Where Is She?

3450 Kata
Sesaat aku bisa bersyukur tapi disaat itu pula aku berkata lainnya. (Kim Hyung Dae) **** Dengan langkah lesu nya, Myung Hee berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit yang semakin ramai oleh orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka. Ditengah keramaian pun Myung Hee dapat merasakan kesepiannya,bukan suasana yang sepi melainkan hati dan jiwanya yang merasakan begitu lamanya kehilangan kebahagiaan. Setelah selesai mengikuti prosedur dan proses pendonoran darah, Myung Hee memutuskan pergi meninggalkan lingkungan rumah sakit menuju sebuah taman yang nampak rindang dengan dedaunan yang bersemi seperti mana musimnya. Setidaknya dengan ini ia dapat merasakan kenyamanan untuk tersenyum walau hanya dalam hati kecilnya,sudah terlalu banyak yang ia lalui hingga lupa seperti apa cara tersenyum tulus tanpa dipaksakan oleh keadaan. Langkahnya yang lunglai terhenti sejenak menatap bangku taman yang kosong tak berpenghuni, ia memutuskan untuk duduk merenungkan nasib hidupnya yang begitu malang. 'sampai kapan aku bisa bertahan? Jika hari ini dan kemarin terus terulang dalam hidupku, apakah aku masih bisa berkata baik-baik saja? Kenapa Tuhan memberi aku begitu banyak cobaan yang bertubi-tubi' batin Myung Hee duduk termenung dengan tatapan kosong yang mengarah pada danau kecil dihadapannya. Namun disaat itu pula ia merasakan debaran dalam hatinya yang datang tanpa diminta,Myung Hee semakin dibuat kaku oleh keberadaan Hyung Dae yang juga ada di taman itu sambil duduk termenung. Tanpa pikir panjang Myung Hee memutuskan pergi dari taman itu untuk ke tempat ia bekerja lebih awal. ** Sedangkan Hyung Dae yang tengah memejamkan matanya seketika terbuka lebar saat menyadari kalau apa yang ia lihat hanya khayalannya semata. 'hah...ternyata itu hanya khayalan ku semata. Apakah aku sebegitu merindukan dia? Seharusnya aku senang dia pergi dan tak membuat ulah? Ada apa dengan diriku?' batin Hyung Dae yang tengah frustasi dengan sikapnya yang berubah-ubah hanya karena memikirkan Myung Hee. Hyung Dae menggelengkan kepalanya berharap kalau ia bisa mengenyahkan bayang-bayang Myung Hee dari pikirannya,disaat ia menatap kearah lainnya Hyung Dae melihat seorang gadis yang tengah terduduk di taman yang dapat ia simpulkan itu adalah Myung Hee. 'aku seperti mengenalnya. Dari bentuk tubuhnya itu seperti Myung Hee. Apakah itu benar Myung Hee?' batin Hyung Dae mulai beranjak dari dudukku. Seketika tubuh Hyung Dae menegang, perasaannya yang berubah menjadi senang pun membuatnya tidak dapat mengendalikan pergerakan tubuhnya. Tanpa pikir panjang Hyung Dae berjalan mendekati gadis tersebut dengan langkah panjangnya, namun belum kunjung sampai gadis tersebut sudah pergi berlari meninggalkan Hyung Dae yang terpaku ditempatnya menatap punggung kecil. 'aku yakin dia Myung Hee. Tapi Kenapa dia berlari menghindari diriku? Aku yakin dia memiliki alasan dibaliknya,aku harus cari tahu' batin Hyung Dae berlari meninggalkan taman untuk masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di depan taman. Sampai didalam mobilnya, Hyung Dae memutuskan untuk menghubungi Bu Areum untuk mencari tahu tempat Myung Hee bekerja. Tak selang waktu lama, pesannya mendapatkan jawaban dari Bu Areum. Hyung Dae tersenyum manis dengan perasaan yang sulit dijelaskannya,ia memutuskan untuk mencari alamat yang telah dikirimkan oleh Bu Areum untuk memastikan kalau Myung Hee berada disana saat ini. Dari taman menuju minimarket tempat Myung Hee bekerja memang tidak terlalu jauh,ia hanya memerlukan waktu sekitar lima sampai sepuluh menit untuk sampai disana. Sesampainya disana,Hyung Dae memarkirkan mobilnya dengan jangkauan dekat namun tidak terlihat jelas oleh Myung Hee pastinya. 'dimana dia? Apakah dia tak berangkat bekerja atau memang aku salah alamat? Tapi ini sudah sesuai dengan alamat yang diberikan Bu Areum. Lebih baik aku tunggu saja' batin Hyung Dae yang masih duduk di bangku pengendara. ** Myung Hee yang berlari dari taman dengan menggunakan jalan pintas akhirnya sampai dengan nafas tersengal-sengal. Beberapa kali menghela nafas untuk menetralkan detak jantungnya yang menggila karena dia hampir ketahuan oleh Hyung Dae tadi. 'untung saja aku bisa menghindari pak Hyung Dae. Kalau tidak mana mungkin aku bisa menjelaskan alasan kenapa aku tak berangkat dua hari ini. Hah...ini sungguh melelahkan' batin Myung Hee yang mulai masuk ke minimarket . Myung Hee yang baru saja masuk kedalam minimarket mulai bekerja seperti biasa tanpa memedulikan keadaan sekitar. Itulah yang membuat sepasang mata mudah memperhatikannya lebih lekat. Waktu sekarang menandakan pukul 8 malam sedangkan Myung Hee yang sedang bersiap untuk pulang pun berpamitan pada paman Choi. "Paman? Aku akan pulang sekarang. Mungkin eomma sudah mencariku. Aku pamit, sampai jumpa" ucap Myung Hee dengan membungkukkan badan. "Baiklah, hati-hati dijalan ya. Pulanglah dengan naik bus, sepertinya bus belum terlambat" sahut paman Choi tersenyum simpul pada Myung Hee yang selalu bersikap sopan dan ramah padanya maupun pelanggan yang datang ke tokonya. "Tentu saja paman,paman juga hati-hati jika ingin pulang. Sampai jumpa besok" ujar Myung Hee tersenyum manis kemudian melambaikan tangannya pada paman Choi. "Pastinya, sampai jumpa juga nak!" balas paman Choi yang juga melambaikan tangannya pada Myung Hee. Setelah berpamitan Myung Hee dengan segera keluar dari minimarket dan berjalan seakan-akan tak menyadari bahwa seseorang sedang menatapnya. Dengan sigapnya seseorang menahan Myung Hee dengan tangan kekar dan suara bariton yang terdengar familiar pada pendengaran Myung Hee. Seketika Myung Hee berbalik dan menatap terkejut,Myung Hee yang belum siap untuk melarikan diri pun langsung ditarik oleh seseorang untuk masuk ke dalam mobilnya. ** Hyung Dae yang menatap Myung Hee dari tadi hanya bisa menunggu. Menatap lurus ke arah Myung Hee tanpa berpaling yang membuatnya mengakui sesuatu pada dirinya. 'kenapa dia cantik dan sopan saat melayani pelanggan. Senyumnya yang manis dan tatapan teduh yang membuatku semakin yakin bahwa aku akan mencintainya. Apakah aku mencintainya? Hah....kenapa sebuah perasaan begitu rumit? Bahkan lebih rumit dari skripsi kuliah' batin Hyung Dae tersenyum manis dengan menatap Myung Hee tanpa berpaling. Bosan? Mungkin saja tidak, Hyung Dae yang terus menatap tanpa berpaling dengan sesekali terkekeh kecil akan kelakuan Myung Hee. Sikap apa yang dilakukan oleh Hyung Dae ini? Pukul delapan malam pun tiba dimana waktunya Myung Hee untuk keluar dari minimarket. Keluarnya Myung Hee dari mini market dapat memudahkan Hyung Dae yang sejak tadi menunggu kepulangan Myung Hee dari pekerjaannya. Tanpa pikir panjang ia berjalan keluar untuk mendekati Myung Hee yang tengah berjalan dari arah belakang mobilnya. "Myung Hee-ya?! Ikut saya!" ucap Hyung Dae dengan menggenggam tangan Myung Hee dan membuka pintu mobil. Sekarang Hyung Dae yang sudah duduk di kursi belakang bersama Myung Hee disampinginya. Tatapan lekat yang terlontar entah dari Myung Hee maupun Hyung Dae. Entah keberanian apa yang membuat Hyung Dae mendekat pada Myung Hee dan memeluknya erat seakan takut kehilangannya. Grep .. "Kamu darimana saja? Apakah kamu tahu? Aku mencarimu dari tadi siang. Apakah kamu sakit atau ada sesuatu yang membuatmu harus tak masuk? Jangan membuatku khawatir" cecar Hyung Dae dengan memeluk Myung Hee erat seakan tak mau dia pergi. "Pak? Apa yang-" ucap Myung Hee yang ingin melepaskan pelukannya. "Aku mohon sebentar saja. Biarkan aku tahu perasaan apa ini. Aku mohon" sela Hyung Dae membelai rambut Myung Hee. "Tapi-" Myung Hee merasa yang dilakukan Hyung Dae bukanlah yang seharusnya dilakukan pun berusaha tetap melepaskan diri dari dekapan Hyung Dae. "Sstt! Aku mohon sebentar saja" pinta Hyung Dae yang semakin mengeratkan pelukannya pada Myung Hee. Sesaat keduanya semakin larut pada kenyamanan yang hadir dalam pelukan ini. Degup jantung masing-masing yang menggila tanpa diminta dapat menimbulkan suasana romantis yang dapat mereka rasakan tanpa sadar. "Apakah kamu merasakan yang sama seperti ku?" tanya Hyung Dae dengan menangkup kedua pipi Myung Hee lembut. "Apa yang bapak maksud?" sahut Myung Hee mengerutkan keningnya bertanya-tanya dengan maksud perkataan Hyung Dae. "Bisakah kamu memanggilku dengan sebutan nama saja? Kita sedang berada diluar sekolah" pinta Hyung Dae yang merasa kurang nyaman dengan panggilan formal dari Myung Hee. "Tapi-" Myung Hee merasa ini sudah berlebihan pun mencoba menolaknya permintaan Hyung Dae,ia tidak ingin dianggap kurang ajar karena memanggil gurunya hanya dengan nama. "Ucapkanlah!" sela Hyung Dae lagi dengan tatapan memohon nya. "H-Hyung Dae" Lirih Myung Hee yang terhipnotis oleh tatapan mata penuh kharisma Hyung Dae. Hyung Dae yang mendengar pun hanya bisa tersenyum manis dengan matanya menelisik setiap inchi wajah cantik natural yang terpampang jelas pada Myung Hee dari mata, hidung kecil yang menggemaskan dan... Bibir mungilnya yang berwarna pink natural. 'sial... bibirnya menggoda. Apakah bibirnya manis? Aku ingin mengecupnya atau hal lebih? Ini membuatku gila' batin Hyung Dae yang ayal melihat bibir mungil Myung Hee. Keduanya yang semakin larut oleh tatapan masing-masing pun tanpa sadar mendekat dengan nafas memburu dan jantung berdegup kencang. "Hyung Dae-shi!" panggil Myung Hee mencoba menahan pergerakan Hyung Dae yang ingin mendekatinya lagi. "Sssttt..." jari telunjuk Hyung Dae mendarat tepat di bibir Myung Hee yang membuat keduanya merasakan sesuatu hal yang baru. Tatapan Hyung Dae terkunci pada jari telunjuknya yang mendarat tepat di bibir mungil itu. Hingga tanpa sadar dirinya mendekatkan wajahnya pada wajah Myung Hee. Cup.... Kecupan manis yang Hyung Dae berikan lama kelamaan menjadi sebuah lumatan lembut. Mata Myung Hee yang mendapat kecupan terbelalak namun lama kelamaan dirinya sadar,sambil menepuk-nepuk bahu Hyung Dae untuk memberontak. Tapi hasilnya Hyung Dae yang malah menarik tengkuk lehernya,ciuman yang semakin dalam dengan dekapan hangat Hyung Dae. Myung Hee yang awalnya memberontak lama kelamaan memejamkan matanya dengan tangannya yang bersinggah pada kedua bahu Hyung Dae. 3 menit.. 4 menit.. 5 menit.. Myung Hee yang mulai kehabisan nafas hanya bisa menepuk-nepuk pundak Hyung Dae dan Hyung Dae yang rela tak rela melepaskan ciuman yang memabukkan untuknya. Tatapan lekat yang terpancar pada Hyung Dae dengan Myung Hee yang masih mengatur nafas. Hyung Dae yang menarik dagu Myung Hee untuk melihat manik matanya yang indah dan melihat bibirnya yang membengkak sedikit membuat Hyung Dae tersenyum tipis. 'manis... bibirnya manis. Apakah ini rasanya dibuat candu oleh kehadiran dan perasaan nyaman? Kenapa setiap kecupan itu tak ingin aku relakan pergi begitu saja?' batin Hyung Dae yang masih terhipnotis oleh tatapan mata polos Myung Hee. "Apakah kamu mencintaiku?" Tanya Hyung Dae tiba-tiba saja. "...." Tak ada jawaban dari Myung Hee yang justru masih terpaku oleh perlakuan Hyung Dae barusan dan sekarang pertanyaan mengenai perasaannya pada Hyung Dae. Myung Hee yang masih menetralkan detak jantungnya dan kegugupannya pun masih enggan untuk menjawabnya. Tapi kali ini dia lebih terkejut saat dirinya mendapat pertanyaan yang membuat hatinya semakin bimbang. 'apa ini? Kenapa ini semakin membuatku bimbang? Jauh dari hati ini, melihatmu pertama kali saja membuatku hampir berpikir seperti itu. Apakah aku mencintainya? Akh...ini membuatku semakin gila saja' batin Myung Hee yang masih menatap Hyung Dae polos. "Myung Hee-ya? Apakah kamu baik-baik saja? Pipimu memerah dan aku rasa nafas kamu juga terus memburu. Apakah perlu kita pergi ke rumah sakit?" Tanya Hyung Dae yang terlihat jelas khawatir dengan beruntun bahkan sekali nafas. "S-saya baik-baik saja" jawab Myung Hee singkat dan gugup dengan wajah yang masih memerah. "Apakah salah aku merindukanmu? Apa salah juga aku menyayangimu?" Tanya Hyung Dae dengan menatap lekat. "Apa yang bapak katakan?" "Aku harus pergi, permisi" ucap Myung Hee gugup dengan tangannya yang ingin membuka pintu mobil. "Aku belum selesai berbicara denganmu" ujar Hyung Dae dengan menggenggam tangan Myung Hee yang ingin pergi keluar dari mobilnya. Melihat Myung Hee yang masih diam tanpa pergerakan apapun, Hyung Dae menarik kembali Myung Hee kedalam dekapannya. "Jangan pergi lagi,aku akan khawatir" lirih Hyung Dae menatap lekat Myung Hee. "Saya harus pergi sekarang,Eomma pasti mencari-cari keberadaan saya saat ini" jelas Myung Hee mencoba mendorong tubuh Hyung Dae agar menjauh. "Baiklah,aku antar ya? Aku akan tenang jika kamu sampai ditempat tujuan dengan selamat" tawar Hyung Dae menggenggam tangan Myung Hee. "Tidak perlu,saya akan pulang sendiri saja" tolak Myung Hee mencoba melepaskan genggaman tangan Hyung Dae darinya. "Tanpa penolakan" tegas Hyung Dae dengan tatapan tajamnya menghunus. Myung Hee tergelak dan langsung terdiam, kemudian Hyung Dae menggenggam tangan Myung Hee dengan lembut sambil membelai halus punggung tangannya. Selama perjalanan Hyung Dae hanya menatap kedepan dengan sesekali melirik Myung Hee yang terdiam. "Maafkan aku,aku tidak bermaksud membentak kamu" ujar Hyung Dae dengan nada lembut kemudian tersenyum manis pada Myung Hee yang berada disampingnya. "Tidak apa-apa pak" sahut Myung Hee tanpa membalas senyuman Hyung Dae. Myung Hee mengalihkan perhatiannya ke luar jendela yang nampak ramai oleh kendaraan roda dua dan roda empat, pikirannya kembali melayang-layang membayangkan sikap yang akan ia peroleh nanti dari Eommanya. "Aku harus mengantar kamu kemana? Katakanlah" tanya Hyung Dae memecah keheningan mobil. "Rumah sakit xxx" sahut Myung Hee singkat. "Siapa yang sakit?" tanya Hyung Dae yang tidak ingin keadaan mobil kembali hening. "Yuna eonnie,dia sedang sakit sejak beberapa waktu lalu" jawab Myung Hee dengan nada lirih. 'jadi ini alasan dirinya tak berangkat sekolah. Syukurlah dia tidak melakukan hal yang macam-macam' batin Hyung Dae menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum lega. Keadaan mobil kembali hening hingga akhirnya mereka sampai di depan lobby rumah sakit seperti mana alamat yang Myung Hee katakan tadi, tanpa pikir Myung Hee langsung turun dari mobil. "Tunggu!" sergah Hyung Dae menarik pergelangan tangan Myung Hee. "Ada apa pak?" tanya Myung Hee mengerutkan keningnya bertanya-tanya dengan maksud Hyung Dae menahannya kembali di mobil. "Hari semakin malam,kamu harus beristirahat. Jika ada sesuatu hubungi aku atau Bu Areum,kamu mau aku jemput besok untuk berangkat ke sekolah bersama?" ujar Hyung Dae sambil memberikan secarik kertas dimana disitu telah tertulis nomor ponselnya. Bukan hanya itu, Hyung Dae sebenernya tidak ingin Myung Hee cepat-cepat pergi darinya. "Baik pak,saya bisa berangkat sekolah sendiri. Bapak tidak perlu menjemput saya" sahut Myung Hee menolak ajakan Hyung Dae untuk berangkat bersama. "Kamu yakin?" tanya Hyung Dae memastikan. "Yakin pak, terimakasih sudah mengantar saya dan sampai jumpa lagi" pamit Myung Hee tersenyum manis kemudian keluar dari mobil Hyung Dae. "Sama-sama, sampai jumpa juga" balas Hyung Dae tersenyum simpul pada Myung Hee yang hendak keluar dari mobilnya. Hyung Dae yang melihat Myung Hee terburu-buru hanya bisa menghela nafasnya kemudian memutuskan untuk meninggalkan lobby rumah sakit. 'aku berharap kita bisa bertemu besok dengan perasaan berbeda,aku akan menunggu kehadiran kamu besok di sekolah. Selamat malam Myung Hee-ya' batin Hyung Dae tersenyum manis mengingat ciuman manisnya bersama Myung Hee. ** Myung Hee yang baru saja keluar dari mobil Hyung Dae pun tengah berusaha berlari dari lobby menuju ruang rawat inap Yuna. Sesampainya ia disana,Myung Hee dapat melihat Eommanya tengah duduk dengan wajah dinginnya seperti menunggu seseorang untuk melupakan kemarahan yang tengah ia pendam saat ini. Dengan langkah lunglai ia berjalan mendekati Eommanya dan mencoba tersenyum menyapanya. 'semoga Eomma tidak memarahi aku lagi,hari ini sudah cukup aku lelah dengan keadaan Yuna eonnie dan sikap pak Hyung Dae yang aneh' batin Myung Hee menghela nafas panjangnya. Langkah Myung Hee dapat didengar oleh Yu Hee,Yu Hee mengalihkan perhatiannya pada arah suara yang ia dengar dan benar saja...ia dapat melihat Myung Hee berjalan mendekatinya dengan wajah pias. "Dasar tak tahu diri...aku hanya mengijinkan dirimu pergi untuk bekerja bukan untuk keluyuran. Dasar tak tahu balas Budi.." marah Yu Hee dengan makian seperti biasanya. "Maaf eomma. Tadi aku harus berjalan kaki karena bus kota sudah selesai beroperasi" sahut Myung Hee berbohong lagi. "Ck! Alasan lagi. Cepat temui dokter,ada yang ingin dokter bicarakan" perintah Yu Hee pada Myung Hee. "Baik eomma" jawab Myung Hee menganggukkan kepalanya kemudian berjalan menuju ruang dokter. Myung Hee yang hanya bisa menurut pergi ke ruang dokter untuk mengetahui perkembangan sakit Yuna. Disisi lain Hyung Dae baru saja selesai membersihkan diri dan berganti pakaian pun memutuskan untuk duduk sejenak merenungkan kembali atas apa yang lakukan beberapa hari belakangan ini setelah bertemu Myung Hee. 'aku bisa gila jika terus seperti ini. Bagaimana aku bisa menghadapinya besok pagi? Argh....tapi apakah aku benar-benar mencintainya? Aku harus buktikan itu' batin Hyung Dae dengan mengusap rambutnya dan tersenyum malu. Mungkin pipinya sudah memerah sekarang akibat bayang-bayang dirinya dan Myung Hee yang tengah berciuman tadi. Hyung Dae menggelengkan kepalanya berharap kalau semua bayang-bayang itu pergi,ia berjalan menuju tempat tidurnya dan memutuskan untuk tidur agar ia tidak terlambat mengajar besok. ** Kota Seoul telah berganti pagi yang cerah nan sejuk seperti biasanya,suasana cerah seperti hati milik Hyung Dae. Pagi menandakan pukul delapan pagi tapi Hyung Dae tak kunjung melihat tanda-tanda Myung Hee akan datang ke sekolah. 'apakah dia tak berangkat lagi? Kenapa aku semakin khawatir padanya? Argh! sungguh menyebalkan!' batin Hyung Dae yang memilih pergi ke kelas untuk mengajar. ** Sedangkan Myung Hee yang masih berdiri dari pukul 4 dini hari dengan wajah pucatnya yang lelah terus saja memaksakan dirinya untuk menunggu kepastian dokter. Yah, beberapa pukul lalu Yuna dinyatakan mengalami komplikasi akhirnya dokter sedang menangani Yuna dengan cepat di ruang ICU. Dokter yang keluar dari ruangan ICU dan menyatakan bahwa Yuna baik-baik saja hanya perlu satu kantong darah lagi. Yap... Myung Hee mendonorkan darahnya lagi. Sungguh cobaan yang tidak akan ada henti-hentinya! ** Sedangkan di sekolah, Kyuhyun sedang termenung dengan wajah khawatir menghiasi seluruh suasana hatinya sejak dua hari yang lalu. 'kamu dimana? Apakah kamu baik-baik saja? Aku sangat khawatir dan cemas pada kamu. Apakah perlu aku mencari mu? Tapi jika aku mencari kamu, apakah kamu akan marah lagi padaku? Argh...ini sungguh menjengkelkan' batin Kyuhyun dengan perasaan serba salahnya. Lamunan Kyuhyun yang buyar dengan sebuah tepukan dipundaknya,seketika dia menoleh untuk melihat siapa yang telah menepuk pundaknya. "Kamu sedang apa Kyu? Apakah kamu sedang tidak baik-baik saja sekarang?" Tanya seseorang itu dengan nada bersahabat. "Aku sedang memikirkan keadaan gadis itu Hyung,aku tidak melihatnya berada di sekolah selama dua hari. Itu membuatku tidak bisa berpikir jernih" jawab Kyuhyun menyugar rambutnya kebelakang tanda kalau ia tengah dibuat frustasi. "Apakah kamu sedang memikirkan gadis itu?" tebaknya yang tepat sasaran. "Yah,aku memikirkannya. Sudah lama aku tak bertemu dengannya sejak 2 tahun yang lalu,sekarang setelah bertemu lagi tapi dia menghilang beberapa waktu belakangan ini. Aku ingin sekali mencari dan menemukan dirinya tapi aku sudah berjanji padanya untuk tidak menemuinya lagi" ucap Kyuhyun dengan menatap sendu arah depan. "Kyuhyun-ah! Terkadang kamu perlu melakukan yang ia benci. Karena tujuan utamamu hanya ingin melihat kondisinya bukan? Jika kamu ingin menemukan dan mencarinya, carilah dan buat dia menerima dirimu lagi disisinya. Aku akan mendukungmu selagi itu memang terbaik untukmu. Kamu pasti bisa Kyuhyun-ah" kata seseorang itu dengan tersenyum tipis dan menenangkan. "Apa Hyung yakin?" tanya Kyuhyun yang sedikit ragu dengan saran dari Hyung nya ini. "Tentu saja,aku akan membantu selagi bisa" ujar orang itu menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum simpul pada Kyuhyun. "Terimakasih Yong Jin hyung. Aku akan mengikuti saran darimu, doakan agar aku berhasil mendapatkannya lagi" Kyuhyun tersenyum manis pada Yong Jin kemudian menepuk pundak Hyung nya. "Kamu sudah aku anggap sebagai adikku. Jagalah dia dan jangan pernah sakiti dia lagi" nasehat Yong Jin. "Tentu saja Hyung" Kyuhyun menganggukkan kepalanya yakin. "Ck..sudah jangan galau lagi. Lebih baik kita ke ruang rapat guru,sudah dipanggil oleh Hyun Joong tadi" "Baiklah,ayo Hyung" Kyuhyun dan Yong Jin pun pergi ke ruang rapat untuk mendiskusikan semua keperluan mereka besok. Bersamaan dengan Hyung Dae yang sama-sama datang dengan membawa raut wajah lesu. Apa yang ia pikirkan ya? 'hah...kenapa dia selalu ada di pikiran ku. Bisakah dia aku lupakan sebentar? Aish...aku bisa gila kalau seperti ini. Aku harus fokus,fokus Hyung Dae!' batin Hyung Dae mencoba fokus pada rapat. Tak hanya Hyung Dae yang tak fokus, Kyuhyun pun juga selalu melamun kan sosok yang ia rindukan dan ia sayangi. 'kamu dimana,kenapa kamu selalu terngiang di pikiranku. Aish ..aku bisa gila jika seperti ini terus. Aku harus mencarinya nanti, sekarang lebih baik aku fokus ke rapat ini' batin Kyuhyun mengalihkan pada buku catatannya. Waktu tak terasa menandakan pulang,bel berbunyi dengan nyaring ke seluruh penjuru sekolah ini. Hyung Dae dan Kyuhyun sama-sama terburu-buru membereskan perlengkapannya kemudian berlari menuju mobil masing-masing. Tatapan lima laki-laki itu tidak jauh dari sikap Kyuhyun dan Hyung Dae yang merasa heran pada mereka berdua. "Apakah kalian tahu mereka berdua mau kemana?" Tanya Hyun Joong pada yang lain. "Tadi Hyung Dae dan Kyuhyun mengatakan kalau ada urusan mendadak" jawab Jung Min dengan wajah polosnya. "Apa kamu juga tahu urusan apa yang mereka maksud?" tanya Hyun Joong pada Jung Min. "Sebelum aku menanyakannya,mereka malah berlari pergi. Sungguh menyebalkan!" sungut Jung Min yang kesal pada kedua manusia tadi. "Kamu saja yang lelet!" sarkis Dong Gi tanpa memedulikan raut wajah Jung Min. "Aish! Kau jahat sekali Hyung!" "Masa bodo!" sahut Dong Gi dengan memutar bola matanya malas. "Sudah-sudah lebih baik kita bersiap untuk pulang" ajak Hyun Joong diangguki oleh semuanya. "Baiklah,ayo pulang" sahut Yong Jin berjalan mendahului yang lainnya. Mereka pun bersiap untuk pulang dengan membawa beberapa perlengkapan maupun catatan. ** Sedangkan ditempat lain, Myung Hee yang tengah sibuk mencari makanan untuk Yu Hee dan Yuna. Setelah lelah berkeliling dengan berjalan kaki,dia akhirnya menemukan restoran yang dimaksud Yu Hee tadi. Selesai memesan makanan dan membawanya untuk pulang ke rumah sakit,tapi... "Myung Hee-ya?!" Panggil seseorang dengan nada lantang Myung Hee yang terkejut segera berbalik badan menatap siapa yang memanggilnya. "Sedang apa bapak disini?" tanya Myung Hee dengan wajah terkejutnya. "Aku mencarimu,kenapa kamu tidak berangkat? Apakah kamu baik-baik saja? Atau ada masalah? Ayo jelaskan padaku. Aku khawatir padamu" cecar seseorang itu dengan wajah khawatir sekaligus senang karena bertemu dengan Myung Hee. "Saya baik-baik saja. Saya harus pergi pak" jawab Myung Hee yang hendak meninggalkan orang itu. "Saya belum selesai bicara"ucap seseorang itu dengan menggenggam pergelangan tangan Myung Hee lembut. "Lepaskan" Myung Hee mencoba melepaskan genggaman tangan orang itu dari pergelangan tangannya namun tidak kunjung berhasil. "Tidak akan pernah!" **** Biarkan aku pergi karena janjiku yang harus ku penuhi. (Lee Myung Hee) To Be Continue...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN