"Rin! Akhirnya, nambah satu lagi yang seger-seger di divisi kita." Egi langsung memberi kabar pada Airin begitu melihat Airin muncul di ruangan pagi itu.
"Hari ini dia masuk, kamu mulai bakal ada temennya." kali ini Ferry, kameramen lainnya menimpali.
"Oh ya? Cewek?" tanya Airin sumringah. Terbayang asyiknya kalau di divisi nya ada satu teman perempuan. Airin sudah lelah jadi bulan-bulanan dan korban ledekan rekan-rekannya. Selain karena mereka semua lelaki dan lebih senior, umur mereka pun rata-rata di atas Airin, membuatnya tak berdaya kalau sudah diledek habis-habisan. Sudah perempuan sendiri, paling kecil pula.
"Cewek. Namanya Maya. Masih magang dia di sini. Umurnya sama dengan kamu kayaknya deh, berapa sih umurmu, Rin? Sembilan belas?" tanya Yudha, salah satu staff lainnya.
"Aku sudah dua puluh dua tahun, Mas Yudha. Bukannya bulan lalu kebagian kue nya?" tanya Airin menyinggung surprise party yang diadakan para seniornya saat ia berulang tahun bulan lalu, dan berujung pada pembagian kue ke semua orang di ruangan. Tentu saja kue ulang tahun itu langung tandas dalam hitungan menit.
"Ya kan aku makan kuenya, bukan lilinnya." seloroh Yudha sambil tertawa. Airin mencibir.
Pasti menyenangkan punya rekan perempuan. Ada yang bisa diajak ngobrol soal fashion dan make up, bisa ngopi bareng di kantin kalau sudah capek dan pengen cari angin sebentar, bisa ngegosipin anak-anak showbiz yang juga tukang ghibah, bisa saling bantu kalau senior-senior koplak ini mulai bikin ulah, dan yang penting, bisa curhat-curhatan. Belum apa-apa Airin sudah tersenyum membayangkannya.
Tiba-tiba layar ponsel Airin berkedip. Lamunannya terjeda.
I Love You
Sebuah pesan singkat berisi tiga kata itu spontan membuat senyum lima jari Airin mengembang. Buru-buru ia mengatur ekspresi. Jangan sampai mata senior-senior usil ini menangkap senyumnya. Bisa-bisa mereka curiga dan ia ditanya macam-macam dan dicecar sampai ke lubang semut sampai menjawabnya.
I love you too..
Balas Airin sambil setengah mati menahan senyum. Tiba-tiba ia rindu Dirga. Saat ini Dirga sedang mendapat jatah libur dan sedang pulang ke kampung halamannya yang jauh. Minggu depan ia baru kembali ke asrama. Menunggu tujuh hari rasanya seperti bertahun-tahun untuk Airin.
Ini sudah bulan ke tujuh mereka bersama. Dan Airin masih tetap menyembunyikan hubungannya dengan Dirga. Baik itu di kantor maupun di rumah. Meski kadang lelah dan bosan terus menerus backstreet, tapi mereka terus menjalaninya sambil menunggu saat yang tepat untuk meminta restu Ayah.
Berkali-kali Airin meliput Dirga di berbagai pertandingan, mewawancainya, bahkan berfoto bersama dengan semua rekannya. Dan keduanya selalu berusaha bersikap profesional saat bekerja. Di luar lapangan, mereka pun terpaksa sembunyi sembunyi dan mencari waktu yang tepat untuk bertemu.
Bulan lalu, dua hari setelah ulang tahun Airin, Timnas berangkat untuk pertandingan uji coba di Jepang. Malam setelah pertandingan, mereka diam-diam pergi ke luar dan merayakan ulang tahun Airin, tanpa ada yang tau. Airin berharap, sungguh-sungguh berharap Ayah akan merestui hubungannya, dan Pak Jimmy, si boss perfeksionis itu memaklumi kalau karyawannya juga butuh cinta.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Airin. Egi membuka pintu dan mempersilahkannya masuk. Sepertinya ini yang dari tadi mereka tunggu.
"Nah, udah datang. Yud, Fer, Dim, Rul, Rin, kenalin, ini Maya, mulai hari ini Maya kerja bareng kita di sini." Egi memperkenalkan perempuan mungil di sampingnya pada Yudha, Feri, Dimas, Ruli dan Airin.
"Salam kenal, saya Maya Rositta. Mohon bantuannya dan bimbingannya." sapa Maya ramah. Lalu berkeliling menjabat tangan mereka satu persatu.
"Ih, seneng deh ada cewek di sini. Bosen diledekin mereka terus.." ujar Airin saat Maya sudah selesai sesi perkenalan dan duduk di meja kerjanya. Egi mengatur agar meja Maya bersebelahan dengan meja Airin.
"Hahaha.. kebayang sebelnya. Ngomong-ngomong udah berapa lama di sini, Kak?" tanya Maya.
"Iiih, jangan panggil, Kak deh.. umur kita sama tau. Aku bulan lalu baru ulang tahun ke dua puluh dua." ujar Airin.
"Hah? Serius, aku juga bulan lalu ulang tahun ke dua puluh dua loh." tukas Maya terkejut.
"Hah? Yang bener? Tanggal berapa emangnya?"
"Tanggal tiga belas."
"Ya ampun beda sehariii. Aku tanggal dua belas, May."
"Tuaan kamu sehari ya, Rin."
"Iyaaa."
Dan saat itu juga, Airin menemukan sahabat barunya. Mereka langsung merasa cocok satu sama lain. Obrolan mereka juga langusng nyambung, dan seolah sudah berteman lama.
"Cieeh, dapet temen baru ni yee.." ledek Egi.
"Iyaa dong, langsung seger ni ruangan. Bosen banget ketemunya tiap hari Bapak-bapak melulu ah." jawab Airin sambil tertawa. Kebetulan memang semua pria di ruangan itu sudah menikah. Hanya Airin seorang yang masih melajang.
"Kode itu, Gi, kodeee. Dia kan udah dapet temen cewek nih. Masih butuh yang seger lagi dia, nggak mau bapak-bapak kayak kita. Maunya yang seger, masih muda, ganteng, biar bisa cuci mata tuh mereka berdua." ledek Yudha.
"Namanya juga anak cewek lagi mekar-mekarnya, Gi. Bosen ketemu Bapak-bapak kadaluarsa kayak kita. Cariin lah satu, yang tinggi ganteng keren.." Dimas menimpali.
"Iya Mas.. Kalo nambah staff lagi, request yang ganteng yaa.. Kayak Dirga Redityaa. Ih ganteng bangeeet."
Airin nyaris saja tersedak mendengar penuturan Maya. Spontan ia melirik Egi. Egi pun tengah menatapnya dengan ekspresi menahan tawa.
"Ngefans ama Dirga, May?" tanya Ruli.
"Ngefans banget, Mas. Di kamarku banyak banget posternya dia. Waktu aku masih kuliah, aku sampe bela-belain ke GBK, desak desakan pengen dapet tanda tangannya dan foto bareng sama dia. Ini nih fotonya." Maya menunjukkan fotonya berdua Dirga dari ponselnya. Airin melirik, di foto itu Dirga tersenyum manis sekali. Tiba-tiba Airin jengkel.
"Wah, beruntung kamu dapet di divisi sepakbola, May. Bakalan sering liputan ketemu dia."
"Loooh.. Itu alasan utama aku kerja di sini, Mas. Dirga itu ibarat duniaku, Mas. Aku hidup di dunia yang penuh dengan Dirga. Aku pengen banget bisa deket sama dia, liat mukanya secara langsung, di dalam dan di luar lapangan. DSyukur-syukur bisa jadi pacarnya, denger-denger Dirga masih single. Hihihiii..."
"Uhukkk.. Uhuuk..." Airin benar-benar tersedak kali ini. Maya menghentikan ceritanya dan langsung menepuk punggung Airin.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Nggak kok.. Sorry, tehnya masih panas, aku main seruput aja." kilah Airin.
"Ya ampun, pelan-pelan aja minumnya, beb.." saran Maya sambil mengangsurkan selembar tissue untuk Airin.
Egi lagi-lagi melihat ke arah Airin. Sementara Airin masih sibuk mengelap mulutnya dengan tissue yang diberikan Maya. Mulutnya terasa terbakar, apalagi hatinya. Dunianya? Dirga ku adalah Dunia nya? Apa-apaan coba?
Airin baru sadar, Maya tipe yang sangat terbuka dan ceria. Ia tak sungkan bercerita apa saja pada siapa saja, bahkan pada mereka yang baru ditemuinya. Maya sangat ramah, lucu dan menyenangkan, mudah sekali akrab meski baru kenal. Airin iri sekali padanya.
"Memangnya kapan kita liputan lagi, Mas? Aku ikut kan?" tanya Maya.
"Minggu depan kita ke Thailand, meliput pertandingan Timnas. Kamu ikut kok May. Nanti di sana bantu-bantu kerjaan Airin." jawab Egi.
"Yeaaay.. Bisa ketemu Dirga. Nggak sabaaaar..." ujar Maya dengan nada riang. Berbanding terbalik dengan Airin, dia tiba-tiba saja merasa terancam..