, Na. Tapi mereka bilang bahkan dengan nominal segitu untuk bayar bunganya aja nggak cukup. Mereka nggak mau dibayar dengan cara dicicil." jawab Dirga. "Sudah sama sekali nggak bisa diajak kompromi ya?" "Nggak bisa, sayang. Boro boro kompromi, mereka cuma mau uang. Malah mereka makin menjadi jadi meneror keluarga Abang. Sekarang Dista sedang diungsikan ke rumah salah satu saudara Ibu. Abang khawatir dengan keadaannya. Abang takut terjadi apa-apa dengan Dista." "Ya Allah keterlaluan banget.." "Dan Ibu mulai menunjukkan tanda-tanda depresi, Na. Abang benar-benar bingung apa yang harus Abang lakukan sekarang?" "Abang.. Sayang.. Abang tenang dulu ya.. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Kita pikirkan lagi nanti. Aku akan terus berusaha cari jalan keluar. Sekarang yang terpenting Abang jaga kondisi kesehatan Abang, Ibu dan juga adik adik Abang. Jangan sampai dalam proses menyelesaikan masalah ini kesehatan kita semua jadi terganggu. Nanti aku pikirkan lagi apa yang harus kita lakukan. Mudah-mudahan ada jalan keluarnya." "Makasih ya, sayang.. Abang benar benar bersyukur punya kamu.." "Iya sayang.. Aku akan coba bicara pada Ayah ya? "Apa? Ayah? Jangan Na! Tanpa ada masalah ini aja Ayah udah nggak bisa menerima Abang sebagai pacar kamu. Gimana kalau Ayah tahu keluarga abang punya masalah yang sangat berat? Ayah kamu pasti makin nggak suka sama abang dan nggak akan pernah merestui hubungan kita!" jawab Dirga dengan nada panik yang sangat jelas terdengar. "Tenang dulu, sayang. Kita coba menyelesaikan masalahnya satu persatu. Abang percaya aja sama aku. Oke?" "Oke Na, Abang percaya sama kamu. Tapi jangan gegabah ya sayang.." "Iyaa.. Iyaa.. Ya udah nanti kita bicara lagi setelah aku sampai di rumah ya, Bang. Nggak enak sama Maya. Dia pasti udah lama nungguin di dalam. Nanti aku telepon Abang lagi kalau udah sampai ya?" ujar Airin. "Oke, Na. Makasih ya sayang.. I love you.." "I love you too, sayang.." Airin menutup telepon tanpa menyadari satu hal. Tidak jauh dari sana, sambil bersembunyi di balik mobil yang terparkir di sebelah Airin duduk, Maya mendengar setiap hal yang dibicarakan Airin dan Dirga. Ia menyimak setiap detailnya. Dan diam diam, tanpa sepengetahuan Airin, ada satu rencana di kepala Maya..                
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN