Bab 30. PEMBICARAAN YANG MENGEJUTKAN

2005 Kata
“Rin, data hasil liputan yang kemarin dimana ya?” tanya Maya sambil bolak balik memeriksa file di laptopnya. Hasilnya nihil. Ia lantas memeriksa email, dan tetap sama, yang dicari tidak ketemu juga. Karena Airin belum bereaksi, Maya terus mencari di google drive. Masih juga tak ada. “Apa kamu kirim ke email?” tanya Maya lagi. Ia terus berbicara pada Airin tapi matanya tetap tertuju pada layar laptop. "Rin? Airin? AIRINAAA!!" "Hah? Apa? Apanya May?" "Kamu simpen dimana?" "Hah? Apaan? Apanya yang disimpen dimana? Apa tadi, May?" Airin terlihat panik dan malah balik bertanya pada Maya, membuat gadis itu mengerang sambil menepuk keningnya sendiri. "Rin kamu nggak apa-apa kan?" tanya Maya dengan raut wajah khawatir. "Nggak, May.. Nggak apa apa kok." kilah Airin. "Yang bener? Kok jadi linglung begitu? Ditanya malah balik nanya." tukas Maya. "Beneran, May. Aku cuma lagi agak capek aja dikit. Tadi kamu nanyain apaan, May? Apa tadi? Apanya yang disimpen dimana?" tanya Airin dengan nada tak jelas. Dari omongannya saja Maya tau dia sedang kacau. "Ya Allah.. Kayaknya kamu butuh istirahat deh, Rin. Udah deh mendingan kamu istirahat aja dulu sana. Ntar kerjaan kamu biar aku yang handle deh." saran Maya dengan ekspresi kasihan. "Ih, nggak kok, May. Aku nggak apa-apa kok, beneran deh. Tadi kamu nanya apaan?" ulang Airin lagi. "Tadi aku nanya dimana data liputan kemarin, Airinaaa.." "Eh? Oh belum aku kirim ya? Tadi perasaan udah aku email deh, May." jawab Airin sambil memeriksa emailnya sendiri. Maya menghela nafas sambil geleng geleng kepala. "Yang kamu email itu data liputan minggu lalu, sayaaang. Yang kemarin sore belum aku terima.." jawab Maya setengah kesal tapi di sisi lain, Maya merasa ini sesuatu yang lucu. Melihat Airin yang biasanya sigap dan lincah sekarang terlihat linglung dan low energy. "Hah? Masa sih? Bentar bentar.. Coba aku cek dulu ya.." Airin memeriksa laptopnya lagi, kemudian menepuk keningnya sendiri. "Ya Allah Mayaaa.. Iya bener! Aku salah kirim, May! Tunggu bentar, aku kirim lagi ya.." pinta Airin sambil mengirim file dengan cepat.  "Oke, udah tuh, May." "Oke.. Udah aku terima, Rin." "Maaf ya May.." "Iya nggak apa-apa. Aku maklum kok. Rin, mendingan kamu istirahat deh. Kamu kelihatannya lagi nggak fokus banget. Kamu ada masalah ya?" tanya Maya tepat sasaran. "Hah? Apa? Oh nggak kok, May. Aku cuma lagi capek doang. Beneran kok." sangkal Airin. "Ya udah, kalau gitu kamu istirahat aja Rin. Kamu pasti capek banget. Ini kamu keliatan banget udah nggak fokus lagi ama kerjaan. Daripada ntar kamu kenapa kenapa kan?" "Iya sih, May. Ya udah aku keluar sebentar ya? Nggak apa-apa kan, May?" "Udah sanaaa.. Tenang aja. Ntar aku yang beresin kerjaan kamu." jawab Maya sambil tersenyum. "Makasih banget ya, May.  "Iya sama-sama, Rin." Setelah meminta izin pada Egi, Airin beranjak keluar ruangan dengan langkah berat. Maya benar, Airin memang sedang tidak fokus hari ini. Seluruh energinya seolah terhisap habis setelah semalaman berpikir tentang permasalahan yang menimpa Dirga dan keluarganya. Airin benar-benar bingung dan tidak habis pikir, bagaimana bisa orang tua Dirga menghabiskan begitu banyak uang dalam waktu singkat? Aset yang sudah terjual dan tergadai, tabungan yang sudah terpakai, bahkan sekarang masih menyisakan hutang miliaran rupiah. Airin berpikir sambil terus berjalan ke arah lift tujuannya hanya satu : Rooftop tempat ia biasa menenangkan diri. Sambil berjalan, Airin terus berpikir, dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Tabungannya sendiri tidak sampai seperempat dari nominal yang pernah disebutkan Dirga. Kemana ia mencari sisanya? Mencari pinjaman? Tidak. Airin tidak pernah sekalipun berhutang pada siapapun. Orang tuanya mengajarkan untuk jangan memaksaka kehendak jika kita tidak memiliki kemampuan. Itu sebabnya, Airin tak pernah meminjam uang pada orang lain. Kalaupun kali ini dia mencoba meminjam sekalipun, jumlahnya juga belum mencukupi dan itu akan menjadi masalah untuk dirinya sendiri di kemudian hari. Iya kalau sekedar gali lobang tutup lobang. Dengan hutang sebesar itu dan penghasilannya yang sekarang, bisa bisa berubah dari gali lobang tutup lobang menjadi gali lobang tutup jurang! Tidak tidak tidak! Airin menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau melakukannya.  Ia kemudian beralih memikirkan alternatif lain. Iya tahu ayah dan ibunya pasti punya uang dengan nominal sebanyak itu. Tapi mustahil Airin meminjam pada ayah dan ibunya. Menerima Dirga saja mereka belum bisa, belum mau, dan sekarang Airin malah mau meminjam uang untuk membantu Dirga? Apa kata Ayah dan Ibu kalau mereka tahu Dirga sedang dirundung masalah yang begitu pelik? Bukan tidak mungkin Ayahnya akan makin melarang hubungannya dengan Dirga. Bahkan mungkin, Ayahnya malah akan menjodohkannya dengan orang lain demi menjauhkan dirinya dan Dirga. Tak terasa langkahnya sudah mencapai rooftop. Airin masih sibuk dengan pikirannya sendiri dan memilih untuk duduk diam di tempat biasa ia merenung. Airin begitu larut dalam pikiran pikirannya sendiri sampai sampai ia tak sadar kalau ada dua orang yang sudah bergabung dengannya tanpa mereka ketahui. Lagi-lagi mereka. Bu Elsye dan Bu Keyla. Sama seperti kemarin, mereka tetap tak sadar kalau Airin ada di balik tembok dan mencuri dengar pembicaraan rahasia mereka. "Els lo nggak becanda kan? Apa kuping gue yang udah nggak beres? Lima ratus milyar Elsyeee! Gue nggak salah denger kan Els?" tanya Bu Keyla dengan mata terbelalak. "Nggak, Keyla! Kuping lo normal, lo nggak salah denger. Bener kok lima ratus milyar." jawab Bu Elsye enteng. "Aduh aduh aduh, Els! Kalau yang satu ini gue ngeri, Elsyee. Gue takut banget. Gue nyerah deh, Els." Bu Keyla berbicara sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Nggak bisa, Key! Gimana pun juga kita harus bantu Mas Nugi! Lo lupa ya, selama ini dia udah ngasih kita macem-macem. Bahkan duit yang lo pinjem dari gue untuk beli apartemen lo yang sekarang itu dari Mas Nugi, Key! Kita harus bantu dia!" perintah Bu Elsye tegas. Membuat Bu Keyla terdiam. "Caranya kita bantu Mas Nugi gimana?" "Lo harus bantu gue untuk menyimpan duit itu." "Lo gila Els? Maksud lo itu duit ditransfer ke rekening gue?"  "Bukan cuma rekening lo doang tapi rekening gue juga, dan beberapa rekening lainnya." jelas Elsye sambil memandang berkeliling. Ia takut ada yang mencuri dengar, tanpa tau bahwa dari tadi, ada sepasang telinga yang menguping pembicaraan mereka. "Aduh Elsye. Gue takut banget! Gue nyerah deh.." "Udah nggak bisa, Key. Pokoknya kita harus bantu Mas Nugi! Lagian lo tenang aja sih, ini bukan pertama kalinya Mas Nugi dapat duit dari OSN. Udah sering kan? Dan sejauh ini semua aman-aman aja, nggak ada apa-apa kan? Udah pokoknya lo ikutin instruksi gue sama Mas Nugi. Nanti gue kasih tahu lagi kita harus ngapain. Oke?" pinta Bu Elsye tanpa mendengarkan protes dan penolakan Bu Keyla. "Oh.. Oke oke, Els. Iya gue bersedia bantuin lo, pokoknya lo juga harus pastikan posisi kita aman. Gua nggak mau ada masalah dengan Polisi ataupun KPK! Gue bener-bener nggak mau ya Els.." pinta Bu Keyla sungguh sungguh. "Iya. Mas Nugi pasti udah merencanakan semuanya dengan rapi kok!" Airin kali ini ini benar-benar pasang telinga dan menyimak di tempatnya duduk. Ini sudah nggak bisa dibiarkan lagi! Mereka korupsi? Orang yang selama ini menggembar-gemborkan anti korupsi dan memberitakan kasus korupsi dengan tajam di media, bahkan mendapat penghargaan sebagai seorang News Anchor yang paling inspiratif karena dia terkenal tajam dalam mengupas kasus korupsi, sekarang justru terlibat langsung dengan kasus korupsi, bahkan menjadi bagian dari sebuah kasus korupsi di lingkungan OSN?" Airin tidak habis pikir. Bagaimana bisa orang seperti mereka menjadi panutan di Firts TV? Tiba-tiba Airin merasa kesal sekali. Lalu terlintas pertanyaan di benak Airin. Siapa Mas Nugi yang mereka maksud?  Karena ia bekerja di divisi sport, sedikit banyak Airin tau siapa saja nama petinggi di OSN. Terlebih lagi karena Dirga adalah atlet sepakbola yang tentu saja berurusan langung dengan OSN.  Tiba-tiba Airin mulai menebak nebak sendiri dalam benaknya. Siapa Mas Nugi yang mereka maksud? Tanpa Airin sadari, rasa penasaran sekaligus idealismenya sebagai seorang jurnalis membuat Airin bertekad untuk mengupas kasus korupsi yang telah mereka lakukan. Diam-diam ia mulai merekam pembicaraan Bu Elsye dan Bu Keyla dari balik tembok tempatnya duduk. Sementara, Bu Elsye dan Bu Keyla masih tak sadar bahwa Airin di sana telah merekam pembicaraan mereka. Dengan santai, Bu Keyla mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya dengan penuh emosi. Bu Elsye juga melakukan hal yang sama.  "Kebayang nggak sih 500 miliar itu jatuh ke tangan mas Nugi, Els! Lo bisa tajir mendadak Elsye! Kalau gue jadi lo, langsung gue gugat cerai tuh laki miskin lo itu! Biarpun harus jadi yang kedua gue nggak masalah deh. Kalian sama-sama suka kok." ujar Keyla provokatif. Ia menghembuskan asap rokoknya dengan gemas. "Nggak semudah itu gue cerai terus jadi istri Mas Nugi, Key. Gue nggak mau.." "Gila lo ya? Gila emang lo! Kenapa sih emangnya? Lo masih mikirin apa sih? Anak lo? Keluarga lo? Atau reputasi lo sebagai jurnalis papan atas?" tanya Keyla lagi. Kali ini dengan nada mencibir. "Elsye.. Elsye.. Anak lo aja nggak mikirin lo! Setiap kali lo pulang, anak lo nggak pernah menyambut lo di pintu kan? Tapi dia justru nyariin bapaknya. Sering banget lo pulang, tapi rumah lo kosong. Cuma pembokat lo doang duduk manis sambil nonton sinetron. Anak lo ada dimana coba? Di rumah neneknya kan? Mereka bahkan nggak pengen dekat-dekat sama lo. Gue sampe bosen dengerin cerita lo soal anak-anak lo itu." tukas Bu Keyla panjang lebar tanpa memikirkan perasaan Bu Elsye. "Tapi tetep aja mereka anak gue, Key.." "Heleeeh.. Anak apaan yang nggak bisa jaga perasaan ibunya? Kalau gue jadi lo, ya udah gue tinggalin sekalian! Toh, lo bisa punya anak lagi dari Mas Nugi kan? Umur lo baru tiga enam. Masih bisa lo hamil lagi. Istri Pak Jimmy aja umur empat puluh dua masih hamil tuh!" "Aduh Keylaaa! Lo tuh bener-bener gila ya! Gue nggak berfikir sejauh itu Key!" "Nah kan? Itu masalah lo, makanya sampai sekarang lo masih aja jadi tulang punggung keluarga, diperbudak sama suami lo yang miskin itu. Mau maunya lo yang cantik, pinter cari duit, hebat dan baik hati ini dimanfaatkan laki miskin lo itu dan dijadiin kepala keluarga gantiin dia!" "Iya sih, tapi masalahnya juga nggak sesederhana itu, Key. Nggak bisa lo liat dari sudut pandang lo doang dong!" "Terus apa lagi sih masalahnya? Istrinya Mas Nugi? Anak-anaknya? Loh kalau dia cintanya sama lo gimana? Nggak bisa dong istrinya mempertahankan dia sementara hati suaminya nggak sama dia lagi? Lah kalau emang jodohnya Mas Nugi sama lo, ya mau digimanain lagi? Lo bukan pelakor Els! Lo sama dia sama-sama cinta. Istrinya yang harusnya sadar kalau memang suaminya tuh nggak cinta lagi sama dia. Harusnya dia instrospeksi dong!" tukas Bu Keyla berapi-api. Dari tempatnya duduk, Airin mengepalkan tangan dengan kesal. Orang gila! Enteng banget dia ngomong begitu! Dimana hati nuraninya? Kalau bertukar posisi, dia yang jadi istrinya si Mas Nugi itu, apa nggak ngamuk dia? Batin Airin kesal. Airin masih terus merekam pembicaraan mereka sambil menunggu, siapa tahu mungkin mereka akan menyebutkan nama lengkap Mas Nugi. Airin benar benar penasaran. Siapa orang itu? "Lo siang ini ada kerjaan enggak?" tanya Bu Elsye sambil mengambil batang rokok kedua. "Nggak ada sih, c*m mau ke spa doang rencananya. Capek gue kemarin ikut liputan keluar kota. Pengen refreshing sebentar. Emang kenapa?" "Nggak apa apa, gue bosen aja. Mas Nugi kan lagi di luar kota juga, gue kesel, Key, dia tuh keluar kota terus, kan lama-lama gue jadi kesepian, Key.." "Ya lo gimana sih? Lo juga sadar diri dong say, dia itu Nugroho Sucipto orang nomor satu di organisasi sepak bola nasional dia bukan orang sembarangan, Els. Jelas aja banyak kerjaannya dia." "Iya gue tau, makanya itu gue sekarang pengen refreshing, ngilangin bosen." "Ya udah lo ikut gue siapa aja deh yuk, sekarang aja gimana?" "Gila lo, Key! Baru jam berapa ini? Bisa dipecat kita!" "Orang kayak lo takut dipecat? Lo dapet duit gampang say. Dipecat juga nggak masalah, gaji lo mah nggak seberapa dibandingkan dengan apa yang udah Mas Nugi kasih sama lo! Kalau gue baru deh khawatir soal dipecat. Ah udah ah yuk kita jalan aja, biarin deh, paling diomelin!" tukas Bu Keyla. Airin melihat dari tempatnya duduk saat Keyla menginjak puntung rokoknya, lalu menyemprotkan parfum untuk menyamarkan aroma asap rokok, kemudian langsung turun. Dari di balik tembok, masih dengan ponsel yang merekam, Airin terdiam.  Jadi Mas Nugi yang mereka maksud adalah Nugroho Sucipto? Ketua umum Organisasi Sepakbola Nasional? Benar benar gila!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN