“Lengket banget kan?”
“Hah? Apaan sih Mas?”
Pagi-pagi, baru saja Airin masuk ke ruang kerjanya, sudah ada Irwan, si pengantin baru yang baru saja selesai bulan madu dan sudah habis masa cutinya. Entah kenapa pagi ini dia sudah mengajak Airin ngobrol, padahal sudah pindah ke divisi news, tapi masih tetap menyambangi ruangan sport untuk menyapa Airin.
"Apaan yang lengket?" tanya Airin sambil menyalakan laptopnya.
"Itu, sarung tangannya. Punya daya rekat yang kuat. Sekali tertangkap, nggak akan lepas lagi!"
"Maksudnya?" Airin bingung. Kesambet apa gimana ni senior? Pagi-pagi sudah ngomongin sarung tangan. Maksudnya apa coba?
"Jadi, tahun lalu, kabarnya Timnas negara tetangga sampai ngadu ke FIFA. Minta diperiksa dulu setiap sarung tangan yang dipakai kiper. Karena mereka curiga sama sarung tangan si Dirga. Jangan-jangan dipasangin sesuatu makanya daya rekatnya sampai begitu." jawab Irwan. Mendengar nama Dirga disebut, darah Airin berdesir. Sekuat tenaga dia tetap berusaha memasang ekspresi netral.
"Masa sih?"
"Serius. Terakhir gosipnya malah lebih gila. Katanya ada lawan yang curiga, bola yang dipakai ada besinya dan sarung tangan si Dirga ada magnetnya."
"Haaah? Nggak masuk akal bangeeet!" Airin terkejut. Dan ini asli, dia benar-benar kaget.
"Iya.. Nggak masuk akal kan? Makanya aku juga mau nanya sama kamu. Apa hati kamu ada besinya?"
"Hah? Apaan, Mas?"
"Hati kamu, apa ada besinya makanya bisa ikut tertarik ke Dirga?"
"Iiiih Mas Irwan apaan siiiih?" Airin merasa wajahnya mendadak panas. Sialan. Ternyata daritadi dia tak sadar kalau Irwan sedang meledeknya habis-habisan. Airin sempat lupa dialog mereka dua minggu yang lalu tentang sarung tangan sakti. Dan Irwan menangkap basah Airin dan Dirga, dan si pemilik sarung tangan sakti, tengah berjalan bersisian di pesta resepsi pernikahannya. Bahkan Irwan sempat membisikkan hal itu ditelinga Airin saat mereka bersalaman di pelaminan.
Ah, dua minggu ini Airin selalu berkomunikasi dengan Dirga. Dan hal itu membuat Airin lupa segalanya.
"Hahahaaa.. Cerita soal gosip-gosip tadi aku becanda loh ya.. Cuma mau ngeledekin kamu doang." goda Irwan sambil tertawa puas. Airin memelototinya.
"Ciyeee ciyeee yang katanya punya pertahanan berlapis, kebobolan jugaa.."
"Mulai deh mulaai deeeh..."
"Ya gimana nggak kebobolan, Wan. Lah yang cetak gol kipernya sendiri! Hahaha.." tiba-tiba obrolan mereka disahuti oleh seorang lagi. Senior lainnya yang siap mewarnai hari-hari Airin dengan ledekan-ledekan mautnya. Egi.
"Aiiihh! Ini lagiii! Mas Egi kok jadi ikutan rumpi sih? Ketularan Mas Irwan tuh!"
"Ya gimana nggak ikutan rumpi? Kan aku saksi matanya. Aku ada di TKP, menyaksikan dengan mata kepala sendiri loh, detik-detik terjadinya gol di babak pertama. Gila gocekannya cakep banget, Bung Irwan." Egi menceritakan pada Irwan dengan gaya komentator sepakbola profesional yang tengah melaporkan jalannya pertandingan.
"Mas Egi, udah deeeh.." Airin mulai jengah.
"Emang gimana strateginya, Bung Egi?" Irwan menimpali, mengabaikan protes Airin.
"Ya Allah.. Ni bapak-bapak rumpi banget siiih.." Airin menepuk keningnya dengan ekspresi kesal.
"Waduuhh Bung Irwan harus menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Bagaimana penjaga gawang dengan sangat piawai menangkap hati lawan. Hanya dengan satu pujian sajaaa... Laluuuuu... Goooollll!" Teriak Egi sambil mengangkat kedua tangannya.
Airin tak tahan lagi, ia meninggalkan mereka berdua yang semakin menggila, lalu keluar menuju kantin. Sementara di belakangnya, Egi dan Irwan tertawa terbahak-bahak.
***
"Nggak bosen emangnya?"
"Nggak kok. Suka banget soalnya.."
"Judulnya apa sih?"
"I'm Yours"
"Yang nyanyi?"
"Jason Mraz."
"Kamu pinter milih lagu.."
Airin tersenyum mendengar pujian Dirga. Siang ini, mereka berdua sedang meluncur menggunakan mobil Dirga, menuju ke salah satu resto favorit Airin. Mereka berencana makan malam di sana.
Airin mengecilkan volume audio, dan mengisyaratkan Dirga untuk diam dengan menempelkan satu jari telujuk di bibirnya. Dirga bertanya 'siapa?' tanpa suara, hanya lewat isyarat bibir.
"Assalamualaikum, Ayah.."
"Waalaikumsalam. Mmm? Kenapa, Rin?"
"Yah, Rin pulangnya agak malam ya? Tapi nanti dianterin temen kok, Yah, masih ada urusan dikit."
"Ya sudah. Hati-hati ya. Jangan lupa makan."
"Iya, Yah.. Ini juga mau makan dulu. Ya udah, Rin jalan dulu ya, Yah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Airin menutup telepon dan membuang secuil rasa bersalahnya pada Ayah. Helaan nafasnya terdengar oleh Dirga. Lelaki itu menepikan mobilnya dan fokus melihat ke arah Airin.
"Kenapa? Nggak diizinkan Ayah?" tanyanya lembut sambil menatap mata Airin dengan nada yang sama lembutnya.
"Mmm? Bukan.. Bukan nggak diizinkan sih.." jawab Airin lirih.
"Terus? Kenapa kok kelihatannya sedih gitu?" Dirga kali ini merubah posisi duduknya. Tubuhnya dimiringkan ke arah Airin agar matanya bisa menatap lurus pada Airin.
"Mmm.. bingung sih.. Abisnya bohong. Bilang ke Ayah karena masih ada urusan. Padahal pergi makan.."
"Oooh.. Ya udah, mau pulang aja biar tenang? Kita makan lain kali aja.. Aku atur waktunya biar nggak terlalu malam.. Oke?" Dirga menenangkan Airin sambil tersenyum manis.
"Tapi ini udah setengah jalan.." Airin tak enak hati. Dirga sudah mengajaknya dari minggu lalu, saat mereka baru pulang dari Surabaya. Dan Airin menyanggupi. Tapi sayangnya, jadwal latihan Dirga dan jadwal kerja Airin selalu bentrok. Jadilah mereka baru bisa bertemu malam ini dan di jam yang biasanya Airin sudah pulang.
Meski Airin sudah biasa pulang malam, itu semua selalu masalah pekerjaan. Airin nyaris tak pernah kemana-mana sepulangnya dari kantor. Itu sebabnya saat ini ia sangat tidak enak hati. Ini kali pertamanya berbohong pada Ayah.
"Nggak apa-apa. Aku udah seneng kok, jalan sama kamu malam ini. Lagian, kalau malam ini kita pulang, itu artinya aku punya kesempatan untuk ketemu kamu lagi, untuk makan bareng.." Dirga tertawa kecil. Airin ikut tertawa.
"Bener nggak apa-apa kan? Aku nggak enak sama Ayah.."
"Iya, Na.. Nggak apa-apa.." jawab Dirga sambil menatap Airin dengan tatapan teduh. Kombinasi dari panggilan Na, dan suara lembut Dirga menimbulkan sensasi gesekan sayap kupu-kupu di perut Airin.
"Kita jalan lagi ya? Tapi aku ambil rute yang terjauh boleh ya? Biar bisa lamaan dikit sama kamu nya.." Dirga tersenyum lagi. Airin tertawa, sementara wajahnya terasa panas.
Airin mengatur nafasnya. Kenapa malam ini terasa panas? Padahal air conditioner mobil Dirga berfungsi dengan baik. Batin Airin dalam diamnya.
"Na.."
"Ya?"
"Di kantor kamu ada lowongan pekerjaan nggak?"
"Hah? Buat siapa?"
"Buat aku.."
"Loh? Mau banting setir, dari kiper jadi wartawan?"
"Hahaha.. Nggak sih.."
"Terus kenapa nanya lowongan?"
"Aku mau ngelamar kerja. Jadi sopir yang kerjaannya nganter jemput reporternya. Nggak digaji juga nggak apa-apa.."
Airin mulai paham arah pembicaraan Dirga, tanpa sadar dia tertawa. Dirga ikut tertawa kecil.
"Na..."
"Ya?"
"Nggak keberatan kan kalau aku antar jemput kamu? Walaupun mungkin nggak bisa setiap hari, tapi setiap jadwalku kosong, aku pasti jemput kamu. Boleh?"
Airin tersenyum. Perlahan ia menganggukkan kepalanya. Membuat Dirga menghela nafas lega.