"I remember the first day we met, I was so smitten with you."
"Hah? Apa, Bang?"
"Kita ketemu pertama kali di tanggal 14 Oktober 2008, di Gelora Bung Karno, waktu itu aku ada pertandingan uji coba, dan aku lihat ada reporter FirstTV Sport yang baru. Cantiknya nggak masuk akal. Dan makin kenal kamu, ternyata kamu nggak cuma cantik, tapi juga punya kepribadian yang luar bisa, Na.."
Dirga menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil memejamkan mata. Airin menatapnya bingung. Kenapa Dirga malah membicarakan dirinya dan bernostalgia mengingat pertemuan pertama mereka? Apa hubungannya dengan kabar buruk yang tadi barusan ia sampaikan?
Airin masih belum pulih dari keterkejutan pasca Dirga menceritakan bahwa kedua orang tuanya terancam dipenjara. Tapi sedetik kemudian, arah pembicaraan langsung berubah seketika.
"Maaf, Abang malah ngelantur ya, Na?" Dirga menangkap raut bingung di wajah Airin lalu segera meminta maaf.
"Abang ngomong begini karena Abang takut kehilangan kamu. Abang bener-bener takut kamu ninggalin Abang karena masalah keluarga Abang, Na. Apalagi orang tua kamu. Waktu keluarga Abang nggak ada masalah aja Ayah kamu menentang dengan alasan yang Abang nggak tau. Gimana kalau orang tua kamu tau tentang keluarga Abang? Rasanya makin jauh buat dapetin kamu, Na.." Dirga menumpahkan isi hatinya sambil bersandar dan memejamkan kedua matanya. Airin menghela nafas.
"Abang.. Aku kan di sini, nggak kemana-mana, nggak ninggalin Abang. Masalah Ayah, nanti kita bicarakan lagi. Sekarang kita fokus satu-satu dulu. Boleh aku dengar dulu ada apa sama orang tua Abang?" tanya Airin pelan.
Dirga mengangguk, lalu menghela nafas panjang.
"Abang bingung harus mulai dari mana. Yang jelas ini sudah sangat rumit. Pertama, Abang mau cerita soal Ayah. Ayah menikah lagi, Na.. Bukan.. Lebih tepatnya, Ayah akan segera menikah lagi karena perempuan itu sudah hamil lima bulan." Dirga menatap Airin dengan perasaan khawatir. Airin menyembunyikan keterkejutannya dan tetap menyimak dalam diam.
"Kamu benci selingkuh dan berbohong, Na. Abang bersumpah Abang nggak pernah berbohong apalagi selingkuh dari kamu. Tapi Ayah.. Ayah punya perempuan lain, Na.. Dia hamil sekarang. Perempuan itu umurnya baru dua puluh tiga tahun. Padahal Ayah sudah tidak muda lagi." Dirga menghela nafas dan menatap Airin dengan perasaan sangat takut.
Airin sadar itu. Meski ia terkejut dan khawatir, tapi Airin sadar, itu bukan salah Dirga, tak adil rasanya kalau Dirga ikut disudutkan dalam masalah ini. Dirga pasti kalut dan takut. Airin menepuk ringan punggung tangan Dirga, menenangkannya.
"Dan ternyata perempuan itu masih punya suami. Dia berbohong pada Ayah, bilang kalau sudah bercerai. Kenyataannya, dia masih berstatus istri orang. Suaminya pengangguran. Mereka belum punya anak, tapi sekarang perempuan itu hamil. Ayah sempat menyangkal kalau anak yang dikandung perempuan itu anaknya, tapi si perempuan bersikeras kalau sudah satu tahun ini ia dan suaminya pisah rumah dan tidak pernah berhubungan. Ia mengaku sudah di talak secara lisan, namun belum mengurus surat cerai. Tapi suaminya menyangkal. Katanya ia tidak pernah menyebutkan kata cerai dan si perempuan masih berstatus istrinya yang sah. Bukan cuma itu, dia juga menuntut Ayah. Ayah terancam dipenjara, Na..."
"Ya Allah..."
Hanya itu yang sanggup keluar dari bibir Airin. Masalah ini sudah terlalu pelik. Wajar kalau Dirga sangat terpukul, dan wajar pula kalau kemarin dia harus pulang ke kampung halamannya.
"Dan ternyata masalahnya bukan hanya itu, Na. Kemarin Abang terpaksa pulang mendadak karena Ibu harus dilarikan ke rumah sakit. Ibu dirawat, makanya Abang pulang.."
"Tapi Ibu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa. Cuma shock dan tekanan darahnya naik. Kemarin sudah diperbolehkan pulang. Dan ternyata ibu sudah lama tau tentang Ayah dan perempuan lain di kehidupan Ayah. Bahkan menurut cerita Ibu, ini bukan pertama kalinya terjadi. Ayah sudah beberapa kali selingkuh sebelum dengan perempuan ini. Tapi tidak ada yang bertahan lama karena mereka hanya mengincar uang Ayah. Dan setelah menemukan yang lain, mereka meninggalkan Ayah. Sampai akhirnya Ayah bertemu dengan yang terakhir ini.." jelas Dirga sambil menutup wajahnya dengan tangan. Ia sangat malu pada Airin. Tapi ia nekat menceritakan semuanya pada Airin. Ia tak ingin berbohong, dan ia tau, Airin pasti bisa memaklumi.
"Abang minum dulu ya.." Airin mengangsurkan cangkir teh Dirga. Dirga menyesapnya perlahan, lalu bersiap melanjutkan. Ia menghela nafas untuk ke sekian kalinya, sebab lanjutan ceritanya inilah yang paling membuatnya terpukul.
"Na, Ibu masuk rumah sakit bukan karena mendapat kabar tentang Ayah, bukan juga karena bertengkar dengan Ayah. Ibu punya rahasia sendiri, dan ibu benar-benar menyimpan rahasia itu dengan rapi, nggak ada yang tau. Jangankan Abang yang jauh dari rumah, Na. Ayah dan adik-adik Abang yang tinggal satu rumah aja sama sekali nggak tau semua perbuatan Ibu." penjelasan Dirga terjeda. Lidahnya kelu. Jantung Airin berdetak kencang.
Jangan bilang kalau Ibumu juga selingkuh Bang.. Jangan sampai...
Airin membatin dengan penuh rasa khawatir. Kalau sampai itu terjadi, Airin sama sekali tidak tau harus bereaksi seperti apa.
"Ibu sudah lama tau dan membiarkan semua perilaku Ayah. Ibu sudah pernah memergoki Ayah dan perempuan di hotel. Ibu sudah sering bertengkar dengan ayah tanpa sepengetahuan Defri, Daffin dan Dista. Ibu bahkan pernah mendatangi perempuan itu dan berakhir dengan pertengkarannya dengan Ayah karena Ayah lebih memihak selingkuhannya. Satu-satunya alasan mereka bertahan adalah kami berempat, anak-anak mereka."
Dirga menghentikan ceritanya dan menatap Airin lama. Airin hanya diam, membiarkan keheningan di antara mereka. Perpaduan antara terkejut, marah, kasihan, sekaligus bingung, membuatnya tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
"Dan yang lebih menyakitkan, ternyata Ibu mencari cara yang salah sebagai pelampiasan sakit hatinya. Ibu kembali ke meja judi.."
"Ya Allah.." Airin lunglai.
"Tiga hal yang kamu benci ada pada orang tua Abang Na. Ayah selingkuh, Ibu berjudi, dan mereka berdua berbohong." lirih Dirga yang hanya dijawab Airin dengan helaan nafas. Pelan, namun terdengar berat. Jujur, Airin tidak tau harus bereaksi seperti apa.
"Ibu kembali lagi ke meja judi, Na. Dan kali ini, nominal yang dihabiskan Ibu tidak sedikit." jelas Dirga dengan suara parau. Airin terkejut.
Tunggu! Kembali lagi? Itu artinya Ibu sudah pernah berjudi sebelumnya?
Airin membatin dengan perasaan waswas. Baik, itu memang privasi dan ia sangat menghargainya. Adalah wajar Dirga belum menceritakan semua pada Airin. Selain karena hubungan mereka masih terbilang baru, Airin pun merasa wajar jika Dirga tidak menceritakan masa lalu ibunya itu. Mungkin karena ibunya juga sudah insyaf, itu sebabnya Dirga merasa tak perlu membuka masa-masa kelam ibunya.
"Maaf Abang tidak pernah cerita ini sama kamu. Karena Abang juga kaget, Na. Abang nggak nyangka Ibu begini lagi. Dulu, waktu Abang SMP, Ibu pernah terjebak di lingkaran judi karena hasutan dari teman-teman kampungnya. Ayah sampai kehilangan banyak sekali uang saat itu. Tapi kemudian ibu berhenti dan taubat setelah Ayah memutuskan untuk pindah dari lingkungan lama yang tidak baik. Saat SMA, Abang mulai masuk Tim Nasional junior, direkrut klub besar dan mulai menghasilkan banyak uang. Keadaan ekonomi keluarga mulai membaik dan Ibu benar-benar tidak pernah lagi berjudi. Ibu bahkan mengelola semua penghasilan Abang dan dengan uang itu adik-adik Abang bisa sekolah dan melanjutkan kuliah." Dirga berhenti sejenak, menatap mata Airin, mencoba membaca apa yang ada di pikiran gadis itu.
Tapi Airin hanya menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. Hanya helaan nafasnya yang terus terdengar samar. Ia masih menunggu Dirga melanjutkan ceritanya.
"Dan semua berawal dari dua tahun yang lalu, saat pertama kalinya Ibu memergoki pesan singkat di ponsel Ayah. Dari seorang perempuan. Penyanyi cafe, pemandu karaoke. Ibu sangat terpukul dan tidak terima dengan perbuatan Ayah. Dan Ayah tak jera, berkali-kali Ayah mengulangi perbuatannya. Sampai Ibu bosan dan tak bisa berbuat apa-apa. Ibu lantas malah melampiaskan sakit hatinya dengan mengabaikan semua perbuatan Ayah dan mencari kesenangan sendiri. Sejak saat itu Ibu kembali bergaul dengan teman-teman lamanya. Dan sekarang, hutang Ibu sudah menumpuk, Na. Semua aset hasil kerja keras Abang selama ini nyaris tak bersisa. Ibu menghabiskannya di meja judi, dan Ayah mengambilnya untuk berfoya-foya dengan perempuan-perempuan selingkuhannya. Kemarin, banyak orang datang dan menagih hutang pada Ibu. Itu sebabnya Ibu shock dan pingsan sampai harus dilarikan ke rumah sakit."
Dirga menyudahi ceritanya dengan menutup mata dan bersandar di sandaran sofa. Hatinya lega sudah menumpahkan semua pada Airin. Tapi di sisi lain, Dirga khawatir apa yang ia takutkan terjadi.
"Na, Abang minta maaf.. Keluarga Abang.. Orang tua Abang.."
"Abang harus kuat.." hanya itu yang dikatakan Airin, dan ia pun memeluk Dirga, menenangkannya.
Airin memang terkejut, dan sangat marah pada kedua orang tua Dirga. Tapi di saat yang sama ia tau berat sekali beban yang harus ditanggung Dirga, dan itu bukan salahnya. Saat ini yang Dirga butuhkan adalah semangat dan dukungan, sebelum nanti bersama mencari solusi untuk masalahnya. Dan Airin merasa itulah perannya saat ini.
"Na.."
"Abang nggak usah minta maaf, semua ini bukan salah Abang. Sekarang Abang harus kuat. Aku di sini untuk nemenin Abang. Aku nggak akan kemana-mana.."
Hanya satu kalimat tapi mampu meluluhlantakkan semua emosi Dirga. Dan saat itu, untuk pertama kalinya sejak ia menginjak usia dewasa, Dirga menangis..