Sebelum pertandingan Dirga selalu punya ritual khusus. Saat masuk ke lapangan, ia akan berjalan ke sisi kanan tiang gawangnya, lalu berjalan lagi ke sisi kiri gawangnya, setelah itu ia ke tengah, dan melompat menjangkau bagian tengah mistar gawang. Menyentuhnya dengan ujung sarung tangannya. Setelah itu, ia akan menjejak jejakkan kakinya di rumput bagian tengah gawang. Setelah semua itu selesai, ia akan berdiridi depan gawang, menghadap ke tengah lapangan, mengangkat tangannya dan berdoa sambil menundukkan kepala. Selalu seperti itu setiap kali ia akan bertanding.
"Abang ngapain? Kok gitu terus setiap sebelum tanding? Baca-baca mantra ya? Gawangnya dimantrain dulu biar menang gitu?" tanya Airin suatu hari, saat Dirga selesai bertanding, tepat di tujuh hari jadi mereka.
"Mantra? Ya nggak lah! Syirik, dosa! Abang mana percaya begituan."
"Terus itu ngapain?"
"Abang baca taawudz, Al Fatihah, sama tiga surat terakhir Al Qur'an sambil keliling gawang. Kata mantan pelatih Timnas juniorr dulu, itu bisa mematahkan sihir, ya kayak yang kamu sebutin tadi, mantra. Banyak pemain yang ke dukun, terus sebelum pertandingan, gawangnya dimantrain. Biar Abang blank dan bolanya nggak keliatan. Katanya sih gitu."
"Hah? Emang beneran pernah?"
"Nggak tau sih. Tapi banyak yang percaya."
"Loh? Tadi katanya nggak percaya yang begituan?"
"Iya, Abang nggak percaya dan nggak pernah pake gituan di lapangan. Tapi tetep aja, yang begituan itu ada, entah bener ada efeknya atau nggak, yang jelas Abang minta perlindungan sama Allah dijauhkan dari hal-hal begitu makanya Abang keliling gawang sambil baca Ayat Al Qur'an, dan berdoa, Na."
"Kirain Abang mantrain juga."
"Hahahaa.. Banyak yang berpikiran kayak kamu, termasuk temen Abang sendiri. Ngeliat Abang tiap tanding komat kamit depan gawang, mereka malah lebih percaya diri, katanya Dirga pake dukun, gawangnya nggak bakal kebobolan, kita pasti menang. Dan begitu kita kalah atau Abang kebobolan, mereka kesel dan Abang disuruh ganti dukun, pergi ke dukun lain yang lebih paten."
Airin tertawa mendengar penjelasan Dirga saat itu.
Tapi sekarang, ritual itu tak ada. Yang terpampang di depan mata Airin adalah sosok Dirga yang masuk ke lapangan dalam diam. Langsung berdiri di depan gawang dan menundukkan kepala. Meski jauh, Airin masih bisa melihat sorot matanya yang hampa. Semoga dia baik-baik saja.
"Mas Egi, ntar aku boleh ya minta foto-foto pertandingan hari ini?"
"Ya ntar minta aja sama Erdin." Egi menyebut nama fotografer mereka. Dilihatnya sekilas sosok Erdin yang sedang sibuk mengambil foto dari pinggir lapangan. Di dekatnya, Dimas, kameramen FirtsTV juga terlihat sedang sibuk. Egi dan Airin sendiri duduk dengan berbagai peralatan di meja mereka.
Airin nyaris kehilangan akal sehatnya dan merebut kamera Dimas hanya untuk melihat kondisi Dirga. Untung saja ia bisa menahan diri dan duduk tenang di mejanya.
Begitu peluit wasit dibunyikan, pertandingan berjalan seperti biasanya. Biasanya Airin menyimak jalannya pertandingan. Ia selalu serius saat bekerja dan mengesampingkan hubungan pribadinya dengan Dirga. Tapi kali ini tidak. Airin sulit sekali berkonsentrasi dan menilai jalannya pertandingan. Titik fokusnya hanya ke satu arah : Dirga.
Lima menit pertama pertandingan berlangsung, Dirga nyaris dua kali kebobolan. Kalau saja pemain belakang tidak sigap menghalau bola, bisa dipastikan skor mereka sudah tertinggal.
Airin mulai sadar, masalah pribadinya sangat mempengaruhi kondisi mental Dirga hari ini. Sayang sekali, kabar mengejutkan sekaligus menyakitkan itu datang tepat sesaat sebelum pertandingan penting. Airin tau, hari ini Dirga tidak di sini. Hanya tubuhnya yang siaga di lapangan, sementara pikirannya entah kemana. Dan itu jelas sangat berpengaruh dengan jalannya pertandingan.
Tepat di menit ke tujuh, dua penyerang lawan mulai memasuki area kotak penalti. Dan Dirga hanya diam. Dia hanya diam!
Ya Allah Abang!
Airin merapal seluruh doa yang ia bisa. Berharap Tuhan mengembalikan fokus Dirga dan ia akan bergerak lincah seperti biasanya. Bukan hanya berdiri mematung tanpa melakukan apapun seperti sekarang.
Airin bersyukur, lagi-lagi peluang gol lawan digagalkan oleh pemain belakang. Karena Dirga tidak menjalankan tugasnya dengan baik.
Airin sempat melihat Prio, pemain belakang yang tadi menghalau bola menegur Dirga dan meneriakinya agar terus waspada. Airin dalam hati juga ingin melakukan hal yang sama. Ingin berteriak dan meminta Dirga kembali fokus. Andai bisa, ia ingin menanggalkan atribut kewartawanannya dan berlari ke arah belakang gawang, meneriaki Dirga sekeras-kerasnya agar lelaki itu menjaga fokusnya.
Menit ke sembilan, hanya dua menit berselang, pemain lawan kembali ke area kotak penalti. Airin bersyukur, kali ini Dirga bergerak maju dan bersiap saat penyerang lawan menggiring bola ke arahnya. Dua pemain belakang termasuk Prio, gagal mengejarnya dan kali ini Dirga hanya berhadapan satu lawan satu.
Tiba-tiba..
PRIIITTT!!
Wasit meniup peluit dengan kencang. Wajah Airin langsung pucat. Hampir semua penonton berdiri dan menatap dengan mata terbelalak. Seorang penyerang dari tim lawan terlihat tergeletak di dekat kotak penalti. Ia tampak kesakitan memegangi bagian pinggangnya.
Sementara di dekatnya, Dirga yang sempat terjatuh langsung berdiri dan menghampiri wasit dengan ekspresi tidak percaya.
Wasit baru saja mengeluarkan kartu dari sakunya. Dan kartu itu berwarna merah!
Kekacauan langsung terjadi di lapangan. Airin melihat tim medis berlarian ke lapangan membawa tandu dan peralatan medis mereka. Di sisi lain, sejumlah pemain melakukan protes pada wasit, tapi tentu saja itu sia-sia. Wasit mengabaikannya karena apa yang dilakukan Dirga jelas salah.
Ia keluar dari kotak penalti, menjegal lawan dengan tubuhnya, lalu saat lawan terjatuh, entah sengaja atau tidak, Dirga terjatuh di atasnya menyebabkan lawan berteriak kesakitan sambil memegangi pinggangnya.
Dirga hanya bisa terdiam dan berjalan lunglai ke luar lapangan. Puluhan pasang mata menatapnya dengan penuh kebencian. Samar-samar Airin mendengar suara-suara cacian dan makian dari bangku penonton. Airin tau, Dirga akan segera jadi sasaran kemarahan jika hari ini mereka kalah.
Dan apa yang Airin takutkan terjadi. Setelah tragedi kartu merah di menit ke sembilan itu, seluruh kekuatan tim seolah terhisap habis. Gol demi gol dari pihak lawan bersarang di gawang mereka. Bahkan di babak pertama, empat gol melesak tanpa ampun.
Airin mendengar Egi memaki. Bersama dengan beberapa reporter media yang lain, mereka seolah mencari kambing hitam atas kekalahan di babak pertama dan tentu saja Dirga lah sasarannya.
Memasuki babak kedua, mulai tampak tanda-tanda kekalahan mengenaskan. Satu gol terjadi lagi di awal babak kedua, dan bola terus bergulir dengan mudah, melesak ke gawang tanpa ampun sebanyak lima kali di babak kedua.
Wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir. Egi mengumpat karena mereka kalah sembilan gol tanpa balas. Angka 9-0 adalah kekalahan paling memalukan sepanjang sejarah.
Airin menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia tak tau harus berbuat apa untuk menghibur Dirga nantinya. Mendadak rasa iba menyeruak. Airin tau ini bukan sepenuhnya salah Dirga.
Ya, ini bukan salahnya...