"Emang nggak cemburu?"
"Ha? Cemburu? Sama Maya?"
"Ya iya lah. Masa sama Alfian?" canda Dirga menyebut nama salah seorang striker timnas yang juga sahabatnya dan jadi teman sekamarnya.
"Nggak juga sih. Kan Maya cuma ngefans sama Abang. Bukan suka beneran."
"Tapi Abang pengennya kamu cemburu.." Dirga cemberut, menundukkan kepala sambil mengaduk-aduk es batu di dalam orange juice nya dengan sedotan. Airin tersenyum.
"Kok Abang maunya aku cemburu?" goda Airin.
"Pake nanya lagi. Ya kalau kamu nggak cemburu, artinya kamu nggak takut kehilangan Abang. Artinya kamu nggak sesayang itu sama Abang." keluh Dirga masih memutar-mutar sedotan plastik di cangkir juice nya.
"Bukan karena aku nggak sayang Abang, tapi aku percaya sama Abang. Abang akan jaga hati, nggak akan nyakitin perasaan aku. Iya kan?" tanya Airin sambil menatap mata Dirga.
"Oh iya dong. Jangankan cuma Maya, ditambahin Estianty di belakangnya, atau Luna di depannya juga Abang tetap milih kamu." canda Dirga membuat Airin tertawa lepas.
"Beneran ni? Cuma aku kan? Nggak ada yang lain?"
"Ya nggak ada lah, Na.. Buat dapetin kamu aja Abang nunggu sampe enam bulan. Kalau bukan karena ngeliat kamu sendirian di resepsinya Mas Irwan dulu, Abang mana punya nyali buat deketin kamu." jelas Dirga. Airin tertawa lagi.
"Makanya, aku percaya sama Abang. Lagipula, nunjukin kalau kita sayang nggak harus dengan kecemburuan kan?"
"Iya sih, banyak cara lain buat nunjukin kalau kita saling sayang. Abang mau tau dong, gimana cara kamu nunjukin sayangnya kamu ke Abang." pinta Dirga dengan tatapan menggoda.
"Mau tau?" Airin balas menggoda sambil mendekatkan dirinya ke arah Dirga. Kini mereka dekat sekali. Dirga mengangguk cepat, akal sehatnya menghilang melihat gadis yang sangat ia cintai berjarak sedekat ini. Apalagi, saat ini mereka di dalam mobil, hanya berdua, satu-satunya penghalang hanyalah rem tangan dan persneling.
"Na.." Dirga memanggil Airin nyaris berbisik. Akal sehatnya kini entah kemana. Yang ada di benaknya hanya perasaan ingin mengulangi apa yang mereka lakukan di rooftop minggu lalu, sebelum Maya merusak moment.
Airin tidak menjawab panggilan Dirga, sebagai gantinya, ia semakin mendekat. Kini wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Dirga.
Semakin mendekat..
Dirga memejamkan matanya..
Lalu..
Ponsel Dirga berdering. Mengagetkan Airin dan membuatnya mundur seketika.
Dirga mengutuk dalam hati. Siapapun yang menelepon harus merasakan kepalanya menghantam tiang gawang!
Dirga membaca layar ponselnya. Dista, adik bungsunya yang menelepon.
"Halo, Ta?"
"Abang? Abang dimana? Abang sibuk nggak?"
"Mmmm.. Lumayan.." Dirga melirik Airin yang menatapnya penuh tanda tanya.
"Tata boleh ngobrol sebentar ama Abang? Penting."
"Kenapa, Ta?" Dirga menegakkan posisi duduknya. Tak biasanya si bungsu yang masih duduk di bangku SMA ini bicara serius padanya.
"Bang.. Ibu dirawat di rumah sakit. Barusan Bang Defri sama Bang Daffin yang nganterin Ibu ke rumah sakit."
"Ibu sakit apa, Ta?" Dirga panik. Bulan lalu ia pulang, dan ibunya masih baik-baik saja, dan sekarang beliau dirawat?
"Ibu.. Mmm.. berantem sama Ayah, Bang.. Terus, ibu teriak-teriak marah.. Ayah juga marah.. Terus, ibu pingsan.."
"APA?" Dirga menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan sebelah tangan.
"Tata tau Abang sibuk dan nggak mungkin bisa pulang. Ibu juga sudah nggak apa-apa. Tadi Bang Daffin telepon, katanya tekanan darah ibu naik. Ibu sudah baikan, tapi masih harus rawat inap. Tata telepon Abang bukan mau minta Abang pulang. Tapi, mau ngomong sesuatu sama Abang.."
"Apa, Ta?"
"Ayah.. Mmm.. Ibu bertengkar dengan Ayah.. Karena.. Mmm.."
"Karena apa, Ta? Ngomong aja.."
"Karena Ayah punya perempuan lain, Bang. Dan perempuan itu sedang hamil anak Ayah.."
"Astaghfirullah.."
Dirga hanya bisa terdiam setelahnya. Tak tau harus berbuat apa...
* * *
Dirga menyimpan tiketnya di saku kemeja dan meneliti lagi ranselnya. Semua sudah lengkap. Ia hanya izin pulang dua hari, tidak terlalu banyak yang harus dibawa. Hanya satu ransel berisi sedikit barang keperluannya.
Besok pagi dia berencana pulang ke kampung halamannya dengan flight pertama. Dirga tidak ingin diam saja. Sebagai anak tertua, ia harus ikut andil menyelesaikan masalah ini. Terlebih lagi, ketiga adiknya tidak tau harus berbuat apa. Ibu, saat ditanya hanya bisa menangis dan bilang tidak apa-apa.
Dirga memutuskan untuk pulang. Lagipula percuma ia di sini tapi isi kepalanya jauh di kampung halaman kan? Ia tidak bisa fokus. Dan setelah meminta izin dengan pelatih, ia diizinkan pulang hanya dua hari. Sebab pekan depan mereka ada pertandingan penting di negara tetangga. Dan itu pertandingan bergengsi. Dirga harus pulang dan menyelesaikan semuanya agar bisa fokus bertanding.
Ponselnya berdering. Airin.
"Ya sayang?"
"Abang sudah siap berangkat besok?"
"Sudah. Besok jam empat subuh abang udah jalan. Malam ini kamu bisa keluar sebentar nggak? Nanti abang jemput."
"Abang ke sini aja.."
"Kemana?"
"Ke rumah."
"Ke rumah kamu?"
"Iya Abang.. masa ke rumah Maya.."
"Ah, Maya lagi dibahas. Serius nih.. kamu suruh abang ke rumah kamu?"
"Iyaaa.. Yuk, ke sini. Mumpung masih jam segini. Kalau kelamaan nanti portal keburu ditutup security."
"Tapi, Ayah.."
"Udah kesini aja dulu deeh.. Mau nggak?"
"Eh.. iya iya.. Oke.. Abang ke sana sekarang."
Dirga buru-buru menyambar kunci mobil dan melaju cepat menuju rumah Airin.
Apa Ayahnya berubah pikiran dan mulai menerima hubungan kami? Apa ayahnya akhirnya mau membuka diri dan malam ini mau bicara empat mata? Apa Airina berhasil membujuk? Apa kami diminta menikah?
Dirga menggelengkan kepalanya. Mengusir semua pikiran pikiran yang bermain di benaknya.
Tiba di rumah Airin, Dirga menekan bel dengan gugup. Tak lama, Airin keluar membukakan pintu dan tersenyum manis. Double kill! Berdebar karena gugup, dan berdebar melihat betapa cantiknya Airin malam ini.
"Yuk.. Masuk.." Airin menarik tangan Dirga menuju ruang tengah.
Sepi. Dirga makin bingung. Kepalanya menoleh ke seluruh penjuru ruangan. Bahkan mencuri-curi pandang mengintip ke ruangan lainnya di rumah itu.
"Abang cari siapa? Ayah? YAAAH.. AYAAAH ADA YANG NYARI NIII.."
"Na! Ssssttt! Na!" Dirga panik.
"Becanda sayaang. Ayah sama Ibu lagi ke Lampung. Ada saudara sepupu nikah. Berangkatnya tadi sore." jelas Airin sambil tertawa kecil.
Dirga terduduk lemas di sofa. Rasa gugupnya langsung sirna.
"Sini kamu! Abang hukum!" Dirga menarik tangan Airin dan mendudukkan gadis itu di pangkuannya. Airin tertawa dan balas mengalungkan lengannya di leher dirga, lalu mendaratkan kecupan ringan di dahinya.
Dirga menggila. Kepalanya pusing dan sensasi melayang mulai terasa. Gadis ini sungguh hebat. Mampu membuatnya hilang akal hanya dengan kecupan ringan di dahi yang durasinya tak lebih dari dua detik.
"Abang.. Abang percaya sama aku kan?"
"Banget." Dirga menjawab sambil memeluk pinggang Airin. Wangi bedak bayi menguar dari tubuhnya membuat Dirga makin pusing dan merasa seolah berada di dimensi lain.
"Kalau gitu, abang mau kan cerita semuanya sama aku?"
Tiba-tiba pelukan Dirga melonggar. Kenyataan membuatnya terhempas ke bumi. Akal sehatnya kembali, bersamaan dengan bebannya yang makin terasa menghimpit.
Dirga tak sanggup menceritakan semuanya pada Airin. Apa Airin bisa menerimanya setelah tau apa yang menimpa keluarganya?
Baru saja Dirga akan membuka mulut, tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Kali ini Defri, adiknya yang kedua. Airin mengisyaratkan agar Dirga menerima panggilan telepon itu.
"Halo, Def?"
"Bang.. Ada masalah.." ciri khas Defri, tak pernah basa basi.
Apa lagi ini? Batin Dirga gugup. Selapis keringat tampak di keningnya. Padahal penyejuk ruangan di rumah Airin menyala dan suhunya dingin.
"Masalah apa, Def?"
"Abang punya uang? Barusan ada banyak orang yang datang cari Ibu. Katanya Ibu banyak hutang, Bang.."
"Ya Allah.. Berapa?"
"Banyak, Bang.. Milyaran.."
Dirga pun terdiam.
Ia tak sanggup lagi berbicara..