"Mbak Tarii.. Mbak Tari tega banget aaah.. Kenapa nggak bilang-bilang aku?"
"Hah? Bilang apa, Nit?"
"Aaah.. Nyesel aku tadi ikut ke kanwil sebentar. Tau gitu aku ke kanwilnya besok aja. Aaa.. Jadinga nggak ketemu kaaan? Kapan lagi cobaaa.."
"Kamu ngomong apaan sih, Nit?"
"Itu loh mbaak.. Dirgaaa.. Dirga Reditya Mbaaak.. Idolakuu.. Tadi dia datang kan ke sini? Aku liat fotonya di hp anak-anak P2U. Mereka tadi sempat foto-foto. Aaa.. Beruntung bangeeett.."
"Dirga siapa sih, Nit?"
"Ya Allah mbak Tarii.. Dirga itu kiper tim nasional. Penjaga gawang terbaik nasional Mbaak.. Yang tingginya nyaingin plafon, yang gantengnya di luar nalar, tadi ke sini kan?"
"Oooh.. Yang tinggi ganteng tadi itu.. Iya, tadi ke sini. Tapi cuma sebentar, nggak sampai lima menit, udah pulang lagi."
"Loh? Loh? Loh? Kok cuma sebentar. Ih kalo aku nih, mbak, kutahan dia selama mungkin di sini, kalau perlu karungin biar nggak bisa kabur, hahahaaa..."
"Anak edan. Ada-ada aja kamu."
"Eh, ngomong-ngomong dia nemuin siapa Mbak?"
"Airin."
Mendengar namanya disebut, Airin, yang posisi duduknya tak jauh dari Bu Tari dan Bu Nita yang tengah ngobrol di dekatnya, mendadak menundukkan badannya serendah mungkin agar tak terlihat oleh mereka berdua. Beruntung, dia duduk di dekat Mak Sandal yang bertubuh tambun. Airin tidak mau dirinya ditanya macam-macam terutama oleh Bu Nita. Sipir satu itu pasti fans beratnya si Kau Tau Siapa. Salah satu dari ratusan anak gadis yang tergila-gila dengan penampilannya saja. Seandainya dia tau siapa sebenarnya si Dirga Reditya itu. Banyak sekali anak gadis pencinta sepakbola yang akhirnya jatuh cinta pada Dirga. Wajar, Airin pun dulu juga seperti mereka. Terpesona dengan wajah tampan menyebalkannya itu. Apalagi kalau sudah beraksi di bawah mistar gawang, ketampanannya seolah naik sepuluh kali lipat. Wajar kalau banyak gadis-gadis langsung jatuh hati.
"Nona Penyiar mana ya?"
Aishh! Ngapain lagi si Pongah nyariin? Batin Airin kesal. Gagal sudah persembunyiannya saat Mak Sandal dengan tenang menggeser badannya dan menunjuk Airin yang duduk tepat di belakangnya.
"Ini nih. Sakit perut kayaknya, dari tadi nunduk terus. Sakit perut Non?" tanya Mak Sandal polos.
"Ha? Nggak kok Mak.. Ngantuk doang.." kilah Airin sedikit berbisik. Takut kedua orang sipir yang tengah asyik mengobrol itu menemukannya. Untungnya mereka masih asyik ngobrol berdua, dan belum sadar kalau Airin ada di dekat sana dan mendengar setiap kata yang keluar dari mulut mereka.
"Non!! Sini Non!! Aku boleh minta ini nggak? Udah dibuang kan?" Pongah mengacungkan sesuatu. Airin menyipitkan mata, mencoba melihatnya dengan jelas. Coklat? Banyak sekali?
"Heh! Pongah!!"
Tiba-tiba Bu Nita menarik lengan Pongah, membuat Airin menunduk lagi dan Pongah terkejut bukan kepalang. Dia baru saja masuk ke sini dan sama sekali tidak tau kalau Bu Nita dan Bu Tari sedang ngobrol di balik meja.
"Eh.. ada ibu.."
"Apa itu?" tanya Bu Nita dengan raut wajah kesal, menunjuk pada barang-barang di tangan Pongah.
"Ini? Mmm, bukan apa-apa Bu. Ini nemu." Pongah buru-buru menyembunyikan tangannya di balik punggung.
"Nemu dimana?" bentak Bu Nita galak.
"Di tong sampah depan, Bu.."
"Eh, itu bukannya yang tadi dibuang Airin di tempat sampah depan kan?" sahut Bu Tari. Ia mengenali paper bag merah muda yang dipegang Pongah di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya memegang beberapa kotak coklat.
"I.. iya, Bu.. Kan sudah dibuang, Bu.. Boleh diambil kan Bu?" tanya Pongah gugup. Ia hapal betul tabiat Nita yang selalu mencari celah untuk dapat barang gratisan. Jangankan yang sudah dibuang, menyita dari tangan napi pun dia tega. Kalau merasa suka dengan barang yang dimiliki napi, ia tak segan memintanya. Napi yang dalam posisi tidak mungkin menolak pun akhirnya memberikan dengan berat hati.
"Ya boleh sih.. Aku juga sudah periksa tadi. Cuma makanan sama kotak perhiasan gitu.." jawab Bu Tari. Kalau yang ini Pongah tau betul tak mau memungut apalagi meminta pada napi. Kalau diberi dia terima, tapi kalau meminta dia tak pernah mau. Makanya Pongah merasa aman-aman saja mengambil barang-barang yang dibuang Airin, tanpa tau di sana juga ada Bu Nita.
"Hah? Kenapa dibuang? Sayang amat. Bego banget sih."
"Ya itu Nit, itu dibawa sama idolamu itu untuk Airin. Sama Airin malah dibuang di depan hidungnya. Aku tadi mau ketawa tapi kasihan juga. Mungkin itu mantan pacarnya, makanya kesel kali, terus dibuang. Untung dibuangnya ke tong sampah kering. Isinya cuma sampah kertas. Jadi masih bersih semua. Makanya itu diambil lagi sama si Pongah." jawab Bu Tari.
Serta merta Bu Nita berteriak panik, lalu langsung menyuruh Pongah meletakkan semua pemberian Dirga itu di meja. Pongah memaki dalam hati. Gagal sudah dia mendapat durian runtuh.
"Ini semua coklat mahal! Mana ada di betamart jual yang beginian. Ini juga ni, ini kan merk mewah. Cemilan kelas atas ini Mbak! Eh.. itu apaan, Pongah?" tanya Nita menunjuk ke arah kotak satin hitam yang menyembul dari balik saku Pongah.
"Ah? Ini? Bukan apa-apa, Bu.." Pongah berkelit.
"Heh! Pongah! Jangan coba-coba ngumpetin apapun! Mau dijemur kamu?"
"Nggak Bu.." Pongah mengeluarkan kotak satin hitam dengan pita emas itu dari sakunya dengan enggan.
"Apa sih ini?" tanya Nita penasaran sambil mengguncang kotak.
"Oooh, itu set perhiasan perak gitu, Nit. Cincin, kalung, sama gelang. Nggak berbahaya, nggak ada yang tajam, jadi aku lolosin. Aman kok. Palingan juga perhiasan set perak perak gitu. Entah perak beneran atau apaan." jawab Tari santai.
Nita mengambil kotak itu dan meneliti isinya. Lalu terperangah melihat apa yang ada di dalam kotak. Ia lalu buru-buru menutup kotak dan menyuruh Pongah pergi.
"Pongah! Sana! Kamu nggak boleh ngambil barang orang sembarangan! Udah sana kamu jaga di depan lagi! Sana! Denger nggak sih?" teriak Bu Nita kesal. Pongah pun akhirnya pergi dengan bersungut-sungut.
"Mbaaak! Ini bukan perak murahaaan! Mana mungkin lah mbak, sekelas Dirga Reditya ngasih perhiasan murahan? Dia itu orang kayaaa.. Tajir melintir mbaaak.." bisik Nita yang masih terdengar oleh Airin. Airin mencibir. Tajir melintir? Belum tau dia..
"Mbak liat dong merk nyaaa. Ini mahaaal. Untung aku keburu ngeliat, kalau nggak, bisa-bisa jatuh ke tangan si Pongah. Enak aja dia, sembarangan ngambil barang mahal punya orang." rutuk Bu Nita membuat Airin memaki dalam hati.
Lah situ sama aja, wahai petugas yang budiman! Kan situ juga mungut sampah saya. Mendingan si Pongah, jelas jelas dia memungutnya dari tempat sampah. Lah situ? Merampas barang orang namanya. Dasar preman berbalut seragam. Batin Airin kesal.
"Ini mbak, liat merknya deh, Mbak." Bu Nita menunjukkan brand perhiasan itu dengan wajah sumringah.
"Hah? Mana sih?" Bu Tari mulai penasaran.
Nita dan Tari melihat merk yang terbordir pada bagian dalam kotak. Airin tau betul itu merk apa dan dimana si Kau Tau Siapa membelinya. Harganya pun Airin tau. Mereka pacaran bukan sehari dua hari, si Kau Tau Siapa pasti masih ingat dengan jelas dimana toko perhiasan dari designer favoritnya.
"Mbak, ini tuh perhiasan platinum. Lebih mahal dari emas putih. Merk ini lagi. Haduuuh.. untung nggak jatuh ke tangan si Pongah. Buruan umpetin Mbak." Bu Nita melihat berkeliling, khawatir ada yang melihat.
"Hah? Memangnya berapa sih harganya?" tanya Bu Tari penasaran.
"Ini kalungnya ada bisa belasan juta. Satu set begini bisa puluhan juta Mbaaak.."
"Apa? Iiih.. Ngeri ah. Kamu aja yang simpen deh. Aku takut ntar ada apa-apa."
"Yaelaaah.. Apa-apa gimana? Kan ini sampah, Mbak. Udah dibuang, sah-sah aja dong kalau kita ambil."
"Tapi tetep aja nggak berani ah, Nit. Udah buat kamu aja deh."
Beneran ini mbak? Aku ambil nggak apa-apa kali ya? Kan udah di buang juga ama dia."
"Yaa.. nggak apa-apa lah. Anggap aja kamu pemulung."
"Iiih, mbak Tari jahat. Eh, tapi nggak apa-apa sih, jadi pemulung, kalau dapetnya ginian. Hahaha.."
"Dasar kamu. Buruan umpetin. Ini coklat gimana? Buat aku satu boleh ya?" tanya Tari sambil tertawa kecil. Ia tak biasa mengambil apapun dari warga binaan. Tapi kali ini kan sudah dibuang. Rasa-rasanya tak apalah.
"Ya ambil aja kali mbak. Jadi yang mulung bukan aku doang, Mbak Tari juga. Hahaha..."
"Dasar kamu. Hahaha..."
"Ih, tapi aku nggak mau ah dibilang pemulung. Aku mau menghayal aja. Anggaplah ini mas kawin dari Dirga buat aku. Hihihiii.." Nita berandai-andai sambil tertawa senang.
Dari tempat duduknya, Airin mendengar semua percakapan memuakkan itu sambil menahan muntah. Makan tu Dirga! Kalau kalian tau siapa sebenarnya dia, dan apa yang sudah dia lakukan padaku, kalian pasti juga muak dan berhenti memuja-muja makhluk semacam dia.
Airin menghela nafas dan buru-buru berusaha mengusir bayangan Dirga dari benaknya. Kata sakit hati tak cukup untuk menggambarkan betapa sengsara dan nelangsanya Airin akibat perbuatan Dirga. Airin tau memaafkan itu suatu keharusan, tapi entahlah, sekarang ini rasanya Airin belum mampu memberi kata maaf untuk Dirga. Semua yang ia lakukan pada Airin terlampau menyakitkan.
Tiba-tiba, tanpa sanggup dicegah, ingatan Airin akan Dirga mulai bermunculan di benaknya. Dan ingatannya pun kembali lagi ke masa-masa itu. Masa-masa yang ingin sekali Airin hapus dari memorinya..