Takdirku tak berubah walaupun kau datang untuk membahagiakan ku.
(Lee Myung Hee)
****
Setelah Myung Hee pergi dari ruangan Hyung Dae,ia memutuskan untuk berlari menuju kelasnya sambil berharap guru mata pelajaran pertamanya belum memasuki kelasnya.
"Untung guru belum masuk" gumam Myung Hee tersenyum lega yang mendengar ruang kelas masih bising oleh suara teman-teman sekelasnya.
Myung Hee pun berjalan memasuki kelas tanpa memedulikan tatapan heran para siswa-siswi yang terlontar padanya,Myung Hee pun duduk di bangku belakang pojok kanan yang dimana biasanya ia duduk.
"Annyeong Myung Hee-ya" sapa Jae Ra dengan tersenyum kemudian mendekati tempat duduk Myung Hee ternyata duduk tepat dibelakangnya.
"Eoh? Annyeong" sahut Myung Hee tersenyum tipis pada Jae Ra.
"Jadi bagaimana dengan tadi? Sudah bertemu atau belum dengan Bu Areum?" tanya Jae Ra yang tahu kalau Myung Hee dicari kebenarannya oleh Bu Areum kemarin maka dari itu ia menanyakan perihal ini lewat pesan.
"Sudah, sekaligus dengan ceramah panjangnya" jawab Myung Hee menganggukkan kepalanya dengan wajahnya yang cemberut.
"Pantas saja kamu dapat ceramah,panggilanmu saja 'Trouble Maker'.Oh iya,kemarin ada guru baru,mereka berjumlah tujuh orang. Banyak yang bilang mereka tampan dan manis" ujar Jae Ra yang nampak semangat dengan wajahnya yang berbinar-binar.
"Oh!" sahut Myung Hee singkat.
"Hanya 'oh'?! Apa tidak ada reaksi lainnya? Mereka saja tampan dan manis sekali seperti idol K-Pop,tapi kamu hanya bereaksi seperti itu. Apa kamu mengalami gangguan?" cerocos Jae Ra dengan wajahnya yang tidak terima dengan reaksi singkat Myung Hee.
"Bukankah kamu yang mengalami gangguan?" sahut Myung Hee dengan wajah polosnya tanpa dosa.
"Aish kamu ini! tak bisakah kamu tidak mengejekku" sungut Jae Ra.
"Tidak bisa" kata Myung Hee cepat tanpa ekspresi.
Disaat Jae Ra dan Myung Hee sibuk bercerita mengenai pengalaman dimasa lalu, tiba-tiba pintu kelas yang semulanya tertutup pun terbuka oleh seseorang yang memiliki tubuh tinggi nan tegap.
"Selamat pagi anak-anak. Perkenalkan nama saya Kim Hyun Joong, kalian bisa memanggil saya pak Joong" Ucap Hyun Joong dengan senyuman yang menampilkan dimples indah di pipinya.
"Baik,pak Joong"
Seketika ruang kelas mulai berisik dengan beberapa murid perempuan yang mengagumi ketampanan dan katanya seksi.
Namun berbeda dengan reaksi Myung Hee yang berada di pojok belakang sana. Tentu dia sedang merebahkan kepalanya pada meja tanpa perlu repot-repot melihat seperti apa wajah sang guru yang tengah berada di depan kelas sana. Entah perasaan apa yang membuat Myung Hee merasakan malas untuk bergerak bahkan hanya untuk mengobrol saja. Tapi bukankah dia setiap hari malas untuk belajar kecuali pelajaran Sejarah dan Olahraga,karena dia menyukai kedua pelajaran itu.
"Kamu yang duduk di bangku belakang" kata Hyun Joong menunjukkan tempat Myung Hee duduk.
Seketika Myung Hee yang awalnya telah memejamkan matanya langsung mendongakkan kepalanya dengan wajah malas-malasan menatap Hyun Joong dengan kening berkerut.
"Saya pak?" tanya Myung Hee menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya.
"Siapa lagi yang dari tadi merebahkan kepalanya di meja selain kamu?" sahut Hyun Joong dengan tatapan kesal.
"Mana saya tahu" jawab Myung Hee dengan peduli reaksi Hyun Joong.
Hyun Joong yang awalnya tengah berdiri tegak langsung mengubah posisinya menyerong untuk meneliti Myung Hee langsung dengan tatapan tajamnya penuh intimidasi.
"Siapa namamu?" tanya Hyun Joong menunjuk Myung Hee dengan dagunya.
"Namanya Lee Myung Hee pak" Teriak satu kelas kecuali Myung Hee yang malas-malasan untuk menjawabnya.
"Oh jadi kamu sang Trouble maker yang terkenal dikalangan guru dan murid disini?" sahut Hyun Joong menatap Myung Hee tak percaya, pasalnya dari wajah Myung Hee tidak menampakkan sosok pembuat onar itu hanya saja dari penampilannya dapat diberi kesimpulan seperti mana definisi murid pembuat onar.
"Betul pak" jawab semua murid kecuali Myung Hee yang menatap Hyun Joong jengah.
"Kemari kamu!" perintah Hyun Joong pada Myung Hee.
Mau tidak mau Myung Hee harus berjalan mendekati Hyun Joong yang masih terus menatapnya.
"Kamu saya kasih hukuman" putus Hyun Joong yang memang dari awal tidak suka jika salah satu muridnya menyenderkan kepalanya di meja saat mata pelajarannya.
"Masa jam pertama saya sudah kena hukuman lagi si pak?" sungut Myung Hee dengan tatapan tak terima dengan keputusan Hyun Joong.
"Salah siapa?" balas Hyun Joong jengah.
"Salah bapak yang memberi saya hukuman" jawab Myung Hee tidak mau kalah.
"Astaga,diam kamu! Apa perlu saya panggilkan guru kedisiplinan kesini?" ancam Hyun Joong.
"Jangan pak,males saya ketemu tuh orang" jawab Myung Hee memutar bola matanya malas.
"Memangnya kamu sudah ketemu dengan guru kedisiplinan sebelumnya?" tanya Hyun Joong mengerutkan keningnya bertanya-tanya.
"Sudah pak,tadi pagi di depan ruang guru" jawab Myung Hee apa adanya.
"Pagi-pagi kamu pasti sudah buat ulah lagi,bukan?" tanya Hyun Joong menerka-nerka.
"Engga pak" jawab Myung Hee mengelak.
"ENGGAK SALAH PAK" sela murid satu kelas.
'wah liat aja nanti aku bikin kalian bonyok' batin Myung Hee dengan mengepalkan tangannya kearah seluruh siswa kelas dibelakang Hyun Joong yang kebetulan membelakanginya.
Melihat anak satu kelas menundukkan kepalanya tiba-tiba,Hyun Joong langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat apa yang dilakukan Myung Hee. Myung Hee tengah mengepalkan tangannya pun langsung berdiri berpura-pura tidak tahu apa-apa dengan wajahnya tersenyum paksa menatap Hyun Joong.
"Kamu saya hukum karena dianggap tidak menghormati saya selaku guru yang tengah mengajar" putus Hyun Joong yang terlihat tidak mau dibantah oleh alasan apapun.
"Jangan BK lagi pak,masa baru berangkat sekolah sudah kena hukum lagi,kapan saya pintarnya coba kalau disuruh membersihkan ini itu. Lama-lama saya jadi tukang kebersihan nantinya, lagipula saya juga malas ketemu alien darat"
"Alien darat? Siapa alien darat yang kamu maksud?" tanya Hyun Joong mengerutkan keningnya bertanya-tanya dengan julukan yang Myung Hee katakan.
"Masa bapak tidak tahu si,siapa lagi kalau bukan pak Hyung Dae" jawab Myung Hee tanpa beban.
"Jangan mengatai guru kamu, sekarang kamu ikut saya. Jangan membantah lagi!" kata Hyun Joong yang masih menarik Myung Hee untuk ikut bersamanya.
"Iya iya"
Setelah melewati beberapa kelas dan dua lorong kelas lainnya,Myung Hee dan Hyun Joong akhirnya sampai di ruang bimbingan konseling yang dijadikan ruangan milik Hyung Dae.
'alasan apa lagi agar guru alien itu percaya? Tadi pagi sudah berbohong masa sekarang berbohong lagi,setiap hari bukannya nambah pahala malah nambah dosa' batin Myung Hee yang tengah berpikir alasan apa yang akan ia gunakan agar Hyun Joong percaya kalau dirinya tidak membuat ulah.
"Sudah berpikirnya?" Tanya Hyun Joong yang setelah berada tepat didepan pintu ruangan Hyung Dae bersama Myung Hee disampingnya.
"Sudah pak, kenapa harus pak Hyung Dae? Bukannya guru kedisiplinannya tidak hanya pak Hyung Dae" protes Myung Hee yang sebenarnya ingin memperlama waktu untuk menghindari Hyung Dae.
"Guru kedisiplinan lain masih mengajar seperti jadwalnya,hanya pak Hyung Dae yang tidak ada jadwal mengajar sampai di jam pelajaran ke empat. Tidak usah banyak protes, bukannya kamu sudah pernah bertemu pak Hyung Dae sebelumnya,jadi saya yakin kalau dia bisa mengatasi murid seperti kamu" jelas Hyun Joong yang terkesan tegas seperti tak ingin dibantah oleh alasan apapun.
"Mana bisa bapak percaya sama guru seperti pak Hyung Dae,justru saya akan bertengkar dengan pak Hyung Dae hanya karena masalah sepele" ujar Myung Hee yang bisa menebak jika dirinya bertemu Hyung Dae akan bertengkar atau saking debat mencari pembenaran.
"Lagipula pak Hyung Dae juga memiliki sifat yang ajaib alias aneh seperti alien" timpal Myung Hee tanpa filter.
'tapi ini anak bener juga. Kadang wajah tampan Hyung Dae tak berguna,sifatnya yang seperti alien itu menutupi semua kerupawanan wajahnya. Betul si tapi..' batin Hyun Joong terdiam memikirkan ucapan Myung Hee yang terkesan benar.
"Bapak dengerin saya ngomong dong pak" Kata Myung Hee kesal.
"Iya saya dengar" jawab Hyun Joong menghela nafas panjang.
"Pak Hyun Joong?" Panggil Myung Hee yang tersadar akan alasan kenapa dirinya dan Hyun Joong berdiri disana
"Iya, kenapa?" sahut Hyun Joong menatap Myung Hee heran.
"Tujuan awal kita kesini buat apa ya pak? Kenapa kita malah berdiri disini seperti menunggu antrian?" tanya Myung Hee yang membalas tatapan Hyun Joong tak kalah herannya.
"Astaga,saya lupa! Kenapa dari tadi kamu tidak bilang? Kalau seperti ini teman-teman kelasmu pasti sedang senang karena saya pergi terlalu lama tanpa meninggalkan tugas tadi" kata Hyun Joong menepuk keningnya yang baru sadar.
"Kenapa jadi saya yang disalahkan? Orang bapak yang lupa bukan saya" ujar Myung Hee menatap Hyun Joong kesal.
'sebenarnya dia menggemaskan,lucu dan unik. Tapi sifat trouble maker nya itu bikin kepala pusing seketika' batin Hyun Joong yang tersenyum tipis tanpa sadar menatap wajah kesal Myung Hee yang terkesan menggemaskan.
"Iya-iya,saya yang salah" putus Hyun Joong agar tidak memperpanjang perdebatan.
'sabar Namjoon,jangan lupa kamu di sini guru bukan mau cari pacar' batin Hyun Joong tersenyum tipis menatap wajah Myung Hee penuh ekspresi.
Hyun Joong pun mengetuk pintu ruang kedisiplinan untuk memanggil Hyung Dae yang diyakini berada didalam sana.
Tok....tok...tok....
"Hyung Dae-ya?!" panggil Hyun Joong mengetuk pintu keempat kalinya.
"...." Namun belum kunjung ada jawaban dari sang pemilik nama.
Myung Hee dan Hyun Joong yang terheran-heran dengan Hyung Dae yang tidak kunjung menjawab panggilan mereka pun saling menatap penuh tanda tanya.
"Hyung Dae-ya?! Apakah kamu didalam?" panggil Hyun Joong sekali lagi.
"...." Panggilan Hyun Joong lagi dan lagi belum kunjung terjawab oleh sang pemilik nama.
"Saya aja pak yang panggil" sela Myung Hee yang sudah tak tahan untuk tidak mengetuk pintu sekaligus mengumpat sejak tadi.
"Baiklah" jawab Hyun Joong menganggukkan kepalanya lalu berjalan mundur.
Myung Hee pun mendekati pintu ruangan Hyung Dae dengan gerakan seperti ancang-ancang.
"ALIEN DARAT.....WOY....BUDEG...... ALIEN......GAYUNG....." Teriak Myung Hee di depan ruang kedisiplinan sambil mengetuk pintu dengan keras tanpa memedulikan Hyun Joong dan sekitar yang sudah pasti terganggu oleh teriakan menggelegar dari suara merdu Myung Hee.
Akhirnya tidak perlu waktu lama, ruangan Hyung Dae terbuka oleh seseorang yang diyakini Hyung Dae.
"Akh...yak... dasar anak nakal..." Pekik Hyung Dae yang baru keluar sudah terkena jitak di dahinya.
"Siapa suruh ngga nyaut-nyaut sudah tahu sini ada yang manggil. Dasar BUDEG" ujar Myung Hee menatap Hyung Dae kesal.
"Kamu ngatain saya BUDEG?! Mau nilai kamu jelek atau saya panggilkan Bu Areum sekarang juga?!" balas Hyung Dae berkacak pinggang sambil menatap Myung Hee tajam tidak terima.
"Jangan dong pak. Nilai saya aja sudah pas-pasan masa dikurangi jadi berapa atuh?Oh iya satu lagi,jangan panggil Bu Areum. Janji saya tidak buat ulah lagi" balas Myung Hee menatap Hyung Dae memohon.
"Janji mulu tapi tidak ditepati" sungut Hyung Dae.
"Kalian lupa saya ada disini?!" Ujar Hyun Joong yang merasa dirinya terabaikan oleh dua orang didepannya ini
"Hehehehe...maaf pak Hyun Joong. Yasudah,saya balik lagi ke kelas lagi pak" ucap Myung Hee yang akan melangkah pergi.
"Eit! Mau kemana kamu?" Cegah Hyung Dae dengan menarik kerah belakang baju Myung Hee.
"Jangan asal narik dong pak. Bapak kira saya ini kucing apa ditarik seperti yang ini?" sungut Myung Hee tidak terima sambil berusaha melepaskan tarikan tangan Hyung Joong dari kerah bajunya.
" Iya kucing nakal. Kamu ikut saya,saya kasih hukuman"
"Ck... menyebalkan. Dasar alien laknat" gumam Myung Hee.
"Saya masih dengar" ucap Taehyung kesal dengan menarik kerah belakang baju sekolah Myung Hee dan membawa Myung Hee ke laboratorium.
"Bapak mau bawa saya kemana si?" tanya Myung Hee yang merasa kalau dirinya dan Hyung Dae tidak kunjung sampai ditempat tujuan mereka.
"Diam lah! Kamu cerewet!" kata Hyung Dae yang tanpa sadar menggoda Myung Hee.
"Idih,lebih cerewet situ kali" sungut Myung Hee tidak terima.
'kenapa ada cewek modelannya kaya gini coba? Cantik si,tapi perilakunya bar-bar' batin Hyung Dae terheran heran dengan tingkah laku Myung Hee yang terkesan menyebalkan.
Setelah berjalan cukup lama dari ruangan kedisiplinan menuju ruang laboratorium kimia, akhirnya mereka sampai disana. Ruang laboratorium kimia memang jarang yang datang mengunjungi kalau bukan ada praktek atau uji coba lainnya maka dari itu ruangan ini nampak sepi dibandingkan ruangan lainnya.
Mereka pun melangkah masuk dengan Myung Hee yang masih di tarik oleh Hyung Dae.
"Pak udah sampai belum? Sampai kapan bapak mau narik saya kaya gini? Lama-lama seragam saya mulur pak" kesal Myung Hee yang tanpa sadar mengerucutkan bibirnya.
'kenapa dia jadi menggemaskan seperti ini? Rasanya aku ingin mencubit pipinya gemas' batin Hyung Dae yang mencoba menahan senyum.
"Pak,saya lagi bicara. Kenapa bapak diam aja?" tanya Myung Hee kesal karena dirinya diacuhkan oleh Hyung Dae.
"Saya masih dengar. Saya diam karena saya malas bicara denganmu" jawab Hyung Dae menatap kearah lain untuk menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang setelah melihat wajah menggemaskan Myung Hee.
"Kalau begitu saya balik saja ke kelas pak. Jadinya saya maupun bapak tidak o perlu saling berbicara. Bagaimana?" usul Myung Hee tersenyum manis.
"Jangan cari kesempatan! Sudah-sudah, sekarang kamu bersihkan setiap sudut laboratorium dan jangan ada yang rusak maupun kotor. Paham kamu?!" perintah Hyung Dae yang memperjelas hukuman Myung Hee kali ini.
"Ck .. kenapa saya lama-lama kaya staff kebersihan sekolah ya?" Gumam Myung Hee dengan wajah cemberut sambil menendang-nendang kecil kakinya sendiri tanpa sadar.
'aku ingin tertawa,tapi ingat aku sedang mode serius' batin Hyung Dae menutup mulutnya dengan menatap arah lain.
'Itu pak Hyung Dae kenapa? Apa pak Hyung Dae mulai gini ya' batin Myung Hee dengan tatapan heran sekaligus takut bahkan jari telunjuknya disilangkan ke dahi.
"Pak Hyung Dae masih sehat,kan? Masih waras? Jangan gila disini pak,saya tidak bisa ngobatin" Ucap Myung Hee yang panik dengan wajah polos.
Hyung Dae yang sedari tadi mencoba untuk tidak tertawa pun langsung tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya yang nyeri karena tertawa terbahak-bahak.
"Kok bapak ketawa? Jangan-jangan bapak kesambet setan sekolah ya?" Cerocos Myung Hee panik sambil menatap sekeliling ngeri.
"Kamu setannya" balas Hyung Dae setelah berhenti tertawa terbahak-bahak.
"Lebih tepatnya anda. Saya ini bukan setan tapi Malaikat. Ingat itu!" sahut Myung Hee tidak terima dirinya disebut setan oleh Hyung Dae.
"Mana ada malaikat bentuknya seperti kamu ini? Malaikat maut mungkin iya" balas Hyung Dae menggoda Myung Hee.
"Sini nyawa bapak saya cabut,siapa tahu saya dapat pahala" ucap Myung Hee yang kesal dengan ucapan Hyung Dae.
"Sejak kapan mencabut nyawa orang dapat pahala, dimana-mana dapatnya dosa" kata Hyung Dae.
"Ya pahala lah. Jika bapak pergi saya bahagia dan seluruh murid juga turut bahagia" sahut Myung Hee lagi.
"Kamu nyumpahin saya mati?" tanya Hyung Dae berkacak pinggang sambil mendekati Myung Hee.
"Engga. Tadi saya hanya bercanda,bukan nyumpahin pak" jawab Myung Hee buru-buru agar Hyung Dae tidak salah paham.
"Sudah-sudah. Cepat bersihkan laboratoriumnya. Saya akan datang kesini lagi 15 menit mendatang. Ingat itu,jangan buat ulah lagi" nasehat Hyung Dae yang takut Myung Hee membuat kegaduhan lagi.
"Siap pak gayung" sahut Myung Hee dengan tangannya seperti hormat pada tiang bendera.
"Gayung? Nama saya Kim Hyung Dae!" sungut Hyung Dae menatap tajam Myung Hee.
"Sama aja alien. Sudah sana pergi,saya mau bersihin ini dulu. Nanti saya dapat pahala. Hus....hus...hus..." Ujar Myung Hee dengan mengibaskan tangannya sebagai pengusirannya pada Hyung Dae.
"Kamu ngusir saya?" tanya Hyung Dae dengan tatapan tidak terima.
"Bukan begitu pak, bukannya tadi bapak bilang ingin pergi karena ada urusan" jawab Myung Hee menghela nafas karena merasa kesal dituduh bersikap menyebalkan
"Iya saya memang mau pergi. Tapi bukan berarti kamu saya tinggalkan kamu tanpa pengawasan" balas Hyung Dae yang tengah memikirkan cara agar ada seseorang mengamati Myung Hee selama dirinya pergi untuk rapat.
"Terserah bapak saja,sudah sana pergi jauh-jauh. Hus..." usir Myung Hee jengah dengan alasan Hyung Dae.
Hyung Dae yang merasa dirinya diusir secara tidak hormat pun mendengus kesal kemudian memilih pergi dari laboratorium kimia untuk menuju ruang rapat guru.
'dasar Alien darat, nyebelin. Lama-lama gua santet baru tahu rasa lu' kesal Myung Hee dengan mengambil culak.
Disaat Myung Hee sibuk membersihkan meja laboratorium kimia yang terkesan kotor dan berdebu, tiba-tiba ada seseorang masuk dengan senyuman khasnya yang bisa dibilang manis.
"Annyeong" Sapa seseorang dari belakang Myung Hee.
Myung Hee yang mendengarnya seketika menghentikan kegiatannya membersihkan meja laboratorium untuk mewaspadai seseorang yang menyapanya dari arah belakang. Myung Hee yang terlampau cemas langsung berbalik dan memukul-mukul orang tersebut dengan culak yang berada ditangannya.
Bugh...bugh....
"Astaga,maaf. Saya kira tadi orang jahat" kata Myung Hee membungkukkan badannya untuk meminta maaf kemudian berdiri seperti semula untuk menatap orang tersebut.
"Iya-iya,kamu pikir saya siapa? Orang jahat? Mana ada orang jahat setampan saya" sahut orang itu yang tidak terima dirinya disebut penjahat.
"Maling hati, mungkin" canda Myung Hee mencoba tersenyum walaupun kaku.
"Ih kamu nggemesin deh. Kamu Myung Hee ya? Cantik si...tapi kok kaya preman deket pasar depan ya?" kata orang itu meneliti penampilan Myung Hee.
"Mana ada saya pindah profesi jadi preman? Iya saya Myung Hee. Anda siapa?" sahut Myung Hee menatap orang itu penuh selidik.
"Perkenalkan saya Park Jung Min. Orang paling ganteng,baik,polos,lembut dan pastinya banyak yang mau. Kamu bisa memanggilku oppa, seonsaengnim Park,ganteng,chagiya juga boleh" goda Jung Min dengan menaik turunkan alisnya.
"Oh gitu" sahut Myung Hee dengan beroh ria kemudian melanjutkan kegiatan membersihkan meja yang sempat tertunda tadi.
"Hanya oh? Tidak ada yang lain?" tanya Jung Min yang terheran-heran dengan reaksi wajah Myung Hee.
"Memang saya suruh ngapain? Jungkir balik, senyum-senyum, teriak-teriak atau peluk bapak?" balas Myung Hee yang juga heran kenapa Jung Min mempermasalahkan reaksinya terhadap dirinya.
"Kalau peluk boleh. Sini saya peluk" goda Jung Min yang berjalan ingin mendekati Myung Hee sambil merentangkan kedua tangannya.
"Peluk tuh tiang" kata Myung Hee yang terkesan tajam.
"Sadis" sungut Jung Min menatap Myung Hee kesal
"Masa bodo" sungut balik Myung Hee.
"Ngeselin kaya gini,nanti jadi sayang loh" goda Jung Min yang mencoba memikat Myung Hee.
"Sayang..sayang....pala lu peang... sana pergi" dengus Myung Hee yang mencoba mengusir Jung Min dari laboratorium kimia.
"Kamu ngusir saya?" tanya Jung Min menatap Myung Hee tak percaya.
"Engga" jawab Myung Hee singkat.
"Lah tadi?" Jung Min heran dengan sikap Myung Hee yang memang bisa dibilang manis namun menyebalkan dalam waktu bersamaan.
"Apa?" Myung Hee menetap Jung Min berang sambil berkacak pinggang.
"Apa?" Jung Min yang melihatnya pun mengikuti pergerakan Myung Hee.
"Sudah deh pak, sana pergi. Bikin pemandangan jadi suram disini" usir Myung Hee mengibas tangannya tanda mengusir.
"Kamu ini--" ucapan Jung Min terpotong oleh suara pintu terbuka dengan cukup keras oleh seseorang.
Brak...
Pintu laboratorium kimia terbuka lebar menampilkan sosok Hyung Dae dengan wajah memerahnya dan nafasnya yang memburu.
"BANTET!" Teriak Hyung Dae mendekati Jung Min dan Myung Hee yang kebetulan bersebelahan.
"Yak, ganteng-ganteng gini dipanggil bantet. Memang situ apa?" Sahut Jung Min tidak terima dengan panggil laknat Hyung Dae padanya.
"Alien darat" sahut Myung Hee tiba-tiba dengan wajah polosnya.
"Hahahaha! Kamu benar Myung Hee-ya" tawa Jung Min yang puas oleh julukan Myung Hee untuk Hyung Dae yang memang cocok disematkan padanya.
"Sudah sana pergi dipanggil Hyun Joong Hyung. Guru-guru mau ngadain rapat buat Ulang Tahun Sekolah" jelas Hyung Dae mendorong-dorong Jung Min agar menjauh dari sisi Myung Hee.
"Wih berarti jam kosong dong pak. Saya mau ke kantin ah" ujar Myung Hee yang terlampau bersemangat.
"Eit....mau kemana kamu? Ini saja belum selesai. Bersihkan lagi sana,habis selesai baru boleh makan di kantin" cegah Hyung Dae dengan menarik kerah belakang Myung Hee.
"Iya-iya" Myung Hee pun menganggukkan kepalanya lalu mulai membersihkan meja lagi.
Hyung Dae dan Jung Min yang melihatnya pun ikut dibuat heran oleh perubahan sikap Myung Hee yang tiba-tiba berubah menjadi penurut tidak seperti sebelumnya yang terkesan pembangkang.
"Tumben nurut?" kata Hyung Dae yang tidak bisa menutupi rasa penasarannya.
"Nurut salah, nglawan apa lagi" gumam Myung Hee sambil mengembangkan pipinya dan mempoutkan bibir mungilnya.
'bagaimana aku bisa marah? Melihatmu seperti ini saja, sudah membuatku gemas' batin Hyung Dae menahan senyum.
"Itu bibirnya mau dicium ya?" goda Jung Min yang melihatnya.
"Ogah" sarkis Myung Hee.
"Hahaha...." Tawa Hyung Dae yang melihat sahabatnya ditolak mentah-mentah oleh Myung Hee.
"Kamu jahat" kata Jung Min dengan tatapan dibuat-buat terluka.
"Masa bodo. Udah sana bapak katanya mau rapat" usir Myung Hee dengan mengibaskan tangannya sebagai pengusiran.
"Ngusir?" tanya Jung Min dan Hyung Dae bersamaan.
"Astaga, lama-lama saya tendang juga nih Bantet sama Alien Darat" kesal Myung Hee.
"BICARANYA!" pekik Jung Min dan Hyung Dae bersamaan.
"Berisik pak,sudah sana pergi nanti dicari oleh pak Hyun Joong lagi" usir Myung Hee menatap keduanya jengah.
Jung Min dan Hyung Dae pun memutuskan pergi menuju ruang rapat mengingat mereka memang sedang ditunggu kehadirannya di rapat ulang tahun sekolah yang akan diadakan tiga hari kedepan.
'dasar guru gila! Bikin naik darah lama-lama. Kapan aku lulus,kalau kerjaannya suruh bersih-bersih' batin Myung Hee kesal sambil mengelap meja lainnnya.
"Udalah,biar cepet selesai. Terus ngantin" gumam Myung Hee tersenyum manis pada dirinya sendiri kemudian melanjutkan membersihkan meja dan mengepel lantai ruangan itu.
****
Hariku berwarna karena kehadiranmu. Walaupun kau datang untuk singgah bukan menetap,tapi kau pemilik hatiku ini.
(Kim Hyung Dae)
To Be Continue...