Is This Miss?

3480 Kata
Dikala hati ingin berkata sesungguhnya namun bibirku kelu untuk berucap. (Lee Myung Hee) **** Hari semakin beranjak senja,dimana waktunya seluruh murid Seoul High School bisa menyelesaikan jam pembelajaran terakhir pada hari ini. Begitu juga pada kelas Myung Hee yang telah berakhir lima menit yang lalu. Satu persatu murid pergi meninggalkan bangku sekolahnya untuk kembali ke rumah masing-masing,namun berbeda dengan Myung Hee yang masih sibuk menyelesaikan catatan yang harus ia lengkapi untuk mata pelajaran keesokan harinya. "Sudah selesai? Ayo kita pulang,aku sudah lelah sekali seharian berkutat pada buku dan peralatan tulis" ujar Jae Ra yang tengah sibuk menata barang-barang untuk dimasukkan ke dalam tasnya. "Sudah,aku akan mengemasi barang-barang ku dulu" sahut Myung Hee menutup buku catatannya kemudian memasukkannya ke dalam tasnya. "Sudah tidak ada yang tertinggal?" tanya Myung Hee pada Jae Ra. "Tidak ada, semuanya sudah aku bawa salah tas" jawab Jae Ra menepuk-nepuk tas punggungnya. "Yasudah,ayo kita pulang! Hari semakin larut" ajak Myung Hee dengan wajah lelahnya. "Ya kamu benar,ayo pulang" kata Jae Ra mengikuti langkah Myung Hee pergi keluar kelas. Myung Hee dan Jae Ra keluar dari ruang kelas menuju arah parkiran motor sambil bergandengan tangan,walaupun yang menggandeng itu jae Ra bukan Myung Hee. Setidaknya hari-hari Myung Hee tidak sedatar sebelumnya,ada rasa bersyukur yang terbesit dalam hati kecil Myung Hee karena ia bisa dipertemukan oleh seseorang seperti Jae Ra yang selalu menghiburnya dengan tingkah lakunya yang periang. Dari kelas menuju parkiran memang tidak dekat,mereka harus melewati dua koridor panjang yang menghubungkan kelas dua belas dengan kelas sebelas kemudian mereka harus melewati lobby ruang guru dan lobby utama. "Aku pulang duluan ya? Ayahku sudah menjemput ku di pintu gerbang sekolah" pamit Jae Ra sambil menunjuk kearah mobil ayahnya yang sudah terpakir. "Iya, hati-hati dijalan" sahut Myung Hee mengalihkan pandangannya mengikuti arah telunjuk Jae Ra. "Kamu juga harus berhati-hati mengendarai motor, sampai jumpa besok lagi. Hubungi aku jika kamu sudah sampai di rumah!" ucap Jae Ra melambaikan tangannya pada Myung Hee. "Baiklah, sampai jumpa" balas Myung Hee yang ikut melambaikan tangannya pada Jae Ra yang semakin menjauh dari arah pandangnya. Myung Hee tersenyum tipis melihat tingkah manis Jae Ra pada ayahnya yang juga nampak menyayanginya. 'kamu beruntung Jae Ra-ya,ayah dan ibumu begitu menyayangimu. Sedangkan aku..sungguh miris bukan?' batin Myung Hee tersenyum miris akan nasibnya yang malang. Setelah puas memandangi momen keluarga bahagia Jae Ra,Myung Hee berjalan lesu menuju arah motornya yang terparkir disana. Disaat Myung Hee sibuk mencari keberadaan kunci motornya, tiba-tiba ada seseorang menepuk pundaknya dengan memanggil namanya. "Myung Hee-ya?!" Panggil seorang lelaki dengan wajah tampan dari arah belakang Myung Hee. "Ada apa?!" Tanya Myung Hee yang masih enggan menatap pria tersebut. "Aku hanya ingin menyapa sekaligus meminta maaf atas kejadian tiga hari yang lalu" jawab pria tersebut dengan nada bersalahnya pada Myung Hee. "Pergilah,aku harus pulang. Jangan membuang waktuku hanya untuk meladeni kamu!" sahut Myung Hee menghela nafas berat. "Tidak,aku tidak akan pergi sebelum kamu memaafkan aku. Kita sudah berteman selama empat tahun lamanya,apa kamu sulit memaafkan aku? Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi!" ucap pria tersebut dengan nada memelas. "Teman? Mana ada teman yang menyembunyikan masalah dari teman-temannya? Jika kamu menganggap aku teman,maka kamu akan mengatakan apapun yang terjadi pada kita! Setidaknya datanglah untuk meminta dukungan bukannya malah menjauh dan mengacuhkan kita" ujar Myung Hee dengan tatapan sendu pada pria tersebut. "Maaf,aku belum siap untuk menceritakannya pada kamu dan mereka. Aku tidak ingin kalian merasa terbebani dengan masalah yang lalu" pria tersebut menggenggam tangan Myung Hee dengan perasaan bersalahnya. "Tidak ada teman yang merasa terbebani pada masalah temannya yang lain,aku siap mendengarkan bahkan membantumu jika aku bisa" Myung Hee merasa kecewa pada temannya yang ia sudah anggap seperti sahabatnya sendiri justru memilih enggan menceritakan atau berkeluh kesah padanya jika dalam keadaan terpuruk. Lelaki tersebut menundukkan kepalanya merasa begitu bersalah pada Myung Hee dan keempat sahabatnya yang lain,ia terlalu berpikir pendek hingga mengakibatkan hubungan persahabatannya terganggu. "Baiklah aku maafkan. Besok kamu traktir aku dan yang lain untuk makan di kantin selama 3 hari, bagaimana?" kata Myung Hee mencoba menghibur perasaan bersalah sahabatnya. "Tentu saja,aku akan membelikan kalian makanan yang kalian suka selama tiga hari" sahut lelaki tersebut tersenyum manis pada Myung Hee. "Baiklah,aku harus pergi bekerja setelah ini. Besok kita bicara lagi ya" pamit Myung Hee padanya. "Mau aku antar?" "Tidak perlu,kamu juga perlu istirahat setelah pertandingan melelahkan tadi. Istirahatlah yang cukup sehingga besok bisa mengikuti pelajaran seperti biasa" nasehat Myung Hee yang terbilang bijak. "Kenapa kamu jadi bijak seperti ini,eoh?" tanyanya heran dengan perubahan Myung Hee. "Entah, mungkin efek terlalu lama berada didekat Bu Areum" jawab Myung Hee dengan kekehan. "Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku. Sampai jumpa,Myung Hee-ya" Ucap lelaki itu dengan membelai rambut Myung Hee. "Sampai jumpa Yon Jun-ah!" balas Myung Hee melambaikan tangannya Pada Yon Jun. 'ck... pakai pegang-pegang lagi. Gantian sama saya marah-marah atau tidak menghina saya. Sama dia lembut dan ramah. Menyebalkan...'batin seseorang tak lain Hyung Dae yang melihat interaksi mereka di parkiran motor. Setelah Yon Jun pergi, Hyung Dae mendekati Myung Hee dengan kepala yang sudah menggunakan helm. Disaat Myung Hee ingin memundurkan motornya tiba-tiba ada seseorang yang ingin naik ke atas motornya,reflek Myung Hee berbalik untuk melihat siapa yang melakukannya. "Yak! kenapa bapak tiba-tiba naik ke motor saya?!" Kesal Myung Hee yang tiba-tiba Hyung Dae sudah duduk di motor dengan helm. "Kamu berjanji akan mengantar saya pulang bukan?" kata Hyung Dae sambil menatap Myung Hee. "Iya saya tahu pak. Tapi kalau bapak udah naik,nanti mundurkan motornya gimana?" Myung Hee heran dengan sikap Hyung Dae yang terlampau polos atau bodoh? "Iya-iya,jangan marah-marah terus! Akan saya bantu" sahut Hyung Dae turun dari motor Myung Hee kemudian mengambil alih motor untuk dikeluarkan dari parkiran. "Dari tadi napa,kalau seperti ini tidak usah adu urat" gumam Myung Hee mendengus kesal. Setelah Hyung Dae berhasil mengeluarkan motor Myung Hee dari parkiran, Myung Hee pun berjalan mendekati Hyung Dae dengan helm di kepalanya. "Bapak bisa naik motor tidak?" Tanya Myung Hee pada Hyung Dae. "Saya bisa, memangnya kenapa?" jawab Hyung Dae menganggukkan kepalanya ragu-ragu. "Kalau begitu bapak saja yang mengendarai motor saya,bagaimana?" Tawar Myung Hee. "Kamu yakin? Bahkan kamu belum melihat saya mengendarai motor" ujar Hyung Dae yang nampak ragu-ragu untuk mengendarai motor milik Myung Hee. "Yakin pak,apa salahnya mencoba? Kalaupun nanti jatuh,ya berarti kita kurang berhati-hati" sahut Myung Hee menganggukkan kepalanya meyakinkan Hyung Dae. Melihat Myung Hee yang yakin membuat Hyung Dae yang awalnya ragu pun memberanikan diri dengan modal nekad, dia menunggangi motor. Myung Hee pun berjalan mendekati motor dan duduk dibelakang Hyung Dae. 5 detik... 10 detik... 15 detik... Motor yang seharusnya sudah pergi meninggalkan halaman sekolah namun belum kunjung melaju sejak lima belas detik yang lalu,Hyung Dae nampak kaku duduk di atas motor dengan Myung Hee yang sudah menggerutu kesal padanya. "Sampai kapan bapak akan tetap disini? Ayolah pak,saya sudah telat untuk bekerja" sungut Myung Hee menatap Hyung Dae kesal. "Iya-iya,saya akan berhati-hati" sahut Hyung Dae menarik nafas dalam-dalam kemudian menyalakan mesin motor Myung Hee. Selama diperjalanan hanya ada keheningan diantara mereka berdua, dengan Myung Hee yang kesal sendiri. Bagaimana tidak? Hyung Dae mengendarai motor dengan kecepatan kurang dari 30 km/jam. Bukankah itu sangat lambat untuk digunakan dijalan raya? "Ini alien darat atau tikus tanah? Lama banget si pak" sungut Myung Hee menatap Hyung Dae jengah. "Naik motor itu harus mengutamakan keselamatan bukan kecepatan" sahut Hyung Dae dengan nada bijaknya. "Iya saya tahu,tapi ini mah kaya keledai mogok jalan pak" ejek Myung Hee sudah berusaha sabar. "Aish! Diam lah atau saya kurangi nilai kamu!" ancam Hyung Dae yang berusaha menenangkan dirinya untuk tidak gerogi. "Kenapa selalu saja ancamnya nilai atau tidak bu Areum? " Gerutu Myung Hee dengan mempoutkan bibir mungilnya. 'aku rasa ingin memperlambat waktu saja. Melihatnya kesal, membuatku ingin selalu menggodanya' batin Hyung Dae dengan sesekali melirik kaca spion. 'astaga! ini mah lama banget bisa-bisa aku telat nih' batin Myung Hee kesal. Setelah melewati nama-nama jalan dan perdebatan akan kecepatan, akhirnya mereka sampai disalah satu kompleks rumah mewah. "Terimakasih Myung Hee. Apakah kamu ingin mampir?" kata Hyung Dae setelah turun dari moto Myung Hee. "Tidak pak,lain kali saja. Saya sudah terlambat bekerja" tolak Myung Hee menggelengkan kepalanya. "Kenapa kamu bekerja? Seharusnya kamu memperbanyak pekerjaan bukan uang untuk sekarang!" tanya Hyung Dae mengerutkan keningnya bertanya-tanya. "Lain kali saya jelaskan. Ini sudah terlambat pak" ucap Myung Hee menancap gasnya. 'apakah dia berkerja? Bekerja apa memangnya? Bukankah dia berasal dari keluarga kaya? Sungguh membingungkan' batin Hyung Dae tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya. Myung Hee mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di minimarket tempat dirinya bekerja. Sesampainya disana ia langsung masuk untuk berganti pakaian dan menggantikan pekerjaan pekerja sebelumnya. Myung Hee yang terus-menerus melayani pelanggan dengan ramah. Hingga akhirnya dia mendapatkan telepon dari Eommanya bahwa keadaan Yuna semakin memburuk di rumah sakit. Setelah meminta izin dari Paman Choi. Myung Hee menjalan motor ke rumah sakit Yuna di rawat. ** "Eomma? Bagaimana kabar eonnie? Apakah eonnie sudah siuman?" Tanya Myung Hee dengan nafas memburu dan wajah khawatir. "Dasar anak tak tahu diri! Aku menyuruhmu datang secepatnya bukan? Sekarang pergilah ke ruangan pendonor darah. Cepat!" Teriak Yu Hee dan mendorong Myung Hee. "Baiklah eomma" sahut Myung Hee menganggukkan kepalanya pasrah kemudian berjalan menuju ruang dokter untuk melakukan pendonoran darah. Akhirnya Myung Hee pergi ke sebuah ruang donor darah,hari ini dia harus memberi donor untuk Yuna hanya satu kantong. "Sekarang sudah selesai nona Myung Hee" ujar sang perawat dengan ramahnya. "Terimakasih suster. Saya permisi" pamit Myung Hee meninggalkan ruang pendonoran darah. Myung Hee yang lelah dan lemas pergi ke sebuah taman rumah sakit kemudian duduk disana dengan termenung. 'jika aku hanya ditakdirkan untuk nyawa kedua baginya, apakah aku juga tak bisa merasakan cinta? Aku ingin tahu rasanya dicintai! Sampai kapan? Aku lelah berkata kalau diriku baik-baik saja sedangkan perasaan aku berkata lain' batin Myung Hee yang menatap langit malam yang nampak tenang. Malam ini mungkin Myung Hee harus selalu bersiap dan siaga jika ada sesuatu pada Yuna. Terbukti sekarang dia sedang duduk di bangku depan dengan memangku tas sekolahnya. Wajah lelah yang terpatri jelas, sesekali bibir mungilnya terus menguap. Sedangkan Yu Hee dia sudah tidur dengan nyaman di sofa dengan selimut tebal. Sungguh apakah ini dinamakan takdir yang adil? Tuhan begitu memberikan banyak cobaan untuk Myung Hee bahkan setiap detiknya. Dengan bermodalkan tas dan Hoodie dia tertidur di bangku ruang tunggu didepan ruangan Yuna. Berbeda dengan Myung Hee yang tengah kelelahan dan keterpurukannya, Hyung Dae justru nampak berseri-seri setelah baru saja menyelesaikan mandinya dan berniat beristirahat. "Hari ini melelahkan rupanya. Kenapa aku selalu memikirkan wajahnya yang menggemaskan? Apakah aku merindukannya? Aish! Mana mungkin?" "Sudahlah aku harus beristirahat dan berangkat besok,aku rasa besok aku harus mempersiapkan semuanya. Selamat tidur untuk seseorang disana" gumam Hyung Dae memposisikan tubuhnya di ranjang. ** Matahari menyambut pagi dengan tersenyum manis menampilkan cahaya yang bersinar. Hyung Dae yang sudah bersiap untuk berpakaian dan berangkat ke sekolah untuk mengajar. Hyung Dae berniat untuk menyapa indahnya pagi dengan segera sarapan dan pergi untuk mengajar,mengingat hari ini ada banyak rapat untuk persiapan acara HUT Seoul High School. Langkah riangnya terhenti ketika dirinya mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Myung Hee yang tidak kunjung muncul. Sudah hampir tiga puluh menit ia menunggu di lobby utama sekolah namun belum ada tanda-tanda Myung Hee datang,bahkan ia sudah menanyakan keberadaan Myung Hee pada Jae Ra yang juga tengah mencari keberadaan Myung Hee. 'apakah hari ini dia tak masuk lagi? Aku harus bertanya pada Ibu Areum nanti' batin Hyung mengamati parkiran motor dan mobil. Mengingat sekarang pukul delapan pagi yang dimana sudah saatnya siswa berangkat bahkan bersiap mengikuti mata pelajaran pertamanya. Hyung Dae yang sadar kalau seharusnya ia sudah berada di ruangannya pun memutuskan untuk kesana dan memulai kegiatannya sesuai jadwalnya, walaupun hati dan pikirannya masih kalut dengan keadaan Myung Hee saat ini. ** Dilain tempat Myung Hee tengah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah seperti biasanya,ia sudah berjanji pada Bu Areum untuk tidak bolos sekolah tanpa alasan lagi seperti sebelumnya. Setelah dirasa dirinya siap,Myung Hee berjalan keluar dari kamar mandi rumah sakit lalu mendekati Eommanya yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya. "Eomma,Myung Hee akan berangkat sekolah dulu" pamit Myung Hee yang sudah merangkul tas sekolahnya di punggungnya. "Ck...untuk apa sekolah?! Lagipula kamu selalu membuat ulah disana. Lebih baik kamu disini dan jaga Yuna" ucap Yu Hee dengan wajah remeh dan pergi untuk membeli makanan. Setelah Yu Hee pergi,akhirnya Myung Hee bisa duduk sebentar setelah 2 jam lamanya dia disuruh berdiri di dekat ranjang Yuna. 'seluruh badanku pegal dan kebas karena tertidur di kursi depan,jika aku ada kesempatan pergi maka aku akan pulang ke rumah Bu Areum saja' batin Myung Hee sambil memijat-mijat beberapa bagian tubuhnya yang pegal. Tak selang berapa lama, Yu Hee datang dengan membawa kresek hitam besar berisi sarapan untuknya dan Yuna. Yu Hee masuk ke dalam dan menyuapi Yuna tanpa memperdulikannya perut Myung Hee yang sudah keroncongan karena semalam ia tidak makan. 'aku lapar,tapi eomma tak memberiku makan sedikit pun. Yasudah lah...aku akan menahannya saja' batin Myung Hee dengan wajah pucatnya. Hari ini Myung Hee seharian berdiri di dekat ranjang dengan mengandalkan pegangan pada kursi. Wajah pucatnya yang terlihat jelas,bahkan mata yang mulai berkunang-kunang. Yu Hee yang melihatnya pun menghela nafas acuh lalu mendekati Myung Hee dengan wajah datarnya. "Ck...dasar lemah. Makan itu" sinis Yu Hee sambil menunjuk makanan bekasnya. "Terimakasih Eomma" sahut Myung Hee tersenyum manis pada Yu Hee lalu segera memakan-makanan sisa milik Yu Hee. Walaupun bekas tapi apa salahnya, asalkan dirinya bisa makan dia sudah sangat bersyukur. ** Jam pelajaran sudah mulai sekitar empat jam lamanya namun Hyung Dae belum kunjung bertemu dengan Myung Hee. Beberapa kali ia bertanya pada guru yang mengajar di kelas Myung Hee akan keberadaannya namun selalu mendapat jawaban yang sama yaitu 'Myung Hee tidak masuk tanpa alasan'. Ada perasaan khawatir, cemas dan mungkin rindu yang dapat dirasakan oleh Hyung Dae saat ini. Itu dapat dilihat dengan jelas karena sejak tadi Hyung Dae berjalan bolak-balik di ruangannya sambil memikirkan alasan ketidakhadiran Myung Hee di sekolah hari ini,ia ingin bertanya pada Bu Areum hanya saja waktu belum kunjung datang. Seketika Hyung Dae teringat akan alasan Myung Hee pergi terburu-buru setelah mengantarkannya pulang kemarin. 'kenapa Myung Hee bekerja? Seharusnya mementingkan belajar dan mencari pengetahuan bulan malah sibuk mencari uang demi kebutuhan hidup. Kenapa setiap sesuatu yang berhubungan dengannya begitu rumit untuk ditebak?' batin Hyung Dae terdiam sejenak. Berselang waktu,bel jam istirahat kedua pun berbunyi. Hyung Dae beranjak dari duduknya kemudian memutuskan keluar menemui seseorang untuk menanyakan keberadaan Myung Hee saat ini. Mungkin terdengar berlebihan tapi ia tidak bisa mengendalikan perasaan dan pikiran Myung Hee terus menghantuinya sejak pagi. Hyung Dae memasuki ruang guru yang cukup ramai dengan karyawan dan guru-guru yang tengah beristirahat sejenak melepas penat setelah mengajar. "Permisi Bu Areum. Apakah hari ini Myung Hee tak berangkat lagi? Saya mendapat laporan bahwa Myung Hee tak berangkat dari beberapa guru" ujar Hyung Dae pada Areum. "Hari ini saya tidak memiliki jadwal mengajar di kelasnya,jadi saya belum sempat bertemu atau bahkan mengetahui kabar ketidakhadirannya. Saya akan menghubungi Myung Hee nanti" Sahut Areum yang nampak cemas dengan keberadaan Myung Hee. "Baiklah, kalau begitu saya permisi. Maaf sudah mengganggu waktunya Bu" pamit Hyung Dae membungkukkan badannya sedikit kemudian berjalan pergi meninggalkan meja kerja Areum "Silahkan pak" Hyung Dae yang telah memberitahukan maksud kedatangannya pada Areum dan mendapatkan jawabannya pun memilih kembali ke ruangannya dengan perasaan gundah yang semakin besar. 'disaat kamu ada,kita selalu bertengkar dan beradu argumen namun disaat kamu tidak ada...ada perasaan rindu yang terbesit untukmu' batin Hyung Dae yang tersenyum sendu. Setelah mendapat kabar tentang ketidakhadiran Myung Hee, perasaan Areum semakin tidak enak mengingat perlakuan buruk keluarga Lee pada Myung Hee. 'kenapa kamu sulit sekali untuk dihubungi nak? Ibu khawatir dengan kondisi kamu saat ini' batin Areum setelah mencoba beberapa kali menghubungi nomor ponsel Myung Hee. "Apakah dia akan mendonorkan darahnya lagi?" pikir Areum dengan perasaan cemas yang terus melanda. 'Ini keterlaluan! sampai kapan Myung Hee terus diberlakukan seperti ini. Dia juga seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dan cinta kedua orangtuanya' 'Jika bukan karena Myung Hee yang meminta,sudah aku pastikan kedua orangtuanya masuk penjara atas tuduhan penggunaan hak asuh yang tak bisa di tolerir!' batin Areum mengepalkan tangannya untuk melampiaskan perasaan yang tidak menentu saat ini. ** Hari beranjak senja,Hyung Dae yang selesai membuat rencana dengan guru guru lain pun memutuskan untuk pulang. Di sepanjang perjalanan dirinya selalu mengingat Myung Hee yang tak berangkat hari ini. Bahkan bu Areum saja tak tahu alasan kenapa Myung Hee tak berangkat. Dengan perasaan tak nyaman Hyung Dae akhirnya sampai di rumahnya kemudian masuk untuk berganti pakaian dan beristirahat. ** Berbeda dengan Myung Hee yang sedang berdiri di pintu ruang rawat inap Yuna, wajahnya yang masih terlihat gusar apalagi mengingat dirinya belum mengabari Bu Areum karena ponselnya lowbat. Myung Hee yang terus terlihat gusar apalagi dengan kata dokter yang mengatakan bahwa beberapa bulan kemungkinan Yuna memerlukan donor ginjal atau jantung. 'apa yang harus aku lakukan? Apakah aku perlu mengatakannya pada Bu Areum? Jika dia tahu, apakah semuanya akan baik-baik saja?' batin Myung Hee yang masih gusar. Waktu menandakan pukul 3 dini hari tapi Myung Hee tak kunjung tidur karena perintah Yu Hee untuk menjaga Yuna sampai besok pagi. ** Keesokan harinya di rumah sakit pukul enam tepat. "Yak, bangunlah! Cepat bersiap untuk bertemu dokter,hari ini Yuna membutuhkan donor darah lagi" suruh Yu Hee dengan memaksa. "Baiklah eomma" pasrah Myung Hee yang awalnya tidur di bangku tunggu depan ruangan inap dan berjalan menuju ruangan dokter untuk mendonorkan darah lagi. Hari demi hari berlalu membuat Myung Hee tahu dimana tempatnya di keluarga Lee ini. Ia hanya mendapatkan nama marga dari keluarga tanpa dijadikan bagian dari keluarga. 'kenapa kehidupanku sebegitu mirisnya? Jika waktu itu tiba,aku hanya ingin satu permintaan yang selama ini aku inginkan pada Tuhan dan kedua orangtuaku' batin Myung Hee tersenyum miris disepanjang jalan koridor rumah sakit. ** Di pagi yang cerah nan sejuk ini,Hyung Dae sudah bersiap pergi ke sekolah untuk mengajar. Ia berdoa agar hari ini sesuatu yang ia harapkan akan terkabulkan walaupun belum ada kepastiannya. Hyung Dae memutuskan untuk mengendarai mobil pribadinya untuk berangkat mengajar ke sekolah. Sesampainya ia langsung memutuskan untuk pergi ke ruangannya dan bersiap untuk mengajar tiga kelas hari ini. Tak perlu waktu lama bel berbunyi menandakan waktu pelajaran akan dimulai,pagi ini ia mendapat jadwal untuk mengajar bimbingan konseling di kelas Myung Hee. "Selamat pagi anak-anak" sapa Hyung Dae dengan tersenyum simpul pada setiap murid di kelas. "Selamat pagi juga pak!" jawab mereka serempak dengan ceria. "Apakah hari ini ada yang tidak berangkat ke sekolah?" tanya Hyung Dae mengeluarkan buku kehadiran kelas. "Ada pak, hari ini Lee Myung Hee tidak berangkat lagi tanpa alasan" jawab sang ketua kelas dengan nada lantang. "Benarkah?" tanya Hyung Dae memastikan,karena dirinya berharap Myung Hee datang dan menyapa walaupun sebentar. "Iya pak!" jawab seluruh murid kelas dengan nada yakin. "Yasudah, mari kita lanjutkan materi bimbingan Minggu lalu" Hyung Dae membuka buku paket yang ia bawa dan mengarahkan anak didiknya untuk membuka halaman yang akan ia bahas dipertemuan kali ini. Selama pelajaran Hyung Dae sesekali menatap bangku kosong di dekat Jae Ra yang dimana tempat duduknya Myung Hee. 'apakah dia baik-baik saja? Bahkan hari ini dia tak berangkat lagi? Aku semakin khawatir saja. Lebih baik aku cari tahu sendiri' batin Hyung Dae yang menatap kearah bangku Myung Hee. Selama pelajaran Hyung Dae tidak henti-hentinya melirik ke arah bangku Myung Hee dengan perasaan khawatir. Apalagi ini sudah 2 hari Myung Hee tidak berangkat tanpa alasan. ~~ Hari semakin beranjak sore, waktu pulang sekolah pun telah tiba. Hyung Dae segera beranjak dari sekolah untuk pulang dan berganti pakaian. Setelah selesai bersiap Hyung Dae pun memutuskan untuk pergi menemui Myung Hee dengan harapan semoga Myung Hee baik-baik saja selama dua hari belakangan. Hampir dua jam lamanya Hyung Dae menemui beberapa orang yang Myung Hee kenal tapi mereka mengatakan tidak tahu keberadaan Myung Hee saat ini. Tak hanya itu bahkan rumah yang Myung Hee tempati tidak berpenghuni beberapa waktu belakangan ini. 'kenapa aku sangat mengkhawatirkan dirimu? Seharusnya aku tak perlu sepeduli ini pada seseorang apalagi dia hanya murid ku. Apakah ini yang dinamakan rindu? Aku khawatir,cemas dan ada rasa kehilangan. Kenapa ini sangat membingungkan? Kamu dimana Myung Hee?' Batin Hyung Dae dengan wajah frustasi yang mendominasi. Lelah kesana kemari, Hyung Dae memutuskan pergi ke sebuah taman untuk menenangkan pikirannya sejenak, hingga matanya yang tiba-tiba tertarik pada seseorang gadis cantik dengan kardigan yang dipadukan dengan kaos putih polos sedang berdiri menatap lurus kedepan. Tanpa pikir panjang Hyung Dae langsung beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati gadis tersebut. Setelah jaraknya semakin dekat,Hyung Dae menepuk pundak gadis itu dan memeluknya erat seakan tak mau dia pergi lagi. "Pak? Apa yang-" ucapan gadis itu terpotong. "Biarkan seperti ini dulu,aku hanya ingin tahu perasaan apa yang aku rasakan sekarang. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama dengan ku?" Wajah cantik itu langsung tertuju pada manik mata Hyung Dae dan meminta kejelasan apa yang telah dikatakannya. "Aku rasa...." **** Kenapa disaat kamu akan pergi hatiku tidak mengizinkannya? Apakah ini rinduku yang terbatin padamu? (Kim Hyung Dae) ~~~ Kamu datang membawa rasa yang tak pernah aku rasakan. Akankah ini awal atau akhir dari segalanya? (Lee Myung Hee) To Be Continue...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN