Bab 10. SEMBUNYIKAN KEBAIKAN

1436 Kata
Sassy mendesis sambil mendekatkan jari telunjuknya di bibir. Gesture untuk menyuruh Airin diam. Airin spontan menutup mulutnya dengan tangan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Sassy lalu mendekat pada Airin sambil berbisik. “Aku nggak akan panggil Kak Airin dengan sebutan kakak ya. Aku di sini panggil nama, Airin. Dan kak Airin tetap panggil aku Bu Sassy, kecuali kondisinya kita cuma berdua aja. Pokoknya jangan tunjukkan kalau kita kenal pada siapapun. Siapapun ya. Termasuk ke teman sekamar, atau ke keluarga yang sedang berkunjung. Penjara ini orang-orangnya punya kemampuan setara cenayang semua. Mereka bisa tau banyak rahasia. Jadi harus disembunyikan. Oke?” bisik Sassy hati-hati. “Ha? Oke.” Airin yang masih dalam mode kaget level dewa, belum bisa menyembunyikan keterkejutan dan kebingungannya. Perasaan Airin tadi seperti sedang berada di pusaran air, ditengah lautan, hampir tenggelam, lalu entah dari mana tiba-tiba ada seekor lumba-lumba secara tiba-tiba mengangkatnya ke permukaan, membuatnya kembali menghirup oksigen setelah hampir meregang nyawa. Sassy. Anak kecil yang ditemuinya tengah menangis tersedu-sedu di tengah pusat perbelanjaan enam tahun yang lalu, sekarang ada di sini, menjelma menjadi seorang sipir, dan menolongnya? Ya Allah.. betapa besar kuasa-Mu. Batin Airin nyaris menangis. Airin yang sejak awal diam-diam merasa nelangsa seorang diri, ketakutan, kebingungan, dan tertekan sampai tak tau harus bagaimana sekarang seolah menemukan cahaya di ujung terowongan setelah sekian lama terjebak dalam kegelapan. Tiba-tiba saja Tuhan mendatangkan Sassy dalam kesendiriannya? Airin kembali malu sekali sudah berburuk sangka pada Tuhan. Selama ini ia meratapi nasibnya sendiri, kenapa Tuhan mengirimkan dirinya ke dalam sini padahal ia hanya ingin membantu orang lain. Kenapa Tuhan tidak adil? Ia yang harus menelan pil pahit ini seorang diri sementara yang ditolongnya bebas di luar sana? Kenapa Tuhan hanya menghukumnya? Tapi, setelah banyak sekali kebaikan Tuhan setelah ia berada di sini, Airin pun berhenti mengajukan protes. Ia perlahan mulai sadar. Inilah cara Tuhan memberinya hikmah, agar Airin bisa memilah, mana yg terbaik untuknya. Dan dalam proses menuju yang terbaik itu, Tuhan membantunya dengan menghadirkan banyak orang baik di saat saat tersulitnya. Salah satunya adalah Sassy. “Jangan jadi orang baik. Tunjukkan sisi paling dingin kita di sini. Kalau mau berbuat baik, jangan tunjukkan. Di sini bukan tempatnya berbuat baik.” Bisik Sassy lagi mengundang tautan alis Airin. “Untung aku sempat mencuri dengar obrolan Sisil dan Pongah di depan tadi. Mereka sepakat memanfaatkan uangmu, Kak. Sisil dan Jamilah berkoar-koar kesana kemari mengatakan kalau kakak banyak uang dan mudah dimanfaatkan. Jamilah bilang kakak membayarkan hutang Sisil, dan Sisil juga mengatakan kakak selalu membelikan mereka makanan. Itu sama saja memberikan ikan ke kucing-kucing lapar, Kak. Apalagi Pongah juga mendukung cerita kalau dia juga dikasih bedak sama Kakak. Dan yang paling gawat, Sisil menyebarkan ke semua orang kalau Kakak orangnya nggak enakan, nggak bisa nolak, nggak tegaan. Semua orang langsung merasa bisa memanfaatkan sifat itu untuk meminta sesuatu dari Kakak. Hati-hati, satu kebaikan saja, Kakak bisa dijadikan ATM. Tempat mereka menarik uang. Kakak bisa dirampok secara halus. Jadi mulai sekarang, tolak dengan tegas semua permintaan napi-napi lainnya.” Perintah Sassy sambil berbisik, khawatir ada yang mencuri dengar pembicaraan mereka. Airin terkejut bukan main. Sisil? Teman sekamarnya yang sering ia traktir karena kasihan dan karena Airin ingin berbagi dengannya? Jamilah, yang Airin ringankan bebannya dengan membayarkan hutang Sisil agar dia tidak dimarahi petugas karena banyak yg ngutang? Dan Pongah? Yang Airin berikan secara cuma-cuma compact powder shu Uemura miliknya? Tepatkah kalau diibaratkan air s**u di balas air tuba? Airin hanya ingin menolong, banyak-banyak berbuat baik, meringankan beban sesama penghuni penjara, dan kebetulan dirinya bernasib lebih beruntung dengan hidupnya yang berkecukupan. Tak ada salahnya berbagi. Toh, itu sesuatu yang sangat terpuji. Tapi ternyata itu tidak berlaku di penjara. Di sini, kebaikan adalah jebakan untuk diri sendiri. Seperti yang dikatakan Sassy, jika ingin berbuat baik, sembunyikan, kalau tidak kebaikan itu justru akan jadi boomerang dan menyerang diri sendiri. Mereka menganggap setiap orang baik adalah jalan untuk mendapatkan keuntungan. Airin lupa, ini adalah penjara, tempat di mana orang-orang dirawat agar sembuh dan kejahatan mereka tak kambuh. Jangankan penjara, di luar sana saja banyak orang rakus padahal sudah memiliki harta lebih dari cukup. Apalagi di penjara? Mereka di kurung, tak punya uang, semua serba dibatasi. Dan jangan lupa, mereka adalah pecandu yang juga menjual barang terlarang itu kemana-mana, mereka juga pembunuh yang tak kenal kata kasihan, mereka pencuri, yang tak peduli barang tersebut milik siapa, asalkan apa yang mereka curi bisa menghasilan uang dan kebutuhan mereka terpenuhi. Mereka juga penjudi, yang menganggap ada jalan cepat untuk memperoleh keuntungan ketimbang bekerja keras. Jangan lupa, banyak diantara mereka yang berprofesi sebagai mucikari. Menjajakan tubuh banyak wanita dan mengambil keuntungan darinya. Bahkan anak di bawah umur yang di iming imingi akan mendapat pekerjaan yang layak, justru terjun bebas ke dunia malam yang menyedihkan. Dan adapula musuh seluruh rakyat, koruptor. Ah, Airin tak ingin membahas soal yang satu ini, karena ia pun dianggap salah satu pihak yang terlibat kejahatan korupsi. Dan mereka semua, jelas bukan orang baik dulunya. Mungkin sebagian ada yang taubat ataupun tengah berusaha taubat seperti dirinya. Tapi masih banyak pula yang tomat, kadang tobat kadang kumat, ataupun kelapa, keluar masuk lapas, karena kejahatan yang sama. Artinya tak ada progress untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Jadi wajar kalau mereka mencari peluang untuk memanfaatkan siapapun yang bisa mendatangkan keuntungan kan? “Makasih Sas, Makasih banyaak.. Lain kali aku akan lebih hati-hati. Mungkin kalau terlanjur ada yang minta macam-macam, aku akan segera lapor petugas.” ujar Airin mantap. “Jangaaaann! Jangan percaya siapapun di sini. Petugas memang banyak yang lurus, baik. Tapi banyak juga petugas yang tak kalah buas. Jangankan menolong, mereka pun mencari celah agar bisa mendapatkan keuntungan melalui napi. Jadi hati-hati, tetap selalu waspada, Kak. Jaga jarak dengan semua orang di sini.” Sassy memberi peringatan keras pada Airin. Airin tertegun. Ia lupa kejadian tentang Bu Wati dan transaksi jual beli kamarnya. Kalau napi, meski perbuatan mereka tidak bisa dibenarkan, tapi masih bisa dimaklumi. Mereka memang penjahat, dan di sini mereka serba dibatasi. Tapi sipir? Petugas? Mereka jelas-jelas di gaji tapi masih tetap mengambil keuntungan dari napi? Mau jadi apa negara ini. Semua orang haus, semua orang merasa tak pernah cukup. Semua orang ingin lagi, lagi, dan lagi meski sudah banyak yang mereka miliki. Airin tiba-tiba sadar, tak layak dirinya mengkritik. Ia harus sadar posisinya di sini adalah seorang narapidana kasus suap dan terlibat langsung dengan kasus korupsi. Kenapa bicara kejahatan orang lain sementara diri sendiri tak kalah jahatnya? “Intinya, Kak, sembunyikan kebaikan. Lebih baik jadi orang yang tak terlalu menonjol. Walaupun sulit sih, kakak kan sangat terkenal di sini. Tapi usahakan lebih kalem dan nggak usah banyak berinteraksi, apalagi sampai traktir atau apa. Mereka pasti merasa punya hak untuk diperlakukan sama. Satu ditraktir, semua harus dapat bagian yang sama. Itulah tidak tau dirinya mereka. Kakak paham kan?” tanya Sassy di ujung penjelasannya sambil tetap menoleh ke kanan dan ke kiri, terus mengamati situasi. Khawatir ada yang diam-diam pasang kuping dan mendengar pembicaraan mereka. “Ngomong-ngomong Kakak sehat? Maaf aku baru bisa ngobrol sama Kakak sekarang. Padahal kakak sudah berapa hari di sini. Aku lagi cari moment yang tepat.” Ujar Sassy dengan senyum yang lebar. “Aku sehat, baik-baik aja, dan lebih baik lagi kondisiku sekarang setelah ketemu kamu. Ya Allah Sassy... kok bisa jadi sipir? Gimana ceritanya? Aku waktu itu nyariin kamu habis audisi, tapi kamu nggak ada, dan kita nggak ketemu lagi. Eh, malah ketemunya di sini..” “Hehehe.. Iya kak, sebenernya karena Kakak aku memutuskan untuk jadi petugas Lapas. Nanti lah aku cerita panjang lebar. Jangan sekarang, Kak. Bisa bahaya kalau orang tau kita kenal. Tapi aku bersyukur, beberapa kali sekilas aku muncul di depan Kakak, tapi Kakak nggak ngenalin. Nggak kebayang kalau Kakak tiba-tiba ngenalin aku dan langsung teriak, Sassy! Waduuh.. kita berdua bisa terlibat masalah. Sebenarnya nggak apa-apa sih, tapi aku jadi nggak bisa banyak bantu Kakak nantinya, ruang gerakku jadi terbatas. Jadi amannya sekarang kita pura-pura nggak saling kenal. Kakak tetap panggil aku Bu Sassy, dan aku panggil kakak Airin. Oke?” “Oke, siap.” “Sekarang cepat masuk ke kamar, sebentar lagi waktu makan pagi habis. Kalau ada apa-apa nanti bilang aku ya Kak.” “Oke Bu Sassy.” Airin menjawab sambil tersenyum lebar. Lalu ia melangkah ke arah kamarnya. Airin lega sekali, seperti menemukan sebuah bilik yang hangat saat hujan deras, ia merasa aman dan tenang. Tak terasa, langkahnya sudah sampai di depan pintu kamar. Airin tak menduga, di sana Sisil sudah menunggunya dengan wajah dingin. Perasaan Airin langsung tidak enak. Tiba-tiba Sisil menarik tangan Airin dan menyuruhnya duduk. Pertanyaan tak terduga tiba-tiba terlontar dari mulutnya. “Kamu ngadu ke Bu Sassy, ya?” "Hah? Apa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN