"Nggak sarapan dulu, Rin?"
"Lah, ini lagi sarapan, Bu?"
"Tumben cuma roti tawar sepotong sama s**u setengah cangkir. Itu sih bukan sarapan, Rin. Biasanya juga makan nasi lauk lengkap, biar perutnya aman kalau pergi liputan. Ini kok cuma makan roti?" tanya Ibu bingung.
"Nggak sempat, Bu. Udah telat. Nanti Rin sarapan besar di kantor aja. Lagian ini juga cukup buat ngeganjel perut kok, Bu." jawab Airin sambil memasukkan potongan terakhir rotinya ke dalam mulut lalu menepuk-nepuk sisa remah-remah roti di bajunya.
Diam-diam Ayah melirik jam dinding di seberang meja makan, dan kembali memandangi Airin dengan tatapan menyelidik. Kurang lima belas menit dari jam tujuh pagi. Sepagi ini Airin sudah buru-buru ke kantor? Biasanya jam tujuh lewat dua puluh menit Airin baru mandi. Ada yang aneh. Ayah membatin curga.
"Jam kantor berubah apa gimana, Rin?" pertanyaan Ayah itu membuat Airin mematung. Untung dia tidak sedang menelan atau mengunyah, kalau tidak, bisa dipastikan ia sudah tersedak.
"Bukan berubah, Yah. Masuk tetap jam delapan lewat tiga puluh, tapi Rin masih harus menyelesaikan kerjaan yang kepending kemarin." kilah Airin. Ia takjub sendiri dengan kecepatan otaknya untuk mengelabui Ayah.
"Kenapa nggak dikerjakan dari semalam? Biar nggak buru-buru begini." tanya Ayah lagi.
"Mas Egi baru ngirim emailnya pas Airin udah mau tidur, Yah. Ngantuk banget, udah larut soalnya." Airin berkilah lagi. Entah kenapa otak memang selalu berpikir cepat kalau urusan kebohongan.
"Ya sudah, nanti bilang sama Egi. Kalau ngirim email bahan berita itu jangan malam-malam. Biar paginya nggak buru-buru begini." perintah Ayah tegas. Airin menghela nafas.
"Rin, nggak enak ngomong begitu sama senior, Yah. Lagi pula Rin tau gimana sulitnya tugas Mas Egi. Ngeditnya itu yang bikin lama, Yah." kali ini setengah penjelasan Airin memang benar adanya, sesuai fakta. Perkara edit mengedit memang perkara sulit, lama, dan tidak bisa buru-buru. Tapi setengah dari penjelasannya lagi mengandung kebohongan. Airin tak perlu menegur atau bicara apapun pada Egi, sebab Egi tak pernah mengiriminya email di malam hari. Semua email dari egi selalu masuk sebelum jam enam sore.
Ayah diam saja mendengar Airin mendebatnya. Ayah tau putri semata wayangnya ini memang selalu adu argumen demi mempertahankan prinsipnya. Sejak kecil sudah punya kebiasaan seperti itu. Tapi Ayah tetap merasa ini aneh. Selama ini Airin mendebatnya hanya untuk hal-hal yang dia anggap benar, namun nyaris tak pernah menampik saran Ayah. Apalagi Ayah hanya memintanya bicara baik-baik pada Egi. Tapi Airin langsung menolak.
"Yah, Bu, Rin jalan dulu ya.." Airin melirik ponselnya sebentar sebelum bangkit dari tempat duduknya dan mencium tangan Ayah dan Ibunya.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Airin bergegas melangkah menuju halte di dekat rumahnya. Berkali-kali Ayah menyuruhnya membawa kendaraan sendiri. Mobil dan motor nganggur di garasi, tapi Airin berkilah kalau naik kendaraan umum lebih nyaman. Anti macet, dan tidak melelahkan.
Padahal sejak punya SIM, Airin selalu bawa mobil kemana-mana. Kuliah, magang, ke mana saja, Airin selalu berkendara sendiri. Tapi sudah hampir tiga bulan ini, Ayah selalu melihat mobil kesayangannya terparkir di garasi. Hanya sesekali Airin menggunakannya. Satu bulan yang lalu, Airin mengendarainya hanya sekitar delapan hari, setelah itu kembali naik kendaraan umum. Perubahan yang menurut Ayah terlalu drastis dan mengundang tanda tanya.
Faktanya, tanpa sepengetahuan Ayah, Airin tak pernah naik kendaraan umum. Ia selalu dijemput si sarung tangan sakti. Setiap hari Dirga selalu menunggunya di dekat halte, yang memang bisa dijangkau Airin dengan berjalan kaki sedikit. Jarak halte dan rumahnya tidak terlalu jauh. Setiap pagi Dirga menunggu di sana. Setiap malam pun Dirga selalu mengantarnya sampai halte. Lalu Airin pulang berjalan kaki dari halte sampai ke rumah.
Airin terlebih dahulu menoleh kesana kemari, khawatir ada orang tua, saudara, tetangga, atau kerabatnya yang melihat. Setelah di rasa aman, Airinpun masuk ke mobil dan duduk dengan nyaman. Dirga menunggunya dengan senyum termanis di belakang kemudi.
"Udah sarapan, Na?" tanya Dirga sambil memasangkan seat belt Airin. Wangi parfum beraroma woody menguar dari tubuhnya. Bercampur dengan wangi apel dari rambutnya yang belum sepenuhnya kering. Airin menahan nafas, khawatir debar jantungnya terdengar sampai ke telinga Dirga.
Damn! Ada apa denganku? Batin Airin yang frustrasi dengan sensasi di sayap kupu-kupu di perutnya yang mulai menggila. Ini sudah hari ke tiga puluh dua dia menjawab permintaan Dirga untuk jadi pacarnya. Tapi tetap saja Airin tidak bisa mengendalikan luapan perasaannya setiap kali pria ini ada di dekatnya.
"Mmmm.. Udah sih, tapi dikit, cuma roti sama s**u. Abang udah sarapan?" Airin balik bertanya saat roda mobil mulai meluncur di jalan.
"Belum. Kita sarapan dulu masih sempat kan?" tanya Dirga.
"Masih kok. Ini belum juga jam tujuh. Abang mau sarapan apa?" tanya Airin sambil menoleh ke arah Dirga. Lalu menyesal melakukannya. Sebab jantungnya langsung bereaksi lagi melihat betapa tampannya ciptaan Tuhan yang satu ini. Apalagi dari samping, Airin sampai pusing.
"Na yang pilih ya, Abang ikut aja deh.." jawab Dirga sambil meraih jemari Airin dan menggengamnya dengan satu tangannya yang bebas dari kemudi. Sebuah ritual yang selalu Dirga lakukan setiap kali mereka bertemu. Wajah Airin memanas. Debaran jantungnya jangan ditanya.
"Na.."
"Ya?"
"I love you.."
"I love you too.."
Dan pagi itu aspal di jalan seolah tertutupi kelopak mawar di mata Airin..
***
"Airin! Sini!"
Airin baru menjejakkan kaki di ruangannya saat Irwan tiba-tiba menariknya menuju balkon. Wajahnya gusar, dan membuat Airin jadi ketakutan.
"Ada apa, Mas?"
"Kamu pacaran sama Dirga?" tanya Irwan langsung ke sasaran.
"Hah? Apa?" Airin terkejut. Meski ia tau Irwan cepat lambat pasti akan mengetahui hubungannya dengan Dirga, Airin tetap saja kaget Irwan bisa tau secepat ini.
"Jawab jujur aja nggak apa-apa. Aku justru mau melindungi kamu. Jangan sampai kamu pindah divisi." jelas Irwan setengah berbisik. Khawatir ada yang mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Maksudnya gimana sih, Mas? Pindah divisi? Pindah kemana? Kenapa?" Airin kaget dan panik.
"Ssssstttt.. Jangan kenceng-kenceng. Jangan panik dulu. Makanya jawab pertanyaanku. Kamu pacararan sama Dirga kan?" Irwan mengulangi pertanyaannya. Airin mengangguk dengan perlahan.
Kalau kondisi normal, Irwan pasti sudah meledek Airin habis-habisan. Karena semua prediksinya tentang si sarung tangan sakti terbukti sekarang. Tapi berhubung sekarang situasinya sedang genting, Irwan terpaksa mengurungkan niatnya untuk meledek Airin.
"Mulai sekarang, jangan pernah tunjukin sama siapapun kalau kamu lagi pacaran sama Dirga. Oke? Pokoknya jangan sampai ada yang tau. Kamu boleh pacaran sama Dirga, asal jangan sampai ketahuan orang kantor ya, Rin?" Irwan memperingatkan Airin lagi sambil berbisik.
"Loh? Kenapa, Mas? Kan di kantor nggak ada aturan dilarang pacaran? Aneh amat. Apalagi sama Dirga. Dia kan bukan karyawan FirstTV. Setauku, yang nggak boleh itu menikah dengan sesama karyawan FirstTV kan, Mas?" protes Airin.
"Sssssttt.. dibilang jangan kenceng-kenceng ngomongnya." Irwan menempelkan jari telunjuk pada bibirnya sendiri. Mengisyaratkan agar Airin memelankan suaranya.
"Kamu itu reporter sepakbola, Rin. Dan Dirga itu salah satu pemain sepakbola. Memang lumrah sih, di luar negeri juga banyak yang begitu, pemain sepakbola pacaran dengan reporter. Tapi tidak di FirstTV. Menurut Pak Jimmy yang kolot dan kuper itu, hubungan percintaan antara reporter dan atlet akan mengurangi kinerja." jelas Irwan sambil menyebutkan nama atasan mereka.
"Ya ampuuun.. Segitunya sih, Mas?"
"Ya begitulah Pak Jimmy. Apalagi kamu kan sekarang meliput Timnas. Kemana-mana bareng sama Dirga. Itu dipantau terus sama Pak Jimmy. Banyak yang laporin kalau kamu makan bareng dia, pernah ke toko souvenir sama dia, ngobrol di lobi sama dia, untung aja nggak bobo bareng dia. ADUH!" Irwan mengusap lengannya yang terkena cubitan kepiting Airin karena kalimat terakhir yang ia ucapkan.
"Becanda weii! Sakit!"
"Abisnyaa.. Itu mulut sembarangan!"
"Iyaaa maap.. hahahha.. Tapi ini serius nih ya. Kamu lebih baik nurut dan jangan ngeyel, kurangi semua aktifitas pacaran kamu terutama di lingkungan kerja. Jangan sampai kamu dipindahkan ke divisi showbiz. Mau jadi wartawan gosip?" ancam Irwan membuat Airin menggeleng cepat. Dia paling benci dunia entertainment dengan segala perghibahannya itu.
"Tapi kinerjaku kan nggak menurun, Mas. Kita profesional kok. Udah empat kali dalam tiga bulan ini aku wawancara Bang Dirga, mulus-mulus aja, nggak terlihat gimana-gimana loh. Hasil liputan juga bagus."
"Dibilang jangan ngeyel! Eh.. bentar bentar.. Bang Dirga? Ciyeee ciyeee.. swiiit swiiit.. Abang ni yeee.."
"Apaan sih! Serius ah!"
"Hahahaa.. Iya iyaaa.. Intinya gitu. Jangan ngeyel. Pak Jimmy punya banyak kaki tangan dan mata-mata. Mereka semua bersedia jadi relawan untuk memantau pergerakan kamu. Kamu pikir nggak ada yang tertarik sama posisi kamu sekarang? No! Banyak banget yang antri di belakang kamu. Jadi kalau kamu geser dikit aja, sudah pasti tamat!" Irwan memperagakan gerakan memenggal kepala dengan gerakan tangan kanannya memotong leher.
"Iya deh.. Lagian aku juga nggak niat pamer kok Mas.." lirih Airin.
"Iya pahaaam. Namanya orang baru jadian, semuanya masih berwarna warni harum mewangi. Kalian pasti masih nempel dan nggak mau pisah. Maunya 24 jam dalam sehari deketan terus. Nggak mau buang waktu sedikitpun untuk bareng-bareng. Baru pisah semenit udah kangen lagi. Iya kan iya kan iya kaaaan?" goda Irwan membuat wajah Airin bersemu merah. Tapi dalam hati ia menyetujui semua perkataan Irwan. Padahal ini bukan kali pertama Airin pacaran. Tapi entah kenapa, bersama Dirga, semua mantannya seolah tersapu bersih dari ingatan Airin. Bersama Dirga, Airin merasakan gelombang aneh selalu bermain di sekitarnya. Membuatnya pusing dan melayang dalam waktu bersamaan.
"Rin? Masih di bumi?" Irwan mengibaskan tangannya di depan wajah Airin, membuat lamunannya terjeda.
"Ciyeeeehhh.. Baru juga diomongin, udah kepikiran aja.. Dunia milik berdua emang."
"Iiih, apaan sih Mas Irwan."
"Hahahhaa.."
Tiba-tiba pintu balkon terbuka. Egi tergopoh-gopoh menghampiri mereka dengan ekspresi sulit di terka.
"Rin. Kamu diantar jemput Dirga Reditya ya? Kamu pacaran?" tanya Egi tepat sasaran.
"Hah? Apa mas?"
"Kalau sama Egi nggak apa-apa. Dia kan partner kerja kamu. Jujur aja, biar Egi bisa ngecover kalau ada apa-apa." Irwan menyahuti, membuat kebingungan Airin sirna.
"Aku tau kamu pacaran, Rin, Tapi nggak usah antar jemput sampai kantor. Pagi ini kamu jadi bahan gosip anak-anak magang di kantin. Gara-gara Dirga meriksa ban mobilnya di parkiran tadi. Semua orang sadar kalau itu dia, dan beberapa orang langsung ngegosip. Katanya Dirga ke kantor kita buat nganterin kamu." jelas Egi panjang lebar.
"Nah kan? Apa kubilang? Makanya nurut aja. Mulai besok, kalian jangan terlihat bareng dulu di sekitar kantor. Nggak usah anter anteran dulu. Oke?" saran Irwan lagi, Airin terpaksa mengangguk.
Airin menghela nafas. Baru kali ini dia merasakan sulitnya jatuh cinta. Harus backstreet dimana-mana. Di rumah dia harus menyembunyikan hubungannya dengan Dirga dari orang tuanya. Sejak awal Airin bekerja di divisi sport, Ayah sudah mewanti-wanti Airin untuk tidak terlibat cinta dengan atlet sepakbola. Jadi Airin terpaksa diam-diam.
Lalu sekarang, dia harus backstreet lagi dari atasannya di kantor. Ah. Sulit sekali menyandang predikat kekasih Dirga Reditya. Tapi tidak ada jalan lain. Airin terpaksa melakoninya. Demi cinta..