Bab 16. KAU TAU SIAPA

1436 Kata
Sejak remaja, Airin sudah jadi penggemar buku Harry Potter. Salah satu tokoh yang menarik perhatiannya adalah Lord Voldemort. Bukan karena sifatnya yang luar biasa jahat. Tapi karena panggilannya yang legendaris di dunia sihir. Salah satu panggilannya adalah Kau Tau Siapa. Mereka memanggilnya begitu karena terlalu takut pada Voldemort, bahkan hanya dengan menyebut namanya mereka tak berani. Airin pun punya panggilan serupa untuk seseorang. Persis Lord Voldemort, Airin memanggil sosok itu dengan panggilan Kau Tau Siapa.Tapi ia menolak memanggil dengan nama aslinya bukan karena takut, tapi karena benci setengah mati. Airin muak, bahkan cenderung jijik sampai-sampai menyebut namanyapun ia tak sudi. Dan sekarang makhluk itu ada di sini. Datang mengunjunginya. Duduk tenang persis di depan matanya. Membuat Airin ingin sekali melemparnya sampai ke luar angkasa.  Kalau ada lampu wasiat aladin, dan Airinlah yang membebaskan Jin nya, lalu ia diberikan permintaan yang akan dikabulkan oleh si Jin, maka permintaan Airin pada saat ini hanya satu : menghilang. Terserah si Jin bagaimana caranya. Mungkin ada semacam lubang di bawah kaki Airin yang membuatnya tiba-tiba terperosok dan menghilang dari pandangan. Atau, bisa juga dengan pintu kemana saja, pinjam sebentar dari doraemon. Airin janji tak akan kemana-mana, paling-paling kembali ke sel nya. Airin hanya tak ingin ada disini sekarang.  Atau mungkin dengan menyelimutinya dari kepala sampai kaki dengan jubah ajaib Harry Potter yang membuat seluruh tubuhnya tembus pandang dan tak terlihat. Atau.. ah, praktis saja lah, Jin. Buat saja Airin menghilang sekejap mata seperti sulap. Tapi sayangnya, tak ada aladin, tak ada lampu wasiat, apalagi jin yang mengabulkan permohonannya. Mau tak mau, Airin harus berhadapan dengan dia. Manusia yang paling Airin benci sedunia. Sedemikian bencinya, sampai-sampai menyebut namanya pun Airin tak sudi. Tapi sekarang, tak ada yang bisa Airin lakukan selain menghadapinya. Airin enggan memberi minum pada mulut-mulut haus gosip di sekitarnya. Kalau sekarang Airin kembali ke kamar dan menolak kunjungan, dia harus siap dengan pertanyaan pertanyaan yang menuntut jawaban. Apa yang harus dia jawab kalau mereka bertanya kenapa ia tak jadi menerima kunjungan? Memangnya siapa yang berkunjung? Ada apa antara Airin dan si pengunjung? Dan puluhan pertanyaan lainnya. Ah, sudahlah. Hadapi saja. “Na..” lelaki di hadapannya nyaris berbisik. Nada bicaranya penuh rasa iba. Tapi Airin justru hampir menampar wajahnya. Berhenti memanggil namaku dengan sebutan itu, brengseek! Ditelannya cercaan itu, dan memilih untuk duduk. “Ada apa, Bang?”Airin bertanya singkat, padat, tanpa basa basi. “Kamu apa kabar, Na? Sehat, kan? Baik-baik saja?” badanku sehat, jiwaku mati, sialan! Airin memaki lagi dalam hati. “Iya, sehat. Ada apa, Bang?” “Syukurlah kamu sehat, Na.. Abang khawatir kamu kenap…” “Abang ada perlu apa kesini?” potong Airin tak sabar. Nada bicaranya datar, namun tangannya gemetar, hatinya rasa terbakar. Airin tak tahan lagi. Khawatir katamu? Setelah semua yang kamu perbuat? “Na… Abang minta maaf…” Airin mendengus. Semudah itu kamu minta maaf? Setelah semua habis tak tersisa? Hatiku, keluargaku, nama baikku, masa depanku, bahkan duniaku sudah luluh lantak rata dengan tanah! Airin tak tahan lagi, bulir air mata sudah menggenang, siap jatuh kalau dirinya mengerjap sekali saja. Tapi setengah mati ditahannya. Bukan, bukan karena sedih. Airin terlalu marah, benci, muak, sampai-sampai tak bisa bicara apa-apa. Hatinya sakit. Tapi Airin tak mau orang ini tau betapa dia menderita. Airin juga tak ingin memaafkannya. Jangankan memaafkan, melihatnya pun sebenarnya ia tak sudi. “Na.. Abang benar-benar minta maaf…” Maaf katamu? Mudah sekali meluncurkan kata maaf dari mulutmu itu! Yang kamu hancurkan bukan hanya hatiku, tapi hidupku! Sekarang kamu berharap kumaafkan? Hah! Kemana kamu selama ini? Dimana kamu saat aku di tepi jurang? Kamu yang harusnya membelaku dan menolongku pada saat itu malah ambil langkah seribu? Pengecut macam apa kamu? Minta maaf dengan mudahnya setelah habis-habisan menghancurkan? Kamu pantas mati, bajingaan! Ingin sekali Airin berteriak mengeluarkan semua kemarahan yang dia bendung selama ini. Ingin rasanya Airin mencabik-cabik laki-laki ini. Tapi seolah kehabisan energi, Airin justru terdiam sementara air matanya mengalir di pipi. “Na… Jangan menangis, Na… Abang minta maaf..” lelaki itu berusaha menghapus air mata Airin. Namun Airin dengan sigap menepis tangan itu. Airin tak sudi disentuh lelaki ini meski hanya seujung jari. “Abang. Pergilah, pulang ke istrimu dan jangan lagi datang. Maaf, ini bukan tempat untuk abang, abang tak layak disini…” “Na, jangan bilang begitu, abang buk..” “…Sebab meski ini penjara, tempat ini untuk manusia, bukan iblis. Iblis sejahat abang tidak layak berada di sini. Abang tau dimana abang seharusnya berada? Neraka!” Airin berdiri dalam hitungan detik, berjalan menjauh tak menoleh lagi. Meninggalkan lelaki itu yang seketika membeku.  *** Bu Tari melirik jam tangannya diam-diam. Rekor baru sepertinya terjadi. Kunjungan ini tak sampai lima menit. Biasanya, dua puluh menit yang diberikan petugas selalu dirasa kurang. Beberapa warga binaan memohon perpanjangan waktu, dan beberapa lainnya pura-pura tak tahu, bahkan menyembunyikan diri di sudut, berharap tak terlihat dan panggilan untuk kembali ke kamar pun terlewat. Tapi yang ini?  Bu Tari menatap Airin heran, rasa-rasanya baru saja dia masuk ruang kunjungan, sekarang sudah mau pulang? Yang lebih mengherankan, tamunya masih terduduk diam dengan tatapan sedih, sementara yang dikunjungi berjalan cepat dengan raut wajah mara, minta dipulangkan ke dalam. “Sudah selesai?” tanya Bu Tari berbasa-basi. “Sudah, bu.” jawab Airin cepat.  “Oke.” Bu Tari hanya menjawab pendek, menyuruh Pongah memeriksa Airin. Namun mata Bu Tari sempat mencuri pandang ke arah sosok lelaki yang mengunjungi Airin. Lelaki tampan bertubuh tinggi dan atletis itu terlihat nelangsa. Berkali-kali dia mengusap wajah sambil menunduk. Bu Tari sebetulnya penasaran sekali, siapa lelaki ini. Tadi dia sempat membuat heboh para pegawai. Terutama para pegawai pria yang tugasnya jauh di gerbang depan sana. Bu Tari mendapatkan foto-foto di grup BBM Lapas. Foto para pegawai yang berebut mengabadikan momen dengan lelaki ini. Tapi Bu Tari sendiri tidak pernah melihatnya meski mereka bilang dia sangat terkenal. Namanya pun tak pernah dia dengar, tapi ia populer sekali di kalangan pegawai pria. Bahkan ada rekan yang sedang libur buru-buru datang ke lapas hanya ingin berfoto bersama.   Sementara Airin bersyukur sekali kali ini sipirnya  Bu Tari. Meski belum pernah berbicara langsung dengan komandan jaga yang satu ini, tapi Airin sudah banyak tau tentang Bu Tari dari Yuni dan yang lainnya. Menurut Yuni,  Bu Tari adalah petugas yang tak banyak bicara, tak usil, dan tak peduli apa-apa asalkan napi tak banyak ulah dan tetap mematuhi peraturan yang ada  dan tidak menyusahkannya. Jadi, Airin pun tak akan ditanya macam-macam, dan tak perlu menjelaskan panjang lebar. Meski nanti ia tau yang akan merongrongnya adalah Pongah si haus gosip. Tapi yang satu itu masih bisa ia bungkam. Setelah selesai proses pemeriksaan di ruang komandan, Airin pamit masuk pada Bu Tari. Saat keluar ruangan komandan jaga, Airin berpapasan dengan laki-laki itu lagi. Dia baru saja akan keluar dan memang untuk keluar harus melewati lagi pintu ruang komandan jaga. Mau tak mau Airin berpapasan lagi dengannya. Laki-laki yang bahkan menyebut namanya pun ia tak sudi. Laki-laki yang pernah menjadi bagian dari hidupnya yang sangat ia sesali. Laki-laki yang entah bagaimana bertahun-tahun pernah ia cintai sepenuh hati, Sekarang cinta itu habis tak bersisa. Benar kata pepatah bahwa benci dan cinta itu batasnya hanya setipis kertas. Mudah sekali berbalik arah. Bahkan Airin lupa bagaimana rasanya mencintai dan dicintai orang ini. Yang tersisa hanya kebencian yang teramat sangat. Kebencian yang membuat Airin muak pada dirinya sendiri kenapa ia pernah bertahun-tahun mencintai laki-laki ini bahkan mengorbankan segalanya. "Na, Abang pamit. Jaga diri, Na. Abang minta maaf.. Abang benar-benar minta maaf, Na.." laki-laki itu kembali meminta maaf pada Airin dan menatapnya dengan tatapan sesal, dan yang paling Airin tak suka, ia menatap dengan pandangan kasihan. "Bu, saya boleh masuk sekarang?" tanya Airin pada Bu Tari. Ia mengabaikan kalimat-kalimat yang diucapkan laki-laki itu. Baginya setiap suara yang keluar dari mulut laki-laki itu hanya seperti suara gesekan dari kepak sayap nyamuk. Mengganggu, namun lebih baik diabaikan saja. Sedikitpun Airin tak menoleh padanya. Lewat sudut matapun tidak. Laki-laki itu seperti makhluk astral yang tak kasat mata. Bu Tari mengangguk dan mempersilahkan Airin masuk. Airin bergegas mengambil langkah cepat menuju pintu putar. Tapi tiba-tiba Bu Tari memanggilnya lagi. "Airina! Ini barang-barangmu ketinggalan." Bu Tari menunjuk pada setumpuk paper bag yang dibawa pria itu untuknya. Airin melirik sekilas, lalu berbalik lagi untuk mengambil paper bag itu. "Terimakasih, Bu. Saya masuk dulu." pamit Airin. Bu Tari mengangguk. Tapi baru beberapa langkah setelah keluar dari ruang komandan jaga, Airin membuang paper bag itu di tong sampah. Persis di depan mata sang pemberi hadiah. Seolah memberikan pesan, untuk jangan lagi memberinya apa-apa karena hanya akan berakhir di tempat sampah. Bu Tari terkejut, lelaki itu mematung.  Airin melangkah masuk, sementara lelaki itu menatap punggung Airin dengan hati tertusuk..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN