Bab 13. FILTER BIBIR

1701 Kata
“Kita kembar sekarang. Ahahahahaaaaa..” Sisil tertawa puas sambil menunjuk hidung Airin yang membengkak, menyamakannya dengan hidungnya sendiri yang juga terlihat bengkak setelah disuntik silikon. Namun ini bengkaknya semi permanen. “Ih! Malah ketawa! Bukannya minta maaf!” Yuni melempar bantal pada Sisil. “Laah, minta maafnya kan udah tadi, Teh. Iya deh iya deh. Maafin ya, Dek. Gara-gara tonjok sakti ku, itu hidung jadi tambah mancung. Hmmph...” tawa tertahan kembali terdengar di akhir permintaan maaf Sisil, mengundang tatapan kesal Yuni. Sementara Airin hanya mengangguk angguk tanpa bicara sepatah katapun. Selain karena dia merasa seolah sedang cosplay jadi pinokio, Airin juga merasa kalau bengkaknya makin menjadi-jadi. Sejak masuk kamar tadi, Airin cuma diam saja, efek obat pereda nyeri tadi pagi sepertinya sudah hilang, dan celakanya, Airin bersin. Saat itulah hidungnya berdenyut-denyut, sakitnya sampai ke kepala. Selain itu, bengkaknya pun mulai terlihat. Airin sangat tidak nyaman dan memilih diam saja daripada sakitnya makin menjadi. “Untung hidungmu mancungnya asli, jadi cuma bengkak. Coba kalau punyaku, bisa berubah bentuk, penyok ke kanan, nggak bisa balik lagi.” seloroh Sisil sambil memegang hidung silikonnya. “Makanya punya muka yang ori buatan Tuhan aja. Jangan di oplos-oplos pake barang KW buatan manusia.” Goda Yuni sambil tertawa kecil. Sisil ikut tertawa. Dia memang tidak pernah tersinggung dan mempermasalahkan jika ada orang yang membuat lelucon tentang wajah silikonnya. Toh, memang begitu kenyataannya. “Tau nggak ini ceritanya gimana, kok aku bisa masang silikon di salon murah?” tanya Sisil sambil mematut dirinya di cermin. Hidungnya yang membesar di bagian bawah ditekan-tekan dengan telunjuk. “Jadi, pertama kali aku pasang itu di salon dekat rumah susun. Tahun 1999, bulan sepuluh. Umurku masih dua puluh tahunan. Masih inget banget. Waktu itu lagi terkenal jadi biduan. Kan hidungku pesek, sama istri yang punya grup orkes, aku disuruh suntik silikon di salon itu, katanya biar mancung kayak bule. Abis itu malah ketagihan, soalnya bentuknya belum sesuai keinginan. Jadi aku untik lagi di bibir, di dagu, trus lama-lama, baru kelihatan mukaku bengkak-bengkak udah kayak bencong abis digebukin. Kata orang sih karena aku pake silikon cair. Namanya barang cair kan makin lama makin ke bawah. Nggak tau bener apa nggak. Tapi emang makin lama, mukaku jadi bengkak bagian bawahnya. Kayak hidung ni, ujung bawah jadi gede begini, udah kayak disengat tawon vespa. Dagu ama bibir apalagi. Meleyot kemana-mana. Tapi apa boleh buat. Biaya operasi buang silikonnya lebih mahal  dari biaya masangnya. Biarin ajalah. Ini masih untung aku sehat, nggak kenapa kenapa. Nah temenku yang kerja di salon, abis suntik terus mati kena hepatitis, katanya jarum suntiknya bekas orang. Hiiiihhh amit-amit.” Sisil bergidik, sementara Airin menatapnya dengan pandangan tak percaya. Yuni, yang sudah beberapa kali mendengar cerita ini tetap saja geleng-geleng kepala. “Di sini rata-rata pake silikon dek. Apalagi anak-anak geng narkoboy. Si ubeng satu, ubeng dua, ubeng tiga, ubeng empat, si Pingpong, si Kunthi, dagunya udah kayak nenek sihir gitu, terus Buda Ganja juga, bibirnya udah meleber mirip panntat ayam, terus siapa lagi ya? Banyak laah. Rata-rata jablaay ama Mami-nya pernah suntik silikon. Kan mereka jual badan, harus cakep katanya. Eh, padahal malah jadi jelek, hahahaha...” tawa puas Sisil hanya ditanggapi dengan senyum tipis Airin dan Yuni. Airin perlahan-lahan mulai terbiasa dengan kata-kata kasar para warga binaan di sini. Kata-kata seperti jablaay, pereek, lontee, germoo, bahkan Mami yang sebenarnya adalah kata ganti untuk panggilan Ibu di sini berkonotasi negatif. Tapi itu seolah hanyalah sapaan akrab saja, tak ada yang tersinggung. Entah karena memang sudah lumrah dengan candaan itu, atau justru karena memang itulah pekerjaan mereka yang sebenarnya di luar sana. Pertama kali Airin mendengarnya saat baru datang dan diperiksa di ruang komandan jaga. Pingpong yang bertugas memeriksa barang-barang para warga binaan yang baru datang, memanggil salah seorang rekannya sesama tamping, minta diambilkan kantong plastik di atas meja. “Eh, ambilin plastik dong.” Pinta Pingpong, tapi yang dimintai tolong sedang riweuh dan tidak mendengar ucapannya. “Woi! Kunthi! Ambilin plastik!” pintanya lagi, dengan suara lebih keras. Tapi Kunthi tetap saja tidak mendengar, terlalu berisik. “Hooi! Lontee! Itu plastik di meja bawa siniii!” Bukan main terkejutnya Airin mendengar kata-kata tak sopan itu. Tapi si Kunthi, hanya senyum-senyum sambil mengangsurkan plastik yang diminta Pingpong. “Sorry, Blay, nggak kedengeran.” Dan setelah itu, semakin sering Airin mendengar sapaan mengerikan itu dengan bermacam intonasi di berbagai situasi. Sambil cerita, bercanda dan saling menepuk bahu, ataupun sedang bertanya atau menjawab pertanyaan, ringan sekali mereka menyebutnya, seperti Airin yang memanggil sahabat-sahabatnya dengan sebutan Sis, Say, Cin, Jeung, atau Beyb. “Hahaha.. Kocak banget pereek satu ini!” Atau.. “Kan tadi gue udah bilang soal itu. Lo kemana aja Jablaaay.” Atau.. “Bajunya bagus banget, pinter banget ni lontee milih corak.” Dan lain sebagainya. Membuat telinga Airin yang tadinya jarang tersentuh kata-kata kotor malah akhirnya jadi terbiasa mendengarnya. Belum lagi kebun binatang yang ringan sekali meluncur dari mulut-mulut mereka. ‘Bayar hutang lo, Nyet.’ atau ‘Anjingg ganteng banget si Reffy Ahmadi.’ atau ‘Pelit banget lo, Babii.’ Dan setiap kata-kata itu terlontar, tak ada yang tersinggung. Menganggap itu adalah panggilan yang lazim. Belum lagi kalau soal kotoran, mereka jagonya. Huruf T, A, I sudah sering Airin dengar di sana sini seolah benda itu bukanlah sesuatu yang menjijikkan. Dan bahkan, mereka menganalogikan makanan dengan ampas pencernaan itu. Seperti misalnya saat Tante Slengky membawa pisang goreng dari dapur, tapi ia bereksperimen dengan mencairkan gula aren dan menyiramkannya ke atas pisang. Membuat makanan itu jadi terlihat lengket dan berwarna kecoklatan. Komentar mereka membuat Airin heran. "Aiih apaan tu, Tan? Bentuknya kayak taik." seloroh Tomat. "Iya mirip taik, tapi enak, manis gurih." jawab Tante Slenky.  "Taik lo begini bentukannya ye? Taik gue nggak, lebih lembek." ujar Pingpong. Dan spontan dirinya langsung dilempari warga.  Yang paling membuat Airin jengah adalah penyebutkan bagian tubuh secara eksplisit. Yang ini awalnya dia dengar saat tadi sedang pemulihan di klinik. Seseorang berkonsultasi dengan Docta dan menceritakan keluhannya. “Doc, kok mem*k gatel lagi Doc? Padahal udah dikasih obat.” Atau.. “Iya Doc, kalau lagi mens gini T*tek rasanya sakit banget, kenapa ya Doc?” Ya Tuhan.. Airin malu sendiri organ penting kaumnya disebutkan secara terang-terangan begitu. Belum lagi yang latah. Bukan hanya organ penting milik perempuan, bahkan yang punya lelaki pun diumbar-umbar dengan sangat nyata. Dan semua yang mendengar hanya tertawa. Membuat Airin mengurut dadaa. Tapi kata Docta, memang begitulah mereka. Itu sebabnya Docta senang saat Airin datang. Akhirnya ada lagi orang waras yang masuk. Waras maksudnya adalah seseorang yang punya tata krama, mulutnya punya filter, dan otaknya tidak dipenuhi residu sisa narkobra seperti para pecandu itu. Jadi kata-kata yang keluar dari mulut pun tertata dan enak didengar, bukan yang membuat perut mual. Lambat laun, Airin maklum. Rata-rata mereka memang tidak terdidik dengan baik di lingkungannya. Beberapa di antara mereka yang muslim bahkan tidak pernah sholat seumur hidupnya. Boro-boro puasa ataupun mengaji. Banyak yang bercerita, orang tua mereka pun sama. Jangankan mengajarkan ibadah, para orang tua pun hanya sibuk mencari nafkah dari pagi sampai malam. Satu pekerjaan saja tak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Itu sebabnya banyak di antara mereka yang haus kasih sayang, tak terurus, dan hidupnya kacau. Dari segi pendidikan, banyak yang memang tidak merasakan bersosialisasi dengan teman di sekolah. Dan ketika dewasa, terjerumus ke lingkaran pergaulan yang salah dan makin membuat tata krama tak lagi ada. “Di sini, hampir delapan puluh persen isinya karena terjerat kasus narkoboy, Dek.” Tukas Sisil tiba-tiba, membuat lamunan Airin buyar seketika. “Sisanya di sini disebut kriminal. Yang maling, yang nyopet, yang judi togel, yang nipu, yang korupsi, yang rampok, yang aborsi, yang jual anak gadis orang, yang bunuh, yang nusuk orang, yang nyiram orang pake air keras, yang kayak si Teteh ni, ngegebukin bini muda lakinya pake kayu yang ujungnya ditancapin paku, abis itu langsung tu bini muda kena bacok, untung nggak mati ya, Teh?” “Memang nggak pengen kumatiin, Sil. Biar cacat aja seumur hidup. Mukanya bolong-bolong badannya sobek-sobek.” Jawab Yuni santai dengan ekspresi dingin. Airin nyaris bergidik melihatnya. “Hahahaa.. Iya teh. Kalo aku mah sudah ku sisain kepalanya doang tu bocah!” geram Sisil yang mencoba berempati pada Yuni. Airin hanya tersenyum salah tingkah. “Nah, karena banyak yang narkoboy termasuk aku, jangan kaget ya kalau banyak yang mulutnya nggak pake saringan. Otak mereka udah tinggal setengah. Kalau aku memang nggak make, jadi otakku aman, aku jualan doang.” tukas Sisil bangga. Namun Airin memakinya dalam hati. Otakmu aman, karena kau bukan pemakai, tapi berapa banyak otak orang lain yang kau rusak karena dagangan harammu itu wahai muka silikon? Batin Airin kesal. “Makanya jangan kaget ya, Dek. Kalau banyak yang bicaranya kasar, bibirnya nggak punya filter. Mereka sudah terbiasa bicara tanpa berpikir.” Jelas Yuni menimpali omongan Sisil. Airin hanya mengangguk-angguk tanda mengerti. “Aku juga sering ketularan ngomong kasar. Yaaa.. gimana ya, bergaul sama pecandu-pecandu gila itu, lama-lama aku ikutan nggak normal. Tapi seru, rasanya kayak bebas aja mau ngomong apa. Mumpung di penjara. Sekalian ngilangin stress, maki-maki orang, orang yang dimaki gila, nggak tersinggung, kan asik? Hahahaa..” tawa Sisil puas. Sepertinya Airin harus banyak bersabar selama tinggal di sini. Mengatur strategi bagaimana caranya agar terbiasa tapi tidak ikut terbawa suasana. Jangan sampai dirinya malah ikut-ikutan kasar dan tidak menyaring semua perkataan yang keluar dari bibirnya. Apalagi Airin belum tau sampai kapan ia akan berada di sini. Mungkin solusi terbaik adalah memasang filter di telinganya sendiri. Agar bisa memilah, mana yang tak perlu dipikirkan otaknya, dan mana pula yang tak perlu dimasukkan ke dalam hati. Cukup dibuang saja ke telinga sebelahnya.  “Non! Nona Penyiar! Dipanggil ke ruangan Bu Wati.” Tiba-tiba Pongah datang dan membuat obrolan mereka terjeda. Airin langsung berdiri tegak, lupa kalau hidungnya masih bengkak, dan rasa nyeri menjalar seketika. “Hah? Kenapa kok aku bisa dipanggil?” Airin langsung mulas. “Ada kunjungan.” Jawab Pongah. “Hah? Kunjungan? Jam segini?” “Iya. Kunjungan. Bapak-bapak penampilannya rapi banget udah kayak Pak Camat kedatangan Gubernur. Bapakmu kali Non.” “Ayah?” Airin ragu. Ayah tidak pernah berpakaian formal. Ayah selalu mengenakan baju koko, celana panjang, dan peci di kepalanya. Tidak mungkin Pak Camat yang dimaksud Pongah berpenampilan seperti itu kan? Tiba-tiba sekelebat bayangan seseorang melintas di benak Airin. Jangan-jangan... Pak Fahri?    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN