Bab 29. BEBAN YANG BERAT

1072 Kata
"Halo? Abang? Abang dimana? Abang apa-apa kan? Kenapa nggak kasih kabar? Dihubungi juga nggak bisa, susahnya minta ampun. Abang baik-baik aja kan?" tanya Airin bertubi-tubi. Dirga tiba-tiba saja menghubunginya setelah sekian lama tak berbagi kabar, seolah menghilang ditelan bumi. Itu sebabnya di detik pertama Airin mengangkat telepon, pertanyaan beruntun langsung terlontar sebagai akibat dari rasa frustrasinya mencari sekaligus menunggu Dirga selama beberapa hari ini.   "Maaf, Na.. Abang benar-benar minta maaf nggak ngabarin dan nggak bisa nemuin kamu. Abang butuh waktu untuk sendirian dan berpikir jernih.  Maafin Abang ya, Na." jawab Dirga dari seberang sana. "Ya udah nggak apa-apa, Bang. Aku ngerti banget posisi Abang saat ini. Yang penting abang baik-baik aja kan? Kalau Abang butuh aku untuk cerita, Abang boleh hubungi aku kapan aja.."  "Iya Na.." "Kalau dirasa terlalu berat, Abang bisa berbagi denganku.." "Iya, Na.." "Boleh aku tahu sekarang kondisi Abang gimana?" tanya Airin hati-hati. Ia khawatir pertanyaannya akan membuat Dirga kembali terluka. "Abang enggak apa-apa, Na. Tapi jujur, kondisi ibu dan ayah semakin rumit dan itu semua bikin Abang selalu khawatir, Na." "Loh? Kenapa? Apa Ibu sakit lagi? Apa ada yang terjadi lagi? Boleh aku tahu kenapa, Bang?" tanya Airin dengan nada sepelan mungkin. Berusaha terdengar peduli, bukan ikut campur. Dirga terdengar menghela nafas. Berbagai perasaan berkecamuk di benaknya. Ia tidak tahu bagaimana caranya untuk berbicara jujur pada Airin. Satu sisi ia butuh bantuan dan butuh tempat berkeluh kesah, sementara di sisi lain ia sangat takut dan khawatir jika apa yang ia katakan akan membuat air menjauh darinya.  "Abang?" tanya Airin pelan saat keheningan mulai ada diantara mereka. "Na, abang pengen banget ceritain semuanya sama kamu. Tapi abang khawatir. Abang takut, Na." lirih Dirga menjawab.  Saat itulah Airin yang tau apa yang paling dibutuhkan Dirga saat ini. Dan ia sangat mengerti mengapa sikap Dirga seperti ini beberapa hari terakhir. Airin harus meluruskan semuanya dan menghilangkan semua rasa takut dan kekhawatiran Dirga. "Abang, sebelum kita bicara lagi, ada satu hal yang mau aku sampaikan.." ujar Airin hati-hati. "Apa itu, Na?" tanya Dirga cepat. Seketika kekawatirannya semakin menjadi-jadi dan mulai memenuhi benaknya. "Aku tahu alasan Abang sulit sekali untuk cerita sama aku. Aku memahami itu. Sekarang, ada satu hal yang perlu kita luruskan. Boleh aku minta tolong sama Abang?" tanya Airin. "Minta tolong apa, Na?"  "Minta tolong Abang untuk percaya penuh sama aku. Sebab apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkan Abang. Aku janji. Jadi, please... Tolong Abang percaya aku untuk satu hal itu. Jangan pernah ragu dan takut lagi menceritakan apapun. Abang nggak berpikir kalau perasaanku sama Abang sedangkal itu kan?" tanya Airin. "Ya Allah, Na.. Abang sangat percaya sama kamu. Abang minta maaf.. Ini semua karena Abang nggak percaya diri. Abang bukan meragukan kamu, tapi Abang yang merasa rendah diri, Na.." "Mulai sekarang, Abang harus buang semua perasaan takut itu. Aku di sini, aku cinta sama Abang, apapun yang terjadi, jangan pernah ragu lagi ya sayang.." "Na.. I love you.."  "I love you too.." Tiba-tiba Dirga merasa sangat lega. Satu kekhawatiran terlepas dari benaknya. Ia benar-benar lega seolah baru saja melepas beban ribuan ton dari pundaknya.  "Sekarang Abang mau kan cerita semuanya sama aku? Semua kekhawatiran Abang, semua kesulitan Abang, semua yang sedang Abang pikirkan, Abang cerita aja sama aku. Mungkin aku bisa bantu mencarikan solusi, atau setidaknya bisa meringankan beban pikiran Abang." ujar Airin lagi. Membuat Dirga merasa jadi orang paling beruntung di dunia. "Na.. Makasih.. Abang sayang banget sama kamu.." Ujar Dirga sambil menghela nafas lega. "Aku juga sayang Abang. Oh iya, abang di mana sekarang?"  "Di halte dekat rumah kamu. Abang tadinya mau ketemu kamu, tapi ini sudah jam berapa.." "Mmm... Sebentar, kayaknya aku bisa izin sebentar sama ayah. Abang tunggu di sana ya? Oke?" Hari menutup sambungan telepon dan bergegas berganti pakaian lalu meminta izin pada ayahnya. Ia harus membantu Dirga.  *** "Na, masalahnya semakin pelik. Abang benar-benar butuh bantuan kamu.." "Bantuan apa? Abang bilang aja.. Siapa tau aku bisa bantu.." "Kemarin banyak banget orang yang datang ke rumah dan mereka semua menagih hutang pada ibu. Yang jadi masalah adalah tidak ada lagi harta yang tersisa untuk membayarnya. Semua aset sudah ibu gadaikan. Rumah, mobil, motor, dan ada beberapa rumah yang pernah Abang beli untuk disewakan, semua sertifikatnya juga sudah dipakai oleh ibu untuk meminjam uang di bank dan Abang lah yang dicantumkan sebagai penjaminnya. Abang benar-benar nggak tau harus gimana lagi, Na. Setiap hari Abang menerima telepon dari pihak bank. Penagihan tidak lagi kepada ibu tapi sudah kepada Abang sebagai penjamin. Dan karena tidak ada yang membayar, semua aset itu sudah disita. Tidak ada lagi yang tersisa kecuali tabungan yang tidak seberapa. Sementara ibu terus menerus ditagih oleh berbagai pihak. Dari bank, koperasi, teman-teman dan saudara, bahkan rentenir setiap hari mendatangi ibu." "Ya Allah.." "Dan ayah, jangankan berpikir untuk membantu. Ayah bahkan tidak pernah pulang setelah kejadian itu. Dan dari ibu Abang tau, kalau sebagian dari aset yang pernah abang tinggalkan, digunakan oleh Ayah juga untuk membiayai istri-istri sirinya. Abang kasihan dengan Defri, Daffin dan Dista. Abang tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka setelah ini, sebab satu-satunya rumah yang tersisa, rumah peninggalan kakek, juga sudah nyaris disita oleh bank. Kalau memang itu terjadi, dimana mereka harus tinggal, Na? Gimana dengan sekolah mereka? Abang sangat mengkhawatirkan kodisi mereka sebab rentenir terus menagih. Abang sangat khawatir dengan keselamatan adik adik Abang terutama Dista adik perempuan Abang satu-satunya. Abang harus gimana Na?" Dirga menutup penjelasannya dengan pertanyaan putus asa. Kepalanya tertunduk di kedua tangannya yang tengah bertumpu pada kemudi. Airin menghela nafas. Ya Allah ternyata masalahnya sepelik ini. Apa yang harus aku lakukan? Tanya Airin dalam hati. Ia kemudian terdiam dan mencoba berpikir jernih. Ini harus diselesaikan satu persatu dan harus dicari jalan keluar yang paling cepat.  "Abang, berapa hutang ibu?" tanya Airin langsung ke pokok persoalan. Dia punya cukup tabungan dan siapa tau itu bisa digunakan untuk membantu keluarga Dirga. "Abang tidak ingin menyusahkan kamu. Na.." "Abang jangan bicara begitu. Sekarang yang terpenting bagaimana mencari jalan keluar dari semua permasalahan Abang." tegas Airin. "Tapi jumlahnya sangat banyak, Na.." "Boleh aku tahu berapa nominalnya?" tanya Airin lagi. Dengan berat hati Dirga menyebutkan sejumlah angka pada Airin. Airin tertegun. Ya Allah jumlahnya banyak sekali... Tiba-tiba mereka berdua terdiam. Airin menghela nafas berat. Tabungan yang ia punya bahkan tidak cukup setengah dari nominal yang disebutkan Dirga. Kemana mereka harus mencari sisanya? Dan bagaimana caranya untuk menyelamatkan keluarga Dirga?  Ya Allah bantu kami... Doa Airin dalam hati..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN