Bab 25. FAKTA TAK TERDUGA

1101 Kata
"Jangan langsung ke asrama ya, Na. Boleh abang jalan-jalan sebentar?" Dirga menngubah posisi kursi menjadi lebih rendah, dan merebahkan diri di sana. Dirga baru saja tiba dari kampung halamannya, dan Airin menjemputnya sore itu. Dirga datang dengan wajah kuyu, terlihat sangat lelah. Airin memandangnya iba. "Capek ya?" "Iya, tapi kan ada kamu. Obat segala obat." Dirga mencoba tersenyum sambil memandang Airin. Tapi Airin tau Dirga tidak baik-baik saja. Senyumnya tidak mampu menyembunyikan apa yang ada dalam hatinya. "Abang.. Kalau Abang mau cerita sama aku nggak apa-apa kok. Aku siap dengerin Abang." Airin berujar sambil mengemudi. Airport sore ini tidak terlalu ramai. "Na.." "Mmm?" "Kamu sayang Abang kan?" "Loh? Kok pertanyaannya gitu? Ya sayang laaah.." "Apapun yang terjadi kamu sayang Abang kan?" "Ada tiga pengecualian : selingkuh dan berbohong, narkoba dan judi, lalu yang terakhir murtad. Selagi Abang nggak melakukan ketiganya, In syaa Allah aku sayang terus sama Abang." "Abang nggak pernah melakukan semua itu, Na." "Ya kalo gitu jangan ragu, jawabannya jelas, aku selalu sayang Abang." "Tapi Na, gimana kalau ada yang terjadi tanpa Abang bisa cegah?" "Berhubungan dengan ketiga hal tadi nggak?" "Nggak." Bukan aku, Na. Tapi orang tuaku. Ayahku melakukan pelanggaran aturanmu yang pertama. Ayahku selingkuh, dan sekarang bahkan sudah punya anak di luar nikah dengan perempuan selingkuhannya. Lalu Ibuku, dia melanggar aturanku yang ke dua. Dia berjudi, Na. Dan sekarang bahkan hutangnya gara-gara judi sudah sampai milyaran jumlahnya. Aku harus gimana, Na? Apa kamu masih mau terima? "Abang.." Dirga tersentak dari lamunannya dan menghela nafas berat. Ia sungguh tak siap kalau harus menceritakan ini semua pada Airin. Ia sungguh tak bisa. Rasa takut kehilangan Airin membuat lidahnya kelu. "Abang, kalau memang terlalu sulit, atau sangat pribadi, Abang nggak cerita nggak apa-apa. Aku ngerti kok. Tapi kalau Abang butuh aku buat ceritakan semua beban Abang, aku ada di sini. Kalu Abang belum siap cerita apapun sekarang, nggak apa-apa. Mungkin beban yang Abang tanggung berat. Kalau Abang sudah siap cerita, bilang ya, aku siap dengerin kapanpun." Airin berkata lirih. "Kamu nggak marah, Na?" "Nggak lah. Ada saatnya kita harus menutup semua rapat-rapat, untuk hal yang sifatnya sangat pribadi." Airin tersenyum. Dirga menatapnya takjub. Gadis ini baru dua puluh dua tahun, tapi pemikirannya begitu dewasa. Ia bisa mengerti, ia mampu memahami. Benar-benar sosok yang Dirga cari selama ini. Tapi hal ini justru membuatnya semakin takut kehilangan Airin. "Ya udah, Abang tidur aja. Nanti kalau udah deket asrama, aku bangunin ya." Airin menepuk ringan punggung tangan Dirga. Dirga langsung menarik tangan itu dalam genggamannya. "Na.." "Ya?" "I love you.." "I love you too.." "Na Abang sayang banget sama kamu. Jangan tinggalin Abang ya?" "Nggak sayaaang.. Apaan siiih?" Airin tertawa mendengar ucapan Dirga. Tapi dalam hati dia gelisah. Ada apa dengan Dirga? Seberat apa bebannya sampai ia terlihat serapuh ini? Diam-diam Airin memandangi Dirga yang mulai memejamkan matanya. Airin kembali memandangnya dengan tatapan iba. Sementara Dirga masih memegangi jemari Airin dengan erat. Sangat erat. Seolah kalau ia lepaskan sedetik saja, Airin akan meninggalkannya. Tepat jam lima sore, mobil Airin menepi di dekat gerbang asrama. Dirga bersiap turun, tapi masih memegangi tangan Airin dan menatapnya dengan tatapan takut kehilangan. "Na. Abang turun ya. Makasih ya sudah jemput Abang. Abang sayang kamu." "Iya sayang. Aku juga sayang Abang. Udah turun sana, ntar keburu ada yang datang." "Iya" Dirga memeluk Airin sekilas kemudian membuka pintu mobil. Ia lalu melambai sebentar dan berjalan ke arah gerbang. Airin menatap punggungnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Ada apa dengannya? * * * "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam. Kamu udah pulang, Rin? Udah makan belum? Jam berapa pulang tadi? Semua baik-baik aja kan? Aman-aman aja, kan?" "Ibuuu. Kan Rin yang wartawan. Kenapa ibu yang nanyanya beruntun gitu?" "Hahahaa.. ibu khawatir aja, ninggalin kamu sendirian." "Idiih, kayak nggak pernah ke luar kota aja. Inget nggak Ibu sama Ayah ke Samarinda pas Rin kelas dua SMA?" "Ya waktu ibu beda, tante Ify masih tinggal di sebelah, jadi Ibu masih bisa nitipin kamu." "Ibu, Rin udah dua puluh dua tahun. Malu-maluin banget ih kalau udah umur segini masih nggak bisa ngurus diri sendiri. Udah ibu tenang aja, Rin aman, sehat wal afiat." "Udah makan?" "Udah. Tadi siang masak ayam kecap. Kalau soal makanan jangan dibahas deh. Ayah aja lebih doyan masakan Rin daripada masakan ibu kan? Jadi bisa dipastikan perut Rin aman. Hahahaa.." "Ih kamu tuh. Ya udah, ibu cuma khawatir aja. Jangan lupa pintu di kunci, garasi di tutup." "Iya, Bu.." "Hati-hati, banyak kejadian macem-macem sekarang ini.." "Ibu tenang ajaa, kan satpam kompleks pasti ngontrol. Nggak apa-apa, Buuu.." "Ya udah kalau gitu. Oh iya, ibu sama ayah nggak jadi pulang selasa. Kata Tante Firda nanti kami mau di ajak ke Palembang dulu. Jadi mungkin Ibu sama Ayah baru bisa pulang hari Jum'at. Kamu nggak apa-apa kan?" "Nggak apa-apa Ibuuu.. Ibu enjoy aja deh, nikmatin liburan ibu sama Ayah. Nanti kalau ke Palembang nitip pempek yaa.. Yang enak.." "Basi laah. Kan Ibu masih lama." "Oh iyaaa.. Ya udah bawain apa aja deh, yang penting makanan. Hihiiii." "Makan melulu ini anak. Ya udah ah, Ibu mau tidur. Tadi capek jalan-jalan. Udah ya, Rin, kamu hati-hati.." "Ibu juga hati-hati yaa.. Dan Ibuuu..." "Assalamualaikum.." "Waalaikumsalam.." Airin menutup sambungan telepon. Ibu dan Ayahnya masih di Lampung. Rasa bosan mulai melanda. Biasanya, jam segini, Airin nonton TV dengan Ibu dan Ayah di ruang tengah sambil berbalas pesan singkat dengan Dirga. Tapi sekarang, Ibu dan Ayah di Lampung, sedangkan Dirga masih menenangkan pikiran. Airin memutuskan untuk tidur walaupun ini baru jam sembilan malam. Ia mematikan TV dan beranjak menuju pintu depan untuk memeriksa apakah sudah terkunci. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Airin mengintip dari jendela. Dirga? "Abang?" "Assalamualaikum.." "Waalaikumsalam. Ayo masuk. Kok nggak telepon dulu?" "Maaf.." "Ya udah nggak apa-apa. Yuk masuk. Aku buatin teh hangat ya?" Dirga mengangguk dan melangkah masuk. Airin meliriknya. Entah kenapa Dirga terlihat lebih kurus padahal mereka baru bertemu tadi siang. Mungkin karena bahunya yang terlihat lunglai. Airin membawa teh hangat yang asapnya masih mengepul ke ruang tengah. Dirga duduk di sofa dengan tatapan kosong. Airin menepuk bahunya ringan. "Na, maafin Abang.." Tiba-tiba Dirga memeluknya dan minta maaf berkali-kali. Airin diliputi berbagai macam kekhawatiran. Ada apa ini? "Abang kenapa? Kok minta maaf? Tenang dulu, Abang minum dulu, terus cerita pelan-pelan." Dirga menyeruput teh hangatnya dan menghela nafas. "Na, abang minta maaf, tadinya Abang nggak mau begini. Abang nggak mau membebani kamu. Tapi Abang nggak punya pilihan lain. Abang harus cerita sama kamu semuanya." "Oke, oke.. Abang cerita pelan-pelan ya.." "Na. Abang bingung harus mulai darimana, semuanya kacau.." "Gimana kalau mulai dari awal?" Dirga menghela nafas. Meminum lagi teh hangatnya, dan bersiap menceritakan semuanya pada Airin. "Na.. Keluarga Abang hancur, Ayah dan Ibu, dua-duanya terancam di penjara.." "APA?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN