Bab 15. GELAR KEHORMATAN

1936 Kata
“Satu.” “Dua.” “TIGA!” “Eh tiga! Tiga! Juragan minyak bininya tiga!” “Hahahahaa.” “Kaget gue, anji*g! Biasa aja dong!” “Biar semangat, nyet!” “Ya jangan di kuping gue juga! Udah, lanjut!” “Empat.” “Lima.” “Enam.” “Eeeh, Nona Penyiar. Cakep amat, kulitnya mulus kayak pant*t bayi.” Airin tertawa kecil menanggapi pujian dari Kunthi, lalu meneruskan langkahnya ke arah lapangan tempat mereka akan melaksanakan senam pagi. Proses hitung menghitung masih terdengar dari pintu kecil yang tadi Airin lewati. Satu persatu para warga binaan melewati pintu itu untuk masuk ke lapangan, sambil menghitung. Tamping yang bertugas menghitung adalah Kunthi. Nama aslinya Suzana. Karena namanya identik dengan artis yang biasa memerankan film horor, dengan semena-mena orang-orang di lapas memanggilnya Kunthi, sesuai peran yang biasa dimainkan sang artis. Ada-ada saja. Kunthi ini latah. Dan tingkat latahnya parah. Dari skala satu sampai sepuluh, latahnya bisa menyentuh angka delapan. Itulah sebabnya jika ada yang berteriak di dekatnya, otomatis Kunthi akan latah dan mengeluarkan kata-kata serupa yang terdengar aneh dan mengundang tawa. “Non! Kemarin yang datang Bapaknya ya?” tanya Pongah. Airin menghela nafas samar. Ini lagi. Rasa penasaran orang-orang di sini melebihi ambang batas yang bisa ditolerir Airin. Apa saja yang ia lakukan seolah wajib jadi konsumsi publik. “Bukan tante, itu mantan...” “Hah? Mantan pacar? Tua amaaaat!” “MasyaAllah! Biar diselesaikan dulu kenapa?” “Hehehe.. maap, kebiasaan kalau denger mantan pasti bawaannya mikir ke mantan pacar atau mantan laki, Non.” Pongah tertawa. Memperjelas penampakan gigi depannya yang tanggal dan membentuk rongga. “Itu mantan pengacara saya, dia datang mau ngabarin soal pengacara yang baru.” Tukas Airin asal saja. Yang penting bisa menghentikan rasa penasaran si Pongah. Airin tak pernah suka orang selalu ingin tau perihal kehidupan pribadi orang lain. Dan di sini semua melakukannya. Tak ada yang bisa ditutupi, dan seolah semua hal adalah lumrah untuk disebar luaskan. Itu yang tak pernah Airin suka. Satu lagi yang Airin sangat tak suka adalah panggilan Nona Penyiar yang selalu tersemat padanya. Padahal apa susahnya memanggil Airin? Bukan nama yang sulit. Lain halnya kalau dia bernama Aurelliothanrysa Skarsyvtha Faysyerhinefio bla bla bla. Boleh lah dipanggil dengan panggilan Nona yang terdengar lebih mudah. Tapi kan namanya hanya Airina. A-I-RI-NA. Tak sulit. Beberapa kali Airin mengoreksi panggilan mereka. Meminta mereka untuk memanggil namanya saja. Tapi nyaris diabaikan. Entah siapa yang pertama memberinya gelar Nona Penyiar, yang jelas akhirnya nama itulah yang harus ia terima sebagai panggilannya. Meski awalnya ia bingung dan tak pernah menoleh saat orang-orang memanggilnya Non, atau Nona, tapi lama kelamaan ia mulai terbiasa. Menurut Sisil dan Yuni, awal mulanya karena wajah cantik Airin yang mereka bilang mirip Nona Belanda. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, dan tingginya di atas rata-rata. Mirip blasteran meski Airin adalah warga lokal asli. Entah siapa yang mencetuskan, lama kelamaan, si Nona Belanda itu akhirnya jadi panggilan tetap. Nyaris semua orang di lapas memiliki panggilan tersendiri, dan Airin sudah pernah dijelaskan sedikit oleh Docta saat ia dirawat di klinik beberapa waktu yang lalu. Docta menyebutnya gelar kehormatan. Gelar pertama yang Airin dengar saat menginjakkan kaki di Lapas adalah Pingpong dan Pongah. Kedua orang yang kehilangan gigi itu seperti si kembar upin dan ipin jadinya. Wajahnya mirip, sama-sama punya gigi yang tanggal. Pongah, si omPONG tengAH kehilangan gigi serinya, dan PingPong si PINGgir omPONG kehilangan gigi taringnya. Jadilah keduanya diberi gelar demikian. Lalu adalagi Sisil si SIti SILikon yang memperoleh gelarnya lantaran wajahnya yang setengah ori setengahnya lagi kw. Anehnya ia tak keberatan diberi gelar Sisil kendati nama aslinya adalah Siti Sriyati. Katanya hitung-hitung menghibur diri, soalnya ini lucu. Lalu ada Sutinah yang digelari Timbul, TInah raMbut BULe. Si tukang lulur ini gelarnya berasal dari warna rambutnya yang sejak datang sampai sekarang tetap blonde total. Usut punya usut, Timbul sering meminta tolong sipir membelikan pewarna rambut dan ia rutin mewarnai sendiri rambutnya jika dirasa sudah memudar atau mulai tumbuh lagi rambut hitam yang baru. Meski kontras dengan kulitnya yang sawo matang, Timbul selalu pede menjadikan rambut bule sebagai ciri khasnya. Saat di klinik, Airin sempat berbicara dengan Tomat. Nama aslinya Dewi Rastini. Nama yang cantik. Tapi berubah jadi Tomat karena perilakunya sendiri. Berawal saat kali keduanya tertangkap tiga tahun yang lalu. Saat itu, ia divonis enam bulan penjara karena kasus pencurian di toko ponsel. Tak tanggung, tanggung, enam buah blackberry senilai hampir dua puluh juta berhasil digasak komplotannya. Tomatpun terpaksa menghuni hotel prodeo saat usianya baru dua puluh tahun. Saat ditahan, dirinya langsung berubah religius. Belajar mengaji setiap hari dengan napi yang sudah mahir, sholatnya rajin, dan kemana-mana selalu berlagak seperti ustadzah dengan mendakwahi banyak orang untuk taubat. Saat bebas, semua orang mengira Tomat akan serius bertobat. Namun tak dinyana, belum sampai empat bulan ia menghirup udara luar, Tomat kembali masuk dengan kasus serupa. Kali ini di sebuah toko emas. Sama seperti sebelumnya, Tomat juga terlihat sangat menyesali perbuatannya dan sungguh-sungguh bertobat. Sampai ia bebas pun, semua orang mendoakannya betul-betul insyaf dan tak kembali lagi. Tapi apa daya, setan kembali menggodanya. Tak lama setelah bebas, ia kembali masuk penjara. Kali ini mencuri perhiasan di rumah majikannya. Jadilah saat itu Dewi Rastini digelari Tomat. Kadang TObat, kadang kuMAT. Saat di klinik pula Airin mendengar nama Bunda ganja. Menurut Docta, kalau nama yang dibelakangnya ada embel-embel jenis narrkoba, itu sudah biasa. Ada Bunda Ganja, Ani Ganja, Susi Inex, Mak Inex, Tuti Sabu, dan masih banyak lagi. Airin penasaran sekali dengan nama-nama lainnya. Beberapa kali ia mendengar nama Ubeng satu Ubeng dua Ubeng tiga, banyak sekali yang diberi gelar Ubeng. Ada pula Tante Slengky, yang ia temui di klinik, dan entah artinya apa. Lalu ia juga pernah mendengar nama Dirut. Direktur Utama? Ah, jelas bukan. Tapi apa artinya Airin masih belum tau. Entah kapan Airin sempat berkenalan dengan mereka semua. Diam-diam Airin mulai merasa terhibur. Ia ingin sekali membunuh waktu dengan mengisi hari-hari suramnya dengan kegiatan menyenangkan. Airin tak lagi merutuki nasib, merasa hidup ini melelahkan, merasa tak adil, merasa sedih yang berlarut-larut. Tidak. Airin sekarang ingin mengisi harinya dengan apapun yang bisa menghibur. Salah satunya dengan mengenal lebih jauh orang-orang di sini. Suara dentuman musik yang keras terdengar dari speaker di dekat Airin duduk. Senam pagi sudah siap di mulai. Instruktur senam yang memang didatangkan dari luar oleh petugas, sudah berada di posisinya dan siap mengajarkan gerakan-gerakan baru. Airin pun mulai pasang posisi dan ikut bergerak seirama dengan lagu dangdut koplo yang sedang diputar. Goyang Mang! *** Airin duduk manis di sudut dak. Sengaja keluar lebih dahulu dari yang lain agar bisa mengamati. Di sampingnya, Yuni duduk sambil mengusap peluh. Airin sudah berpesan pada Yuni untuk menjelaskan padanya nama-nama panggilan orang yang mereka lihat beserta artinya. “Nah, itu Agan. Nama panjangnya Ani Ganja. Karena kasusnya adalah narkobra jenis ganja, banyak, sepuluh kilo BB nya.” “BB apa teh?” “Barang Bukti.” “Oooh.. Oke.” “Si Ani itu nyambi jadi jablaay yang suka mangkal di kawasan anu. Tau kan?” “Oooh, iya, waktu itu dia di oper bareng aku. Bu Fitri ngamuk karena dia pake kerudung, padahal sehari-harinya biasa mangkal pake daleman doang katanya.” “Hiih, emang dasar ya tu anak!” “Lanjut teh, yang itu Pelet kan?” “Nah iya, di belakangnya itu Pelet, nama panjangnya Peni siapa gitu, belakangnya dijuluki Silet. Dia itu langganann keluar masuk penjara. Dia dijuluki silet, karena kerjaannya nyopet di pasar pake silet. Jadi dia nyilet tasnya ibu-ibu di pasar, dan ngambil dompetnya. Hampir tiap bulan puasa dia pasti masuk sini. Kan deket lebaran orang-orang pada dapet THR buat belanja di pasar, duitnya pada tebel.” “Astaghfirullah...” “Nah itu tuh... Yang itu namanya Ubeng satu sama Ubeng dua. Aku sendiri lupa, siapa ya nama mereka? Pokoknya panggilannya Ubeng. Di sini ada lima Ubeng. Nanti kamu tau sendiri siapa ubeng satu dua tiga empat lima.” “Kenapa dipanggil Ubeng teh? Ubeng itu apa?” “Ubeng itu artinya muter-muter. Jadi ceritanya, awalnya dari si ubeng satu. Dia kan hukumannya berat, sepuluh tahun. Kasusnya ganja, hampir satu kuintal. Dia ini jablaynya bandar ganja. Waktu itu ketangkep barengan sama si bos, jadi ikut keseret, kena sepuluh tahun. Rada stress lah ini orang. Jadi suatu hari, pas di lapas lagi ada acara, kedatangan wakil gubernur, dia diem-diem coba kabur. Keluar dari pintu samping. Padahal pintu itu nggak ada jalan keluarnya, karena di depan sana di jaga petugas, dan temboknya dua setengah meter. Makanya, dibiarin aja sama Bu Wati dan yang lainnya. Akhirnya dia muter-muter nggak jelas di lapangan depan itu. Maju kena-mundur kena. Balik lagi, belok lagi, muter lagi. Ngubeng-ngubeng nggak karuan. Waktu itu kan dia stress juga, sering ngoceh sendiri. Makin jadi lah stressnya setelah kejadian itu. Makanya dia dipanggil ubeng.” “Terus ubeng lainnya?” “Nah, gara-gara si ubeng satu, setiap orang yang rada ngaco dikit, agak kurang sesendok isi otaknya, pada dipanggil ubeng dengan nomor urut. Muncullah ubeng dua, tiga, empat dan seterusnya. Mereka adalah orang-orang yang dibilang gila nggak, waras juga nggak. Hahaha...” Tawa Yuni membuat Airin ikut tertawa kecil. Antara lucu sekaligus kasihan. Efek narkobra memang mengerikan. Mengikis kewarasan perlahan-lahan. "Nah, yang itu, favorit ibu-ibu pegawai. Nama aslinya Diana. Dipanggil Dirut, karena dia tukang urut. DIana uRUT. Gelar itu yang kasih ibu-ibu pegawai. Kalau kita warga binaan di sini sih ngasih dia gelar CCTV." "Hah? CCTV teh? Closed Circuit Television?" "Iya, kamera pengawas. Gara-gara dia tukang ngadu. Setiap dia ngurut anak-anak, matanya kemana-mana, ngawasin aktivitas anak-anak. Kalau ada yang melanggar, dia laporin ke ibu pegawai. Sisil pernah dilaporin waktu dia ngirim surat ke napi cowok lewat lubang. Yuya dilaporin waktu ketauan minjem HP Bu Linda. Banyak pokoknya. Dia itu nggak ada temennya, tiap dia datang, anak-anak bubar. Tapi dia nggak ngaku kalau dia yang laporin. Makanya dia cuek aja. Tapi anak-anak tau. Dia kan duitnya nggak banyak, tapi bisa tinggal di sel dua. Pasti dia dapet fasilitas gara-gara jadi CCTV itu. Kesel juga kadang sama dia." jelas Yuni sambil menunjuk ke arah seseorang bertubuh kurus yang baru saja keluar dari pintu. “Nah itu tante Slengky. Tau nggak artinya apa?” tanya Yuni. Airin menggeleng. “Slengky itu asal katanya selingkuh. Tante Slengky itu hukumannya dua puluh tahun. Kasusnya pembunuhan. Yang dibunuh itu suaminya sendiri. Dan yang bunuh adalah selingkuhannya, dia otaknya, dia yang ngatur rencana dengan rapi. Pura-pura dirampok. Bayangin, suaminya sakaratul maut di sebelah dia, yang bunuh selingkungannya, yang nyuruh dia. Katanya gara-gara dendam dan mau merebut harta juga. Tapi polisi curiga, karena pintu rumahnya nggak rusak sama sekali. Jadi diselidiki lagi, dan yaah... ternyata ketauan dia dalangnya bareng sama selingkuhannya.” Mata Airin membola. Selanjutnya, Yuni menerangkan satu persatu nama-nama mereka. Ada yang lucu, aneh, menyeramkan, unik, dan ada juga yang nggak nyambung sama sekali. Airin sungguh merasa terhibur. Sejak itu ia tak lagi keberatan dipanggil Nona. Panggilan yang akan ia ingat seumur hidupnya. *** Hari sudah menjelang siang. Jam sepuluh lewat tiga puluh menit. Airin dan Yuni sedang sibuk membuat kerajinan. Saat ini adalah waktunya para warga binaan menjalankan aktivitas keterampilan. Ada yang menganyam, menjahit, berkebun, ada juga yang membuat hiasan dinding. Airin masih belajar membuat anyaman pada Yuni yang sudah ahli. Tiba-tiba nama Airin dipanggil lewat pengeras suara. "AIRINA SIDDIQA AMANAH, KUNJUNGAN..." Airin bingung sesaat. Siapa yang mengunjunginya? Airin sudah melarang keluarganya datang untuk saat ini. Jadi tidak mungkin mereka. Apa orang kantor lagi? "Non! Buruan! Ambil baju!" teriak Timbul yang duduk di dekatnya. Airin bergegas mengambil seragam birunya, lalu berjalan ke arah ruang kunjungan dengan bingung. Siapa ya? Sampai di ruang kunjungan, Airin melihat sosok itu, sosok yang paling ingin Airin hindari. Airin menyebutnya : Kau Tau Siapa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN