Ia She Really a Girl?

3254 Kata
Hadirmu yang disangka memiliki arti besar dalam hidupku. (Kim Hyung Dae) **** Bagi seorang Hyung Dae memang bukan suatu hal yang wajar-wajar saja, melihat seperti mana sikap dan penampilan Myung Hee membuatnya merasakan dunia baru yang belum pernah ia masuki sebelumnya. Untuk pertama kalinya seorang Hyung Dae melihat perempuan seperti Myung Hee. Makan saja seperti orang tidak makan 2 hari, jalannya saja seperti laki-laki, berbicara seperti ibu-ibu komplek. Kenapa tuhan bisa menciptakan seorang gadis seperti Myung Hee itu? Seperti itulah pikiran Hyung Dae saat ini. Setelah selesai rapat bersama guru-guru yang terlibat lainnya,Hyung Dae memutuskan beranjak dari ruang rapat pergi menuju ruang laboratorium kimia tepatnya untuk menemui Myung Hee. Sepanjang perjalanan tidak henti-hentinya perasaan asing datang tak menentu bila berkaitan dengan sosok Myung Hee itu,rasa ingin tahu dan mengenalnya semakin besar. Entah perasaan apa yang dirasakannya, akankah itu cinta atau rasa tertarik saja? Sesekali Hyung Dae tersenyum tanpa sebab sambil menggelengkan kepalanya mengingat tingkah unik Myung Hee yang begitu menarik untuk diperhatikan dan diingat-ingat. Tanpa sadar dirinya telah berada tepat didepan pintu ruang laboratorium kimia yang ia yakini Myung Hee berada disana, sembari menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang ia memutar kenop pintu untuk masuk kedalam. 'Dimana dia? Tadi aku menyuruhnya untuk menunggu hingga aku selesai rapat, bukan? Lalu dimana dia sekarang?' pikir Hyung Dae yang mencoba mencari-cari keberadaan Myung Hee di ruang laboratorium tersebut. "Myung Hee-ya? Jangan bercanda saat ini, keluarlah!" panggil-panggil Hyung Dae sesekali melihat kearah lainnya untuk memastikan Myung Hee masih berada disana. Bukannya mendapat sahutan dari Myung Hee,justru suara jangkrik kecil yang menyapa pendengarannya. Hyung Dae menghela nafas kasar kemudian berjalan terburu-buru keluar dari ruang laboratorium untuk menemui Myung Hee yang pastinya ia yakin berada di kantin. Disisi lain seorang gadis cantik sedang duduk dengan membelakangi pintu masuk kantin,suasana kantin sekolah yang semakin ramai oleh para siswa-siswi. Myung Hee yang memang bukan karakter gadis suka akan keramaian pun hanya memilih diam sambil menikmati makanan tanpa memedulikan sekeliling. "Myung Hee-ya?" Panggil Jae Ra dari arah belakang sambil mendekati meja makan Myung Hee. "Yah, kenapa?" sahut Myung Hee mendongakkan kepalanya menatap wajah manis Jae Ra. "Kemana saja kamu? Aku mencari-cari kamu kesana kemari,aku kira pak Hyung Joong berbohong mengenai hukuman yang akan diberikan padamu" cerocos Jae Ra yang langsung duduk tepat berhadapan dengan Myung Hee. "Aku berada di laboratorium kimia, memang kenapa? Kamu mau ikut dihukum?" balas Myung Hee menatap Jae Ra jengah. "Tentu tidak, bukankah menyenangkan bisa berduaan dengan guru tampan seperti pak Hyung Dae?" goda Jae Ra dengan senyuman anehnya. "Dari mana menyenangkan? Guru Alien darat, nyebelin, tukang hukum, cerewet dan-" ucap Myung Hee yang meluapkan emosi dan kekesalannya pada Jae Ra. "Dan tampan kan?" timpal Jae Ra memotong ucapan Myung Hee. "Tampan si,tapi menyebelinnya, angudubilah. Bahkan aku bingung, kenapa semua guru suka sekali menghukum ku?" sahut Myung Hee menopang dagunya seperti orang berpikir. "Bagaimana tidak? Kamu saja suka membuat ulah dan keributan di kelas maupun diluar kelas,mana mungkin guru tidak suka menghukum kamu" jawab Jae Ra sambil menyerobot makanan ringan Myung Hee. "Aish, kenapa aku mempunyai teman sepertimu? Bukannya membela aku malah membela mereka-mereka" sungut Myung Hee menatap Jae Ra tidak terima. "Seharusnya kamu beruntung memiliki teman seperti aku ini. Aku ini cantik, baik hati dan tidak sombong" sungut balik Jae Ra sambil menopang dagu menatap Myung Hee. "Kalau baik hati dan tidak sombong, seharusnya kamu membelanjakan aku makanan yang banyak hingga aku tidak kuat berjalan apalagi membuat ulah" balas Myung Hee tersenyum menggoda pada Jae Ra yang menatapnya tidak terima. "Itu namanya cari kesempatan dalam kesempitan. Menyebalkan!" kesal Jae Ra mengerucutkan bibirnya. "Sudah tak usah manyun, nanti malah gue geplak baru tahu rasa kamu!" kata Myung Hee yang berusaha menggoda Jae Ra hingga kesal. "Bukannya di bujuk malah di geplak! Teman macam apa kamu ini?!" ujar Jae Ra menatap Myung Hee tidak terima. "Hahaha! Kamu saja yang banyak mau!" tawa lepas Myung Hee tanpa beban. Disaat Myung Hee dan Jae Ra sibuk saling menggoda satu sama lainnya, seseorang tiba-tiba datang berlari menuju arah mereka dengan nafas memburu. "Hah....hah...." Deru nafas Hyung Dae yang baru saja sampai tepat di meja tempat Myung Hee berada. Tanpa pikir panjang Hyung Dae menyerobot lalu meminum minuman milik Myung Hee yang baru saja dibuka. "Yak! kenapa bapak minum minuman saya?" Kesal Myung Hee tidak terima, bukannya tidak ikhlas berbagi hanya saja dirinya tidak memiliki uang lagi untuk membeli makanan atau minuman. "Kamu ini! Seharusnya kamu senang. Aku ini tampan dan-" ucapan Hyung Dae terpotong oleh Myung Hee. "TIDAK WARAS" sela Myung Hee yang kesal dengan sikap Hyung Dae. "Saya ini guru kamu!" pekik Hyung Dae tertahan, mengingat dirinya guru kedisiplinan mana mungkin ia membuat keributan di kantin dengan sosok trouble maker. "Saya tahu" jawab Myung Hee kembali memfokuskan dirinya untuk makan-makanan yang telah ia pesan. "Lalu...ah sudahlah. Kamu darimana saja? Saya mencari kamu ke ruang laboratorium dan kelas" sungut Hyung Dae yang akhirnya memilih ikut duduk disamping Myung Hee. "Saya duduk di perpustakaan selama setengah jam setelah itu datang ke kantin" sahut Myung Hee yang enggan menatap Hyung Dae. "Seharusnya kamu menemui saya dulu,baru kamu izin ke perpustakaan atau kantin" balas Hyung Dae menatap Myung Hee tajam. "Lah memang bapak siapa saya? Harus izin kalau saya mau kemana dan bagaimana" sungut Myung Hee tidak terima. "Calon suami kamu. PUAS!" pekik Hyung Dae yang ikut membalas tatapan tajam Myung Hee. "Amit....amit....amit....amit...." Myung Hee menggelengkan kepalanya jijik dengan ucapan Hyung Dae. "AMIN" timpal Jae Ra yang terlampau bersemangat, pasalnya sejak tadi Jae Ra dibuat terheran-heran dengan keributan yang terjadi pada Myung Hee dan Hyung Dae. "Bukannya dukung teman sendiri malah dukung alien darat ini!" sungut Myung Hee tidak terima pada Jae Ra, sedangkan Jae Ra hanya mengangkat bahunya acuh lalu melanjutkan makannya. "Eh? Kucing garong! Dengarkan saya!" Hyung Dae merasa tidak terima dengan panggilan aneh dari Myung Hee padanya apalagi ini berada di tempat umum. "Bapak panggil saya apa tadi?! Kucing garong?! Bapak tuh ALIEN DARAT!" balas Myung Hee menatap Hyung Dae kesal. "Kamu ini!" Hyung Dae membalas tatapan Myung Hee tak kalah tajam. Myung Hee dan Hyung Dae saling bertatapan penuh permusuhan diantara banyaknya orang yang sibuk dengan kegiatan makan mereka termasuk Jae Ra yang memilih diam sambil menonton keduanya bertengkar entah apa duduk permasalahannya. Disaat Myung Hee dan Hyung Dae kalut akan perasaan kesal dan dongkol mereka,seorang pria tinggi dengan wajah yang memikat datang menemui mereka yang belum menyadarinya. "YAK! KALIAN KENAPA BERTEMAN DI KANTIN?!" teriak pria tersebut hingga membuat suasana kantin hening sejenak kemudian beberapa saat ramai kembali. "BERANTEM KALI" Teriak Hyung Dae dan Myung Hee yang tanpa sadar bersamaan. "Cie kompakan!" goda pria tersebut dengan wajah mengejeknya. "Mana ada!" Sahut Hyung Dae dan Myung Hee bersamaan lagi. "Tanda-tanda jodoh ini mah!" kata pria tersebut yang masih gencar menggoda mereka berdua. "Lah kenapa bapak mengikuti apa yang saya bicarakan melulu coba?! Kalau ngefans bilang dong pak. Nanti saya kasih tanda tangan" kata Myung Hee kembali menatap tajam Hyung Dae. "Siapa yang ngefans kamu? Kamu kali yang ngefans sama saya" balas Hyung Dae tak mau kalah. "Bapak!" "Kamu!" "Bapak!" "Kamu!" Yong Jin yang melihat Hyung Dae dan Myung Hee tidak kunjung akur pun menggebrak meja dengan keras dan mengomel selayaknya ibu-ibu tengah memarahi kedua anaknya tanpa jeda. Sedangkan yang menjadi sasaran Omelan Yong Jin hanya memasang wajah polosnya tanpa dosa. "Kalian kenapa diam aja? Ayo berantem lagi! Akan saya hukum kalian berdua!" omel Yong Jin yang masih dengan mode emak-emak. "Masa saya kena hukum lagi pak? Jam pertama aja sudah. Saya janji deh tidak bikin ulah lagi. Janji ya pak?" kata Myung Hee yang mencoba bernegosiasi dengan Yong Jin. "Hah... baiklah. Sekarang kalian masuk ke kelas,bel akan berbunyi sebentar lagi. Dan kamu Dae-ya,ikut aku ke ruang guru. Kita ada rapat panitia pelaksana HUT Seoul High School. Ayo pergi!" perintah Yong Jin yang sepertinya tidak ingin dibantah oleh alasan apapun. Myung Hee dan Jae Ra pun menganggukkan kepalanya kemudian beranjak dari duduknya tanpa pamit. "Eh! kamu ngga mau pamit gitu?" Tanya Hyung Dae dengan menarik kerah belakang Myung Hee yang akan berjalan melewatinya "Memang saya harus pamit gitu pak?" Tanya balik Myung Hee polos "YA HARUSLAH!" teriak Yong Jin dan Hyung Dae bersamaan. "Iya-iya. Kalau begitu saya dan Jae Ra pamit dulu ke kelas ya, pak?!" pamit Myung Hee dengan terpaksa. "Pergi ke kelas bukan ke arah lain!" kata Hyung Dae mengingatkan Myung Hee agar tidak membolos mata pelajaran lagi seperti mana kebiasaan ia sebelumnya. "Iya bawel" sahut Myung Hee berjalan meninggalkan Yong Jin dan Hyung Dae bersama Jae Ra. "Kamu ngatain saya bawel?!" Teriak Hyung Dae melotot tidak terima dengan panggilan baru Myung Hee padanya. "Bukannya memang bapak bawel" polos Myung Hee. "Kamu ini!" Ucapan Hyung Dae yang terpotong. "Berantem lagi!" sela Yong Jin yang bersiap-siap untuk mengeluarkan segala omelan nya lagi pada mereka. "Tidak pak,saya pergi dulu pak"pamit Myung Hee ke kelas bersama Jae Ra. Myung Hee dan Jae Ra pun pergi meninggalkan kantin sekolah untuk kembali ke kelas seperti mana yang diperintahkan oleh Yong Jin,sudah cukup dirinya dihukum membersihkan laboratorium kimia yang besar sendirian tadi. "Ayo kita pergi!" ajak Yong Jin merangkul pundak Hyung Dae untuk pergi bersama ke ruang guru. "Baiklah, ayo Hyung" sahut Hyung Dae menganggukkan kepalanya kemudian berjalan beriringan dengan Yong Jin Yong Jin dan Hyung Dae pergi menuju ruang rapat guru untuk membahas acara HUT Seoul High School. Sesampainya disana,mereka melihat sudah ada guru-guru lain yang menghadirkan rapat kali ini termasuk kelima sahabat mereka. ** Setelah selesai rapat Hyung Dae dan keenam sahabatnya masih singgah di tempat duduk tanpa berniat untuk beranjak duluan. Mereka mulai membuka topik tentang keseharian mereka di sekolah selama tiga hari terakhir. "Bagaimana dengan keseharian kalian selama di sekolah?" Tanya Hyun Joong membuka percakapan. "Baik Hyung" jawab Kyuhyun tersenyum simpul pads Hyun Joong. "Aku juga baik" ujar Dong Gi dan Yeon Seok bersamaan. "Yang lainnya? Ayo jawab pertanyaan ku tadi" ucap Hyun Joong menatap mereka bergantian. "Baik sebelum bertempur Hyung Dae dan Myung Hee" jawab Yong Jin yang diangguki oleh Jung Min. "Myung Hee?! Sang trouble maker itu?!" tanya Yeon Seok yang merasa penasaran. "Yah,kami bertemu dengannya dan dia membuat ulah lagi" jawab Hyung Dae diangguki Yong Jin dan Jung Min. "Kesal kenapa Hyung?" Tanya Kyuhyun yang ikut penasaran dengan cerita dibaliknya. "Yah mana mungkin aku tak kesal. Ada murid modelannya seperti dia,cantik si. Tapi tingkahnya bikin orang naik darah" Jawab Hyung Dae dengan perasaan menggebu-gebu. "Kesal? Cantik? Naik darah? Aku belum paham Hyung" Tanya Kyuhyun yang bingung dengan arah perkataan Hyung Dae. "Hah...(helaan nafas Hyung Dae),jadi semenjak tadi pagi,aku sudah berurusan dengannya. Apa kalian tahu yang ia lakukan padaku?" timpal Hyung Dae dengan wajah tak bersahabat. "Tidak tahu" jawab mereka dengan menggelengkan kepalanya. "Dia bahkan memanggilku alien darat. Lebih parahnya lagi dia selalu menyela ucapan ku dengan tidak sopan nya" jelas Hyung Dae dengan wajah merah padam. "Hahaha!" tawa semua orang yang terdengar keras hingga ke seluruh ruangan. "Kenapa kalian ketawa? Apa yang lucu?" Tanya Hyung Dae heran dan kesal. "Aku ingat sekarang. Tadi pagi kamu juga bertemu dengannya di depan kantor, bukan?" kata Jung Min yang mengingat cerita Hyung Dae tadi pagi setelah bertemu dengan Myung Hee. "Iya, sudahlah jangan diingat-ingat. Aku kesal,aku pamit mau ke kelas XII IPA 3 dulu. Ada jam mengajar disana" pamit Hyung Dae yang kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Hati-hati nanti bertemu dengan kucing garong loh" ejek Jung min yang dihadiahkan tawa oleh yang lainnya. "Iya-iya, sampai jumpa nanti" pamit Hyung Dae kemudian keluar dari ruang rapat untuk mengajar di kelas tersebut. 'jikalau kamu yang mereka maksudkan,maka tandanya takdir mengijinkan kita untuk menyelesaikan sesuatu yang seharusnya kita selesaikan dimasa lalu' batin seseorang menatap kepergian Hyung Dae. ** Di kelas Myung Hee.. Setelah pelajaran yang panjang Myung Hee memilih pergi ke kantor untuk menemui Bu Areum seperti mana janjinya tadi pagi. Entah kenapa ia selalu merindukannya, mungkin karena sikap Bu Areum yang keibuan dan hangatnya. Myung Hee bukanlah tipe seseorang yang mudah akrab dengan orang lain,bukan karena ia sombong tapi sudah menjadi kepribadian dirinya sejak ia masih kecil. Disaat Myung Hee menuju ruangan Bu Areum,ia berpapasan dengan salah satu guru baru yang membuat terkejut setengah mati. Sayangnya, ia tidak bisa menghindar atau pun pergi saat ini. Sungguh kebetulan yang mengejutkan,bukan? Myung Hee melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan lelaki tersebut yang menatapnya penuh kerinduan dan kekecewaan dalam waktu bersamaan. Ia merasa ini bukanlah saat yang tepat untuk menemui atau menjelaskan yang terjadi pada keduanya di masa lalu. "Myung Hee-ya?!" panggilnya berjalan mendekati Myung Hee yang masih terpaku ditempatnya. "....." Myung Hee masih enggan untuk menjawabnya walaupun hanya sekedar panggilan. "Myung Hee-ya?!" Panggilnya lagi lalu mendekati Myung Hee dengan langkah lebarnya. Myung Hee yang menyadari kalau dia mencoba mendekatinya pun langsung berjalan cepat menghindari pria tersebut tanpa memedulikan panggilannya yang terus terdengar olehnya bahkan orang lain. "Aku memanggil kamu. Berhentilah sebentar! Kita perlu berbicara!" ujarnya berlari kecil untuk menggapai Myung Hee yang semakin berkeringat dingin karena ketakutan. 'sampai kapan hati dan pikiran ku kelu walaupun hanya untuk mengucapkan namanya,ada perasaan takut untuk menyatakannya' batin Myung Hee yang mencoba berlari. "Jangan lari lagi! Aku ingin berbicara dengan kamu walaupun sebentar!" ujar seseorang itu setelah bisa menggapai pergelangan tangan Myung Hee. Bukannya menjawab Myung Hee memilih diam sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan agar terlepas bahkan pergi menghindari pria dihadapannya ini. 'apa yang harus aku lakukan? Aku belum siap untuk menjelaskan walaupun hanya alasan dibaliknya' batin Myung Hee yang diselimuti perasaan cemas. "Aku ingin berbicara berdua denganmu. Kumohon sebentar saja" ujarnya menarik tangan Myung Hee agar ikut bersamanya. "Lepaskan aku!" Myung Hee akhirnya mau mengeluarkan suara yang dirindukan oleh seseorang yang menggenggam erat pergelangan tangannya ini. "Setelah sejauh ini aku mencoba mengejar kamu? Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum semuanya jelas. Ikutlah denganku tanpa bantahan" jelas pria tersebut kemudian menarik kuat pergelangan tangan Myung Hee agar ikut bersamanya. ** Selama diperjalanan melewati koridor Myung Hee tak henti-hentinya berusaha untuk melepaskan dirinya dari genggaman pria tersebut namun hasilnya nihil. Disinilah Myung Hee dan pria tersebut saling duduk berhadapan dengan tatapan penuh arti. "Duduklah" ucapnya mendudukkan diri Myung Hee. Mau tidak mau Myung Hee harus duduk berhadapan dengan pria tersebut dengan perasaan gelisah yang membuatnya pening untuk memikirkan sebuah alasan atau cara agar ia bisa melarikan diri. "Sampai kapan kamu menghindar dariku? Apa salahku? Masih banyak yang harus kita selesaikan dimasa lalu" ucap pria tersebut menatap Myung Hee dengan tatapan sayu. "Lupakanlah masa lalu, tidak ada yang harus dijelaskan atau diperbaiki lagi" sahut Myung Hee yang enggan untuk menatap lawan bicaranya saat ini. "Sampai kapan kamu akan seperti ini? Aku ingin kamu terbuka padaku. Jika kamu ingin bercerita, ceritakan lah padaku. Aku siap mendengarnya walaupun itu akan menyakitkan bagiku" balas pria tersebut dengan tatapan penuh arti. "Sampai kapan kamu akan berpura-pura baik padaku? Lagipula itu hanya kenangan masa lalu yang seharusnya tidak dikenang" kata Myung Hee dengan keringat dingin membasahi keningnya. "Apa maksud kamu? Aku tidak pernah berpura-pura baik pada kamu atau orang lain,masa lalu memang bukan untuk dikenang setidaknya harus diselesaikan" ujar pria tersebut tidak mau kalah. "Tidak ada yang harus dijelaskan lagi,itu hanya kejadian tidak penting dimasa lalu. Lupakanlah,maka semuanya akan membaik sepeda semula" balas Myung Hee. "Tidak penting? Tidak penting bagi kamu tapi itu penting bagi aku,aku merasa ada yang harus diselesaikan" sahut pria tersebut lagi. "Jangan mengungkit lagi, hubungan kita hanya dimasa lalu bukan dimasa sekarang. Anggap saja kita tidak saling mengenal satu sama lain" ucap Myung Hee dengan nada bergetar. "Setelah yang terjadi semuanya dengan mudahnya kamu berkata untuk melupakan? Tidak ada yang harus dilupakan bagiku, katakanlah alasan kamu meninggalkan aku bahkan mematahkan hati ini?" desak pria tersebut dengan nada bergetar juga. Myung Hee dibuat terdiam sejenak hingga akhirnya ia memberanikan dirinya menatap pria dihadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan oleh masing-masing insan ini. "Apa karena mereka kamu melakukannya? Jawablah!" tanya pria tersebut dengan nafas memburu. "Jangan pernah menyalahkan apapun tentang aku pada keluarga aku!" kata Myung Hee mengeram marah,ia tidak suka seseorang mengatakan kalau keluarganya menjadi alasan dibalik sebuah peristiwa yang ia lakukan. "Ck kau bilang mereka keluarga? Tapi apakah mereka memedulikan dirimu yang terluka karena dirinya? Aku tahu kamu tidak baik-baik saja, sudahlah jangan berpura seakan-akan kita tidak terjadi apa-apa. Aku akui aku salah,tapi tak bisakah kau mengerti diriku. Myung Hee-ya?" jelas pria tersebut mencoba menggenggam tangan Myung Hee yang nampak berkeringat dingin. "Mereka adalah keluargaku,aku menyayangi mereka lebih dari apapun. Jikapun aku terluka biarkan aku sendirian yang terluka. Yah,aku baik-baik saja, setidaknya aku bisa membuat mereka bahagia dengan merelakan yang aku miliki. Jika kamu tanya apakah aku bisa mengerti dirimu? Jawabannya 'tidak' karena bagiku keluargaku terpenting dari segalanya" balas Myung Hee pada pria tersebut tanpa memedulikan apa yang ia pikirkan. Pria tersebut terdiam sejenak setelah mendengar ucapan Myung Hee yang sudah ia duga akan ia dengar untuk kesekian kalinya. "Sampai kapan?" tanya pria tersebut menatap Myung Hee. "Sampai kapanpun aku akan merelakan yang aku miliki untuknya. Karena aku dilahirkan sebagai nyawa kedua baginya. Saya permisi Tuan Jeon" kata Myung Hee melepaskan genggaman tangan pria jeon tersebut untuk meninggalkan perpustakaan. "Myung Hee-ya! Myung Hee-ya! Aku belum selesai berbicara dengan kamu! panggil pria jeon tersebut yang nampak diacuhkan oleh sang pemilik nama yang ia panggil. Myung Hee berlari meninggalkan perpustakaan menuju ruangan Bu Areum yang letaknya cukup dekat dengan perpustakaan. Ia mencoba tegar dan melupakannya,entah bisa atau tidak nantinya. Dirinya akan bertahan sampai akhir, walaupun ribuan rintangan terus menerus menghantamnya. Janjinya tidak akan pernah ia ingkari! ** Berbeda dengan Myung Hee yang buat kalut akan pertemuannya dengan pria bermarga jeon tersebut. Selesai Hyung Dae mengajar,iakeluar dari kelas. Tanpa sadar ia melihat sosok Myung Hee yang sedang berlari menuju kantor dari arah perpustakaan. Hyung Dae dapat melihat Myung Hee dengan hidung merah dan mata sembabnya. 'Apa yang terjadi padanya? Apakah dia menangis?' Entah kenapa hati Hyung Dae dibuat khawatir melihat Myung Hee dengan kondisi seperti itu. Haruskah ia mengikutinya? Tapi itu tak mungkin,ia menghapus pikiran itu. Hyung Dae memilih pergi ke kantor,tapi dengan tiba-tiba dari arah lain. Aku melihat Kyuhyun dengan wajah gusarnya. "Kyuhyun-ah? Kamu baik-baik saja?" Tanya Hyung Dae yang khawatir dengan kondisi penampilan Kyuhyun saat ini. "Hm,aku baik-baik saja Hyung. Aku harus segera masuk ke ruangan ku" jawab Kyuhyun dengan senyuman terpaksa kemudian berjalan cepat menuju ruangannya. 'ada apa ini? Kenapa semua orang hari ini aneh sekali?' batinku bingung. "Ah sudahlah. Lebih baik aku mengurus acara HUT nanti" pikir Hyung Dae kemudian masuk menuju ke ruang guru dan duduk disana. "Hyung? Apakah sudah siap semuanya?" Tanya Hyung Dae pada Yeon Seok yang kebetulan berada disana. "Sudah,semuanya hampir beres. Hanya saja kita perlu melakukan beberapa evaluasi lagi,agar nantinya tidak ada kesalahan di setiap acaranya. Yasudah aku tinggal dulu,aku mau mengajar di kelas X. Sampai jumpa Hyung Dae-ya" ujar Yeon Seok beranjak pergi. "Baiklah, sampai jumpa nanti Hyung" kata Hyung Dae menganggukkan kepalanya. "Sampai jumpa juga" ** Sedangkan ditempat lain Kyuhyun tengah duduk terdiam memikirkan kejadian yang baru saja ia lalui beberapa saat yang lalu. 'Kenapa? Kenapa ini semua terjadi? Aku ingin dia melihatku sebagai cintanya bukan sahabatnya. Jika takdir berkehendak lain,aku ingin dia yang kumiliki. Tapi akankah itu juga terjadi?' batin Kyuhyun melayang-layang memikirkan kejadian dimasa lalunya bersama sosok gadis yang masih ia cintai hingga saat ini. 'Mencintaimu kenapa sesulit ini? Tak mungkin kamu merelakan dirimu pergi dariku. Aku menuruti keinginan dirimu bukan karena aku perduli padanya,tapi karena aku ingin kau tahu bahwa aku begitu mencintaimu lebih dari apapun. Dan sekarang kau meminta diriku untuk disampinginya. Aku lebih memilih kehilangan cahaya dibandingkan aku memilih bersamanya. Aku tak bisa kehilangan dirimu,sudah cukup aku menantimu bertahun-tahun untuk waktu sekarang,tapi nyatanya kamu memilih aku untuk bersamanya. Aku lelah berpura-pura seakan aku mencintainya sedangkan kenyataannya aku mencintaimu' batin Kyuhyun menatap kosong kearah depan. **** Mengenalmu bukanlah hal yang mudah seperti itulah saat aku kehilangan dirimu. (Kim Hyung Dae) To Be Continue...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN