Usia Airin sudah dua puluh dua tahun. Dirga bahkan tiga tahun lebih tua dari Airin. Tahun ini usianya seperempat abad. Tapi saat ini mereka persis dua anak remaja yang tertangkap basah sedang bermesraan di belakang sekolah. Airin mendorong Dirga sampai terhuyung ke belakang, Dan dirga buru-buru menyeka bibirnya yang basah dan kemerahan karena sisa lipstick Airin masih menempel di sana.
"May.. ini.. anu.."
Maya masih mematung. Tak pernah menduga, Airin akan ada di sini sekarang. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah ia bersama Dirga. Dan Dirga terlihat lebih bingung dari Airin, Ia salah tingkah, dan sama sekali tak tau harus berbuat apa. Ia tak kenal Maya, dan merasa tak tau harus menjelaskan apa pada teman Airin itu.
"Rin? Ini.."
"May.. Aku.. May ini nggak seperti yang kamu lihat." hanya itu kalimat klise yang keluar dari mulut Airin. Membuat Dirga menatapnya bingung. Tidak seperti yang dilihat bagaimana? Jelas tadi mereka sedang panas panasnya adu mulut. Adu mulut dalam arti harfiah.
"Rin.. ini.. Dirga?"
"Ha? Eh.. Oh iya.. kenalin, ini Dirga.." Airin yang masih bingung dan salah tingkah memperkenalkan Dirga.
"Dirga.." lelaki itu mengulurkan tangannya dan Maya menyambutnya dengan sumringah.
"Aku Maya.. Kita udah pernah ketemu loh di GBK. Aku fans berat kamu. Akhirnya ketemu jugaa.. Rin, doaku terkabul kaan, aku ketemu Dirga!" ujar Maya sumringah. Senyumnya lebar dan matanya berbinar.
"Oh.. iya.." Dirga menjawab sambil menerima uluran tangan Maya. Dirga menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal. Gerakan itu seolah sudah otomatis dilakukannya jika ia sedang salah tingkah dan merasa berada dalam situasi yang canggung.
"Ya udah, aku mau jalan-jalan lagi yaaaa... Terusin deh yang tadi, lagi seru banget keliatannya.. hahahaa.. Bye.."
Maya berlalu, meninggalkan Airin dan Dirga yang masih bingung dan salah tingkah.
* * *
"Jadi itu Mas Didi?"
"Hah? Apa?" Airin yang sedang mengenakan piyama merah muda bergambar minions, tiba-tiba menghentikan gerakannya dan menatap Maya dengan gugup.
"Hahaha.. Kok bingung? DD itu singkatan apa sih? Dirga Darling?"
"Hehehe.. bukan.."
"Tunggu tunggu biar aku tebak.."
"Dirga Desember karena kalian jadiannya desember? Ih, maksa ya? Hahaha.."
"Bukan, May.."
"Mmmm.. Aaaah! Dear Dirga ya?" tebak Maya tepat sasaran.
Airin mengangguk sambil tertawa kecil, meski dalam hati ia masih tidak tenang. Apa Maya tidak marah Airin diam-diam 'merebut' dunianya? Apa Maya kesal karena Airin pura-pura tidak terjadi apa-apa saat Maya menceritakan Dirga yang notabene pacar Airin seolah Dirga adalah kekasihnya sementara Airin sang kekasih yang asli hanya diam saja?
"May..."
"Mmm?"
"Kamu nggak marah?"
"Marah? Marah kenapa?"
"Marah.. karena.. aku pacaran dengan Dirga dan merahasiakan ini dari kamu.."
"Ya Allah Airinaaa! Yang ada juga kamu harusnya marah sama aku! Hahahaa.. Aku malu tau nggaak, aku dari pagi sampai sore di kantor heboh banget curhat sama kamu soal pacar kamu sendiri. Yang parah lagi, malamnya aku juga masih BBM kamu, nelepon kamu, curhat lagi soal dia. Padahal dia pacar kamuu. Iiih, malu tauuu.."
Maya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil tertawa malu. Airin ikut tertawa.
"Rin, maafin yaaa, aku beneran nggak tau kalau dia pacar kamu. Kamu nggak cemburu kan, Rin?"
"Nggak kok, May. Aku ngerti kok. Aku juga tau rasanya. Dulu banget, aku ngefans sama Taufik Hidayat lebih parah dari kamu. Aku malah pernah berjam-jam nungguin di cipayung, di depan pelatnas badminton, cuma pengen liat dia sekali aja. Dan waktu aku ke istora, nonton badminton di sana, aku ketemu langsung dan foto bareng. Bener-bener tergila-gila aku sama dia. Tapi hanya sebagai fans. Makanya aku tau rasanya jadi penggemar." jelas Airin.
"Haaah? Kamuu? Serius kamu pernah segila itu ngefans sama Taufik Hidayat?"
"Aduh, jenis kegilaanku udah bermacam ragam deh. Dan itu sejak kelas tiga SMP aku ngefans sama dia. Bayangkan berapa tahun aku jadi fansnya? Sampai mantanku pernah cemburu dan nulis artikel hoax tentang Taufik Hidayat di f*******:. Aduuh lucu banget kalau ingat.."
"Hahahaaa.. Parah ih.."
"Makanya aku tau banget gimana rasanya jadi penggemar, May. Justru aku yang nggak enak sama kamu. Aku takut kamu yang marah sama aku."
"Iiih Airin apaan sih! Ya nggak laaah, aku cuma fans Rin, dan aku juga punya pacar."
"Oh ya? Syukurlaaah.."
"Tapi ngomong-ngomong, kamu kok pacaran sama Dirga diem-diem sih? Kalau aku udah aku umumkan se seluruh Dunia kalau dia pacarku. Hahaha.."
"Mmm.. Ayah melarangku pacaran sama Dirga. Jadi sampai sekarang orang tuaku nggak tau. Mungkin nanti, pelan-pelan aku bisa bujuk Ayah. Dan bukan cuma itu, Pak Jimmy juga nggak ngebolehin reporter pacaran sama atlet, May."
"Hah? Pak Jimmy? Kenapa?"
"Khawatir mengganggu kinerja. Panjang lah alasannya, ntar aku ceritain lagi sama kamu. Tapi aku boleh minta tolong satu hal kan, May?"
"Minta tolong apa, Rin?"
"Rahasiakan ini dari siapapun ya, May? Di kantor yang tau cuma Mas Irwan dari news, sama Mas Egi, kamu orangg ketiga yang tau rahasia ini. Boleh kan aku minta tolong rahasiakan ini?"
"Ya ampuuun kirain apaan. Ya pasti lah, Rin. Aku bakal jaga rahasia kamu. Tenang aja.."
"Makasih banyak ya May.. Kamu baik bangeet..."
"Sama-sama Airin sayaang. That's what friends are for.."
"Makasih ya Maaay.."
"Iyaa, udah ah, ngantuk. Ayo tidur. Matiin lampunya ya, Rin. Aku nggak bisa tidur kalau terlalu terang."
"Okee siaaap!"
Airin menekan saklar lampu di samping tempat tidur. Beberapa lampu langsung padam dan suasana menjadi remang-remang. Airin menyalakan ponselnya dan masih berbalas pesan dengan Dirga.
Sementara di sampingnya, Maya memunggungi Airin dan berpura-pura sudah terlelap. Namun setetes air mata mengalir di pipinya.
Andai kamu tau, Rin. Dirga itu benar-benar duniaku. Aku bukan mahasiswi yang cerdas, tapi aku belajar sampai hampir gila demi mendapat nilai yang bagus agar bisa lulus tepat waktu dan bisa mengejar impianku jadi wartawan sepakbola demi mengejar Dirga. Aku berusaha sangat keras sampai mengabaikan kesehatanku supaya bisa jadi wartawan olahraga demi meliput dan mewawancara dia. Aku melakukan olahraga ekstrim dan juga diet yang gila-gilaan demi nurunin berat badan sampai 20 kilogram karena dia. Aku melakukan segala cara agar diterima di divisi sport, terutama untuk liputan Tim Nasional karena dia. Bahkan aku tidak pernah punya pacar selama ini karena aku hanya menginginkan dia. Dia duniaku, Rin. Dia sungguh duniaku. Sekarang, setelah aku hampir mendapatkannya, kamu merebutnya dariku, Rin. Sekarang duniaku hancur..
Maya menumpahkan emosinya dalam hati, ia sangat kecewa, sedih, hatinya hancur dan perasaannya kacau balau.
Tanpa sepengetahuan Airin, Maya menangis dalam gelap..