Bab 9. JANGAN TOLAK TAWARAN

1475 Kata
“Non.. Komestiknya apa?” Airin tengah mengelap keringatnya yang bercucuran sehabis kegiatan senam pagi di lapangan, saat Jamilah tiba-tiba datang menghampirinya. “Hah? Apa, Mbak?” tanya Airin bingung. “Komestik.. komestik.. Mi-ap.. Mi-ap ituu..” ulang Jamilah. “Komes...tik? Mi..ap?” “Yaeeelaah.. Masa artis nggak tau mi-ap komestik sih? Ituuu listip, bedak, sedow..” jelas Jamilah sambil mempraktekkan gesture sedang memulas make up di wajah. “Oooh.. MasyaAllah. Kosmetik? Make up?” “Naah! Itu maksudnya!” “Oooh.. maaf maaf mbak, nggak kedengeran tadi.” jawab Airin menyembunyikan fakta bahwa bukan telinganya yang bermasalah. “Make komestik apaan non? Cakep amat. Kinclong udah kayak ubin mesjid.” “Hahaha.. Nggak pake apa-apa kok, Mbak Mil.” “Heleh, bohong kan? Mana ada muka kinclong begini nggak pake apa-apa.” “Serius. Sekarang emang lagi nggak pake apa-apa. Biasanya memang pake make up kalau mau ke luar rumah aja.” jelas Airin jujur. Dia memang tak terlalu suka memulas make up kecuali sedang keluar rumah. Itupun sebatas bedak dan lipstick saja. “Lah, ini kan Non sedang di luar rumah. Kok nggak mi-ap?” “Kan nggak kemana-mana, Mbak. Di kurung di dalam sini doang. Nggak ketemu siapa-siapa kan?” jawab Airin sambil tersenyum. Masalah make up ini memang sudah membuat Airin heran sejak pertama kali menginjakkan kaki di penjara. Rata-rata, atau bisa dibilang hampir semua narapidana selalu memulas make up setiap kali berkegiatan di luar kamar. Entah itu senam pagi, pengajian, kegiatan keterampilan, apalagi kunjungan. Padahal yang melihat juga hanya mereka satu sama lain. Setiap hari hanya bertemu orang yang sama. “Non, ke sini nggak bawa komestik emang?” “Waktu datang sih ada satu, Mbak. Bedak. Aku cuma butuh kacanya aja sebenarnya. Tapi pas nyampe ke sini, kacanya dipecahin, soalnya nggak boleh ada kaca di dalam. Jadi bedaknya ya nggak ada gunanya. Kemarin diminta sama yang meriksa barang, saya kasih aja.” Jawab Airin. “Hah? Yang meriksa barang? Pingpong apa Pongah? Nggak ada sopan sopannya ngembat barang orang sembarangan!” tukas Jamilah sambil melihat berkeliling, mencari sosok Pongah dan Pingpong. “Nggak apa-apa, Mbak. Aku juga nggak pake lagi. Malah jadinya nggak enak ngasihnya yang bekas.” Jawab Airin sambil tersenyum. “Naaah, ngomong-ngomong komestik nih, Non. Mau nyobain komestik cakep nggak? Bu Eci jualan komestik nih. Aku bawain bukunya ya?” “Eh.. Mbak.. Mbak Mila..” “Tungguin di sini ya. Ntar aku balik lagi. Ngambil bukunya dulu.” “Mbak, tapi aku nggak pake make up di sini, Mbak.” “Beli aja, Non! Di sini kalo ditawarin jangan nolak! Ini punya Bu Eci. Beli aja pokoknya. Ntar aku ambilin bukunya ya. Tunggu aja sebentar.” Jamilah berlalu, sementara Airin mematung. Kalau ditawarin jangan nolak? Setauku itu berlaku untuk pemberian, bukan transaksi jual beli. Lagipula ini konteksnya beda. Nawarin jualan? Lah hak yang beli kan mau atau tidak? Eh, tapi ini penjara. Penjara Airin. Ini penjaraaaa. Segala sesuatunya akan berbeda kalau dilihat dari perspektif penghuni penjara. Batin Airin pasrah. Tak lama, datang Jamilah membawa setumpuk katalog di tangannya. Perasaan Airin mulai tidak enak. Firasatnya sepertinya benar. “Midun! Itu Oraplem yang baru? Yang Sopiah Martil mana? Kemaren ada baju cakep.” Seseorang berpakaian serba pink dari atas sampai bawah menghambat langkah Jamilah menghampiri Airin. “Midun! Liaaat doooong. Baru apa yang kemaren?” “Ntar dulu, mau diliat ama kaum bangsawan ini! Kasta rendah macem lo pada minggir duluuu!” Jamilah mempercepat langkah. Dia tau mana pembeli potensial dan profitable dan mana yang kaum LDBK. Lihat doang beli kagak. “Ntar ke sini ya, Midun. Kita pengen lihat yang baru.” Pinta seseorang yang sering Airin lihat tapi belum sempat berkenalan. Bahkan namanya pun Airin belum tau. “Miduuun... Liaaaat!” “Ogaaah! Utang bayar dulu! Yang cicilan kemaren aja belom lunas lo! Mau ngambil lagi. Mau dijemur lo ama bu Eci?” Jamilah mengamakankan dagangannya dan buru-buru menghampiri Airin. Dan privasi mereka mulai terganggu. Spot ideal Jamilah untuk bertransaksi mulai dipenuhi manusia-manusia penasaran dengan dua tipe. Pertama, penasaran dengan barang baru yang ada dalam katalog yang dibawa Jamilah, kedua penasaran dengan si Nona Penyiar. Yang selama ini penasaran tapi takut untuk lebih mengenal Airin –karena Airin selalu dikelilingi para sipir yang juga penasaran- kali ini memanfaatkan kesempatan untuk melihat si artis dari jarak dekat, bahkan syukur-syukur bisa berinteraksi tipis-tipis. “Nah, Non. Ini komestiknya. Merk terkenal dan terjamin mutunya, Oraplem. Tau kan? Artis-artis kan banyak yang pake ini. Nah kalau ini, yang bentukannya kayak majalah ini, komplit isinya. Ada baju, sendal, sepatu, tas, bando, gelang, kacamata, komestik juga ada, lengkap pokoknya. Ini merk terkenal. Artis papan atas yang pake. Ini merk Sopiah Martil. Nggak ada artis yang make ini benda.” Jelas Jamilah panjang lebar. Skill marketingnya patut diacungi jempol. “Nah ini satu lagi. Ini juga terkenal. Ada semua, mirip-mirip Sopiah Martil. Ini merknya Ipa. Cakep-cakep ini. Dan yang paling oke itu, semuanya bisa dicicil. Ah, Non mah kaum bangsawan, kasta tinggi. Pasti nggak pernah nyicil wajan ama baskom ama tukang kredit pas masih di luar kan?” tanya Jamilah ditingkahi tawa orang-orang di sekitarnya. “Jadi mau pilih yang mana, Non?” “Mmmm.. saya...” “Ambil aja satu, yang penting jangan bilang nggak mau. Harus ambil, apa aja, satu-satu ni dari masing-masing majalah. Aku pilihin ya?” “Yang itu aja, Midun, yang ungu.” Teriak seseorang berambut panjang di samping Airin. “Yang itu, Non. Yang garis-garis. Itu pilihan paporit. Banyak yang ngincer itu, Non.” Saran yang lainnya. “Kalo sedownya ada yang lima warna itu, Non. Katanya warnanya sama ama yang pernah dipake Inur Daranista sama Depi Persit.” Tiba-tiba Timbul lewat dan ikut memberi saran. Semakin lama, kerumunan orang yang nimbrung semakin banyak. Membentuk lingkaran, dan Airin serta Jamilah berada di tengah-tengah. Airin mulai kehilangan fokus. Oksigen semakin berkurang, terlebih semua orang saat itu berkeringat sehabis olahraga pagi. Berbagai aroma mulai bermunculan di setiap tarikan nafas yang dihirup Airin. “Mau yang mana, Non?” desak Jamilah. “Beli aja satu, Non. Kan duitnya banyak. Tinggal ambil di register. Atau kalau mau nitip kirim uang daru luar sama Bu Wati juga bisa. Jangan pelit-pelit.” Kali ini Pingpong yang bersuara, entah darimana dia datang. “Jadi yang mana ini, Non?” desak Jamilah lagi. Airin mulai pusing. Sejujurnya, dia ingin segera mandi dan istirahat. Aroma yang menusuk makin menjadi-jadi, pengap dan membuat Airin mual. “Ya udah yang ungu ama yang garis-garis, Mbak.” Jawab Airin sekenanya. Dia tidak butuh baju itu, tapi sepertinya itu adalah cara terbaik untuk menyelamatkan diri dari situasi ini. “Oke.. Yang ungu sama garis-garis. Itu aja, Non? Aku nggak dibeliin?” tanya Jamilah lagi. Hah? “Eh, Jamidun dibeliin? Aku juga mau, Non!” kata Pingpong diikuti anggukan timbul. Airin mulai kebingungan. Bagaimana ini?” “Non. Pingpong, timbul, ama Midun dibeliin, masa temen sekamar nggak?” entah darimana datangnya, tiba-tiba Sisil sudah ada di tengah kerumunan dan ikut menodongnya. Airin makin kebingungan, mengira Sisil akan menolongnya dan membubarkan kerumunan, eh, ternyata ikut memanfaatkan kesempatan. “Non ini suka nraktir, duitnya banyak. Kemaren aja, hutang Sisil dibayarin, dibeliin kue banyak banget lagi. Emang baek banget.” Jamilah mengumumkan kebaikan Airin ke segala penjuru. Sungguh pujian yang salah, ditempat yang salah. “Waaah yang adil dong, Non, traktir kita-kita yang rakyat jelata ini. Pengen juga ngerasain duit korupsi kayak apa.” Komentar sadis seorang perempuan setengah baya dengan baju ketat membuat Airin jengah. “Eh! Mak Berti! Jangan gitu dong. Mau minta traktir malah ngatain.” Sergah Sisil. “Bukan ngatain, emang kenyataan!” “Heh! Udah-udah! Diem lo pada! Ini mau dicatet pesenannnya. Sisil apa? Timbul? Pingpong tadi apa?” tanya Jamilah sambil membuka buku catatannya dan menyiapkan pulpen. Heh! Heh! Bukan gitu konsepnya, Markonaaah! Enak aja main catet orderan tanpa persetujuan? Ini kan aku belum ngomong apa-apa? Airin ingin protes, sayangnya hanya dalam hati. Baru beberapa hari di sini, belum tau situasi, ditambah suasana yang ramai dan menegangkan begini, membuat Airin terdiam. “Siapa lagi? Siapa lagi?” “BUBAAAAR!!!!!” Tiba-tiba suara lantang membuat semua kocar kacir. Kalang kabut, mereka membubarkan diri dan mulai menjauh dari Airin. Airin bersyukur dalam hati. Seorang petugas dengan wajah galak menyuruh semua orang kembali ke kamar masing-masing. “Sisil! Hitung semua! Suruh masuk! Kecuali Airin. Kamu di sini dulu.” Tegasnya membuat bulu kuduk Airin meremang. Setelah semua masuk, tinggal Airin berdua sang sipir di ruangan jaga. Airin masih berdiri pojok, memperhatikan gerak-gerik si petugas. Entah kenapa Airin merasa sangat familiar dengan orang ini. Yang ditatap melihat sekeliling. Setelah memastikan tak ada seorangpun di ruangan itu, ia memberi isyarat agar Airin duduk di hadapannya. Airinpun duduk. Tiba-tiba ekspresinya berubah. Ia tersenyum pada Airin. Saat itulah Airin melihat name tag nya dan mulai menyadari sesuatu. Melihat ekspresi terkejut pada wajah Airin, si petugas tertawa. “Apa kabar, Kak?” “SASSY!!!!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN