Bab 22. TERTANGKAP BASAH

1234 Kata
"Rin, aku bawa dua piyama lucu. Aku mau kasih ini satu buat kamu. Kita kembaran deh. Ntar foto bareng terus upload di sss. Iiiih lucuuu..." Maya memamerkan dua piyama warna merah muda bermotif karakter kartun. Airin terperangah sekaligus ingin tertawa melihatnya. "Lucu kaaan? Ini buat kamu. Ntar malem kita kembaran yaa.. itu udah aku cuci kok." imbuh Maya.  "Iiih lucuuu.. Makasih yaaa.." Airin menerima piyama itu dan berterima kasih pada Maya. Sebenarnya Airin kasihan pada Maya. Ini tugas liputan pertamanya. Dia belum tau bagaimana sibuknya mereka nanti. Jangankan foto-foto cantik dengan piyama baru, bahkan berapa jam mereka bisa tidur pun Airin tidak tau. Airin ingat hari pertamanya liputan ke Finlandia. Belum tuntas efek jetlag, Airin harus bersiap meliput kondisi lapangan sebelum pertandingan. Setelah itu bersiap membuat laporan. Malamnya, harus menyiapkan bahan wawancara. Setelah itu liputan lagi, lalu laporan lagi, menyiapkan bahan untuk hari berikutnya, dan itu belum termasuk kendala seperti atlet yang menolak di wawancara, atau gangguan koneksi internet, dan masalah masalah teknis lainnya. Jangankan memakai piyama dan tidur nyaman, Airin bahkan pernah hanya sempat tidur satu setengah jam tanpa sempat mandi dan ganti baju. Bahkan saat itu ia tertidur dengan name tag masih menggantung di leher dan kaos kaki yang belum dilepas. Airin baru bisa tidur tenang dan hari-harinya kembali normal setelah hari ke tiga. Karena segala permasalahan teknis bisa diatasi, dan beban kerjanya berkurang setelah mulai tau bagaimana ritme kerja tim mereka. Airin berdoa dalam hati, semoga dengan Maya yang membantunya, pekerjaan mereka bisa tuntas lebih cepat, jadi Airin piyama itu bisa berfungsi dengan baik dan... tunggu.. Piyama? Masa pake piyama? Aku kan mau ketemu Dirga? Airin mengerang dalam hati. Ia lupa kalau sekarang ia tidak sendirian. Dan tidak bisa sebebas biasanya. Padahal sebelum ada Maya, ia selalu sendirian dan bisa bebas membuat janji temu di luar dengan Dirga. Tentu saja atas izin Egi, sang ketua tim. Tapi sekarang? Airin terpaksa mengurungkan niatnya untuk bertemu Dirga, khawatir Maya bertanya macam-macam, atau malah meminta ikut.  Airin menghela nafas kesal. Padahal ini saat yang sangat mereka tunggu. Sudah hampir satu bulan Airin tidak bertemu Dirga. Dua minggu Dirga liburan, pulang ke kampung halamannya, dan saat kembali lagi, jadwal latihannya langsung padat. Begitu juga dengan Airin. Saat Dirga kembali dari liburnya, Airin malah mendapat mandat dari atasan untuk menggantikan tugas salah satu seniornya untuk meliput pertandingan tandang Timnas u-17 di Filipina.  Jadi inilah saat yang tepat untuk mereka melepas rindu. Tapi harus tertunda lagi karena Maya ada di antara mereka.  "Ayo, May.." "Kemana?" "Meeting, di sebelah." "Oh.. okee.." Maya bersiap mengikuti langkah Airin. Sebelah yang dimaksud adalah kamar sebelah, Kamar Egi dan Dimas. Mereka harus rapat untuk mempersiapkan diri, seperti biasanya. Saat itulah, ponsel Airin berdering. Dirga.  Dan ponsel itu letaknya di tempat tidur, persis di sebelah Maya yang baru saja bersiap meninggalkan kasur dan mengikuti Airin ke sebelah. "Rin. HP ketinggalan ni.. Ada yang telep.. Haaiiihh.. Pacarmu yaaaa?" "Hah? Hei.. sini sini..!" "Ciyeee..." "Iiih, apaan sih, kamu duluan sana ke kamar Mas Egi. Ntar aku nyusul yaa.." "Iyaa deeeh... iya deeeh.. yang lagi jatuh cintaaa.." "Halo?" Airin mengabaikan Maya yang menggodanya dan menjawab panggilan telepon. "Sayang.. Kang..." "Mayaaaa! Apaaan siiih.. Udah deeeh..." Airin meneriaki Maya yang mencoba menempelkan telinganya ke bagian belakang ponsel Airin dan mencuri dengar. Teriakan itu membuat ucapan Dirga di seberang sana terjeda. "Iyaaa... Iyaa... Aku ke sebelah dulu yaa.. Salam buat Mas Didiiii..." Maya keluar, lalu menutup pintu sambil tertawa dan Airin buru-buru menguncinya. Khawatir Maya masuk lagi dan mengganggu obrolannya. "Siapa itu, Na?" "Maya. Dia staff baru di divisi kami. Baru minggu lalu dia masuk. Dia ntar bakal sama-sama aku terus kalo liputan.." "Oooh.. Ada reporter baru lagi.. Terus Didi siapa?" "Didi?" "Itu, tadi dia bilang salam buat Didi." "Didi itu pacar akuuuu.." Airin tertawa mendengar pertanyaan Dirga. Ia memang menyimpan nomor Dirga di ponselnya dengan nama DD dengan emoticon hati di belakangnya. DD maksudnya adalah Dear Dirga.  "Aku? Kok Didi?" "Ntar deh, aku ceritain, pokoknya dikasih nama DD di HP biar nggak ada yang curiga. Ngomong-ngomong, Abang dimana?" "Di depan kamar kamu." "HAH? Ngapaiiiin? Astagaaa!" "Abis kangen. Gimana dong.." "Abang jangan gila deh! Lantai ini tuh isinya wartawan semua! Bukan dari FirstTV doang. Tapi hampir semua stasiun TV! Dan jam segini tuh semua lagi pada on fire, nyari bahan berita kesana kemari, termasuk gosip-gosip. Kalau abang ketauan gimana? Abang niiii..!" Airin mengomel sambil meloncat ke arah pintu kamarnya dan siap mengusir Dirga. Tapi saat pintu terbuka, tak ada siapapun di sana. Airin menoleh ke kanan dan ke kiri. Hanya ada dua kameramen TV Sembilan dan Nusantara TV yang terlihat sedang berjalan tak jauh dari kamarnya. "Abang? Bohong ya?" "Abang nggak segila itu, sayaaang.." "Iiiih..apaan siiih.. kaget tauu.." "Keluar yuk? Kangen.." "Nggak bisa sekarang, mau meeting sama yang lain." "Rin! Loh? Belum kelar telepon? Aiih yang lagi jatuh cinta.." suara Maya mengagetkan Airin. Ia tadi lupa mengunci lagi pintu kamar setelah barusan keluar memeriksa keadaan. "Kok udahan? Meetingnya gimana?" "Mas Egi mules. Tau deh makan apaan. Barusan dia minum obat, mau istirahat. Meetingnya besok pagi aja katanya, sebelum ke lapangan." "Yaah.. kasian banget Mas Egi.." "Kata Mas Dimas salah sendiri nyobain makanan Thailand, padahal perutnya nggak kuat. Eh, ngomong-ngomong, ituuu Mas Pacar dikacangin gitu, masih nyala itu teleponnyaa.." "Eh, iyaa.." "Butuh privasi kaaaan? Aku ngerti kok. Ini aku juga mau keluar dulu, nyari yang seger-seger. Kalo aku pulang rada malem nggak apa-apa ya, Rin? Mau jalan-jalan ni, siapa tau ntar ketemu Dirga, hihihiiii..." "Iya udah sanaaa.. Hati-hati yaa.." "Okaaay, doain aku papasan di jalan ama Dirga yaaa.. Hahahahaa..." Maya tertawa sambil mengambil jaketnya, lalu berjalan keluar kamar. Airin langsung menguncinya. "Halo? Sayang?" "Temen kamu pengen ketemu aku?" "Hahahaa.. Iya.. dia ngefans banget ama Abang dari kuliah katanya. Pernah foto ama Abang juga pas di GBK. Fotonya kemarin dipamerin ke orang satu ruangan. Katanya Abang tuh dunianya dia.." "Waduh.. Dia nggak tau dong, kamu pacarnya Abang?" "Ya nggak laaah. Eh iya, Abang dimana? Meeting ditunda besok. Aku free. Mau ketemu sebentar?" "Ya mau lah! Kamu ke lantai 32 ya, abang tunggu di rooftop." "Memangnya aman?" "Aman. Cuma ada beberapa orang, tempatnya juga luas. Abang udah cek bolak-balik. Nggak add temen kantor kamu kok. Atau kalo ragu, kamu pake hoodie yang abang kasih aja. Biar nggak ada yang ngenalin.." "Oke." Airin mengambil hoodie biru gelap yang diberikan Dirga padanya bulan lalu. Penutup kepalanya pas sekali menyamarkan penampilan Airin. Ia pun langsung menuju lift dan menekan tombol lantai 32, seperti yang diinstruksikan Dirga. Ini rooftop yang dimaksud Dirga. Luas sekali, dan tidak terlalu ramai. Airin memandang berkeliling. Mencari Dirga sekaligus memperhatikan apakah ada yang ia kenal di sekitar sini. Tapi sepertinya tidak ada. "Sayang.." Dirga tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. Jantung Airin berdetak kencang. Pertama karena kaget, kedua karena pelukan itu. "Abang kangen.." Dirga berbisik dengan suara parau sambil terus memeluk Airin. Airin membalik badannya dan balas memeluk Dirga. "Aku juga kangen.." Dirga tersenyum dan menarik tangan Airin menuju ke pinggir, dekat sebuah pohon artifisial di sudut. Airin mengikutinya sambil tersenyum. "Na.." "Ya?" "Na..." "Apa sayang.." "May I kiss you?" Airin tersentak. Hampir satu tahun mereka bersama, dan baru kali ini Dirga meminta hal itu padanya. Mungkin karena ini rekor terlama mereka tidak bertemu, dan rasa rindu yang sudah menumpuk. Airin mengangguk perlahan. Dirga mendekatkan wajahnya pada wajah Airin dan bibir mereka pun bertemu. Dirga melakukannya perlahan dan dangan lembut, khawatir setiap sentuhannya akan menyakiti Airin. Namun, respon Airin tak terduga, perlahan ia membalasnya, membuat Dirga menggila. Tiba-tiba.. "AIRIN!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN