Bab 14. SAMPAH TIGA PULUH JUTA

1393 Kata
Di Lapas Wanita tempat Airin menjalani hukumannya saat ini, ada jam kunjungan untuk para warga binaan. Di mulai dari jam sembilan pagi, dan berakhir jam dua belas siang. Airin dan rekan lainnya bergantian mendapat jatah dua puluh menit untuk satu kali kunjungan. Ruang kunjungannya tak terlalu besar, hanya menampung sepuluh sampai lima belas warga binaan saja perdurasi. Awalnya Airin mengira ruang kunjungan berupa semacam kotak kecil seukuran toilet umum, dilapisi sekat kaca seperti di loket jual beli tiket, dan mereka berbicara dari dalam bilik itu sementara si pengunjung di luar bilik. Pembicaraan berlangsung dengan menggunakan semacam telepon. Jadi antara napi dan pengunjung hanya bisa saling menatap tanpa menyentuh. Itu yang Airin lihat di film. Tapi ternyata realitanya berbeda dari yang Airin lihat. Di sini ruang kunjungan tak ubahnya seperti ruang keluarga biasa. Semua duduk di lantai beralaskan tikar, membentuk kelompok kelompok kecil dan saling bertukar kabar. Bisa memeluk anaknya, orang tuanya, adiknya, kakaknya, kerabatnya, dan ngobrol berhadapan satu sama lain. Setelah dua puluh menit, waktu kunjungan habis dan saatnya bergantian dengan warga binaan lainnya yang akan menerima kunjungan. Begitu seterusnya sampai jam dua belas siang. Namun kali ini, Airin mendapat kunjungan di jam tiga sore. Ini jauh di luar waktu kunjungan. Namanya pun tidak dipanggil lewat pengeras suara seperti biasanya ketika ada yang dikunjungi. Kali ini, seorang tamping langsung mendatangi kamarnya dan memintanya datang ke ruangan Bu Wati karena si pengunjung ada di sana. Airin bergegas mengenakan baju seragam biru gelapnya. Baju wajib yang harus dipakai saat beraktivitas di luar area. Saat melangkah ke ruangan Bu Wati, benak Airin terus berputar, bertanya-tanya siapa yang mengunjunginya di jam seperti ini? Tidak mungkin keluarganya. Kalau mendengar ciri yang disebutkan Pongah tadi, Airin yakin, bahkan hampir pasti menebak bahwa itu adalah Pak Fahri, ketua tim lawyer perusahaan tempatnya bekerja. Pasti dia. Airin menghela nafas melihat siapa yang sudah menunggunya di ruangan Bu Wati. Persis dugaannya. Ketua tim lawyer FirtsTV duduk tenang menunggunya dengan setumpuk berkas. Airin menyeret langkah dengan malas, menghampiri pria itu dengan perasaan enggan. Ia tau betul maksud kedatangan orang itu ke sini. “Rin, silahkan ngobrol sepuasnya ya. Ibu keluar dulu, kalau sudah selesai kasih tau sama Pongah aja, di ruang komandan.” perintah Bu Wati cepat. Seolah sudah biasa mengucapkan kalimat itu berulang-ulang. Airin tau betul bukan hanya dirinya yang pernah ‘menyewa’ ruang kantor ini, dan Bu Wati tidak keberatan menyulap ruang kerjanya ini menjadi ruang kunjungan yang super nyaman. Bahkan, saat melirik meja, Airin menemukan banyak kudapan di sana. Entah itu pemberian Pak Fahri, atau justru bagian dari service yang diberikan Bu Wati untuk tamu VIP nya. “Apa kabar Bu Airin? Sehat?” Pak Fahri mencoba berbasa-basi. Airin menganggapi dengan senyum sinis. “Sehat, Pak. Masih hidup, masih bernafas.” Jawab Airin dengan nada sindiran yang jelas terdengar. Ia tak mau repot-repot balik bertanya bagaimana kabar Pak Fahri. Jangankan berbasa-basi, mengeluarkan suara sedikit saja Airin enggan. “Syukurlah kalau Bu Airin sehat. Semoga cobaan ini seger...” “Ada apa, Pak? Waktu kita sedikit.” Potong Airin tak sudi mendengar Pak Fahri berbasa-basi. “Oh.. tadi saya sudah bicara dengan Ibu Kepala, tidak apa-apa kalau kita berbicara sedikit lebih lama, tadi saya sud...” “Bukan itu. Sebentar lagi adzan Ashar. Saya punya urusan lebih penting. Sholat.” Potong Airin lagi. Lebih cepat, lebih tepat, membuat Pak Fahri menutup mulutnya rapat-rapat. “Begini, Bu Airin, ada dua hal yang ingin saya sampaikan hari ini. Pertama, saya membawa kabar baik. Bu Airin masih menjadi bagian dari FirstTV, dan sebelum Bu Airin terlibat masalah ini, Bu Airin seharusnya menerima award karyawan teladan tahun ini, dan saat ini saya memberi kabar bahwa hadiah karyawan teladan masih saya ambil alih sementara waktu, dan kedatangan saya ke sini sekaligus ingin bertanya, kemana hadiahnya harus saya kirimkan?” “Buang.” “Ya?” “Ah, jangan dibuang, kasih ke fakir miskin.” “Apa?” “Hadiahnya uang bukan?” “Eh.. Iya..” “Sayang juga kalau dibuang. Ntar diambil lagi malah makin kaya babi-babi gemuk itu. Di kasih ke fakir miskin kasihan, masa saya kasih sampah sisa korupsi babi-babi? Dikemanain ya, Pak?” tanya Airin dingin. Pak Fahri terheran-heran melihat reaksi Airin. Gadis ceria yang sering di temuinya di kantor bisa mendadak berubah jadi makhluk sinis dan berani seperti ini? Sementara Airin tak ragu memuntahkan kata-kata kasar yang sering ia dengar dari teman-temannya di penjara. Ia justru berharap si Elsye nenek sihir itu mendengar semua ucapannya. “Berapa sih uang yang dikasih si lontee pelakor itu ke saya, Pak? Itu duit dia kan? Nggak mungkin duit perusahaan. Itu duit hasil korupsi si Babi pasti kan?” tuduh Airin. Dia sebetulnya jengah mengcopy paste ucapan sehari-hari Pongah dan kawan-kawan dari dengan mulutnya yang nyaris tak pernah tersentuh kata kotor. Tapi kali ini ia menggunakannya untuk melampiaskan seluruh emosi yang terpendam, sekaligus menunjukkan pada Pak Fahri, orang suruhan mereka, untuk menyampaikan bahwa Airin bukan lagi gadis bodoh yang mau menuruti semua perintah seperti dulu. Pak Fahri menyebutkan nominal hadiah Airin dengan gugup dan masih terlihat sisa-sisa keterkejutannya. Airin menimbang-nimbang. Jumlah yang lumayan banyak dan sangat sayang jika dikembalikan atau dibuang. Ah! Tiba-tiba Airin punya ide cemerlang. Sampah memang seharusnya dibuang pada tempatnya. Dan Airin tau tong sampah mana yang tepat untuk membuang limbah sisa korupsi itu. “Sebentar ya, Pak..” Tiba-tiba Airin keluar ruangan, mencari seseorang. Pak Fahri mematung. Kebingungannya kali ini sudah diambang batas. Ia sampai mirip orang linglung gara-gara ucapan tak terduga dari mulut Airin. Sungguh reaksi yang diluar ekspektasi. Pak Fahri mengira Airin akan marah, menangis, sedikit memaki, lalu menyuruhnya membuang uang hadiah itu karena tak sudi. Atau sebaliknya, ia menerima uang itu dengan tatapan penuh dendam. Tapi reaksi yang muncul adalah wajah tanpa ekspresi dengan tatapan sedingin es, dan mulut yang mengeluarkan kata-kata kotor dengan nada datar dan seolah tanpa beban. Airin kemudian masuk lagi ke ruangan bersama Bu Wati yang ikut duduk di kursi dekat mereka dengan wajah kebingungan. “Ada apa, Rin?” “Bu, boleh minta nomor rekening Ibu?” “Hah? Untuk apa?” “Saya mau menitipkan uang pada ibu. Untuk biaya hidup saya selama di sini. Boleh, bu?” “Oh tentu saja boleh..” Bu Wati menuliskan nomor rekening di secarik kertas. Tapi bukan atas nama dirinya, entah itu rekening siapa. Airin tak peduli, dia punya rencana. Airin memberikan kertas itu pada Pak Fahri. “Bisa dikirim saat ini juga? Pakai M-Banking kan, Pak?” “Eh, i..iya.. sebentar..” Pak Fahri mengeluarkan ponselnya dengan cepat, lalu mengirimkan hadiah itu seluruhnya ke nomor rekening yang tertera di kertas. “Oke bu, uangnya sudah masuk.” Ujar Airin setelah melihat notifikasi yang tertera di layar ponsel yang ditunjukkan Pak Fahri padanya. Bu Wati melirik layar ponsel dan gagal menyembunyikan ekspresi sumringahnya melihat angka tiga dengan tujuh angka nol berderet di belakangnya. Sepuluh kali lipat dari harga kamar Airin yang diberikan padanya. “Ohh, sebentar, Bu. Maaf, uangnya tidak jadi saya gunakan untuk kebutuhan saya. Saya mohon maaf sekali.” Sesal Airin yang menyulut kekecewaan Bu Wati. “Saya lupa, saya di sini ditanggung negara, tidak perlu uang lagi. Jadi saya tidak butuh apa-apa. Kalau begitu, boleh saya minta tolong sama ibu? Tolong buang uang itu ya, bu? Terserah dibuang kemana, asal tidak merepotkan. Maaf saya sudah menitipkan sampah pada ibu.” Tutur Airin dengan nada datar. Bu Wati kehilangan kata-kata, apalagi Pak Fahri. “Pak, sudah ya, sampahnya sudah saya terima, jadi urusan kita sudah selesai kan? Saya pamit mau masuk dulu, sudah mau adzan ashar.” “Eh, tapi bu, ada satu kabar lainnya..” tukas Pak Fahri. “Oh, saya sudah tau, Pak. Mereka meminta Bapak jadi pengacara saya kan? Terimakasih niat baiknya, tapi saya menolak. Maaf, saya menolak. Saya tidak mau Bapak jadi pengacara saya. Jelas ya Pak? Jadi tolong, Bapak jangan pernah datang ke sini lagi. Sampaikan juga dengan mereka, jangan ganggu saya lagi. Permisi, saya mau masuk. Bu Wati, maaf, saya masuk dulu, terimakasih sudah meminjamkan ruangannya..” Airin tersenyum dan berterimakasih pada Bu Wati, lalu melangkah ke ruang komandan, mencari Pongah untuk di antar ke kamarnya. Kedua orang yang tersisa di ruangan saling melempar pandang dengan ekspresi bingung. Pak Fahri bingung apa yang harus ia sampaikan pada Bu Elsye yang memintanya ke sini, sementara Bu Wati bingung mau diapakan uang tiga puluh juta yang masuk ke rekeningnya. Uang yang Airin sebut sampah. Sampah senilai tiga puluh juta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN