Saat itu usia Airin baru empat belas tahun. Tepat delapan tahun yang lalu, ketika ia masih duduk di kelas tiga SMP. Biasanya anak remaja seusianya sibuk menonton sinetron bertema remaja, atau acara konser musik, atau bahkan ada beberapa di antara temannya yang masih menonton kartun di usia itu.
Tapi tontonan Airin saat itu adalah siaran berita. Airin bisa sangat fokus ketika menonton berita di televisi. Mulai dari berita kriminal, berita ekonomi, sampai berita olahraga dia saksikan dari awal sampai akhir tanpa terlewat satupun. Bahkan ketika anak seusianya bercita-cita ingin menjadi artis, seniman, model, penyanyi, atau bintang film dan sinetron, Airin justru bercita-cita menjadi seorang penyiar berita.
Ayah pernah memergokinya berdiri di depan cermin, lalu menggunakan sisir sebagai microphone dan berpura-pura tengah meliput sebuah kasus dan melaporkannya kepada pemirsa dari tempat kejadian perkara, dengan gaya seperti jurnalis profesional. Meski usianya baru empat belas tahun, Airin sangat fasih meniru reporter sungguhan. Dari sanalah Ayah tahu bahwa Airin punya bakat menjadi seorang jurnalis.
Idolanya pun tidak sama dengan teman-teman seusianya. Ketika teman-teman sebaya Airin mengidolakan grup band tertentu, atau seorang penyanyi, artis sinetron atau bintang film, ataupun musisi terkenal dari berbagai penjuru dunia, Airin justru mengidolakan satu orang. Hanya satu orang, tak ada yang lain. Orang yang diidolakan Airin adalah penyiar berita TV yang terkenal cantik, cerdas, dan tajam dalam mewawancarai narasumber. Idolanya itu juga sangat pintar ketika menyampaikan sebuah berita.
Masih lekat dalam ingatan Airin, saat itu sang penyiar tengah memberitakan kasus korupsi di kalangan pejabat daerah. Ia terlihat menonjol dibandingkan jurnalis yang lain, karena berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis yang membuat narasumber kewalahan. Karena kepiawaiannya dalam mengupas tuntas sebuah pemberitaan, ia pun berkali-kali memenangkan penghargaan dengan kategori news anchor terbaik.
Tak hanya itu, kehidupan sosialnya pun seolah melengkapi kesempurnaannya. Iya dikenal berjiwa sosial yang tinggi. Terbukti dari aksi- aksi sosialnya membantu sesama, atau pun ia tak sungkan ikut terjun langsung menolong korban ketika tengah meliput berita di daerah konflik, ataupun daerah yang tengah dilanda bencana.
Dan semua hal itu semakin membuat Airin terkagum-kagum padanya. Bagaimana mungkin ada orang sesempurna itu? Dia cantik, pintar, keren, dan baik hati. Sejak saat itu Airin betul-betul bertekad, ia ingin menjadi seperti idolanya itu.
"Yah, nanti kalau kuliah, Rin boleh nggak kuliah di jurusan jurnalistik?" tanya Airin meminta persetujuan Ayah saat ia tengah berada di tahun terakhirnya di SMA.
"Coba Rin kasih tau Ayah alasannya." pinta Ayah menanggapi ucapan Airin.
"Rin dari dulu pengen banget jadi reporter, penyiar berita, pokoknya jadi jurnalis, Yah." jawab Airin.
"Boleh Ayah tau kenapa pengen jadi jurnalis?" tanya Ayah lagi.
"Ya ayah kan tau, Rin benar benar ingin jadi jurnalis seperti dia, Yah." jawab Airin sambil tertawa malu.
"Dia? Dia itu siapa?" tanya ibu yang baru saja bergabung dengan Airin dan Ayah sambil membawa camilan sore.
"Elsye Dianita, Bu. Rin ingin sekali menjadi seperti dia. Jadi jurnalis hebat." jawab Airin dengan mata berbinar binar.
Sejak saat itu idolanya tak pernah berubah. Dari dulu sampai sekarang, Elsye Dianita selalu jadi role model untuk Airin. Tak hanya sekedar kuliah di jurnalistik, Airin bahkan rela belajar mati-matian hingga lulus dengan predikat cumlaude di kampusnya. Tidak hanya itu, ia juga rajin mengikuti berbagai macam event yang diselenggarakan oleh First TV, tempat dimana Elsye bekerja, hanya untuk bertemu dengan Elsye Dianita. Tak terhitung berapa banyak foto Airin bersama Elsye di setiap event yang ia datangi.
Airin bahkan pernah ditawari oleh stasiun TV lain tempat salah satu dosennya menjadi narasumber, dan sang dosen merekomendasikan Airin yang cerdas untuk bekerja di sana, bahkan sebelum ia lulus kuliah. Namun Airin menolaknya karena hanya satu tempat yang ditujunya, tempat di mana Elsye Dianita berada. Hanya First TV.
Dan tak butuh waktu lama, impiannya terwujud. Meskipun mereka berbeda divisi, Airin bertekad akan bekerja sungguh sungguh di divisi sport, sebab suatu saat nanti Airin yakin ia akan dipromosikan ke divisi news dan ia akan segera menjadi news anchor, duduk berdampingan bersama dengan Elsye Dianita dan membacakan berita dalam satu segmen. Ya, itu adalah impian terbesar Airin.
Tapi hari ini semua impian akhirnya hancur berantakan. Sosok yang ia idolakan sejak remaja, orang yang bertahun tahun Airin anggap sebagai manusia yang paling sempurna di matanya, ternyata berbanding terbalik dengan apa yang ia lihat saat ini.
Orang yang iya puji sanjung sebagai seorang jurnalis anti korupsi, orang yang sangat cerdas dan kritis dalam mengupas tuntas sebuah berita tentang korupsi, ternyata justru terlibat langsung menjadi bagian dari kasus korupsi di kalangan Organisasi Sepakbola Nasional!
Tidak hanya itu, Elsye Dianita pun berselingkuh dengan Ketua Umum Organisasi Sepakbola Nasional, saat dirinya masih berstatus sebagai seorang istri dan seorang ibu, Elsye Dianita justru menjalin hubungan terlarang dengan seseorang yang yang masih berstatus suami orang lain.
Airin benar benar merasa dirinya bodoh karena mengidolakan orang yang salah. Ya, Airin sakit hati, merasa tertipu, merasa dibohongi. Benar kata ayah, jangan pernah mengidolakan seseorang kecuali yang memiliki akhlak sempurna seperti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Saat itu Airin membantah, bukan ia tidak mengidolakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, tentu saja ia tetap menjadikan Rasulullah sebagai panutan, orang nomor satu di hatinya, dan posisi Elsye Dianita jauuuuuuuh sekali. Ia hanya role model untuk Airin. Hanya itu.
Tapi sekarang omongan Ayah 100% benar dan ia betul-betul menyesal pernah mengidolakan seorang Elsye Dianita!
"Rin?"
Seseorang memanggil namanya. Tapi Airin tetap mematung dengan pandangan kosong.
"Airin?"
Ia tetap tak menanggapi. Telinganya seolah tersumbat.
"AIRINA!!
"Eh? Iya? Apa? Kenapa?"
"YA Allah Airin.."
"Hah? Iyaa Mas Egi? Kenapa Mas?"
"Harusnya aku yang nanya. Kamu kenapa sih, Rin? Lagi banyak pikiran? Bengong terus gitu. Lagi bingung banget kelihatannya kamu, Rin." ujar Egi sambil memandang Airin khawatir.
"Hah? Nggak sih, Mas.." Airin masih mencoba menyangkal.
"Apanya yang nggak, Rin. Udah jangan ngeles lagi deh. Bilang aja ama kita.." sahut Maya menimpali perkataan Egi, membuat semua penyangkalan Airin terpatahkan.
"Kamu banyak masalah banget akhir akhir ini ya? Kamu tu udah kayak lagi ada di alam lain, Rin. Nggak nyatu sama semua orang di sini. Udah katak punya dunia sendiri." tukas Egi tepat sasaran.
"Bener banget, Mas Egi. Dari tadi kelihatan banget Airin nggak fokus. Aku juga udah bilang, kayaknya berat banget masalahnya. Kamu kenapa Rin?" tanya Maya sambil menarik kursinya, lebih mendekat ke arah Airin.
"Iya, Rin, ada masalah apa sih?" tanya Mas Egi untuk ke sekian kalinya.
"Nggak ada apa apa Mas. Nggak lagi mikirin apa apa kok, May." jawab Airin terus menyangkal.
"Kamu yakin? Nggak mau cerita? Siapa tau kami bisa bantu." ujar Egi. Airin tau Egi tulus, bukan sekedar basa basi. Seniornya itu bukan tipe orang yang bertanya karena sekedar ingin tau atau penasaran saja. Airin tau ia memang peduli.
"Iya, Mas nggak apa apa. Bener kok. Cuma capek aja." jawab Airin masih terus menyangkal. Bukan Airin tak percaya pada Egi, tapi ia memilih untuk berpikir sendiri dulu. Bagaimanapun juga masalah ini terlalu pelik.
"Ya udah, kalau butuh apa apa bilang ya Rin. Nggak usah sungkan." ujar Egi lagi.
"Iya Mas Egi. Makasih ya.."
Egi mengacungkan ibu jari sambil berjalan kembali ke mejanya lagi. Airin menghela nafas. Ia tak yakin bisa bekerja dengan normal hari ini. Terlalu banyak pikiran pikiran yang menganggunya.
"Lagi mikirin Dirg ya?" bisik Maya tiba-tiba. Persis di telinga Airin, membuat wajah Airin langsung merah padam dan pipinya terasa panas sampai ke telinga.
"Apaan sih Mayaaa. Nggak koook.." tepis Airin cepat.
"Iyaa iyaaa.. Ya udah kalau nggak. Jangan panik gitu, Non." jawab Maya sambil tertawa melihat Airin yang langsung salah tingkah ketika nama Dirga disebut.
"Kan aku cuma nanya doang, Rin. Ya bagus deh kalau nggak apa-apa. Terus kenapa sih dari tadi kayaknya kamu murung banget? Kalau mau cerita sama aku juga nggak apa apa, Rin. Atau sama Mas Egi, Mas Dimas, atau siapa aja di tim kita. Kan kita di sini kan udah kayak saudara, Rin. Nggak boleh ada kata sungkan atau nggak enakan." ujar Maya mengingatkan.
Airin menghela nafas berat. Jujur, ia butuh sekali orang untuk berbagi, berdiskusi, dan bertukar pikiran dengannya. Masalah ini terlalu berat untuk ia tanggung seorang diri. Tapi Airin juga bingung, dengan siapa dia harus bicara dan menceritakan masalahnya?
Dengan Dirga? Itu jelas tidak mungkin. Dirga sendiri saja masih punya setumpuk masalah besar yang begitu berat yang harus ia tanggung. Airin tidak ingin mengganggu dan menambah beban pikirannya lagi.
Mau berdiskusi tentang apa yang didengarnya soal kejahatan Bu Elsye dan Pak Nugroho dengan Dirga? Jelas Dirga bukan orang yang tepat untuk diajak bicara masalah itu. Lagi pula korupsi ini ada di dalam organisasi sepak bola nasional, dimana Dirga jadi bagian di sana.
Atau mungkin Airin bisa berbicara dan berdiskusi dengan mas Egi? Itu juga tidak bisa. Tadinya ia sudah ingin menghampiri Mas Egi, namun seketika Airin mengurungkan niatnya. Bagaimana pun juga Bu Elsye adalah atasan mereka. Sementara Mas Egi adalah orang yang terkenal cari aman. Dia pasti tidak ingin terlibat apapun dengan masalah yang menyangkut atasan. Terlebih lagi, Mas Egi pernah bercerita kalau statusnya adalah seorang ayah dua orang anak. Dan praktis, dirinya selaku kepala rumah tangga ia tidak ingin terlibat masalah macam-macam. Yang ia inginkan hanya bekerja dengan baik dan mencari nafkah untuk istri dan anak anaknya. Airin yakin, jika ia menceritakan semua pada masa Egi, Mas Egi tidak akan bisa membantunya. Bahkan mungkin akan menjauh.
Lalu dengan siapa Airin harus mendiskusikan ini semua? Dengan Maya?
Ah, Airin belum terlalu kenal Maya. Seperti apa dia, bagaimana pemikirannya, bagaimana Maya menyikapinya jika ia bercerita?
"Rin?"
Tiba-tiba Maya menepuk bahu Airin. Lamunannya buyar seketika.
"Iya? Apa May?" Airin gelagapan.
"Tuh kan? Mas! Mas Egi! Airin ngelamun lagi tuh!" Maya mengadu pada Egi.
"Kamu istirahat aja, Rin." saran Egi, bersuara dari balik kubikelnya.
"Udah deh, Rin. Mending kamu pulang aja sana. Kerjaan juga udah selesai. Nggak apa-apa kok. Iya kan, Mas Egi?" tanya Maya diiyakan Egi.
"Iya, Rin nggak apa apa. Daripada kamu ada di sini tapi pikiran kamu ada di mana mana? Mendingan kamu pulang aja. Di sini juga percuma, kamu kelihatan banget nggak fokusnya. Kerjaan kamu nggak akan berjalan lancar." ujar Mas Egi tegas.
"Nggak apa apa, Mas?" tanya Airin dengan perasaan tak enak.
"Nanya lagi lempar kamera nih! Udah pulang sana!"
"Iya iya, Maaas... Makasih banget ya Mas. May, aku izin pulang duluan nggak apa apa ya?" tanya Airin pada Maya.
"Iya, santai aja, Rin. kamu istirahat aja deh, banyak berdoa, jernihkan pikiran kamu. Tiap masalah pasti ada jalan keluarnya, Rin. Tenang aja." Ujar Maya berusaha menenangkan Airin.
"Makasih ya, May.."
"Rin, kalau kamu butuh orang untuk cerita, jangan sungkan ya. Aku siap kok mendengarkan semua cerita kamu. Tenang aja, Rin, aku bukan orang yang yang suka mengumbar rahasia orang lain. Jadi jangan sungkan apalagi ragu sama aku ya? Kamu cerita aja, siapa tahu aku bisa bantu kamu. Atau kalau pun nggak bisa kasih solusi, minimal aku kan bisa meringankan beban kamu, Rin.." ujar Maya dengan nada menanangkan.
Airin terdiam. Kata-kata itu pernah ia sampaikan pada Dirga, saat Dirga meragukannya dan tidak percaya padanya. Dan sekarang, Airin sadar, betapa besar efek dari kata kata itu.
Saat ini, mendadak ia merasa sangat percaya pada Maya. Ya, dalam hati Airin menyakinkan dirinya sendiri kalau dia butuh orang untuk tempat berbagi.
Aku tidak bisa menyelesaikan semua masalah ini sendirian. Aku butuh seseorang untuk berbagi beban. Batin Airin. Perlahan, ia mulai merasa yakin pada Maya. Airin lalu menatap Maya dari tempatnya duduk. Saat Maya menoleh ke arahnya, tiba tiba keyakinan Airin bertambah besar. Ya, hari ini juga ia harus menceritakan ini semua pada Maya. Sebelum ia meledakkan dirinya sendiri karena emosi yang terus menumpuk.
"May.." panggil Airin setengah berbisik.
"Ya, Rin?"
"Kamu siang ini ada kerjaan?"
"Nggak ada sih, kenapa?"
"Aku ada masalah, May. Ruwet banget. Boleh nggak aku ceritain sama kamu, May.."
"Ya Allah, pake nanya! Boleh lah Riiin. Boleh banget malah. Ada apa, Rin? Coba cerita sama aku.."
"Tapi mendingan jangan di sini, jangan sekarang. Nanti aja pulang kerja aku tunggu kamu di parkiran ya? Aku anterin aja kamu pulang sambil ngobrol." bisik Airin pelan. Maya mengangguk tanda setuju.
"Oke, sip. Ntar tungguin aja ya.."
* * *
Baru saja pintu mobil tertutup, Maya langsung bersemangat sekali memberondong Airin dengan banyak pertanyaan.
"Kamu kenapa, Rin? Ada masalah apa? Kamu nggak apa apa kan?"
"Sabar, May.. Sabaaar.. Pake seat belt dulu gih.." ujar Airin sambil mulai menginjak pedal gas mobilnya. Maya menurut, ia dengan cepat memasang seat belt.
"Lain kali, kalo ada masalah dan pengen cerita ama aku, nggak usah pake izin dulu kali Riiin.. Pake nanya boleh apa nggak segalaa.. Ya pasti boleh laaah."
"Iya, maaf, May. Aku bingung banget soalnya.."
"Emang ada masalah apa sih?"
"Ntar ya, kita stop dulu di restoran di sana. Ngomongnya sambil makan aja. Oke?"
"Oke.."
Mereka lalu masuk ke restoran dan memilih tempat duduk yang paling sudut dan jauh dari lalu lalang. Restoran ini tak jauh dari kantor Firts TV, Airin memilih tempat duduk si ujung untung mengantisipasi, khawatir nanti ada yang mencuri dengar pembicaraan mereka dan menyebarkannya.
Setelah duduk dan memesan makanan, lalu memastikan semua aman, Airin mulai menceritakan semuanya pada Maya.
"Gini, May. Aduh bingung mau mulai dari mana. Gini deh.. kamu tau kan sama Bu Elsye Dianita?" tanya Airin hati-hati.
"Ya tau lah! Siapa sih yang nggak kenal Bu Elsye? Emang kenapa, Rin?"
"Nah.. Apa yang mau aku ceritakan sama kamu ini, ada kaitannya dengan Bu Elsye, May.."
"Hah? Kenapa, Rin?"
"Aku nggak sengaja denger pembicaraan Bu Elsye dan Bu Keyla, May. Pembicaraan mereka bener bener mengejutkan, sampai aku kepikiran terus."
"Hah? Emangnya mereka ngomongin apa, Rin?"
"Ceritanya panjang. Intinya, Bu Elsye selingkuh dengan koruptor!"
"APA??"
Setelah itu, semua yang Airin dengar di rooftop mulai ia ceritakan satu persatu pada Maya. Maya terbelalak tidak percaya. Sesuatu berkecamuk dalam benaknya.