Mereka menyebutnya dak. D-A-K. Sepanjang pengetahuan Airin, dak adalah konstruksi yang ada pada bagian paling atas, yang biasanya terbuat dari beton, dan fungsinya adalah memperkuat konstruksi sekaligus pembatas antara bagian atas dan bagian bawah sebuah bangunan.
Tapi ‘dak’ di penjara adalah sebuah bak penampungan air berukuran sangat besar, yang bagian atasnya ditutup dengan permanen dengan cor beton. Hanya menyisakan sedikit berbentuk kotak yang ditanamkan semacam besi setengah lingkaran di atasnya, sebagai pembuka dan penutup bagi yang akan mengambil air. Dan di tempat itulah dua orang sedang dijemur sambil mengangkat kedua tangannya. Sisil dan Jamilah.
Sejak kedatangannya, Airin tidak tau kalau semen persegi itu adalah tempat ‘berjemur’ para warga binaan yang nakal. Letak dak itu persis di seberang kamarnya, hanya ditutupi tembok. Dari luar, tingginya hanya sebatas lutut Airin, tapi ternyata bagian dalamnya menyerupai kolam renang sedalam hampir dua meter. Karena selalu tertutup, dan hanya tamping air yang berurusan di sana, Airin sama sekali tak tau kalau benda itu fungsinya menampung air. Yang Airin tau, itu adalah spot yang nyaman untuk duduk duduk selepas olahraga pagi karena tingginya pas sekali untuk diduduki orang dewasa.
Namun jika matahari sudah naik, tempat itu panasnya luar biasa. Dan itulah yang dimanfaatkan para petugas Lapas untuk memberi efek jera pada warga binaan yang nakal. Salah satunya Sisil dan Jamilah. Mereka cemberut dan saling melotot satu sama lain dalam diam.
Rambut Sisil sudah terlepas dari kuncirannya, dan mencuat kemana-mana, kusut masai seperti habis diterpa angin p****g beliung. Wajahnya dihiasi bekas cakaran, memanjang dari pipi sampai rahang. Dan salah bibirnya sedikit bengkak. Sementara di sebelahnya, Jamilah lebih mengenaskan. Rambut keritingnya yang selalu dikuncir rapi, kiri mengembang tak tentu arah, persis adonan bolu yang baru matang dari dalam oven. Lalu sebentuk lebam yang mulai berwarna keunguan terlihat di tulang pipinya.Terlihat ada percikan darah di rompi tampingnya. Meski itu bukan darahnya, melainkan darah Airin, tetap saja membuat kondisi Jamilah terlihat lebih mengerikan dari sisil. Jamilah mengaduh sambil menggerakkan rahangnya. Jotos Sisil sepertinya berdampak besar pada pergerakan rahangnya.
“Heh, silikon! Awas ya! Urusan kita belum selesai.”
“Jangan banyak bacot lo, sarang tawon! Apa mau ditempeleng lagi lo?”
“Heeeh! Yang ada elo yang ati-ati! Tu muka silikon lo bisa gue babat sampe meleyot!”
“Bacot! Awas lo.. Gu...”
“PONGAAAAAAH!!!! AMBILIN EMBER LUAR!!” teriakan kencang dari ruang jaga menghentikan adu mulut Sisil dan Jamilah. Terlihat sosok Sassy tengah menyilangkan lengan di depan d**a. Tanpa ekspresi, tapi ancamannya menciutkan nyali.
Tak lama, nampak Pongah terbirit-b***t membawa ember kosong ke arah depan. Siap menjalankan perintah. Terlihat raut wajah sumringahnya. Meski baunya luar biasa, Pongah senang senang saja mengambilkan air dari saluran pembuangan di luar sana. Sebab setelah itu ia akan mendapat hiburan menyenangkan dengan menyiramkan cairan busuk itu ke kepala orang lain, dan akan muncul teriakan, umpatan, gerak aneh, menggelepar, melompat, seruduk sana sini, lalu muntah dan lemas. Pongah suka sekali menonton adegan itu. Rasanya seperti menyaksikan siaran langsung pertunjukan dagelan favoritnya.
"Masih berapa episode lagi berantemnya?" tanya Sassy dingin. Jamilah dan Sisil ketakutan. Mereka lebih baik dijemur tiga hari tiga malam daripada harus berurusan dengan Pongah dan air busuknya itu.
"Ma.. Maaf, Bu.. Ampun.. Kapok, Bu.. Jangan disiram.." pinta Sisil dengan terbata.
"Iya, Bu.. Ampun.." imbuh Jamilah tak kalah gugupnya.
Sassy dengan tenang menyuruh Pongah duduk di sisinya. "Kamu diam di sini. Dan kalau kamu dengar sepatah kata saja mereka bicara lagi, cepat isi ember kosongmu itu dengan air busuk di luar sana. Paham?"
"Siap, Ndan!" Pongah mempraktekkan posisi hormat pada Sassy, dan duduk tenang sambil cengengesan, membuat darah Jamilah dan Sisil mendidih. Untuk sesaat, keduanya ingin berdamai dan berkolaborasi mengatur rencana untuk mencelupkan kepala Pongah ke dalam cairan busuk di embernya sendiri. Dasar ompong tengah!
***
“Gimana rasanya jadi wasit UFC dadakan?” seorang perempuan cantik berseragam pegawai lapas ditambah jas putih bertanya pada Airin sambil menahan senyum. Di sebelahnya, ada perempuan cantik lainnya yang mengenakan rompi tamping berwarna pink juga menahan senyum. Airin merasa familiar dengan keduanya, tapi dia lupa kapan dan dimana mereka sebelumnya pernah bertemu.
“Eh, kita belum kenalan. Tapi saya sudah kenal kamu. Saya Octarani Fairadanti. Saya dokter di sini, anak-anak biasa manggil saya Docta, dokter Octa.” dokter cantik itu memperkenalkan diri dengan senyum ramahnya.
“Eciyeee Docta.. Tumben tumbenan pake kenalan segala. Biasanya docta ama penghuni baru jutek aje, boro-boro ngajak kenalan, malah melotot udah kayak ngajak gelud. Ama artis mah beda ye, Doc.” Seloroh seseorang yang sedang duduk di kursi tunggu dengan logat khasnya. Docta melempar pulpen ke arahnya.
“Nah, gue kate juge ape, ngajak gelud kan? Iye dah doc, beda kasta kita maaah.” Sungutnya sambil menahan tawa. Docta mendesis, menyuruhnya menutup mulut.
“Eh, Tante. Mendingan diem, daripada obat sakit perut lo gue tuker jadi obat tidur dosis tinggi!” ancam Docta ketus.
“Lah iya kalo saya mati, kalo kagak? Siap siap aje Docta sekamar ama saya. Hahahaha..” taw renyahnya memancing tawa semua orang di ruangan tak terkecuali Docta.
“Jangan didengerin. Dia ini namanya Ponirah, panggilannya Tante Slengky. Dia emang dilahirkan untuk jadi pengganggu saya. Sehari aja dia nggak ngeledekin saya, badannya sakit semua.” Jelas Docta sambil tertawa.
Airin ikut tersenyum. Rasa nyeri di hidungnya berkurang saat merasa terhibur dengan keriuhan orang-orang di klinik. Airin mengamati Docta. Usianya mungkin sekitar pertengahan tiga puluhan. Cantik, ramah, dan ceria sekali. Seperti membawa aura positif untuk siapa saja yang ada di dekatnya.
“Saya panggilnya Airin kan ya?” tanya Docta disambut anggukan Airin dengan senyum lebar. Detik berikutnya Airin mengerang, hidungnya terasa ngilu.
“Sakit? Sementara anteng-anteng dulu ya. Jangan banyak ngapa-ngapain. Di sini aja dulu. Ntar saya ama Yuya nemenin. Ini bengkaknya lumayan. Tapi darah udah berhenti. Ngomong-ngomong siapa sih yang nonjok? Tenaganya edan juga.”
“Sisil Doc. Taulah gimana tenaga Sisil. Lah di Nona mendingan, itu Midun, sampe bonyok. Mana dijemur dia, nggak boleh berobat. Nggak kebayang gimana nyut nyut aduhai itu rasanya.” Jawab seorang lagi yang duduk di samping Tante Slengky.
“Tapi itu, di leher Nona juga ada bekas cakaran si Midun. Bedarah juga ya, Non?” tanyanya pada Airin. Airin spontan meraba lehernya, memang terasa perih, tapi dia tidak bisa melihat bekas cakarannya.
“Kayaknya iya, Mbak. Perih soalnya.” Jawab Airin.
“Diiih.. Jangan panggil, Mbak. Dia ini masih bocah. Tampangnya doang yang boros. Umurnya baru dua tiga. Panggil aja Tomat.” tukas Tante Slengky.
“Aneh aneh namanya ya? Ntar juga kamu tau arti nama mereka masing-masing. Ada banyak yang normal juga sih. Kayak dia nih, cewek cakep ini, namanya Dayu Yandita. Panggilannya Yuya.” Jelas Docta sambil memperkenalkan perempuan cantik di sebelahnya yang dari tadi menarik perhatian Airin.
Airin tersenyum, sementara Yuya hanya melirik sekilas dan memasang senyum tipis, lalu raut wajahnya kembali dingin dan tak bersahabat. Airin mengingatkan diri sendiri untuk menjaga jarak dengan Yuya, karena sepertinya dia tak menginginkan hubungan pertemanan dengannya.
“Jadi gimana tadi? Apa rasanya jadi wasit UFC?”
“Sakit, Doc..” jawab Airin dengan suara sengau.
“Lain kali bodo amat aje, Non. Kagak usah repot-repot misahin. Kagak bakalan mati, udah sering begitu masih idup aje mereka sampe sekarang. Besok-besok kalo mereka berantem lagi melengos aje udah. Anggap aje dua cicek lagi rebutan nyamuk.” Seloroh tante Slengky.
“Beneeer. Untung aja tadi kamu nggak ikut dihukum sama Bu Sassy. Untung ada Bu Yuli yang ngeliat langsung dan ceritain kronologisnya. Kalo nggak ada Bu Yuli, bisa-bisa kamu dikira ikutan berantem ama mereka. Wah.. sayang amat skincare mahalmu selama ini, kulitmu bisa gosong dijemur di dak seharian.” jawab Docta sambil mengoleskan krim di luka bekas cakaran Jamilah di leher Airin. Hidungnya juga sudah terasa tidak ngilu lagi setelah minum obat pereda nyeri.
Docta menyuruh Airin pindah ke tempat tidur setelah semua tindakan selesai. Yuya, meski tanpa ekspresi tetap membantu Airin menyandarkan dirinya di tempat tidur dengan bersandar pada bantal dalam posisi duduk. Docta melarangnya berbaring untuk sementara waktu.
Tiba giliran tante Slengky, Docta tak repot-repot menanyakan keluhan apalagi memeriksa kondisinya. Ini sudah tahun kelima tante Slengky di sini, Docta sudah hapal luar dalam penyakitnya.
“Jangan digaruk! Kalo sore tu mandi makanya! Ini stock salep buat tiga tahun abis buat lo doang, Tante. Kira-kira dong. Ntar dikira gue yang nilep tu salep kurap buat dijual di luar.” celoteh Docta santai mengundang ekspresi cemberut tante Slengky.
Airin terus memperhatikan aktivitas klinik pagi ini. Docta dengan sabar memeriksa dan memberikan tindakan pengobatan. Ada yang sakit nyeri haid, sakit kepala, kebanyakan dari mereka sakit gigi, ada juga yang sakit kulit, dan yang terbanyak adalah keluhan gatal di organ yang ‘itu’.
Setelah semua selesai, Docta melepas jasnya dan menyuruh Minah, salah seorang tamping dapur yang biasa dipanggil Bunda Ganja, membelikan tiga jus kemasan kotak. “Duitnya minta sama Ubeng dua. Kemaren dia janji beliin buavita.”
“Siap, Ndan!” Bunda Ganja mematuhi perintahnya. Tak lama, jus datang dan Docta memberikan satu untuk Yuya, satu untuk Airin, dan satu untuk dirinya sendiri.
“Masih sakit?”
“Udah mendingan, Doc. Makasih ya Doc..”
“Sama-sama. Besok-besok, kalau ada yang begitu lagi, kabur aja, pura-pura nggak lihat. Mereka itu otaknya udah tinggal setengah, kebanyakan make narkoboy. Jadinya ya gitu kelakuannya. Nah kita yang waras, mendingan ngejauh ajalah.”
“Iya Doc. Tadinya saya juga nggak mau terlibat, tapi mau gimana lagi, saya yang bikin mereka berantem. Makanya saya jadi nggak enak.” Jawab Airin lemah.
“Eiiiss.. Nggak ada itu. Mereka udah ribut soal dagangan dari jaman VOC. Jauh sebelum kemari,mereka udah kayak Tom and Jerry. Kemarin itu kamu apes aja, pas ada di tengah perseteruan mereka. Besok-besok, jangan beli apapun dari siapapun, bahkan jangan pernah bilang liat nanti aja, atau jangan sekarang, pasti bakal ditagih terus. Pokoknya kalau mereka nawarin sesuatu, langsung bilang nggak aja ya. Jujur aku kasihan ama kamu. Kamu terkenal, dan dengan kasus begitu, pasti banyak yang mau morotin kamu. Nggak napi nggak peg...” Docta melirik kanan kiri. “..Pegawai..”
“Nih, anak ini udah jadi korbannya. Untung dia segera sadar dan stop kebiasaan baiknya itu. Langsung kuseret ke sini dia biar nggak ternodai lagi. Sekarang dia aman. Padahal dulunya, beuuuuuhhhh udah kayak pejabat jelang pilkada, sedekahnya nggak kira-kira.”
“Doc. Udah deeeeh..” Yuya merajuk. Docta terkekeh.
“Nggak apa-apa kali, Ya.. Bagi-bagi pengalaman, biar Airin nggak kejebak juga kayak kamu.”
“Ah, nggak tau ah. Males Doc. Hidup di sini tuh sendiri-sendiri aja. Bodo amat mau kejebak atau nggak. Udah tua, udah bisa mikir sendiri harusnya.” Jawab Yuya sinis. Airin jadi kesal.
“Hadehhh.. Mulai lagi dia. Yuya ini udah kayak landak, Rin. Kalo dideketin durinya keluar, bisa bikin kita luka. Tapi kalau udah kenal, cute bangeeet, bisa jadi temen yang baik..”
“Apaan sih Doc! Males ah! Udah Doc, aku mau keliling dulu nganterin obat.” Cetus Yuya sambil melangkah pergi tanpa sedikitpun menoleh pada Airin.
Orang aneh. Kenapa dia jadi judes begitu? Memangnya apa salahku? Siapa juga yang mau berteman sama dia? Ogah! Batin Airin kesal.
Satu lagi keanehan makhluk di penjara. Membuat Airin bertambah lelah.