Pengenalan berjarak yang terasa asing, mengenalkan seperti apa kebenaran dan siapakah dia yang sesungguhnya.
*****
Hari yang cerah penanda musim semi bermulai. Suasana cerah secerah hatinya yang senang setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk menggapai cita-citanya sejak kecil yaitu menjadi guru. Pekerjaan guru memanglah tidak semudah yang dilihat, perlu banyak kualitas bagi calon guru terutama attitude yang dapat dikatakan baik.
Entah kebetulan atau memang takdir dari Tuhan,dia dipertemukan bersama ke-enam sahabatnya yang telah dinyatakan lulus dalam masa percobaan di sekolah beberapa Minggu lalu. Pada pagi ini pastinya sudah banyak siswi yang telah mendengar kemunculan guru baru di sekolah ini. Sejujurnya, Hyung Dae merasa kurang nyama dimana ia harus mengajar di sekolah milik keluarganya sendiri. Yah, sekolah menengah atas yang berbasis swasta ini milik keluarganya. Bukan hanya sekolah terbesar ini,banyak properti baik dalam maupun luar negeri yang dimiliki oleh keluarga Kim Hyung Dae ini. Terkadang dirinya merasa bergantung akan apa yang dimiliki oleh keluarganya,ia juga ingin hidup dengan pilihannya di masa yang akan datang seperti mana orang dewasa lainnya.
Pagi menyambut ketenangan mimpi sang pemuda bermarga Kim ini. Dirinya cukup lelah karena kemarin ia harus benar-benar ekstra menyiapkan segala keperluan-keperluan untuk mulai mengajar di sekolah nantinya. Bunyi nyaring alarm yang semakin menyapa pendengarannya, segera ia beranjak bangun dengan hati yang senang membayangkan betapa senang dirinya di hari-hari selanjutnya. Hari kedua nya,ia berharap hari ini bisa berkesan untuk ia,anak didiknya dan sang sahabat.
Hari ini memang akan diadakan acara pengenalan bagi kelas-kelas yang belum sempat ia dan sahabatnya datangi pada Minggu lalu,Hyung Dae berganti pakaian dengan pakaian formal yang semakin menambah kesan formal nan tampan yang sebagai mana rupa wajahnya.
Selesai berpakaian Hyung Dae melangkah keluar dari kamarnya menuju meja makan untuk sarapan bersama dengan Eommanya. Sebagai seorang putranya,ia begitu senang eomma nya selalu perhatian padanya walaupun dirinya sudah berusia 24 tahun di tahun ini.
Selesai sarapan ia berjalan pergi ke sekolah untuk mengajar menggunakan mobilnya.
***
Kediaman Keluarga Lee...
Pagi membayang menerawang masuk dalam mimpi gadis berusia 18 tahun. Dengan berat hati ia pergi melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan berpakaian seragam sekolahnya. Selesai bersiap-siap,Myung Hee turun untuk menemui bibi Cha yang kebetulan sedang memasak sarapan pagi untuk dirinya mengingat Eomma Myung Hee masih berada di rumah sakit untuk menjaga Yuna.
"Annyeong bibi Cha" sapa Myung Hee dengan senyuman hangatnya.
"Eoh? Nona Myung hee sudah datang. Ayo nona sarapan! Sarapannya sudah siap,bibi akan menghidangkannya. Non duduk di meja makan saja" kata bibi Cha dengan senyum keibuannya yang telah menenangkan diri Myung Hee yang gelisah.
"Iya Bi, Myung Hee bantu bawakan agar cepat selesai" balas Myung Hee tersenyum simpul kemudian berjalan mendekati bar dapur.
"Terimakasih non,ayo sarapan" bibi Cha tersenyum lembut melihat perlakuan Myung Hee yang selalu baik pada orang-orang terdekatnya namun disia-siakan oleh orang-orang itu.
Bibi Cha telah bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluarga Lee ini cukup lama, sekitar dua puluh tahun maka tidak heran dirinya tahu seperti mana sikap keluarga Lee terutama Nyonya Lee selalu bersikap kasar dan acuh pada Myung Hee yang tidak tahu menahu apa kesalahannya dimasa lalu.
Bibi Cha dengan telatennya menyiapkan makanan dan minuman untuk Myung Hee seperti biasanya.
"Terimakasih bibi,bibi juga makan biar ngga sakit" ucap Myung Hee mendudukkan Bibi Cha agar duduk disebelahnya.
"Tap-" ucapan bibi Cha terpotong oleh Myung Hee yang menatap bibi Cha jengah.
"Tidak ada tapi-tapian!" sela Myung Hee yang tidak ingin dibantah.
Bibi Cha dan Myung Hee pun sarapan bersama dengan sesekali melempar candaan yang membuat dirinya lupa akan apa yang tengah ia alami belakangan ini.
"Bibi Cha, Myung Hee berangkat dulu,Nee?" pamit Myung Hee mengecup punggung tangan Bibi Cha.
"Iya non,nona hati-hati dijalan. Jangan ngebut-ngebut yang penting selamat sampai sekolah" nasehat bibi Cha yang seakan tahu kebiasaan Myung Hee yang suka berkendara dengan kecepatan tinggi.
"Baiklah, sampai jumpa" sahut Myung Hee tersenyum simpul kemudian memakai helm nya.
Kemudian ia menyalakan motornya untuk berangkat ke sekolah tanpa memedulikan eommanya yang sejak tadi menelpon ke ponselnya yang sengaja ia mode silent.
Sesekali ia melirik sekeliling jalan yang ia lalui sebelum akhirnya ia sampai di gerbang utama sekolahnya. Seoul High School,sekolah menengah atas yang terakreditasi A oleh badan pendidikan di Korea.
Para murid mulai berdatangan memadatkan halaman sekolah didepan Lobby utama sekolah, begitu sampai Myung Hee langsung mengarahkan motornya kearah parkiran motor yang cukup sepi oleh pengguna lainnya.
Myung Hee berjalan masuk ke dalam lobby sesekali merapal doa agar dirinya terbebas dari ceramah Bu Areum.
"Myung Hee-ya?!" panggil Bu Areum yang melihat Myung Hee berjalan mengendap-endap menuju lorong kelas yang panjang.
"Eoh? Ibu Areum?" sahut Myung Hee dengan senyum tipisnya.
"Kau ini! Dari mana saja,eoh? Sejak kemarin Ibu terus mencemaskan dirimu. Apakah sehari saja tidak membuat ulah kamu bisa?! Tapi kamu selalu saja buat orang lain khawatir" ceramah Bu Areum tanpa jeda dengan kedua tangannya berkacak pinggang dan tatapan kesal tertuju pada Myung Hee.
"Maaf Bu, Myung Hee tidak bermaksud membuat ibu khawatir seperti ini" timpal Myung Hee menundukkan kepalanya karena merasa bersalah pada Areum yang terlihat khawatir sekaligus kesal akan tindakannya kemarin.
"Baiklah,ayo ke ruangan ibu dulu. Nanti kamu ceritakan semua kepada ibu yang sebenarnya terjadi kemarin dan alasan kamu tidak berangkat sekolah" ajak Areum menggandeng tangan Myung Hee kearah ruang kerjanya yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka tadi.
"Iya Bu" lirih Myung Hee menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan Areum.
Myung Hee dan Bu Areum pun pergi ke ruangan Areum untuk membicarakan alasan dan kejadian yang terjadi pada Myung Hee kemarin hingga akhirnya dia memutuskan untuk tidak berangkat ke sekolah.
"Duduklah, nak" kata Areum setelah menaruh tas, berkas-berkas dan mengambil minum untuk Myung Hee lalu berjalan mendekati Myung Hee yang masih menundukkan kepalanya.
"Baik bu" sahut Myung Hee menganggukkan kepalanya lalu duduk di salah satu bangku dekat dengan kursi Areum.
Areum duduk tepat dihadapan Myung Hee hanya terhalang akan meja kerja Areum saat ini, Areum sengaja diam menunggu Myung Hee memulai pembicaraan. Ia tahu sedikit apa yang terjadi kemarin dan alasan dia tidak masuk sekolah tapi Areum tetap ingin mendengarnya penjelasan yang sebenarnya dari Myung Hee walaupun tahu itu berat untuk dijelaskan dalam kata.p
"Bu Areum?!" panggil Myung Hee mendongakkan kepalanya menatap Areum yang masih menatapnya datar namun penuh kasih sayang.
"Yah?" sahut Areum menganggukkan kepalanya lalu membenarkan posisi duduknya tanpa berpaling dari Myung Hee.
"Darimana ibu tahu kalau aku tidak berangkat?" tanya Myung Hee yang sejak tadi diam.
"Ibu dapat informasi kamu tidak berangkat dari wali kelasmu" jawab Areum santai tanpa beban sedangkan Myung Hee yang mendengarnya malah mengerutkan keningnya bertanya-tanya.
"Wali kelas? Bukankah Pak Ryu sudah dipindahkan tugas ke sekolah lain di Busan?" tanya Myung Hee yang keheranan dengan jawaban Areum.
"Iya memang pak Ryu sudah pindah, hanya saja pak Ryu digantikan oleh pak Taehyung. Wali kelas sekaligus guru bimbingan konseling yang baru disini" jelas Bu Areum.
"Jadi ada guru baru Bu?" tanya Myung Hee lagi yang belum mendengar kalau ada penerimaan guru baru.
"Iya, bahkan ada 7 guru baru. Kamu akan bertemu mereka nanti disaat mata pelajaran masing-masing guru" jelas bu Areum.
"Apakah mereka suka menghukum murid?" tanya Myung Hee dengan wajah polosnya tanpa dosa.
"Tentu saja, jika muridnya sama sepertimu" jawab Areum santai.
"Hm?" sungut Myung Hee setelah mendengar jawaban Areum.
"Hahaha! Lupakan saja. Jadi bagaimana kabar eonnie mu?" tanya Areum balik pada Myung Hee.
"Eonnie masih dirawat di rumah sakit sejak kemarin" jawab Myung Hee menghela nafas berat sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Areum.
"Apakah kamu juga mendonorkan darah mu untuknya lagi?" tebak Areum yang paham.
"Tentu saja" jawab Myung Hee menganggukkan kepalanya.
"Kamu ini! Ibu sudah bilang berapa kali agar kamu tidak donorkan darah mu lagi. Tapi ibu rasa telingamu sudah tuli" kesal Bu Areum dengan sikap Myung Hee yang selalu mengambil keputusan tanpa berdiskusi dengan orang terdekatnya.
"Bu Areum,bagaimana pun dia juga eonnie ku. Aku sangat menyayanginya,aku tidak mau dia kenapa-kenapa" sahut Myung Hee menundukkan kepalanya agar tidak menatap Areum yang masih kesal pada sikapnya.
"Iya-iya,ibu tahu. Tapi jika caramu seperti ini,pasti kesehatan mu akan memburuk lagi. Ibu tidak ingin itu terjadi lagi!" timpal Areum yang tidak mau kalah.
"Tidak ada pilihan lain Bu. Aku dihadirkan hanya sebagai nyawa kedua eonnie ku" lirih Myung Hee yang masih terdengar oleh Areum,Areum yang mendengarnya pun menghela nafas untuk menetralkan emosi dan pikirannya yang hanyut dalam masalah ini.
"Nak?! Ibu sangat menyayangi kamu selayaknya ibu pada putrinya, ibu tidak ingin ini menjadi alasan kamu meninggalkan ibu disuatu saat. Ibu tidak akan pernah siap dan rela menghadapinya nanti" balas Areum tidak kalah lirih sambil memeluk Myung Hee penuh kasih sayang.
"Myung Hee juga,Myung Hee tidak akan bisa pergi jika ibu masih menginginkan kehadiran Myung Hee. Kematian tidak ada yang tahu datangnya, begitu pula rasa ikhlas yang tidak tahu kapan datang" sahut Myung Hee membalas pelukan Areum dengan suara seraknya yang menahan air matanya yang kapan saja bisa luruh.
Keduanya hanyut dalam kasih sayang yang seakan takut akan kehilangan masing-masing, tidak ada yang bisa menyalahkan kasih sayang itu datang dikala waktu tertentu. Begitu juga Myung Hee maupun Areum dalam kondisi ini, keduanya terlalu takut membayangkan akan apa yang terjadi pada suatu saat nanti.
"Yasudah Bu,aku pamit ke kelas dulu. Jika telat bisa-bisa kena hukum" pamit Myung Hee setelah melepaskan pelukannya pada Areum dan mengusap air mata yang mengalir pada pipi Areum.
"Kamu itu sudah biasa dihukum! Yasudah,tapi ingat ke kelas BUKAN kantin maupun perpustakaan. Ingat itu,jika ada laporan kamu buat ulah lagi. Ibu akan menjewer telinga mu sampai panjang seperti Pinocchio" sahut Areum dengan wajahnya yang mewanti-wanti.
"Bu, Pinocchio itu hidungnya yang panjang. Bukan telinganya yang panjang" ralat Myung Hee yang baru sadar dikatakan Bu Areum itu salah.
"Ah? Sama saja,sudah sana masuk kelas" suruh Areum mendorong pelan Myung Hee agar segera masuk ke kelas.
"Baiklah, sampai jumpa. Nanti istirahat aku akan kesini" balas Myung Hee menganggukkan kepalanya kemudian mencium tangan Areum sebelum akhirnya pergi keluar ruangan Areum.
"Baiklah,ibu akan tunggu" kata Areum menyetujui.
'andai bukan kamu yang berada pada posisi ini. Kenapa cobaan terus datang pada kamu yang masih terlalu muda untuk melaluinya?' batin Areum menatap punggung kecil Myung Hee dengan sendu.
Myung Hee pun berjalan keluar dari ruangan Areum dengan menundukkan kepalanya,Myung Hee yang belum sadar akan seseorang yang juga berjalan kearahnya sambil membawa berkas-berkas.
Bugh..
"Akh..."pekik Myung Hee yang terduduk di lantai sambil mengusap-usap bagian yang terasa sakit.
"Akh..."pekik seorang lelaki itu juga terduduk dilantai kemudian memungut berkas yang tadi ia bawa.
"Yak! Kenapa kau menabrak ku,hah?" Kesal Myung Hee pada orang itu tanpa menatapnya.
"Seharusnya saya yang mengatakan itu. Sudah tahu ini tempat umum tapi anda bahkan tidak melihat orang yang datang.
dari arah yang berlawanan dengan anda Dasar" timpal lelaki itu yabg tidak terima dengan tuduhan Myung Hee tadi.
"Yak!" pekik Myung Hee yang langsung berdiri dari duduknya kemudian menatap orang itu dengan tatapan tajam penuh permusuhan.
"Bicaralah yang sopan pada orang yang lebih dewasa" nasehat lelaki itu dengan tatapan tajam juga.
"Masa bodo!" sungut Myung Hee tak mau kalah.
Disaat Myung Hee dan lelaki itu saling menatap penuh permusuhan tiba-tiba ada seorang siswi dan temannya datang sambil membawa beberapa kertas.
"Pak Hyung Dae?!" panggil salah satu murid perempuan bersama satu temannya kemudian berjalan kearah Myung Hee dan lelaki itu
"Apa?! Pak Hyung Dae?! Bukankah itu nama salah satu guru baru di sekolah ini?!" gumam Myung Hee setelah mengingat-ingat kembali perkataan Areum.
"Saya mau memberikan tugas yang kemarin pak. Kalau begitu kami permisi pak" pamit mereka meninggalkan Hyung Dae dan Myung Hee.
'mampus aku. Bisa-bisa dihukum lagi. Lagian kan bukan salah aku juga. Siapa suruh dia menabrak orang' batin Myung Hee yang justru membela diri.
"Sudah mendumel dalam hati?" kata Hyung Dae saat melihat Myung Hee bergumam tidak jelas dihadapannya.
"Eoh? Siapa yang ngedumel? Saya lagi membela diri" ujar Myung Hee keceplosan dengan memukul lirih bibirnya
'Manis..' batin Hyung Dae tersenyum simpul saat melihat tingkah manis Myung Hee.
"Jadi kamu tidak merasa bersalah sedikitpun pada saya?" tanya Hyung Dae menatap kedua mata Myung Hee lekat.
"Tentu saja, tidak!" jawab Myung Hee tidak mau kalah.
"Kamu tahu siapa saya?" tanya Hyung Dae lagi dengan memasukkan kedua tangannya masing-masing ke saku celana bahannya sambil menatap Myung Hee menelisik.
"Tentu,anda guru bimbingan konseling sekaligus wali kelas dari XII IPA 4 yang baru,bukan?" jawab Myung Hee dengan santainya.
"Kamu tahu?" ulang Hyung Dae menatap Myung Hee lebih lekat dari sebelumnya.
"Tentu saja tahu" jawab Myung Hee lagi tanpa ragu.
Hyung Dae menatap wajah dan penampilan Myung Hee dari atas hingg bawah sambil sesekali mengingat-ingat akan biodata dan ciri-ciri dari sang trouble maker terkenal itu.
"Jadi kamu yang namanya Lee Myung Hee?" tanya Hyung Dae memastikan akan apa yang ia pikirkan itu benar.
"Yah,itu saya" jawab Myung Hee menganggukkan kepalanya.
Hyung Dae mengalihkan perhatiannya dari wajah Myung Hee kearah penampilan Myung Hee saat ini terlihat seperti lelaki ketimbang siswi pada umumnya.
"Kamu ini perempuan,bukan? Lalu kenapa kamu berpenampilan seperti lelaki?" timpal Hyung Dae yang tidak habis pikir akan apa yang dikatakan semua orang itu benar apa adanya tentang Myung Hee sang trouble maker.
"Terserah saya" balas Myung Hee tidak mau kalah.
"Kamu ikut saya ke ruangan bimbingan konseling,sekarang juga!" ucap Hyung Dae menginterupsi Myung Hee.
"Ogah" jawab Myung Hee yang beranjak meninggalkan Hyung Dae.
"Eit! Kamu mau kemana?! Ikut atau saya suruh kamu membersihkan seluruh koridor sekolah tanpa bantuan siapapun!" ancam Hyung Dae sambil menarik kerah belakang Hoodie Myung Hee
"Aish! Iya-iya,tapi bapak jangan menarik saya seperti ini! Bapak kira saya ini kucing?!" sungut Myung Hee mencoba lepaskan genggaman Hyung Dae dari kerah belakang Hoodie nya.
"Memang! Lebih tepatnya kucing nakal" balas Hyung Dae dengan tangannya menarik belakang Hoodie Myung Hee agar ikut bersamanya ke ruang bimbingan konseling bersamanya
"Yak!" pekik Myung Hee menatap Hyung Dae penuh permusuhan.
"Bicaralah yang sopan pada gurumu, Myung Hee-ya" nasehat Hyung Dae yang masih menarik kerah belakang Hoodie Myung Hee tanpa memedulikan gumaman Myung Hee yang minta dilepaskan.
"Tidak untuk bapak!" balas Myung Hee dengan tatapan sengit.
"Aish,yang benar saja! Bisa-bisa saya gila menghadapi murid seperti kamu" gumam Hyung Dae yang masih dapat didengar oleh Myung Hee.
"Kalau bapak gila masuk saja ke rumah sakit jiwa. Bereskan?!" saran Myung Hee yang justru nampak seperti mengejek pada Hyung Dae.
"Ikut saya,jangan banyak bicara lagi!" ucap Hyung Dae menarik kembali kerah belakang Hoodie Myung Hee.
Akhirnya Myung Hee terpaksa mengikuti Hyung Dae yang justru nampak tidak peduli pada Myung Hee yang kesusahan berjalan membelakangi, perdebatan dari mereka belum selesai sampai disitu saja.
"Silahkan duduk, pak" kata Myung Hee setelah terlepas dari tarikan Hyung Dae kemudian duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan kursi milik Hyung Dae.
"Sebenarnya ini ruangan siapa?" tanya Hyung Dae berkacak pinggang dan menatap Myung Hee penuh kekesalan.
"Ruangan bapak" jawab Myung Hee dengan santainya tanpa memedulikan raut wajah Hyung Dae yang sudah memerah menahan kekesalan.
"Lalu kenapa kamu duduk terlebih dahulu sebelum saya mengijinkan?!" imbuh Hyung Dae yang tiba-tiba tertular akan sikap keras kepala Myung Hee.
"Aish! Sudahlah. Bapak tinggal duduk apa susahnya?" balas Myung Hee jengah dengan Hyung Dae yang malah memperpanjang permasalahan sepele.
Hyung Dae pun hanya bisa menghela nafas kemudian duduk di depan Myung Hee namun berbeda dengan Myung Hee yang justru sibuk menatap sekeliling ruangan milik Hyung Dae.
"Apa?!" sungut Myung Hee dengan tatapan tak bersahabat. Myung Hee tahu sejak tadi Hyung Dae ingin membahas alasan dirinya tidak berangkat sekolah kemarin.
"Kenapa kemarin kamu tidak berangkat ke sekolah tanpa alasan yang jelas?" tanya Hyung Dae tanpa basa-basi kemudian menatap Myung Hee penuh selidik.
"Itu urusan saya" jawab Myung Hee setelah terdiam sejenak namun menetralkan kembali raut wajahnya yang nampak acuh dengan lawan bicaranya.
"Apa susahnya menjawab pertanyaan dari saya? Setidaknya dengan kamu menjelaskan kronis atau alasan akan memudahkan saya bertindak terhadap sanksi yang akan saya berikan" sahut Hyung Dae yang semakin mendesak agar Myung Hee mau menjelaskan tanpa menutup-nutupi kebenarannya.
"Jika saya tidak mau,lalu kenapa bapak memaksakan kehendak anda pada saya?! Saya punya hak untuk menjawab dan tidak" balas Myung Hee yang semakin ingin menutup kemungkinan Hyung Dae tahu alasannya.
"Baiklah,saya tidak akan memaksamu. Setidaknya kamu kabari salah satu teman atau guru yang dapat kamu hubungi sebelum kamu memutuskan untuk izin,sakit atau hal lainnya" jelas Hyung Dae yang peka kalau Myung Hee kurang nyaman mengungkit-ungkit yang terjadi kemarin.
"Kenapa tidak dari tadi saja?! Membuang waktu saya saja" gumam Myung Hee.
"Lama-lama saya yang bisa mengalami gangguan kejiwaan jika terus bersama kamu" ucap Hyung Dae yang frustasi dengan sikap acuh Myung Hee.
"Bukannya bapak sudah mengalami gangguan kejiwaan?!" balas Myung Hee dengan senyuman yang terlihat mengejek oleh Hyung Dae.
"Jawab terus!" kesal Hyung Dae.
"Ya kalau ditanya,ya dijawab lah" ujar Myung Hee membalikkan ucapan Hyung Dae.
Hyung Dae berdiri dari duduknya sambil sesekali menghela nafas berat sejenak kemudian menatap menelisik pada sikap duduk Myung Hee yang nampak aneh oleh Hyung Dae.
"Duduklah yang sopan, setidaknya belajar duduk seperti perempuan pada umumnya. Anggun" jelas Hyung Dae mencoba bersabar menunggu reaksi Myung Hee.
"Anggun bukannya nama penyanyi dari Indonesia ya,pak?" kata Myung Hee yang melenceng dari arah pembicaraan.
"Jangan banyak bertanya diluar arah pembicaraan, duduk saja masih perlu dinasehati" sindir Hyung Dae dengan wajahnya yang memperlihatkan kekesalan yang begitu jelas tertuju pada Myung Hee.
"Sebahagia bapak!" sungut Myung Hee yang sejak tadi terus disindir akan penampilan dan tata krama oleh Hyung Dae.
"Sebenarnya kamu ini laki-laki atau perempuan?" Tanya Hyung Dae dengan wajahnya yang terlampau jengah.
"Dari biodata saya tertulis kalau saya perempuan" jawab Myung Hee yang belum maksud akan pertanyaan Hyung Dae yang memiliki makna tertentu.
Hyung Dae kembali memfokuskan pada penampilan Myung Hee yang terlihat seperti gadis urakan dibandingkan siswi teladan yang beberapa waktu lalu pernah dikatakan oleh salah satu guru disini. Walaupun Myung Hee dikenal sikapnya yang suka membuat masalah, dibalik itu ada prestasi di bidang non akademik dan mapel sejarah yang sering mendapatkan kejuaraan disetiap ajang.
"Ya Tuhan,lalu kenapa kamu memakai training juga dibalik rok kamu?!" kata Hyung Dae menatap Myung Hee tidak percaya
"Saya suka memakainya. Memang kenapa? Bahkan sekarang ada larangan memakai celana training?" Kesal Myung Hee.
"Bukan seperti itu, celana yang kamu pakai seharusnya digunakan untuk pembelajaran olahraga bukan keseharian selama disekolah" jelas Hyung Dae agar Myung Hee mau merubah penampilan menjadi lebih rapi.
"Untuk apa saya menuruti nasehat bapak?! Dibandingkan saya menggunakan rok pendek sekolah ini yang memperlihatkan kaki saya,saya lebih suka menutupinya. Toh banyak guru yang tidak mempermasalahkannya" sahut Myung Hee memberitahukan alasan kenapa ia menggunakan celana olahraga dibalik rok pendeknya.
"Benarkah?! Apa perlu saya memanggil orang tuamu untuk diberikan nasehat langsung oleh mereka?" ancam Hyung Dae.
"Silahkan pak" jawab Myung Hee tidak kalah santai.
"Kamu tidak takut saya menghubungi orang tuamu untuk datang ke sekolah?" heran Hyung Dae dengan reaksi Myung Soo.
"Tidak pak" jawab Myung Hee lagi dengan tersenyum mengejek.
'kenapa dia tidak takut? seharusnya dia memohon agar aku tidak melaporkannya pada kedua orang tuanya' batin Hyung Dae yang merasa keheranan dengan sikap Myung Hee.
Beberapa saat Hyung Dae berpikir sejenak sebelum akhirnya muncullah ide.
"Apa saya perlu memanggil Bu Areum?" Ancam Hyung Dae lagi.
"Jangan pak!!" Teriak Myung Hee dengan spontan dan tatapan matanya yang menyiratkan permohonan.
"Katakan alasan kemarin kamu tidak berangkat sekolah maka saya akan menutup rapat sikapmu pada saya hari ini" ucap Hyung Dae dengan tersenyum mengejek pada Myung Hee.
"Jangan panggil bu Areum! Baiklah saya tidak akan berulah lagi tapi saya mohon jangan bilang pada Bu Areum,ya?" pinta Myung Hee berharap Hyung Dae menyetujuinya.
"Baiklah,saya tidak akan bilang pada Bu Areum asalkan kamu harus memberi saya alasan kenapa kamu tidak berangkat sekolah kemarin?" ulang Hyung Dae.
'mana mungkin aku mengatakan yang terjadi sebenarnya. Apakah aku harus berbohong? Astaga,tambah dosa lagi' batin Myung Hee.
"Baiklah,jadi kemarin saya tidak berangkat karena kesiangan oleh karena itu saya malas berangkat ke sekolah yang akan berujung sia-sia" jawab Myung Hee mencoba menetralkan raut wajahnya menjadi lebih tenang agar Hyung Dae tidak mencurigai ia berbohong.
"Yang benar saja! Jika kamu tidak niat bersekolah sebelumnya lalu untuk apa kamu mendaftar sekolah?!" sahut Hyung Dae yang tidak percaya kalimat itu akan diucapkan.
"Terserah sayalah! Memang bapak yang membiayai saya sekolah?" balas Myung Hee tidak mau kalah.
"JAWAB TEROOSSSS...." Kesal Hyung Dae sambil memijat pelipisnya yang pening seketika.
"Saya akan memberi hukuman pada kamu setelah pembelajaran hari ini selesai!" Ucap Hyung Dae memutuskan untuk menghukum Myung Hee.
"Aish,yang benar saja! Dasar alien darat!" kesal Myung Hee menatap Hyung Dae sambil membulatkan matanya.
"Kamu mengatai gurumu Alien darat? Akan saya tambah hukumannya nanti" ujar Hyung Dae berkacak pinggang tidak terima.
"Sudah ceramahnya? Saya mau masuk ke kelas, sebentar lagi pembelajaran akan diadakan. Kalau begitu saya pamit" pamit Myung Hee yang tidak peduli dengan ucapan Hyung Dae sebelumnya lalu meninggalkan ruangan Hyung Dae tanpa basa-basi.
"Yak! Lee Myung Hee!" teriak Hyung Dae mencoba mengehentikan langkah Myung Hee dengan memanggilnya.
Hyung Dae terduduk lemas di kursi miliknya sambil mengendurkan dasi yang ia gunakan kemudian memijit pelipisnya yang semakin penting.
"Bisa-bisa aku mati muda karena darah tinggi mengurusi murid urakan seperti dia!" gumam Hyung Dae melepas nafas berat.
Sepeninggalan Myung Hee dari ruangan Hyung Dae,seorang sahabat Hyung Dae sekaligus guru disini masuk ke ruangan kerja Hyung Dae sambil menatap sahabatnya keheranan.
"Kamu kenapa?" Tanya masuk ke ruangan
"Kepalaku pening memikirkan sikap urakan gadis tadi" jawab Hyung Dae yang masih sibuk memijit pelipisnya yang berdenyut.
"Siapa gadis yang kamu maksud? Sejak kapan kamu memiliki kekasih?" tanya
"Aku tidak memiliki kekasih,kamu ingat trouble maker yang sering dibicarakan oleh seluruh orang di sekolah?" tanya balik Hyung Dae memastikan kalau sang sahabat tahu arah pembicaraan.
"Iya,aku ingat. Ada apa dengan dia?" jawab Jung Min dengan wajah penasarannya.
"Myung Hee,aku tadi bertemu dengannya dan malah mengatai ku Alien darat. Dasar Murid lucknut" kata Hyung Dae dengan wajah kesalnya.
Setelah mendengar perkataan Hyung Dae seketika Jung Min tertawa tanpa memedulikan Hyung Dae yang menatapnya dengan kekesalan.
"Dasar teman lucknut,masa teman dipermalukan malah ditertawakan" Sungut Hyung Dae.
"Apakah dia juga mengatakan kamu aneh atau gila?" tanya Jung Min yang masih tertawa namun terdengar mengejek Hyung Dae.
"Dasar bantet!" pekik Hyung Dae menatap Jung Min tidak suka.
"Jangan bawa-bawa tinggi badan dong, tidak ada sangkut pautnya!" balas Hyung Dae yang tidak terima dirinya dibilang pendek padahal kenyataannya memang seperti itu.
"Masa bodo!" dengus Hyung Dae mengalihkan pandangannya ke arah tempat duduk yang sebelumnya Myung Hee duduki kemudian menatap Jung Min seakan ingin menanyakan keheranannya.
"Tapi Jung, anehnya dia takut jika aku mengadu pada Bu Areum bukan orang tuanya. Aneh bukan?" kata Hyung Dae yang menyampaikan perasaan herannya.
"Yang aku dengar dari beberapa guru dan siswa, dulu waktu si trouble maker itu kelas sepuluh dia sangat dingin dan kasar. Tapi semenjak dia bertemu Bu Areum, tiba-tiba dia berubah sangat patuh pada Bu Areum. Seakan-akan dia itu eomma kandungnya. Itu yang aku dengar" jelas Jung Min mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang berhadapan dengan Hyung Dae.
"Lalu apakah bu Areum tidak kewalahan menghadapi murid model seperti gadis bar-bar itu?!" heran Hyung Dae menatap Jung Min.
"Setahuku si awalnya Bu Areum katanya mau pindah karena lelah menghadapinya. Tapi tiba-tiba gadis itu berubah menjadi patuh hanya pada Bu Areum. Bisa disebut juga gadis itu sangat sayang pada bu Areum" jelas Jung Min lagi mengingat cerita yang pernah ia dengar dari guru-guru lainnya sejak kemarin mereka masuk.
"Jadi seperti itu. Baiklah,aku sekarang punya senjata untuk mengancamnya jika dia membuat ulah lagi seperti tadi" ujar Hyung Dae tersenyum penuh kemenangan.
"Memang dia buat ulah apa,Dae?" tanya Jung Min mengerutkan keningnya tidak paham.
"Tadi dia menabrak ku di pintu depan kantor guru bukannya minta maaf dia malah mengatai ku dengan berbagai u*****n. Bisa gila aku menghadapinya" timpal Hyung Dae melimpahkan kekesalannya pada Jung Min.
"Untung aku bukan guru bimbingan konseling bisa-bisa aku gila menghadapi dia. Apakah dia cantik dan menarik?" Tanya Jung Min dengan tatapan penuh arti pada Hyung Dae, sedangkan Hyung Dae yang mendengarnya hanya memutar bola matanya jengah.
"Cantik si iya,tapi dia tomboy. Bahkan dia duduk seperti laki-laki, menggunakan celana training dibalik roknya,dan dia bahkan tak menggunakan makeup sedikit pun" ujar Hyung Dae mengingat cara berpakaian Myung Hee yang terkesan tomboy dan urakan berbanding terbalik dengan siswi SMA pada umumnya.
"Menarik juga,siapa tahu jodoh kan? Nama lengkapnya apa?" tanya Jung Min yang terlihat antusias mendengar jawaban Hyung Dae sebelumnya.
"Sebahagia mu! Namanya Lee Myung Hee" jawab Hyung Dae menatap arah lain.
"Dia berada di kelas apa?" tanya Jung Min lagi dengan tatapan berbinar-binar.
"Kelas sebelas IPA empat" jawab Hyung Dae lagi dengan perasaan tak rela.
"Pasti jodoh!" ucap Jung Min sambil menepuk tangannya antusias.
"Ingat Jung, disini kamu mencari uang bukan mencari jodoh" ujar Hyung Dae memperingati Jung Min agar mengurungkan niatnya.
"Ingatlah,siapa tahu kan jodoh denganku selagi masih sendiri kenapa harus mundur!" ucap Jung Min dengan bangganya.
'entah kenapa aku tak terima disaat Jung Min mengatakan ingin mendekati Myung Hee. Ada apa dengan perasaan ini?!' batin Hyung Dae yang bertanya-tanya dengan perasaannya sendiri.
"Yasudah,aku akan pergi mengajar sebentar lagi. Mau ngajar kelas disebelah kelas Myung Hee. Da..da..!" ujar Jung Min beranjak dari duduknya meninggalkan ruangan Hyung Dae.
"Semoga lancar Jung!" sahut Hyung Dae menatap punggung Jung Min yang semakin menjauh dari pandangannya.
'semoga mereka tidak bertemu' batin Hyung Dae berharap.
****
Jarak tak bisa membuatku tak mengenalmu. Jarak bukan pemisah tapi mungkin bisa mengikat aku dan kamu.
(Trouble Maker)
To Be Continue...