See You Again

3322 Kata
Ketidakhadiran kamu memunculkan perasaan kehilangan begitu juga kehadiran kamu yang memunculkan perasaan kebahagiaan. (Kim Hyung Dae) **** Myung Hee membalikkan badannya menatap seseorang yang sudah mencegahnya agar tidak pergi, ternyata dugaannya benar. Kim Hyung Dae,pria itulah yang membuat langkah terburu-buru nya harus terhenti. Cengkraman tangan Hyung Dae yang semakin erat membuat Myung Hee mau tak mau meladeni Hyung Dae sekarang ini. "Apa yang bapak mau?!" tanya Myung Hee menghadapkan tubuhnya tepat dihadapan Hyung Dae. "Saya mengkhawatirkan kondisi kamu,kenapa kamu tidak berangkat sekolah tadi? Apa terjadi sesuatu pada kamu?" Cemas Hyung Dae dengan menatap wajah Myung Hee. "Lebih baik bapak jangan mengkhawatirkan diri saya, khawatirkan saja diri anda sendiri" balas Myung Hee dengan nada dingin namun tatapan yang beralih dari Hyung Dae. "Apakah aku melakukan kesalahan padamu?" Tanya Hyung Dae dengan nada lembutnya dan tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Myung Hee. "Setelah apa yang bapak lakukan kemarin anda masih bisa bertanya?!" jelas Myung Hee terkesan dingin nan tajam. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud lancang mencium kamu. Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan aku?"! permintaan Hyung Dae dengan nada memelas. "Lebih baik bapak menjauh dari saya. Saya harus pergi, sampai jumpa" ucap Myung Hee mulai berlari dari restoran itu "Tunggu!" Cegah Hyung Dae lagi dengan menarik lengan Myung Hee dan Myung Hee reflek berbalik badan hingga akhirnya bibir mereka saling bertemu. Keduanya yang awalnya saling menatap terkejut hingga Myung Hee mendorong Hyung Dae untuk menjauh darinya kemudian melangkah pergi dari restoran. ** Pagi yang cerah ini di sebuah kamar dengan nuansanya yang menenangkan. Wajahnya yang masih terkejut dengan mimpi yang ia alami tadi, mimpi yang seharusnya datang padanya justru datang dengan lancang. 'bagaimana bisa aku bermimpi bersama pak Hyung Dae? Argh! Sungguh menyebalkan' batin Myung Hee kesal sambil menghentakkan kakinya sendiri. Setelah puas melampiaskan kekesalannya,Myung Hee terduduk diatas ranjangnya kemudian melihat sekeliling hingga tatapannya mengarah jam dinding. Ia tidak dapat mengendalikan perasaan terkejutnya saat melihat arah jarum jam yang menandakan dirinya akan terlambat datang ke sekolah. "Astaga! Bagaimana bisa aku terlambat di acar pembukaan ulang tahun sekolah?!" pekik Myung Hee langsung turun dari ranjangnya kemudian berlari menuju kamar mandinya. Myung Hee yang terburu-buru pun memutuskan untuk tidak memakan sarapannya, bahkan bibi Cha sudah meneriakkan namanya sejak dirinya turun dari tangga rumahnya. Myung Hee berlari menuju garasi kemudian mengeluarkan motornya dan menancapkan gas motornya dengan kecepatan tinggi. Dengan kecepatan tinggi dan keterampilan mengendarai motor, Myung Hee sampai dengan cepat bahkan hanya perlu waktu 10 menit. Bayangkan cepatnya kan? Biasanya ia akan sampai di sekolah setelah lima belas menit sampai dua puluh menit lamanya namun sekarang hanya memerlukan waktu lima belas menit,rekor yang ia buat sendiri tanpa memedulikan keselamatannya. Sesampainya ia di sekolah,ia langsung memarkirkan motornya di parkiran khusus motor kemudian berlari menuju koridor sekolah yang semakin sepi akibat murid-murid sudah masuk ke kelasnya masing-masing untuk menyanyikan lagu kebangsaan dan berdoa. "Myung Hee-ya?!" Panggil seseorang dengan suara khasnya. 'sialan kenapa ini lagi. Bagaimana itu? Haruskah saya lari saja? Jika lari terburu-buru menjadi masalah baru!' batin Myung Hee dengan wajah cemas. "Apakah kamu tahu ini sudah pukul berapa,nona Lee?" tanya seseorang tersebut dengan nada tegasnya. "T-tahu pak" jawab Myung Hee tergagap-gagap. "Jika sudah tahu kenapa masih terlambat? Ikut saya ke ruangan" ucap seseorang itu dengan menarik kerah belakang Myung Hee. 'dasar guru k*****t, nyebelin banget...masa pagi-pagi udah kena hukuman. Mana hari ini gua mau daftar lomba bela diri. Mana sempat ini mah' batin Myung Hee yang sedang mencoba berpikir untuk kabur. Hyung Dae terus saja menarik Myung Hee tanpa memedulikan u*****n yang terlontar untuknya. 'kita lihat sampai kapan kamu akan mengumpat,gadis yang unik' batin Hyung Dae tersenyum manis tanpa Myung Hee sadari. Melawati berbagai ruangan dan koridor sekolah, akhirnya mereka sampai di ruangan kedisiplinan. Hyung Dae mendudukkan Myung Hee dengan paksa yang tidak kunjung menurutinya. "Kamu tahu sekarang sudah jam berapa?" tanya Hyung Dae berdiri dihadapan Myung Hee dengan tatapan tajam. "Tahu pak" sahut Myung Hee menundukkan kepalanya agar tidak menatap Hyung Dae. "Lalu kenapa kamu bisa terlambat. Apakah kamu punya alasan?" kata Hyung Dae membungkukkan badannya sedikit untuk menatap wajah Myung Hee yang ia rindukan. "Alasannya karena saya bangun kesiangan"jawab Myung Hee malas. "Ck... apakah ada alasan yang membuat saya tak memberimu hukuman?" Tanya Hyung Dae dengan wajah serius. 'apakah kamu bisa mengelak lagi? Kita lihat saja,jika iya aku akan menghukumnya' batin Hyung Dae tersenyum puas. 'aduh harus ngomong apa? Masa iya aku jujur karena menunggu Yuna eonnie dan mendonorkan darah lagi hingga pukul 3 dini hari. Nambah dosa lagi ini mah!' batin Myung Hee mencoba berpikir alasan lainnya. "Jawab saya Myung Hee-ya!" ulang Hyung Dae mengangkat dagu Myung Hee. "Saya telat karena saya bangun kesiangan. Apa perlu saya menunjukkan bukti? Dan buktinya mana ada. Karena saya saja tidur ngga peduli waktu" jawab Myung Hee mencoba tenang padahal jantungnya tengah berdegup kencang karena takut ketahuan lagi. "Kamu yakin? Jangan bohongi saya" Hyung Dae menyipitkan matanya menelisik raut wajah dan tatapan mata Myung Hee saat ini. "Yakin pak" jawab Myung Hee tersenyum menyakinkan pada Hyung Dae, walaupun hatinya saja tidak. "Baiklah kali ini saya percaya sama kamu. Apakah kamu sudah tahu hari ini ada acara pembukaan HUT pada pukul sembilan pagi?" beritahu Hyung Dae dengan wajah kembali tenang. "Sudah pak,tadi saya baca pesan dari grup kelas. Apakah saya bisa pergi ke kelas sekarang?" pinta Myung Hee dengan nada memohon,ia sudah tidak tahan berhadapan dengan Hyung Dae. "Tetaplah disini sebentar lagi. Kita akan upacara bersama nanti, tunggulah setengah jam lagi" ucap Hyung Dae tersenyum lembut kemudian membelai rambut Myung Hee. "Tidak,saya mau ke kelas saja. Lagi pula saya belum absen dan menaruh tas di kelas" terang Myung Hee untuk mencoba menghindari Hyung Dae,ia sudah tidak nyaman dengan sikap manis Hyung Dae padanya. "Saya sudah absen kan. Duduklah disini temani saya" jelas Hyung Dae yang tidak ingin dibantah oleh alasan apapun. "Tap-" Myung Hee mengangkat dagunya untuk menatap Hyung Dae yang justru menatapnya tajam. "Tenang saya tidak akan macam-macam,duduklah hingga waktunya tiba! Lagipula kamu pasti lelah berlarian dari parkiran menuju lobby" Hyung Dae menepuk kepala Myung Hee pelanm Myung Hee yang pasrah hanya duduk dengan menatap seisi ruangan wajah polosnya. 'dia menggemaskan. Mana mungkin aku bisa tahan agar tak mencubit pipinya? Bibirnya yang manis,mata indahnya yang polos. Sungguh ciptaan tuhan yang sempurna"' batin Hyung Dae tersenyum tipis dengan pandangan yang tak teralihkan. Hyung Dae berjalan menuju kursi miliknya kemudian mengambil salah satu berkas untuk mengisinya. Myung Hee yang terus saja menatap sekeliling hingga pandangnya bertemu dengan Hyung Dae yang juga memperhatikannya dengan penuh arti. "Ada apa pak? Apakah di wajah saya ada yang salah?" Tanya Myung Hee sambil menyentuh wajahnya. "Eoh? Cantik" jawab Hyung Dae spontan tanpa sadar. "Yah? Apa yang bapak katakan? Saya tidak mendengarnya" kata Myung Hee yang memang tidak mendengar jawaban dari Hyung Dae barusan. "Tidak ada apa-apa. Sudah lupakan saja,jadi apakah kamu sudah bertemu dengan Bu Areum sebelumnya?" tanya Hyung Dae mengalihkan pembicaraan. "Ah? Saya lupa untuk menemui Bu Areum,kalau sekarang saja bagaimana?" pinta Myung Hee berharap Hyung Dae mau menyetujuinya. "Nanti saja setelah acara pembukaan dan setelah itu langsung ke kelas ya. Ada acara class meeting nanti" jelas Hyung Dae tersenyum simpul pada Myung Hee. "Baiklah" Myung Hee hanya bisa menghela nafas panjang kemudian mengalihkan perhatiannya. Myung Hee yang merasakan suasana canggung dan hening memilih duduk dengan pandangan ke arah lain. Sedangkan Hyung Dae justru setia melihat gerak-gerik gadis yang berada di depannya dengan senyuman tipisnya. "Sudah berapa lama bapak kenal pak Kyuhyun dan keenam guru yang baru masuk kemarin bersamaan dengan bapak?" tanya Myung Hee memulai topik pembicaraan. "Sekitar 7 tahunan lebih. Memang kenapa?" jawab Hyung Dae apa adanya. "Aku hanya bertanya,saya lihat bapak akrab sekali dengan mereka" sahut Myung Hee tersenyum tipis. "Tentu saja,mereka sudah aku anggap seperti Hyung dan dongsaeng ku" Hyung Dae tersenyum mengingat momen-momen indah yang ia lalui bersama keenam sahabatnya. "Bapak beruntung memiliki teman yang baik dan pengertian" Myung Hee tersenyum manis namun dibalik senyumannya terdapat rasa miris pada nasibnya yang tidak akan memiliki hubungan persahabatan seperti Hyung Dae. Setelah perkataan Myung Hee barusan,suasana ruang kedisiplinan kembali hening hingga Hyung Dae memutuskan bertanya akan rasa penasarannya pada Myung Hee. "Siapa murid laki-laki yang menemui kamu di parkiran sekitar tiga hari yang lalu?" tanya Hyung Dae dengan rasa penasaran yang besar. "Lelaki di parkiran? Ah itu,namanya Han Yon Jun,dia salah satu murid di sini kelas XII IPA 2 yang cukup jago basket. Bapak tidak mengetahuinya?" Jawab Myung Hee dengan nada antuasias. "Saya tidak kenal karena saya hanya mengajar X & XII IPA 3-5 dan XI IPS 1-2. Kamu memiliki hubungan apa dengan kamu?" tanya Hyung Dae dengan nada ragu-ragu. "Dia sahabat karibku dari sekolah menengah pertama" jawab Myung Hee tersenyum simpul mengingat persahabatan mereka yang dipenuhi oleh pertengkaran kecil dan keakraban. "Hanya sahabat? Tak lebih?" tanya Hyung Dae lagi dengan wajah hampir berseri-seri. "Saya menganggapnya sahabat saja" sahut Myung Hee dengan wajah polosnya. "Jadi begitu" seketika suasana hatinya kembali membaik membayangkan kalau apa yang ia pikirkan hanya asumsi nya saja. "Memangnya kenapa?" tanya Myung Hee dengan nada menelisik. "Tidak ada apa-apa,aku merasa kalian begitu akrab dan dekat" jawab Hyung Dae salah tingkah. "Tentu saja,kita selalu menghabiskan waktu dengan pergi dan olahraga bersama di akhir pekan" timpal Myung Hee tersenyum cerah. "Benarkah?" Hyung Dae menegakkan tubuhnya seketika. "Benar pak!" Myung Hee menganggukkan kepalanya pertanda yang ia ucapkan memang apa adanya. 'sahabat kok berasa pacar ya? Apa mungkin mereka pacaran hanya saja dia tidak mau mengakui? Kenapa aku tiba-tiba kesal? Argh... sudahlah' batin Hyung Dae yang dibuat frustasi. Akhirnya waktu pembukaan akan dimulai dengan Myung Hee yang sudah siap dengan pakaian olahraga yang lengkap berdiri bersebelahan dengan Jae Ra. Begitu juga Hyung Dae yang sudah bersiap untuk berdiri di barisan belakang murid-murid. Entahlah kebetulan atau apa, Hyung Dae ditempatkan di belakang kelas Myung Hee. Acara pembukaan yang diawali dengan penyambutan,inti dan penutup pidato bersamaan dengan balon-balon yang berterbangan. 'apakah dia baik-baik saja? Aku lihat dia selalu menghela nafas dan menundukkan kepalanya cemas. Aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan eonnie yang ia bilang sedang sakit' batin Hyung Dae yang masih setia mengamati Myung Hee yang termenung. ** Acara pembukaan selesai beberapa menit yang lalu. Myung Hee yang sudah berada ruangan Bu Areum mendadak tegang dengan wajah yang Bu Areum perlihatkan. 'astaga! Ini mah kena semprot lagi. Mana lagi ngga ada alasan yang mempan. Apa yang harus aku lakukan tuhan? Kalau garang gini amat si' batin Myung Hee merinding dengan ekspresi wajah Areum. "Kenapa? Kenapa tidak beri alasan atau kabar pada ibu? Apakah kamu sudah tidak menganggap ibu ini eomma mu lagi?" Cerocos Areum dengan tatapan tajam menghunus Myung Hee. "M-maafkan aku,bu. Myung Hee tidak bermaksud membuat ibu khawatir dan cemas seperti kemarin. Hanya saja, keadaan yang tak bisa menjelaskan. Maafkan Myung Hee.."lirih Myung Hee dengan menundukkan kepalanya karena merasa bersalah pada Areum yang jelas saja mengkhawatirkan dirinya. "Bisakah kamu terbuka pada ibumu ini. Kamu tahu bukan? Ibu sangat menyayangi mu,jangan buat ibu khawatir lagi. Ya?" Pinta Areum dengan menggenggam kedua tangan Myung Hee dan tatapannya yang melembut. "Baik Bu" Sahut Myung Hee menganggukkan kepalanya langsung tanpa pikir panjang. Mendengar Myung Hee yang terdiam akhirnya Areum memeluknya dengan pelukan hangat. Isak tangis yang tak bisa berbohong kepada siapa pun. Air mata yang mencoba ia tampung akhirnya lepas mengalir dari mata indahnya. "Sayang? Kamu kenapa hm?" Tanya lembut Areum dengan wajah khawatir. "Apakah aku tak pantas mendapatkan kasih sayang?" tanya balik Myung Hee dengan menatap manik mata Areum. "Ssstt...sayang kamu ini anak yang baik dan mulia. Kamu pantas mendapatkan kasih sayang,jika saja ibu ini adalah ibu kandungmu. Ibu tak akan menyia-nyiakan dirimu" ujar Areum membelai rambut Myung Hee penuh kasih sayang. "Jika aku bisa memilih untuk dilahirkan maka aku ingin dilahirkan dari rahim ibu Areum. Walau ibu tidak memiliki hubungan sedarah denganku tapi kasih sayangmu yang mengatakan kamu adalah eomma ku. Aku sangat menyayangimu.." jelas Myung Hee dengan Isak tangis yang semakin terdengar jelas. "Terkadang takdir tidak sesuai dengan harapan kita. Karena takdir diciptakan oleh Tuhan yang memberinya jalan pada setiap makhluknya. Aku juga menyayangimu, sangatlah...." balas Areum membalas pelukan Myung Hee tak kalah erat. ** Myung Hee yang termenung di kelas dengan menyadarkan kepalanya di meja murid. Lelah akan kebohongan semata tapi apa dayanya yang hanya bisa menjalankan kewajibannya dan janjinya. 'jika bukan karena haraboji dan halmoni mana mungkin aku mau mengucapkan janji yang membawa penderitaan ini' batin Myung Hee yang masih terdiam mengingat masa lalu. Hingga suasana tiba-tiba hening akibat kedatangan wali kelas,agenda setelah pembukaan tadi adalah perwakilan. Hyung Dae masuk yang sesekali melirik Myung Hee yang masih terdiam di pojok ruangan tanpa berminat untuk memperhatikan seseorang yang datang. 'dia sungguh menyebalkan! Apakah dia tak tahu kalau aku ini sedang menjelaskan? Aku akan menghukum mu karena mengabaikan diriku' batin Hyung Dae dibuat kesal dengan sikap acuh Myung Hee. Hyung Dae yang geram pun melangkah mendekati meja Myung Hee,Myung Hee yang belum sadar hanya diam dan masih termenung disana Brakk.... "Khamcagiya! Kenapa? Apakah harus menggebrak meja juga pak?" Teriak Myung Hee dengan wajah kagetnya. "Salah siapa ada orang yang menjelaskan tidak didengarkan. Seharusnya saya yang marah pada kamu!" sungut Hyung Dae yang tidak mau kalah dengan Myung Hee. "Iya-iya,saya yang selalu salah. Ada apa pak?!" tanya Myung Hee dengan wajah malas-malasan. "Kamu ikut lomba fashion show ya?" pinta Hyung Dae yang sebenernya memiliki rencana dibalik permainannya ini. "Yah?" Myung Hee yang masih bengong pun memilih bertanya yang justru disalah artikan oleh Hyung Dae. "Baiklah,jadi Myung Hee yang akan ikut lomba fashion show" terang Hyung Dae tersenyum kemenangan. "Apa?! Tidak bisa,tadi itu saya bilang 'yah?' Artinya saya lagi bertanya bukan menyanggupinya" jelas Myung Hee yang mulai berdiri dari duduknya kemudian menatap Hyung Dae tidak terima dengan keputusan sepihak. "Tapi keputusan saya sudah bulat jadi kamu yang akan ikut lomba itu dan lomba bela diri nantinya" putus Hyung Dae tanpa ingin dibantah. "Pak? Kalau lomba bela diri saya mah sanggup tapi kalau lomba fashion show ogah pak. Nanti bukannya saya menang malah diketawain" Myung Hee sadar diri dengan kemampuannya dalam dunia fashion dan beauty sangat minim. "Nanti kamu saya ajari fashion show sama Bu Areum. Jadi kamu jangan mengelak lagi sebelum saya daftarin kamu lomba jinakkan binatang" kata Hyung Dae yang tidak ingin ditolak keputusannya. "Kalau jinakkan binatang saya mah bisa. Dulu saya pernah ikut lomba menyisir bulu harimau" Myung Hee dengan nada sombongnya. "Benarkah?" Hyung Dae menatap Myung Hee meminta pembenaran. "Benar pak,bahkan saya hampir jadi juru bicara harimau waktu itu saking dekatnya sama harimau" Myung Hee tersenyum bangga. 'harimau aja dekat sama Myung Hee masa seorang Hyung Dae kalah si? ' batin Hyung Dae tertawa miris. "Jadi bagaimana pak? Jangan saya yang ikut pak,masih banyak yang bisa dibandingkan saya" Myung Hee mencoba membujuk Hyung Dae yang nampak berpikir. "Jadi kok, nanti sore kita latihannya" Hyung Dae menatap Myung Hee tersenyum kemenangan. "Tap-" "Jadi Myung Hee setuju!" potong Hyung Dae cepat. 'siapa suruh kamu tidak memperhatikan saya kalau bicara' batin Hyung Dae tersenyum kemenangan. 'ini orang benar-benar nyebelin tingkat akut. Gantung orang dosa ngga sih?' batin Myung Hee panas luar dalam. "Yasudah sekarang kita bisa ke lapangan sekolah untuk melihat pertandingan basket antar kelas yang sudah ditentukan" ujar Hyung Dae mengumumkan agenda pertama dari perlombaan memperingati ulang tahun sekolah. "BAIK PAK" Jawab seluruh murid kelas dengan bersemangat. "Wih bisa lihat Yon Jun nih sama Ha Joon main basket" bisik Myung Hee pada Jae Ra yang juga mendekatkan telinganya pada Myung Hee. "Bener tuh" bisik Jae Ra menganggukkan kepalanya lalu tersenyum bersemangat. "Ayo kita pergi kesana siapa tahu dapat kursi paling depan" ajak Myung Hee pada Jae Ra dengan semangat 45. Hyung Dae yang masih berdiri didekat Myung Hee hanya kesal dengan ucapan Myung Hee yang terlihat senang dengan acara perlombaan basket antar kelas. 'sebenarnya mereka memiliki hubungan khusus atau tidak? Myung Hee saja sudah senang mendengar bahwa anak itu ikut main basket. Apa lagi kalau lihat? Wah ngga bisa dibiarkan ini' batin Hyung Dae yang kesal sambil mencari akal. Seluruh murid yang sudah keluar dari kelas sama juga dengan Myung Hee dan Jae Ra yang udah siap lari. "Eit! Mau kemana kamu?" cegah Hyung Dae menarik kerah belakang baju Myung Hee. "Saya mau ke lapangan basket sama Jae Ra" jawab Myung Hee dengan wajah kesal. "Kata siapa kamu boleh kesana?" Hyung Dae menaikkan alisnya. "Lah tadi bapak bilang-" "Kecuali Lee Myung Hee dan untuk kamu Jae Ra, kamu bisa pergi ke lapangan basket sekarang tanpa Myung Hee" jelas Hyung Dae dengan tatapan tak ingin dibantah. "Tapi-" "Silahkan jae Ra" Potong Hyung Dae mempersilahkan Jae Ra pergi dari kelas. Jae Ra yang akhirnya terpaksa pun memilih pergi dari kelas dan meninggalkan Myung Hee yang masih ditarik kerahnya oleh Hyung Dae. "Bapak sampai kapan mau narik saya kaya gini?" tanya Myung Hee yang menatap Hyung Dae jengah. "Sampai kantor" jawab Hyung Dae tanpa peduli ekspresi Myung Hee tidak bersahabat padanya. "Lah memang saya buat masalah lagi?" tanya Myung Hee mengerutkan keningnya bertanya-tanya. "Tidak si,cuma saya akan berbicara pada Bu Areum untuk mengajari kamu belajar berjalan dengan sepatu tinggi dan ber make up" jelas Hyung Dae tersenyum penuh arti. "Kata bapak nanti saat pulang sekolah" elak Myung Hee membulatkan matanya tidak percaya. "Sekarang saja bisa kenapa tidak? Cepat ikut saya sebelum kamu saya hukum bersihin seluruh koridor sekolah,mau?" ancam Hyung Dae tersenyum manis. "Iya saya ikut" Myung Hee pun menganggukkan kepalanya pasrah. "Akhirnya kamu bisa patuh juga" "Ya iyalah saya patuh nanti kalau tidak bapak pasti ngadu sama bu Areum,kan?" "Kamu tahu juga. Ayo kita ke kantor!" ucap Hyung Dae lembut sambil tersenyum dengan menggenggam tangan Myung Hee. "Itu tangan Kenapa pegang-pegang?" sinis Myung Hee sambil menunjuk tangan Hyung Dae yang malah menggenggam pergelangan tangannya. "Kenapa? Mau marah?" tanya Hyung Dae tersenyum tipis. "Ya iyalah" "Udah jangan kelamaan,apa kamu mau saya gendong juga?" "Tidak usah, terimakasih!" tolak Myung Hee menggelengkan kepalanya cepat. "Kenapa tidak mau?" tanya Hyung Dae menggoda Myung Hee. Myung Hee masih diam memikirkan acara perlombaan basket yang seharusnya ia ikut melihatnya. "Jangan-jangan kamu malu kalau saya gendong? Kenapa harus malu coba, saya ini ganteng loh!" "Semerdeka bapak saja!" pasrah Myung Hee dengan wajah kesal. 'dia menggemaskan,aku merasa nyaman bersamamu. Aku juga bahagia jika melihat mu tersenyum' batin Hyung Dae mulai melangkah keluar dari kelas dengan masih menggenggam tangan Myung Hee lebih erat. 'pak Hyung Dae hari ini aneh banget dah,apa jangan-jangan pak Hyung Dae ketempelan setan? Setan alien ini mah' batin Myung Hee yang terus terheran-heran. Tak terasa mereka sampai di ruangan Bu Areum dengan Hyung Dae yang masih menggenggam tangan Myung Hee seakan tak ingin melepaskannya. "Annyeong Bu Areum" sapa Myung Hee tersenyum manis. "Annyeong Myung Hee-ya! Annyeong pak Hyung Dae!" sapa balik Areum tersenyum manis. "Annyeong bu Areum. Kedatangan saya kesini ingin meminta bantuan agar ibu-" "Astaga! kamu bikin masalah lagi Myung Hee-ya?! Kamu ini! Lama-lama ibu tarik juga telinga kamu biar panjang kaya Pinocchio" ucap Areum dengan menjewer telinga Myung Hee karena kesal. "Sakit! Aku tak melakukan apapun Bu. Sakit! Lepaskan Bu,ini telinga bisa-bisa patah" bela Myung Hee dengan memegangi telinganya. "Biarkan patah toh kamu menggunakan telinga untuk dipajang bukan mendengar ? Ya ampun kamu ini!" cerocos Areum yang masih menjewer telinga Myung Hee. "Bu Areum bisakah anda melepas jeweran nya? Myung Hee tidak buat masalah hari ini" jelas Hyung Dae menengahi. "Benarkah?" tanya Areum memastikan. "Iya Bu" jawab Hyung Dae menganggukkan kepalanya. "Ibu ini sebenarnya sayang tidak sih sama Myung Hee?" tanya Myung Hee sambil mengusap-usap telinga nya yang merah akibat jeweran Areum. "Sayang kok,tapi kalau nyebelin terus lama-lama ibu tendang kamu dari sini" sungut Areum. "Ih? Jahat Bu Areum" "Lupakanlah! Apakah yang bisa saya bantu pak Hyung Dae?" tanya Areum sopan. "Saya datang kesini meminta bantuan ibu untuk mengajari Myung Hee cara memakai make up, sepatu tinggi dan cara berpakaian yang anggun" jawab Hyung Dae menjelaskan maksud kedatangannya bersama Myung Hee. "Benarkah? Dengan senang hati saya akan mengajari anak ini. Iya kan?" Ucap Bu Areum dengan smirk pada Myung Hee 'mati aku, perasaan gue kok ngga enak ya? Jangan-jangan Bu Areum mau ngerjainnya gue lagi? Wah ....gimana dong?' batin Myung Hee pasrah. **** Bertemu denganmu membuatku tahu apa artinya tersenyum walau sekejap dengan kasih sayang yang berisi suara hati ini. (Lee Myung Hee) To Be Continue...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN