Bab 28. BENAR BENAR GILA

1325 Kata
Ini sudah kali ketiga Airin menghubungi ponsel Dirga, tapi ia tak menjawab. Airin ganti mencoba mengiriminya pesan singkat tapi hasilnya pun nihil, tak satupun pesan yang terkirim dibalas oleh Dirga. Ke mana dia?  Abang di mana Abang apa-apa kan?  Airin terus mengiriminya pesan singkat. Ia benar-benar khawatir dengan kondisi Dirga. Kenapa sampai hari ini Dirga  masih belum juga menghubunginya? Dan kenapa ia justru tidak bisa dihubungi? Padahal ini sudah hari ketiga sejak tragedi kartu merah itu. Di mana sekarang?  "Mas Egi, aku keluar sebentar ya cari angin dulu. Capek.."  "Oke, ntar balik lagi ke sini nitip kopi ya. Ntar diganti uangnya." "Sip. Caramel kan?" "Yo'i" "Ada yang mau nitip lagi?" tanya Airin. "Nggak, Rin. Ntar biar beli sendiri aja, sekalian rehat." jawab Dimas diiyakan yang lainnya. "May? Nggak nitip?" tanya Airin pada Maya. "Nggak deh, aku minum teh herbal aja, Rin. Udah lama nggak ngopi." jawab Maya sambil tersenyum. Airin mengacungkang jempol sambil tertawa. Kemudian dia  melangkah keluar ruang kerjanya. Hari ini Airin betul- betul susah untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya. Sejak peristiwa kartu merah itu, pikiran Airin selalu tertuju pada Dirga. Terlebih lagi, sampai hari ini Dirga belum juga menghubunginya dan sama sekali tidak bisa dihubungi. Airin berpikir untuk duduk tenang sambil melepas lelah di rooftop. Lebih baik ia menenangkan pikiran di sana saat ini. Ia terus berbisik pada diri sendiri bahwa ia harus tenang dan berpikir positif.  Dirga pasti baik-baik saja. Batin Airin sambil menekan angka 48 di tombol lift. Ia terus menerus mengatakan hal-hal positif untuk dirinya sendiri di dalam hati.  Rooftop memang tempat yang tepat untuk menjernihkan pikiran dan Airin selalu ke sini setiap kali ia merasa penat dan pikirannya sedang kusut.  Jangan membayangkan rooftop ini nyaman dan penuh kursi atau tempat duduk untuk bersantai. Tak ada atap, angin kencang, barang berserakan, dan kalau siang luar biasa panasnya. Rooftop ini memang tidak terawat rapi. Bagian samping digunakan untuk meletakkan barang-barang. Ada pintu yang kadang terkunci kadang juga tidak di sana. Belum lagi aneka lumut yang tumbuh subur di sepanjang dinding dan kalau habis diguyur hujan, genangan air ada di mana-mana. Tapi Airin suka di sini. Rooftop ini selalu sepi dan Airin biasanya sendirian. Kadang ada beberapa orang yang juga terlihat di sini. Tapi sangat jarang. Biasanya hanya beberapa pekerja yang sedang membersihkan sesuatu, atau security yang sedang memeriksa. Tapi ia lebih sering sendirian. Tapi kali ini sepertinya Airin tidak lagi seorang diri di sini. Samar-samar ia mendengar seseorang berbicara. Airin berjalan berjingkat, khawatir kehadirannya mengganggu seseorang di sana. Sebab orang itu terdengar sedang berbicara serius di telepon. Tanpa sengaja Airin melihat sosoknya. Ternyata itu adalah Bu Elsye Dianita, pemimpin redaksi divisi news. Orang yang sudah diidolakan Airin sejak ia masih remaja dan sosok Bu Elsye Dianita juga lah yang menjadi alasan Airin memilih FirstTV sebagai tempat ia bekerja saat ini. Airin benar-benar mengidolakannya.  Dan saat ini, Bu Elsye terlihat sedang sibuk berbicara di telepon. Airin  berjalan menjauh ke arah yang berbeda dari Bu Elsye. Ia sama sekali tidak ingin mengganggu Bu Elsye yang tengah berbicara serius dengan seseorang di telepon. Jarak mereka tidak terlalu jauh, hanya dipisahkan semacam sekat tembok yang memisahkan dua bagian rofftop. Airin terpaksa duduk tak jauh dari Bu Elsa karena pintu menuju bagian samping terkunci sementara ia tidak bisa kembali ke dalam karena Bu Elsye berdiri tepat di depan pintu keluar. Bu Elsye menghalangi jalan menuju pintu untuk kembali ke arah tangga. Terpaksa Airin duduk dengan kondisi tidak nyaman karena ia harus mendengar semua pembicaraan Bu Elsye dengan seseorang di telepon. "Key, bener kan gue bilang? Semua udah ditransfer sama Mas Nugi. Udah Pokoknya lo tenang aja, semuanya aman kok, itu urusan Mas Nugi. Gue sama lo cukup menikmati hasilnya aja. Halo? Key? Key kenceng banget di sini anginnya suara lo putus-putus nih. Lo nyusul ke sini aja deh ya. Di sini nggak ada orang. Gue nggak mau ngobrol di ruangan. Pasti ntar ada aja yang denger bahaya!"  Airin makin menundukkan kepalanya dan menahan nafas mendengar apa yang dikatakan Bu Elsye. Gimana kalau dia tau aku ngumpet di sini dan mendengar semua yang dia bicarakan? " Ya udah gue tunggu di rooftop ya. Buruan" Airin terdiam. Posisinya sangat sulit saat ini. Mau kembali ke dalam, tapi Bu Elsye masih berdiri di sana, berada tepat di depan pintu keluar. Sementara pintu bagian samping terkunci rapat. Airin sudah bolak balik memeriksanya. Terpaksa Airin duduk tanpa bergerak di tempatnya sambil berdoa, semoga mereka tidak menuju ke arahnya.  Tak lama kemudian seseorang terlihat bergabung bersama Bu Elsa. Airin penasaran, lalu diam-diam mengintip dari tempatnya duduk, ternyata itu adalah Bu Keyla, news Anchor senior yang Airin tau betul kalau ia teman baik Bu Elsye. Mereka berdua terkenal se antero First TV.  Sama-sama cerdas, elegan, fashionable, dan cantik luar biasa meski usia mereka sudah di ujung kepala tiga.  "Els! Lo yakin aman di sini?" Bu Keyla melihat ke kanan dan ke kiri, membuat Airin mematung.  Tak lama Bu Keyla mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya. Bu Elsye juga melakukan hal yang sama. Tak lama asap rokok bertebaran di mana-mana. Airin berdo'a semoa asap itu menjauh dari tempat persembunyiaanya. Ia khawatir kalau tidak bisa menahan batuk. "Transferan udah masuk kan?" tanya Bu Elsye. "Udah dooong, barusan gue cek. Makasih banyak ya, Beeeyb. Eh tapi beneran aman kan? Gue ngeri nih.." "Ya aman lah, Key. Ini bukan pertama kali Mas Nugi dapat duit. Biasanya juga lebih banyak dari itu. Lo tenang aja yang penting lo diem dan nggak boleh ada yang tau. Gue percaya sama lo Key, tapi lo harus hati-hati banget." "Gue sih nggak terlalu khawatir soal duitnya Els. Hari gini pejabat mana sih yang enggak korup?"  "Lo bener, Key. Apa yang Mas Nugi dapet itu nggak seberapa dibanding orang OSN lainnya. Korupsi di sana bukan lagi hal yang aneh. Tinggal kuat kuatan aja, siapa yang paling rapi mainnya." tukas Bu Eslye. Airin menahan nafas.  Hah? Apa-apaan ini? Dua jurnalis senior yang terkenal tajam dalam pemberitaan, ternyata malah ikutan makan duit haram hasil korupsi? Tadi Bu Elsye bilang apa? OSN? Organisasi Sepakbola Nasional? Airin membatin dengan perasaan sangat terkejut. "Gue tau itu Els. Nah yang gue khawatirkan itu justru laki lo. Lo harus bener-bener hati-hati Else. Lagian lo kenapa nggak cerai aja terus nikah sama Mas Nugi sih? Lebih aman kan? Sampai kapan lo mau kayak gini? Lama-lama affair lo sama Mas Nugi bisa sampai ke kuping laki lo Els. Gua nggak tahu harus gimana deh kalau sampe kejadian kayak gitu. Kalo gue jadi lo, mendingan cerai sekalian Els."  "Ya enggak semudah itu lah, Key! Lo kira gampang? Gimana dengan keluarga gue? Anak-anak gue? Terus keluarganya Mas Nugi gimana? Dia juga punya istri, punya anak, dan istrinya bukan orang sembarangan. Gue nggak mau dituduh sebagai pelakor, apalagi status gue sekarang juga masih belum cerai sama laki gue. Ah tau deh gue pusing."  "Ya mau gimana lagi. Itulah resikonya, Els.." "Udah ah, daripada mikirin hal-hal buruk terus, mendingan kita senang-senang aja. Oh iya, besok tolong anterin gue ke bandara ya? Besok gue mau ke Paris sama Mas Nugi, dia Abis dapet duit banyak, Key!" "Kok bisa sih? Bukannya kemarin Timnas abis kalah telak gara-gara kiper bego itu?"  Airin menahan nafas saat topik pembicaraan mereka mengarah ke Dirga dan pertandingan tragisnya. "Ah itu sih nggak ngaruh. Sekarang Mas Nugi habis ngajuin anggaran lagi. Terus udah cair dong! Lo tahu deh kalau anggaran udah cair pasti auto kaya, makanya gue bisa jalan-jalan sampai ke Paris. Besok gue nitip mobil ya, ntar dibawain oleh-oleh yang paling cakep buat lo, oke?" "Okaaay, jangan lupa lo ya!" "Iya bawel!" "Ya udah masuk yuk, dingin, anginnya kenceng banget. Ntar gue masuk angin. Mana rambut gue jadi berantakan nih gara-gara lo ngajakin gue ke sini!" Bu Elsye tertawa sambil berjalan ke arah pintu masuk.  Sementara dari tempatnya bersembunyi Airin terdiam mendengar pembicaraan mereka. Airin sangat terkejut, orang yang selama ini ia idolakan dan terlihat sangat sempurna ternyata jauh berbeda dari apa yang ia bayangkan. Orang yang menjadi motivasinya sejak remaja itu ternyata jauh berbeda di kehidupan nyata.  Dia selingkuh dengan koruptor? Benar-benar gila!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN