Bab 11. PERSAINGAN BISNIS

1574 Kata
"Apa, Kak? Ngadu apa aku ke Bu Sassy?" tanya Airin menyembunyikan perasaan gugupnya. Persis kucing garong yang tertangkap basah mencuri ikan. Mau tak mau Airin mundur satu langkah, memasang sikap waspada. Apalagi Yuni ikut menatapnya dengan tatapan penasaran. Jangan-jangan mereka mencuri dengar pembicaraannya dengan Sassy? Rasanya tak mungkin. Tadi mereka berdua ngobrol perlahan di ruang komandan di depan, sementara semua orang sudah masuk ke dalam. Tapi kenapa Sisil menuduhnya mengadu pada Sassy? "Tadi itu, kamu ngadu ke Bu Sassy nggak? Masa kamu nggak bilang apa-apa?" ulang Sisil, kali ini alisnya bertaut. "Hah? Ngadu apaan, Kak? Aku nggak paham Kak Sisil bilang apa." kilah Airin mencoba memasang ekspresi netral agar tidak terlihat menyembunyikan sesuatu. "Loh? Jadi beneran kamu nggak bilang ke Bu Sassy kalau si Jamidun bawa-bawa nama Bu Eci waktu dagang? Harusnya kamu bilang. Biar kapok itu Jamidun." tukas Sisil dengan raut wajah kesal. Membuat Airin semakin bingung. Sepertinya dugaannya salah. Ternyata Sisil bukan bertanya soal pembicaraannya dengan Sassy tadi. Tapi tentang Jamilah dan dagangannya. Airin lega, tapi sekaligus bingung. Maksudnya apa ini? "Sil, nggak mungkin Airin ngadu. Kan dia nggak tau soal Bu Eci dan sifatnya si Jamilah." kali ini Yuni ikut menimpali. Yuni mencoba memberi penjelasan pada Airin tentang situasinya. Tapi sama sekali tidak membantu. Airin tetap saja kebingungan. Melihat ekspresi bingungnya, Yuni berinisiatif menjelaskan lagi dengan lebih detail. "Jadi gini, si Jamilah ini memang meresahkan, Dek. Di sini ada semacam persaingan bisnis. Ada petugas yang menjual barang-barang dari luar ke dalam sini. Yang jualan pake katalog sebenarnya Bu Eci. Jualan macem-macem. Ada Oraplem, Sopiah Martil, Ipa, ada juga kadang koran promo dari Betamart dan IndoApril, macem-macem deh pokoknya. Dan yang biasa ngejualin barang-barang itu tuh Sisil. Sisil yang mondar mandir bawa-bawa katalog dari kamar ke kamar tiap hari. Nyatetin pesenan, terus nganterin lagi ke kamar kamar kalau barangnya sudah datang. Nagihin juga kalau ada yang telat bayar, kan Bu Eci juga jual kredit. Kadang malah Bu Eci suka marahin Sisil kalau ada yang telat bayar dan jatuh temponya sudah jauh banget. Pokoknya Sisil yang capek dan sibuk ngurusin dagangan Bu Eci. Nah, tapi tiba-tiba si Midun jualan juga. Sudah sebulanan ini, si Jamidun tiba-tiba bawa dagangan yang sama, malah bawain contoh barangnya juga, dan itu bukan dari Bu Eci." jelas Yuni. "Malah Bu Eci nggak tau sama sekali. Cuma dia sering bawa-bawa nama Bu Eci! Dia bilang ke orang-orang kalau itu punya Bu Eci. Padahal Bu Eci nggak pernah nyuruh dia." keluh Sisil dengan nada berapi-api. "Iya bener. Nah yang tadi itu contohnya, dia bilang jangan nolak, itu dagangannya Bu Eci, minimal harus beli satu barang, jangan nggak beli sama sekali, karena Bu Eci udah bawain majalahnya ke sini. Padahal bukaaaan. Mana ada begitu. Bu Eci aja nyuruh nyelidikin, dari mana si Jamilah dapet majalahnya sama contoh barangnya. Siapa yang diam-diam jadi saingan bu Eci." lanjut Sisil masih dengan nada yang sama. Airin diam saja, dia terus menyimak sambil menyantap jatah nasinya, membiarkan Yuni dan Sisil bicara bergantian sambil mengunyah. Waktu sangat berharga di sini, sebentar lagi Sisil pasti dipanggil untuk membuka pintu-pintu dan mengeluarkan napi dari kamar untuk kegiatan keterampilan. Jadi segala sesuatunya harus dikerjakan sambil makan, termasuk ngobrol. "Makanya itu, aku tadi nyempil di sana, di tengah kerumunan. Pura-pura minta dibelikan barang juga sama kamu, Dek. Sekalian ngulik informasi, apa majalah yang dia bawa itu punya Bu Eci? Soalnya dia kan selalu bawa-bawa nama Bu Eci, pake acara ngancam segala, kalau nggak beli ntar Bu Eci marah. Padahal dia bukan bawa dagangannya Bu Eci. Kesel kan?" tanya Sisil. "Iya lah, pasti kesel banget. Curang banget itu!" dukung Yuni sambil menyuap oncom yang tadi pagi dibelikan Airin sebagai lauknya. Heleeeh.. Bisa banget alasannya. Padahal dia juga memanfaatkan kesempatan, aji mumpung biar kebagian jatah dibeliin juga. Batin Airin sinis. Dia sudah dengar dari Sassy kalau Sisil, Pongah dan Midun berceloteh ke sana kemari mengatakan kalau dia nggak tegaan dan mudah dimanfaatkan. Orang ini memang mukanya lebih dari satu. "Makanya, kirain tadi kamu ngadu sama Bu Sassy. Biar disampein ke Bu Eci. Mumpung lagi berdua ama Bu Sassy. Kesempatan emas padahal." sesal Sassy. Yang ada Sassy yang ngadu sama aku tentang kelakuan kamu, Midun dan Pongah yang nggak beres itu. Dibaikin bukannya bersyukur malah nusuk dari belakang. Air s**u dibalas air tuba. Airin membatin lagi sambil memutar bola mata. "Maaf, Kak, Teh.. Aku belum kenal Bu Sassy. Aku juga nggak tau kejadian rebutan dagangan antara Kak Sisil dan Bu Eci, sama Mbak Jamilah. Jadi aku nggak ngaduin apapun. Mungkin lebih baik Kak Sisil sama Mbak Jamilah selesaikan sendiri saja urusannya. Lagipula, aku nggak jadi pesan apapun ke Mbak Jamilah. Tadi aku udah bilang kalau semua pesananku aku batalkan." jawab Airin santai. Dia menangkap sedikit ekspresi kecewa Sisil yang batal dapat durian runtuh. Airin memilih cari aman. Bagaimanapun dia tidak ingin berada di tengah-tengah persaingan bisnis mereka. Sesuai instruksi Sassy, Airin akan berusaha untuk menjaga jarak dari siapapun di sini. *** Airin sama sekali tidak pernah tau apapun tentang penjara. Yang selama ini terbayang di benak Airin adalah sebuah tempat berisi ruang-ruang persegi yang tertata memanjang, dengan jeruji di bagian depannya. Isinya orang-orang berwajah murung dan dingin, duduk berjajar mengenakan baju berwarna hitam putih dengan corak garis-garis dan nomor yang menjadi tanda pengenal alih-alih nama mereka. Setidaknya itulah yang Airin lihat di televisi. Dan itu sangat mengerikan, membuat Airin tertekan hanya dengan memikirkannya. Namun saat ini, apa yang Airin lihat sungguh berbeda dari apa yang ia bayangkan. Inilah alasan mengapa nama tempat ini berubah. Sebagian orang masih menyebutnya penjara. Namun secara resmi, tempat ini disebut Lembaga Pemasyarakatan. Orang-orangnya pun tak lagi bertitel narapidana, melainkan warga binaan pemasyarakatan, atau WBP. Petugas juga tak lagi disebut sipir, melainkan petugas lapas atau petugas pemasyarakatan. Tak hanya itu, di dalam Lapas tidak hanya berisikan kamar-kamar persegi berjeruji, dengan lorong-lorong yang menyeramkan. Tidak. Di sana ada banyak fasilitas yang memang resmi diberikan pemerintah untuk para warga binaan. Ada fasilitas kesehatan, fasilitas olahraga, tempat tidur yang layak, kamar mandi dengan air yang cukup, kipas angin dan televisi, musholla dan aula untuk kegiatan beribadah, ruangan dengan peralatan untuk menunjang kegiatan keterampilan seperti salon dan menjahit, dan yang paling Airin suka adalah koperasi. Ya, semacam minimarket yang menjual berbagai kebutuhan pokok, dan banyak sekali makanan dan minuman yang biasa Airin beli di minimarket, semua ada di sana. Namun soal harga, jangan ditanya. Penjaga koperasi adalah dua orang petugas dibantu satu orang tamping. Tampingnya adalah Jamilah. Selain menjaga koperasi, Jamilah juga menjajakan barang-barang yang di jual koperasi dari kamar ke kamar. Terutama hari Minggu, dimana tidak ada kegiatan dan seluruh kamar terkunci seharian. Mulai dari makanan, pembalut, sampai yang sempat membuat Airin heran yaitu air panas, diedarkan Jamilah dengan sabar dari pintu ke pintu. Sebagian besar dari warga binaan kebanyakan membeli cemilan, entah itu makanan ringan seperti biskuit, minuman kemasan, dan lain-lain. Dan hari ini, Airin sedang butuh shampoo dan sedang memilih merk yang sesuai kebutuhannya, lalu tiba-tiba Jamilah mendatanginya dengan raut wajah gusar. "Non, si Sisil ngomong aneh-aneh ya sampai kamu batalin pesenan kemarin?" tanya Jamilah ketus. "Nggak, mbak. Kak Sisil nggak ngomong apa-apa kok. Kemarin aku emang baru sadar, kalau aku harus banyak berhemat, aku kan belum tau berapa lama nanti vonisku. Lagipula, keluar dari sini, aku juga harus mulai hidup baru, dari awal, pasti butuh banyak persiapan dan uang." jawab Airin panjang lebar. Airin tak berbohong. Dia memang tidak mengatakan apapun pada Sisil. Dan ia juga harus menghemat tabungannya. Jangan sampai, nanti saat sudah bebas, ia hanya jadi beban keluarga. Jamilah hanya menanggapi dengan senyum pahit. Jelas ia tak percaya dengan penjelasan Airin. Bagaimana mungkin keputusan seseorang bisa berubah hanya dalam beberapa jam saja? Pasti ada campur tangan para penghasut seperti Sisil. "Pokoknya kalau Sisil cerita macam-macam, jangan mudah percaya, Non. Dia yang lebih dulu ngerebut lahan. Ngembat rezeki orang. Kamu kan tau, aku kerjanya di koperasi, yang aku jual paling banyak itu makanan sama minuman. Nah dia seenaknya aja tiba-tiba datang, bawa koran yang dari supermarket, nawarin jajanan macem-macem. Segala roti, wafer, apalah itu. Jadinya kan daganganku sepi. Kalau sepi, aku juga nggak kebagian uang bagi hasil dari koperasi. Kan jahat itu si Sisil?" keluh Jamilah. Airin tertegun. Oh.. jadi ini awal mulanya persaingan bisnis di antara mereka berdua, sampai perang dingin ini berlangsung sampai saat ini. Ah, bahkan di penjara pun tetap ada yang namanya berebut lapak. Saling sikut demi uang. Airin sakit kepala membayangkannya. "Pokoknya jangan percaya, Non. Kalau mau beli apa-apa sama aku aja. Jangan sama si Sisil. Walaupun dia satu kamar sama kamu, jangan percaya penuh sama dia. Ntar ditipu!" "Heh! Midun! Apa-apaan ini? Baru ketauan belangnya sekarang ya! Ternyata di belakang aku kamu sering ngomong macem-macem? Dasar mulut sampah!" tiba-tiba Sisil datang dan Airin terkejut setengah mati mendengar teriakannya. "APA? MULUT SAMPAH? MUKA KAU TUH YANG SAMPAH! SAMPAH PLASTIK!" "NGOMONG APA KAMU?" "SINI KALAU BERANI! MUKA SAMPAH!" Tiba-tiba Sisil dan Jamilah sudah bergulat di lantai dan saling baku hantam. Airin berteriak dan mencoba memisahkan mereka. "Sudah!! Heeiii! Jangan berantem!!" Mereka tak peduli dan masih terus adu jotos. Airin menoleh kesana kemari berharap ada yang membantunya memisahkan mereka atau minimal memanggil petugas. Tapi semuanya malah bersorak dan memanas-manasi. Apa boleh buat, Airin sendiri harus turun tangan karena rasa bersalahnya, merasa menjadi pemicu pertengkaran mereka. Airin merasa gara-gara dialah emosi kedua orang ini tersulut. Airin lalu mencoba melerai keduanya. Tapi tiba-tiba sebentuk kepalan tangan menghantam pelipisnya, diikuti sepatu yang tiba-tiba mampir di kepalanya. Airin mengaduh, tak sempat menghindar, dan sebuah bogem mentah mendarat di hidungnya. Kali ini ia merasa cairan hangat mengalir dari hidungnya. Darah!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN