What wrong with me?

2667 Kata
Dimana hati dan pikiran yang berjalan berlawanan arah akan keinginan yang berbeda. (Kim Hyung Dae) **** Setelah bertemu dengan Areum di ruang guru,Myung Hee memutuskan kembali ke dalam kelasnya untuk menenangkan pikirannya yang kalut sesaat setelah pertemuan yang mengejutkannya. Disinilah Myung Hee tengah terduduk diam mengingat pertemuannya dengan pria bermarga jeon tersebut,kenangan manis dan pahit datang beriringan tanpa permisi dikala ini. 'Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi? Setelah 2 tahun aku melupakannya. Kenapa takdirku selalu berkata lain? Aku lelah berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja tanpa memedulikan yang terjadi sebelumnya' batin Myung Hee menghela nafas beratnya. Myung Hee menatap sekeliling dengan jengah,ia perlu tempat tenang untuk mencari ketenangan yang terenggut oleh waktu dan keadaan saat ini. "Kenapa aku tidak berpikir untuk pergi ke perpustakaan utama saja? Dibandingkan disini ramai, lagipula Jae Ra tengah pergi" pikir Myung Hee kemudian beranjak dari duduknya. "Apakah aku bekerja saja? Lagi pula aku dirumah mau apa? Mungkin akan disuruh mendonorkan darah lagi" gumam Myung Hee tersenyum remeh dengan nasibnya tidak ada keinginan untuk berubah walaupun waktu terus berjalan. Myung Hee pun berjalan meninggalkan ruang kelasnya yang ramai untuk mengunjungi perpustakaan utama yang jaraknya cukup dekat dengan ruang kedisiplinan, kemungkinan bertemu dengan Hyung Dae sangat besar bukan? ** Berbanding terbalik dengan Myung Hee yang tengah sibuk dengan rasa kalut dan bosannya,Hyung Dae justru tampak terdiam di ruangannya memikirkan yang terjadi pada Myung Hee dan Kyuhyun saat tadi ia berpapasan. "Ada apa dengan aku? Kenapa aku selalu memikirkan gadis itu? Apa yang telah gadis itu lakukan hingga aku sampai seperti ini?!" gumam Hyung Dae menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan bayangan ekspresi yang sulit diartikan Myung Hee tadi. "Akh! Lama-lama aku bisa gila jika dia terus menghantui pikiranku. Lebih baik aku ke perpustakaan, mengambil buku tahunan" pikir Hyung Dae frustasi. Hyung Dae memutuskan beranjak keluar menuju perpustakaan utama yang berada cukup dekat dengan ruangannya. Di setiap jalannya banyak sekali murid-murid yang mulai menyapa dan ada yang menggoda Hyung Dae. Jika bukan karena dia guru baru, mungkin dia akan menegur mereka. Tak perlu waktu lama, Hyung Dae sampai di perpustakaan utama yang cukup megah dibandingkan perpustakaan yang berada di dekat ruang guru. "Permisi, bisakah saya bertanya?" kata Hyung Dae pada guru penjaga perpustakaan. "Silahkan pak Hyung Dae. Apakah anda memerlukan sesuatu?" sahut sang penjaga perpustakaan ramah. "Iya,saya memerlukan buku tahunan untuk mengevaluasi jalannya acara HUT yang akan diadakan tiga hari mendatang" jawab Hyung Dae dengan senyum ramahnya. "Baiklah,anda bisa jalan di rak ke 5 dari sini dan anda bisa mencari pada rak buku bertuliskan 'Seoul High School books'. Apakah anda paham?" jelas sang penjaga perpustakaan pada Hyung Dae. "Saya paham. Terimakasih atas bantuannya,saya akan mengambilnya terlebih dahulu" ucap Hyung Dae beranjak menuju rak buku yang telah ditunjukkan oleh sang penjaga perpustakaan tersebut. Hyung Dae mencari-cari keberadaan buku tahunan yang seperti mana dikatakan oleh Yeon Seok tadi. Tapi saat dia ingin mengambil buku itu,ada sebuah tangan lentik nan putih yang juga menggapai buku itu. Seketika mata mereka beradu pandang menyadarkan sebuah perasaan yang sulit diartikan dibaliknya. "Myung Hee-ya?!" gumam Hyung Dae yang terkejut melihat Myung Hee tiba-tiba berada disampingnya. "Pak Hyung Dae?!" Myung Hee pun tidak kalah terkejutnya melihat Hyung Dae yang seharusnya ia hindari malah sekarang berada disisinya. "Kenapa kamu bisa ada disini? Bukankah ini masih jam pelajaran? Jangan bilang kamu berniat membolos?!" Cerocos Hyung Dae menatap Myung Hee tajam. "Terserah saya,jadi bukan urusan bapak!" sahut Myung Hee enggan menatap mata penuh kharisma Hyung Dae. "Sampai kapan kamu mau terus-terusan seperti ini? Sebentar lagi kamu juga akan menghadapi berbagai try out sebelum menjelang ujian,bukan?" Ujar Hyung Dae tak habis pikir dengan sikap Myung Hee yang jelas-jelas tidak ada kemajuan apapun. "Itu bukan urusan bapak. Terserah saya mau bolos atau mau masuk kek,itu hak saya" Balas Myung Hee dengan nada sinis,ia tidak suka seseorang menghakiminya dengan kata-kata yang bahkan tidak seharusnya ia dapatkan. Walaupun sepenuhnya ia yang salah,tapi setidaknya tidak harus dengan nada tinggi seperti yang Hyung Dae katakan. "Ada apa denganmu? Apakah kamu baik-baik saja? Tidak biasanya kamu bersikap sinis dan dingin seperti ini" Ujar Hyung Dae khawatir dengan perubahan sikap Myung Hee padanya,ia cukup peka dengan perubahan sikap dan perilaku seseorang yang ia miliki sejak memasuki jurusan psikologi. "Saya baik-baik saja. Tidak usah sok peduli pada saya" sarkis Myung Hee melenggang pergi meninggalkan Hyung Dae yang menatapnya penuh arti. "Tunggu sebentar!" kata Hyung Dae dengan menarik pergelangan tangan Myung Hee hingga tubuh mereka saling bertubrukan. "Lepaskan saya!" pinta Myung Hee yang mencoba melepaskan diri dari dekapan hangat Hyung Dae, seseorang pasti akan salah paham jika keadaan mereka saat ini,bukan? "Saya akan lepaskan jika kamu mau bercerita dengan saya. Aku tahu kamu memiliki masalah,hanya saja jangan melimpah kekesalan pada orang lain. Itu bukan langkah yang tepat" nasehat Hyung Dae dengan menatap Myung Hee dalam dengan posisi mereka masih berpelukan,ia ingin Myung Hee lebih terbuka dengan orang-orang disekitarnya karena dengan ini sikapnya yang anti sosial akan sedikit berkurang cepat atau lambat. "Sudah saya bilang,ini bukan urusan bapak. Lepaskan saya,saya mau pergi" ujar Myung Hee yang masih berusaha melepas dirinya dari dekapan Hyung Dae. "Kamu ingin pergi bukan? Lebih baik kamu ikut saya ke ruang kedisiplinan. Daripada kamu keluyuran tidak jelas" ajak Hyung Dae yang terdengar perintah dengan posisi masih memeluk Myung Hee. "Saya tidak mau!" Tolak Myung Hee yang masih berusaha melepaskan diri walaupun hasilnya nihil. "Tidak ada penolakan!" penegasan Hyung Dae dengan menarik pergelangan tangan Myung Hee untuk ikut dengannya. "Aish! Kenapa semua orang suka sekali menarik tanganku?" Gumam Myung Hee yang masih di dengar Hyung Dae. "Karena takut kamu lepas nanti akan membuat ulah!" jawab Hyung Dae yang juga berbisik dengan tangan menggenggam pergelangan Myung Hee erat. 'entah kenapa aku nyaman di dekatnya. Hatiku juga senang bisa menggenggam tangannya' batin Hyung Dae yang tanpa sadar mengembangkan senyuman tipisnya. 'ada apa dengan pak Hyung Dae hari ini? Astaga! Kenapa aku bisa lupa? Jika ruang kedisiplinan cukup dekat dengan ruang guru. Bagaimana ini?' batin Myung Hee kebingungan untuk mencari alasan agar dirinya bisa kabur dari Hyung Dae. "Saya mau ke kelas saja pak! Jadi bapak bisa lepaskan saya" ucap Myung Hee mulai negosiasi. "Tidak bisa!" tolak Hyung Dae yang masih bersikeras menarik Myung Hee agar ikut bersamanya. "Dasar menyebalkan!" gumam Myung Hee kesal yang tanpa sadar mengerucutkan bibirnya. 'kenapa dia jadi begitu menggemaskan seperti ini?!' batin Hyung Dae menahan senyum. "Ck! Ayolah saya mau ke kelas saja pak" nego Myung Hee dengan nada memelas agar Hyung Dae mau lepaskan nya. "Tidak boleh! Sudah ikut saja, lagipula di gandeng sama orang ganteng tidak mau?!" tolak Hyung Dae dengan diakhiri menggoda Myung Hee. "Siapa yang ganteng pak?" Tanya Myung Hee dengan raut wajah kebingungan, pasalnya ia belum melihat orang tampan berpapasan dengannya. "Ya sayalah. Saya ini kembarannya Taehyung BTS" jawab Hyung Dae percaya diri. "PD banget bapak! Kata siapa bapak mirip, gantengan pak Yong Jin kemana-mana" balas Myung Hee dengan nada mengejek. "Yong Jin Hyung tampan?" ulang Hyung Dae dengan nada tidak percaya akan apa yang ia dengar dari mulut Myung Hee. "Yah,pak Yong Jin memang tampan" jawab Myung Hee membenarkan. "Mana ada! Saya tak terima,lebih tampan saya kemana-mana" sungut Hyung Dae tak terima. "Terserah deh pak,saya ngalah. Yang waras ngalah" ujar Myung Hee berdecak pelan. "Jadi maksud kamu saya tidak waras, begitu?" tanya Hyung Dae menatap tajam Myung Hee. "Bukan saya yang bilang loh pak!" ujar Myung Hee dengan tersenyum penuh arti. "Ganteng ganteng gini dikatain tidak waras?" kata Hyung Dae dengan rasa percaya diri yang tinggi. "Terserah bapak. Ini kenapa malah belok ke kantin pak?" Tanya Myung Hee baru menyadari kalau arah mereka berjalan berbeda dengan tujuan awal mereka. "Saya lapar belum makan siang. Kamu juga lapar, tidak?" Tanya Hyung Dae menatap Myung Hee. "Laper pak" jawab Myung Hee dengan wajah polosnya tanpa sadar. 'dia menggemaskan!' batin Hyung Dae dengan gemas sambil menarik sebuah senyuman tulus di bibirnya. "Bapak traktir kan?" Tanya Myung Hee menatap Hyung Dae dengan tatapan berbinar-binar. "Iya,saya traktir. Tapi pulang sekolah saya nebeng kamu pulang. Bagaimana?" tawar Hyung Dae. "Tapi-" ucapan Myung Hee terpotong oleh Hyung Dae yang justru menarik pergelangan tangannya perlahan. "Okey,kamu setuju!" sela Hyung Dae tersenyum penuh kemenangan. "Apa?! Perasaan saya tidak bilang setuju?" tanya Myung Hee yang heran dengan kesimpulan Hyung Dae. "Lah itu bilang" kata Hyung Dae dengan tersenyum jahil pada Myung Hee yang justru menatapnya tidak percaya. 'boleh mengumpat ngga sih? Ini guru mah nyebelin tingkat angkut' batin Myung Hee kesal sekaligus gemas dengan tingkah Hyung Dae yang seenak jidatnya. "Sudah mengumpat nya?" tanya Hyung Dae tiba-tiba. "Kok bapak tahu saya sedang mengumpat?" Polos Myung Hee menatap Hyung Dae dengan tatapan penuh selidik. "Hahaha! Kamu mengemaskan sekali jika seperti ini!" ujar Hyung Dae sambil mencubit pipi Myung Hee gemas. "Pak sakit! Bapak kira pipi saya terbuat dari apa,ha?!" sungut Myung Hee mencoba melepaskan cubitan tangan Hyung Dae dari kedua pipinya. "Maaf-maaf. Pipi kamu mirip squishy jadi saya suka mencubit nya" kata Hyung Dae tersenyum kotak. "Pipi saya bukan squishy pak!" sungut Myung Hee melototkan matanya tidak terima. "Iya iya. Ayo ke kantin, saya udah lapar.. Kalau nanti saya makan kamu kan ngga lucu" canda Hyung Dae menggandeng tangan Myung Hee lagi. "Bapak kanibal?" Tanya Myung Hee melotot pada Hyung Dae. "Ya tidaklah. Emang saya mirip orang kanibal apa?" Hyung Dae tertawa pelan melihat tatapan tajam ia peroleh dari Myung Hee. "Agak mirip" jawab Myung Hee lirih yang masih terdengar oleh Hyung Dae. "Sudah-sudah. Ayo buruan ke kantin,kalau tidak akan ramai" ujar Hyung Dae sambil menggenggam tangan Myung Hee ke kantin. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap mereka tajam dan mengepalkan tangannya. "Kenapa harus sahabatku sendiri? Aku tak rela dia bersama yang lain" ucap seorang menggeram rendah seperti menahan perasaan panas yang menjalar dari hati. "Aku tak akan biarkan siapapun merebutnya dariku. Walaupun sahabatku sendiri" ujarnya sambil mengepalkan tangannya di tembok. Bahkan setiap hari perlu pelampiasan fisik untuk menyalurkannya, seperti itulah cinta yang datang tanpa diminta. ** Myung Hee dan Hyung Dae pun sampai di ambang pintu kantin sambil mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru kantin,kantin memang sepi seperti ini jika pada jam-jam mengajar kecuali diisi oleh karyawan dan guru-guru yang tengah kosong mengajar. Hyung Dae menggandeng Myung Hee lagi untuk ikut duduk bersamanya di salah satu kursi kantin yang jauh dari keramaian. "Kamu mau pesan apa,hm?" Tanya Hyung Dae yang masih menggenggam tangan Myung Hee. "Saya mau tteokbokki dua porsi dan bibimbap satu porsi. Untuk minumnya air putih dingin ya" jawab Myung Hee semangat. "Tumben kamu baik mau pesankan saya makanan sekalian?" ujar Hyung Dae dengan tersenyum simpul. "Kata siapa saya memesankan bapak makanan sekalian? Itu semua untuk saya sendiri pak" sahut Myung Hee dengan wajah polosnya. "Yang benar saja? Badan kamu kecil tapi kenapa porsi makan kamu seperti anak tidak makan dua hari?" kata Hyung Dae keheranan. "Yakan saya lapar, kebetulan juga saya ditraktir. Mana saya nolak,jadi ya sekalian kenyangin" jawab Myung Hee dengan tersenyum manis. "Baiklah,anggap saja saya sedang baik pada kamu" Hyung Dae hanya bisa menghela nafas dengan jawaban Myung Hee yang terlampau polos. "Oh ya Bu,sekalian kimchi nya ya?" kata Myung Hee pada ibu kantin. "Iya Myung Hee" ujar Bu Yoo dengan mengusap rambut Myung Hee lembut 'sebegitu sukanya dia makan? Aku heran usianya berapa? Tapi aku suka dia,dia begitu menggemaskan" batin Hyung Dae tersenyum menatap Myung Hee. "Pak Hyung Dae? Bapak?!" Panggil Myung Hee sambil menggerakkan tangan di depan wajah Hyung Dae. "Iya, kenapa?" sahut Hyung Dae yang sadar dari lamunannya. "Itu ditanya sama Bu Yoo katanya mau pesan apa?" ulang Myung Hee. "Sama kan saja pesanan saya dengan Myung Hee,hanya saja setiap jenis makanan satu porsi" jawab Hyung Dae tersenyum tipis pada bu Yoo. "Baiklah pak, kalau begitu tunggu sebentar ya" ucap Bu Yoo masuk ke dapur untuk membuatkan pesanan mereka. Setelah Bu Yoo pergi dari hadapan Hyung Dae dan Myung Hee, suasana kembali hening dan canggung diantara mereka berdua. Mereka sama-sama sibuk dengan pikirannya masing-masing hingga akhirnya Myung Hee memecah keheningan tersebut. "Em..pak Hyung Dae? Sampai kapan bapak akan menggenggam tangan saya? Saya tidak akan kabur pak" ucap Myung Hee dengan tatapan tertuju pada tangan mereka yang saling bertautan. "maaf,saya tidak menyadarinya" sahut Hyung Dae setelah sadar dari lamunannya. "Tidak apa. Ngomong-ngomong saya boleh tanya pada bapak sesuatu?" ujar Myung Hee yang sedari tadi ingin menanyakan perihal pada Hyung Dae. "Silahkan" Hyung Dae menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia setuju. "Tiga hari lagi akan diadakan HUT Seoul High School. Kira-kira acaranya berlangsung selama beberapa hari? Dan apa aja perlombaan yang akan diadakan?" Tanya Myung Hee menatap Hyung Dae. "Sebenarnya kalau beberapa hari,saya kurang tahu. Saya hanya menyediakan apa aja perlombaannya. Sedangkan yang mengurus schedule nya itu Kyuhyun. Untuk panitia pelaksana itu hampir semua guru termasuk OSIS" jelas Hyung Dae. "Jadi masih belum diputuskan akan berapa hari di adakan? Tapi lombanya ada di cabang olahraga juga pak?" tanya Myung Hee lagi. "Ada,karena Kyuhyun yang mengusulkan pada kepala sekolah. Memangnya kenapa?" jawab Hyung Dae tersenyum tipis pada antusiasnya Myung Hee pada acara yang akan diadakan tiga hari mendatang. "Saya hanya ingin tahu saja. Tapi kalau ada lomba bela diri, saya mau ikut. Lumayan kalau menang dapat hadiah" sahut Myung Hee tersenyum manis pada Hyung Dae. 'kenapa takdirku selalu berkata lain? Aku ingin menghindar tapi aku dipertemukan kembali. Aku tak habis pikir kenapa semua ini terjadi dalam hidupku?' batin Myung Hee yang tiba-tiba teringat akan pertemuannya kembali dengan pria bermarga jeon tersebut. 'apakah ini perasaan ku saja ya? Kenapa dia hari ini berubah ubah? Ada apa dengannya?' batin Hyung Dae sambil memperhatikan raut wajah Myung Hee yang gelisah namun bercampur kekhawatiran. Hyung Dae dapat melihat guratan kegelisahan dari kerutan di keningnya dan mata sayu yang tidak terbaca jelas itu. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan dari orang-orang disekitarnya. "Myung Hee-ya?!" panggil Hyung Dae sambil menggerakkan tangan di depan wajah Myung Hee. Disaat itu juga ada ide muncul dari pikiran Hyung Dae untuk mengerjai Myung Hee yang tengah melamun. "Akh!" Pekik Myung Hee sambil menggenggam kedua tangan Hyung Dae yang sedang mencubit pipinya. "Pak lepaskan,pipi saya lama-lama tambah chuby" kesal Myung Hee yang masih berusaha menarik tangan Hyung Dae dari kedua pipinya. "Sudah puas melamun? Kamu kira saya ini bisa mengobati orang kesurupan? Salah siapa dari tadi seperti orang kesurupan jin saja" canda Hyung Dae Denny tersenyum simpul pada wajah kesal Myung Hee yang justru terlihat menggemaskan dimatanya. "Mana ada pak! Bapak kali yang suka kesurupan mendadak" ujar Myung Hee ikut mengejek Hyung Dae. "Kata siapa coba?!" "Kata saya barusan" "Ah sudahlah,aku tak sengaja melihatmu tadi dari arah perpustakaan. Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Hyung Dae dengan menggenggam tangan Myung Hee lembut. 'haruskah aku menjawab pertanyaannya? Tapi aku tak siap,biarkan orang lain tak tahu hanya aku dan dia yang tahu' batin Myung Hee yang masih ragu untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi pada Hyung Dae. "Tidak ada apa-apa,saya baik-baik saja" ujar Myung Hee menghindari tatapan mata Hyung Dae yang tertuju padanya. "Tatap mata saya" pinta Hyung Dae mengubah posisi duduknya agar lebih dekat dengan Myung Hee yang malah semakin menghindarinya. "...." Myung Hee masih enggan menuruti permintaan Hyung Dae yang jelas-jelas tidak akan sanggup ia turuti. "Tatap mata saya sebentar saja,Myung Hee-ya" Pinta Hyung Dae dengan tatapan penuh arti pada Myung Hee. Myung Hee yang masih tidak bergeming pun membuat Hyung Dae menggeram kesal,Hyung Dae berdiri dari duduknya kemudian beralih duduk tepat disamping Myung Hee. Myung Hee yang menyadarinya pun reflek berdiri namun kalah cepat dengan tangan Hyung Dae yang menarik pergelangan tangan Myung Hee hingga tubuh Myung Hee yang terhuyung memeluk Hyung Dae. Baik Hyung Dae maupun Myung Hee masih enggan untuk berupaya menjauh,hingga akhirnya Hyung Dae tersadar dari tujuan utamanya mendekap Myung Hee. Hyung Dae melepaskan pelukannya perlahan-lahan kemudian menangkup kedua pipi Myung Hee dengan lembut yang tersirat tanpa paksa dari sentuhannya. Deg.... Tatapan keduanya bertemu, keduanya nampak dibuat mematung oleh tatapan masing-masing yang mampu membangkitkan perasaan asing yang berdegup selayaknya jantung mereka saat ini. Perasaan menggebu yang minta untuk diungkapkan walau hanya dengan tatapan penuh arti pada lawan bicaranya,deru nafas yang semakin menyesakkan d**a keduanya. **** Bahkan jantung pun menyiratkan perasaan yang membuncah ketika kita berdekatan dikala bersama. (Kim Hyung Dae) ~~ Jikalau deru nafas yang berat dan jantung berdegup tanpa diminta,disaat itulah perasaan itu datang dikala kita bersama-sama. (Lee Myung Hee) To Be Continue...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN