Bab 18. SARUNG TANGAN SAKTI

2232 Kata
Juli 2008 “Ibuuuu! Rin lolos, Buuuu!” Airin berlari tersaruk-saruk menuju ruang tengah rumahnya. Tangan kanannya mengacungkan sebuah name tag berwarna merah dengan logo FirstTV sementara tangan kirinya membawa sebuah paperbag kecil yang juga berlogo sama. Raut wajahnya sangat ceria. Ibu dan Ayahnya yang sedang menonton TV sambil makan pepaya terkejut sekaligus senang melihat putri semata wayang mereka mengumumkan berita gembira itu. Airin memeluk mereka bergantian dengan wajah sumringah. “Alhamdulillah. Kesampaian juga cita-cita kamu jadi penyiar berita.” Ujar Ayah bernada bangga. Tapi Airin hanya menggaruk kepalanya. “Bukan news anchor sih, Yah, tapi sport. Sementara di posisi itu dulu. Nanti mudah-mudahan segera dipindahkan ke berita.” jawab Airin setelah meminum segelas air putih yang diambilkan ibu. Nafasnya masih terengah-engah sehabis berlarian karena tak sabar ingin menyampaikan berita gembira ini pada orang tuanya.  “Sport? Olahraga?” tanya ibu dengan nada bingung. “Iya, Bu. Olahraga. Sepakbola tepatnya. Mulai besok, Rin resmi jadi reporter sepakbola dan meliput di liga nasional.” jawab Airin lagi. Ia tau, setelah ini pasti rentetan pertanyaan akan diajukan beruntun oleh ayah dan ibunya. “Loh? Reporter lapangan? Bukan penyiar yang di studio?” tanya Ayah. "Bukan, Yah. Sementara ini, Airin kerjaannya meliput di lapangan. Tapi Airin masih masuk TV kok yah, kan ada sesi wawancara atlet. Dan ada juga laporan pertandingan." jawab Airin lagi. "Tapi itu kan olahraga, Rin. Sepakbola loh itu. Kenapa malah reporternya perempuan?" tanya Ibu lagi. “Mungkin karena Rin lumayan tau banyak soal sepakbola, Bu. Itu yang jadi nilai tambah dan mereka merasa cocok menempatkan Rin di sana. Lagian banyak kok reporter sepakbola perempuan, Bu. Rin seneng-seneng aja kok. Dari kecil kan Rin memang suka sepakbola. Tau banyak tentang sepakbola, dan kerjaannya juga enak, Bu, ke stadion sepakbola sama tempat latihan atlet aja. Nggak terlalu capek.” Airin menghibur ibu yang terlihat kecewa. Padahal jauh di dalam hatinya Airin juga sebetulnya sedikit kecewa. Cita-citanya sejak kecil menjadi news achor. Airin betul-betul tekun mengejar mimpinya. Mulai dari konsisten menjaga nilainya agar tidak turun, kuliah jurnalisik dan lulus dengan predikat cumlaude, bahkan ia berhasil mendapat perkerjaan ini hanya berselang tiga minggu pasca wisudanya. Meski yang ia dapatkan berbeda dengan impiannya. Menurut tim HRD, Airin masih minim pengalaman, usianya juga baru 21 tahun, belum bisa diikutsertakan untuk tim news. Tadinya, Airin sempat hampir dinyatakan tidak lolos seleksi. Tapi seorang tim redaksi senior melihat pada CVnya bahwa hobi Airin adalah menonton sepakbola. Lalu ia menguji pengetahuan sepakbola Airin, dan kagum akan jawaban Airin yang detail dan penyampaiannya yang menarik. Airinpun diterima. Meski reporter sepakbola bukan tujuannya, tapi Airin bersyukur masih bisa diterima bekerja di FirstTV. Airin memang sejak dulu punya cita-cita bekerja sebagai jurnalis di First TV. Hanya FirstTV yang ia inginkan. Sebab news anchor idolanya ada di sana dan ia ingin sekali membacakan berita bersamanya. Idolanya adalah Elsye Dianita. Wanita cantik yang sudah Airin idolakan sejak masih duduk di bangku SMA. Dan ia bertekad, suatu saat nanti bisa berada di ruang siar yang sama dengan Elsye Dianita. *** Desember 2008 “Timnas? Aku? Loh? Mas Irwan kenapa?” tanya Airin terkejut. Ia baru enam bulan bekerja sebagai reporter tetap di acara liga sepakbola nasional. Dan sekarang, Irwan, reporter senior yang biasa meliput tim nasional mengabarkan kalau Airin dipindahkan dari liga ke Tim nasional, menggantikan dirinya. Airin benar-benar tidak menyangka. “Aku mau cuti. Mau nikah, Rin.” jawab Irwan malu-malu. Dan habis cuti, aku dipindahkan ke divisi news.   "Aaaaah.. Aku juga mau ke news, Maas.. Ajak-ajak dooong. Eh, ngomong-ngomong.. Mau nikah? Serius Mas? Yeaaaay! Akhirnya laku jugaaaa! Sama cewek kan nikahnya? Aduh!” Airin meringis ketika Irwan, seniornya, memukul kepalanya dengan gulungan kertas yang dibentuk menyerupai pentungan. "Ya cewek lah! Masa aku nikah sama si Paijo!" sergah Irwan sambil menyebut nama salah satu kameramen yang juga masih melajang di usia akhir tiga puluhan. “Yaaah.. Berarti aku nggak bisa datang ke nikahan Mas Irwan dooong. Kan Timnas tandingnya di Surabaya. Aku harus liputan.” Airin mengerucutkan bibir. Padahal ia ingin sekali melihat istri Mas Irwan dan meledeknya habis-habisan saat di pelaminan nanti. “Ya bisa lah.. Aku kan nikahnya di Surabaya, Rin. Istriku orang Surabaya. Kamu nanti abis liputan bisa datang ke tempatku.” Jawab Irwan sambil tersenyum lebar. Airin melonjak kegirangan. “Serius, Mas? Aku mau bawa gaun niiii..” tanya Airin sambil melompat-lompat, kelakuannya persis anak SMP yang sedang puber. “Harus lah. Pake gaun yang paling bagus ya, dandan cakep juga. Aku ngundang anak-anak Timnas juga. Resepsiku di ballroom hotel tempat tim jurnalis dan anak-anak Timnas menginap.” jawab Irwan dengan tatapan penuh arti. “Waaah... mantaaap. Okeh, aku siapin gaun yang cantik.” Airin yang polos hanya memikirkan masalah gaunnya saja. “Wah gawat ini.” Tiba-tiba Irwan garuk kepala. “Gawat kenapa, Mas?” tanya Airin bingung. “Kamu pake baju liputan sambil panas-panasan tanpa make up aja banyak atlet yang kepincut, malah nanyain nomor hp kamu segala, apalagi kamu pake gaun dan dandan cakep? Bisa-bisa langsung dilamar kamu.” goda Irwan sambil tergelak. Airin mencibir. “Iiih, mas Irwan apaan sih. Baru dua hari yang lalu umurku dua puluh satu. Masa udah lamar-lamaran?” sungut Airin kesal. “Hahaha.. Pokoknya kamu hati-hati. Banyak predator. Terutama anak-anak yang merasa dirinya tampan kayak Faizal, Rian, Dirga, Leo, Handi, Arif, Damar..” Irwan menyebutkan nama-nama beberapa pemain yang terkenal sering menggoda cewek dan pernah meminta nomor HP Airin padanya. Namun selalu Irwan tolak, karena ia tau bagaimana polosnya Airin dan bagaimana bejatnya para atlet itu. Jangan sampai Airin dimangsa kawanan buaya darat yang buas itu. “Sebutin aja semua sekalian ama pemain cadangannya, Mas. Aku tuh hampir tiap bulan ketemu mereka dan tidak terjadi apa-apa.” sanggah Airin tanpa tau bahwa Irwan dan teman-temannya lah yang mengusir mereka semua. “Hati-hati. Mereka serius ngincer kamu.” Irwan kembali memperingatkan Airin. “Tapi aku nggak tertarik.” “Tetap saja hati-hati, Airin. Kamu bener-bener tipe mereka. Cantik, mandiri, judes.” “Dan mereka bukan tipeku.” “Aku sudah ngingetin loh ya...” “Tenang aja maaas.. Amaaan.. Aku nggak suka atlet. Apalagi atlet playboy. Males ah.” Airin menggeleng cepat. “Hahahaa.. hati-hati, jangan sampai mereka masuk ke kotak penalti, kalau mereka sudah menyerang, pertahananmu bisa bobol. Mereka jago.” Irwan mengingatkan sekali lagi. Tapi Airin menggeleng untuk ke sekian kalinya. “Nggak bisaaa. Aku punya kiper yang hebat.” “Ngomong-ngomong soal kiper? Gimana kalau justru kipernya yang punya sarung tangan sakti?” “Hah? Apaan lagi itu Maaas?” “Sarung tangan sakti, Rin. Sarung tangan yang bisa menangkap apa saja, termasuk hatimu..” Irwan kembali menggoda Airin sambil tergelak. Airin merinding dibuatnya. Kiper yang bisa menangkap hatinya? Idiih.. “Aiiiih... Apaan coba? Udah ah. Mas Irwan makin ngaco omongannya. Aku mau liputan dulu nih. Udahan ah ngobrolnya.” Airin berlalu sambil membawa ranselnya. Sementara Irwan tertawa kecil. "Hati-hati yang terakhir, Rin. Sarung tangan sakti!" teriak Irwan dari jauh dan hanya dibalas Airin dengan melambaikan tangan tanpa menoleh. Meliput Tim Nasional? Airin menghela nafas. Apa yang dikatakan Irwan tidak sepenuhnya salah. Airin memang harus ekstra hati-hati berurusan dengan atlet tim nasional. Berminggu-minggu ke depan, Airin akan bersama-sama mereka di berbagai pertandingan dalam dan luar negeri. Berbeda dengan liputan liga, dimana Airin mondar mandir dari satu kota ke kota lainnya dan tidak terus menerus meliput orang yang sama. Bersama-sama dengan para atlet tampan yang sangat jago memikat hati perempuan memang sangat rentan terkena cinta lokasi. Airin harus lebih waspada. Tembok pertahanannya harus diperkuat. Bukan karena ia terlalu percaya diri dan merasa dirinya cantik dan pasti disukai, masalahnya para atlet itu sering mencari mangsa secara random. Siapapun perempuan dia dekat mereka, akan mereka dekati untuk mengusir rasa bosan. Airin harus pasang kuda-kuda sebelum dirinya digombalin habis-habisan. Ada beberapa nama di Tim Nasional yang Airin sangat hindari. Benar kata Mas Irwan. Mereka mendapatkan nomor pribadinya dan selalu menghubunginya. Beberapa dari mereka ada yang mengajak jalan, ada yang pengen ngobrol panjang, bahkan ada yang terang-terangan ngajak pacaran! Airin sampai berkali-kali ganti nomor ponsel. Dan kali ini, Airin harus bersama dengan mereka berminggu-minggu lamanya. Ah, kepala Airin mendadak pusing. Semoga saja tidak terjadi apa-apa. *** “Wuaaah, anak kecil ini udah jadi gadis dewasa. Sampai pangling.” Airin cemberut mendengar Egi, kameramennya mengomentari penampilannya dengan tawa. Semua pasti gara-gara gaun dan make up ini! Airin kesal sekali. Ia tak sempat membawa gaun dan peralatan make up saat berangkat liputan. Padahal ia dan team harus datang ke resepsi pernikahan Irwan dan itu sudah Airin tunggu-tunggu. Akhirnya, atas rekomendasi salah seorang temannya, Airin datang ke sebuah salon yang juga menyewakan gaun. Jadilah penampilannya seperti artis hollywood yang melenggang di red carpet. “Kayak tante-tante ya, Mas?” tanya Airin pada Egi. “Nggak kok, cantik malah. Serius deh.” jawab Egi jujur. Selama ini Airin dimatanya hanya anak kecil polos. Tapi malam ini, entah bagaimana anak kecil polos itu berubah jadi gadis dewasa yang cantik paripurna dari atas sampai ke bawah.  “Bohong!” “Bener, cantik kok Rin. Ntar ya, aku lagi nyariin istriku nih, kemana sih dia tadi? Ntar deh, kalau ada dia kamu tanya aja sendiri. Biasanya cewek kan lebih percaya dengan penilaian sesama perempuan." jawab Egi sambil berusaha menghubungi istrinya yang juga ikut hadir di sini. "Mas Egi. Beneran kan nggak kayak tante tante atau kayak bencong nyasar?" Airin masih ngeyel. "Yaelaaah. Mana ada bencong cakep kayak gini. Kamu tuh cantik, Rin. Cantiiik.. Beneran!" jawab Egi mulai kesal karena Airin terus ngeyel. “Iya cantik, kok. Cantik banget malah.” sebuah suara bernada renda menimpali perkataan Egi. Airin dan Egi sama-sama menoleh. Seseorang tiba-tiba bergabung dengan mereka dan langsung memuji kecantikan Airin tanpa basa-basi. Airin menghela nafas melihatnya. Aih, alligator datang. Ayo waspadaaa... “Mas, aku duluan ke dalam ya, laper.” langkah pertama Airin dijalankan. Menghindar sejauh mungkin. “Aku temenin ya? Aku juga laper.” oke, rencana gagal. Alligatornya malah mengikuti. “Eh? Mmm..” Airin memutar otak, mencari alasan lain. “Ya udah, Ga, titip Airin ya, temenin dia. Aku mau cari istriku dulu ni, di telepon dari tadi nggak diangkat. Kemana sih?” Egi menjauh sambil menoleh kesana kemari mencari istrinya. Meninggalkan Airin yang cemberut kesal. Mas Egi! Ini namanya nitipin ikan ke tangan kucing! Gimana sih? “Yuk.. Makan..” ajak si alligator santai. Orang ini. Enak aja main ngajak makan. Emangnya aku mau makan bareng dia? Batin Airin kesal, tapi tak urung, ia ikut masuk ke dalam ballroom. “Kita belum kenalan. Tapi aku tau kamu. Airina, kan?” “Eh, iya. Dirga kan?” "Iya. Kamu pernah wawancarain aku waktu di Makassar. Ingat?" "Mmm.. Lupa, abisnya banyak banget yang diwawancara." jawab Airin sambil menggaruk hidung. Gesture yang selalu spontan ia lakukan kalau tengah berbohong. Ya, Airin bohong. Dia sangat mengingat Dirga. Dirga Reditya. Tingginya 188cm, dia selalu bernomor punggung 12 entah itu di klubnya maupun di Tim Nasional. Dia tahun lalu mendapat tiga gelar. Penjaga gawang terbaik se Asia Tenggara, pemain terbaik liga musim lalu, dan penjaga gawang dengan rekor baru, tanpa sekalipun kebobolan selama musim kompetisi, termasuk enam kali menepis tendangan penalti. Wajahnya perpaduan antara Francesco Totti dan Nicholas Saputra. Bahkan Airin hapal nomor sepatunya.  Tapi yang membuat Airin selalu ingat padanya adalah orang ini selalu memperhatikannya dari jauh. Tentu saja Airin sadar. Karena berkali-kali mereka beradu pandang saat Airin tak sengaja menoleh ke arahnya. Ia juga selalu tersenyum ramah setiap kali bertemu Airin yang tengah liputan. Namun meski begitu, ia bukanlah salah satu orang yang mencoba mencari tau nomor ponselnya dan tak pernah menghubunginya. Misterius bukan? Dan sekarang, Airin terjebak dengan si misterius ini. Bersama-sama menjelajahi meja-meja kuliner yang dihidangkan Mas Irwan dan istrinya. Selama itu pula Airin banyak ngobrol dengannya. Dan yang membuat Airin salut adalah sopan santunnya. Ia tak pernah menyentuh tanpa izin, bahkan saat seseorang hampir menabrak Airin, Dirga menarik clutch bag yang dipegang Airin, agar Airin menepi. Bukan menyentuh bagian tubuhnya.  Dirga juga santun dalam bertutur. Tidak ada gombal-gombal murahan, ajakan-ajakan yang tak sopan, apalagi prosesi tembak menembak. Bahkan Dirga tak pernah menanyakan nomor ponsel Airin atau bertanya apakah Airin sudah punya pacar. Airin merasa nyaman, ia seolah sedang bersama dengan seorang teman. Sampai tak sadar, ia berada di dekat pelaminan. Tak sengaja matanya melihat ke arah Mas Irwan. Seniornya itu mengacungkan ke sepuluh jarinya di depan wajah. Mengisyaratkan gerak gerik seorang penjaga gawang tengah menangkap bola. Airin terkejut. Saat mereka bersalaman pada kedua mempelai, Mas Irwan membisikkan sesuatu ke telinga Airin. "Hati-hati, Rin.. Sarung tangan sakti.." Airin spontan mencibir pada Mas Irwan lalu tertawa-tawa sambil turun dari panggung pelaminan dan kembali ke lantai ballroom. Airin baru saja ingin berjalan berkeliling sendirian sambil mencari kudapan. Tapi didepannya, terlihat Dirga tengah menunggunya dengan senyum manisnya yang memikat. “Na.. Mmm.. Nggak keberatan kan kalau aku minta temenin kamu selama acara resepsi ini? Kamu sendirian kan?” tanya Dirga santai. Ini permintaan pertamanya pada Airin. Dan Airin seperti terhipnotis. Tak kuasa menolak. “Mmm.. Iya sendirian sih.. Ini rencananya mau keliling nyari cemilan..” “Kalo gitu aku temenin ya? Kita cari makan lagi yuk, Na. Aku masih laper nih..” Na? Airin diam-diam suka panggilan itu. Tak ada yang memanggilnya dengan penggalan suku kata terakhir nama depannya. Biasanya Rin. Tapi orang ini memanggilnya dengan panggilan Na. Dan Airin suka. Lagipula, entah kenapa, malam ini Airin tidak keberatan menemani Dirga selama pesta pernikahan Irwan berlangsung. Tembok pertahanannya perlahan mulai terkikis. Jangan-jangan benar kata Mas Irwan, Dirga Reditya punya sarung tangan sakti yang bisa menangkap apa saja. Termasuk hatiku...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN