Part 3

1103 Kata
Suci pov Sudah jam 3 sore, waktunya aku harus membereskan barang barang ku yg akan aku bawa ke bogor, setelah pulang kantor tadi, aku sempat mampir ke toko kue kesukaan ku, tak ada salahnya aku ke bogor membawakan sedikit oleh oleh untuk umi salamah. Tin..tin.. Klakson mobil membuatku tersentak, sepertinya Andi sudah datang menjemputku, aku pun bergegas keluar dan mengunci tempat kos ku, aku memang tinggal sendiri di kos kos an yg lumayan kecil, Abi Ridwan selalu membujukku untuk tinggal dirumahnya, tapi aku selalu menolak, karna memang aku tak terbiasa tinggal dirumah orang lain, meski mereka sudah ku anggap orang tuaku tetap saja aku merasa tak enak. "Buku nya sudah dibawa ndi?" tanyaku pada Andi dia membukakan pintu mobil untukku. "Sudah ci, nanti distasiun Azzam akan menjemput kamu" ucap Andi yg membuatku sedikit bingung, karna aku tak tau sedikitpun wajah anaknya abi. "Tak perlu cemas, aku sudah memberi nomor telfonmu padanya, aku juga udah bilang kamu berangkatnya sekarang, jadi pasti nanti dia sudah disana menunggumu" kata Andi memperjelas kebingunganku. Saat diperjalanan menuju stasiun, entah kenapa jantungku berdetak lebih kencang, aku bingung, tapi entah apa yg membuatku seperti ini, aku pun mengucapkan istighfar sebanyak banyak nya agar tenang. "Kita sudah sampai di stasiun ci, turun gih, ngelamun aja daritadi" ucapan Andi memang selalu mengagetkanku. "Kamu ngusir aku ndi?" ucapku sedikit emosi, meski hanya pura pura saja agar dia merasa bersalah. "Haha, tidaklah Suci, kamu terus berada didekatku pun aku rela" huhhh, kalau gombalnya sudah keluar, aku pun malas menanggapinya, aku langsung keluar, dan tanpa menoleh kearahnya lagi. "Yah malah ditinggalin" diapun mengejarku sambil membawa kotak yg isinya buku, aku juga bingung, buku sebanyak itu bagaimana cara mempelajarinya sekaligus, ah tapi sudahlah, itu juga bukan urusanku, aku langsung masuk ke kreta api dan duduk di bangku yg sudah dipesankan abi, Andi pun menyusul dan meletakkan kotak buku itu ditempat barang. "Hati hati ya ci, aku pulang dulu" ucapnya sambil pergi, mungkin dia capek abis membawa kotak itu. "Hmmm" ucapku tanpa melihatnya. Andre pov Hari ini aku bergegas menuju bandung diantar oleh sekretarisku Arif, aku berencana mengunjungi orangtuaku di bogor, entah kenapa rasanya aku ingin sekali naik kreta api dari bandung, sepertinya firasat baik akan datang kepadaku, tapi entahlah, aku hanya menuruti kata hatiku saja. "Ndre lu beneran mau naik kreta? Kenapa ga naik mobil aja sih, biasanya juga lu kalo pulang ke bogor pake mobil atau gue yg anter" begitu lah kalau cerewetnya Arif udah keluar, kayak ibu ibu hamil aja pikirku. "Gue lagi ngidam pengen naik kreta, kalo ga naik kreta ntar anak gue ileran kayak elu" ucapku sambil berlalu memasuki kreta. "Sarah lu dah, yaudah hati hati, gue balik dulu, assalamualaikum" "Walaikumsalam" jawabku tanpa menoleh. Aku pun masuk ke dalam kreta dan mencari tempat duduk, dan aku mendapatkanya namun saat aku duduk. Deg!! Jantungku berdetak 2x lebih cepat, inikah firasat baik yg daritadi kurasakan. Wanita itu, wanita yg dulu pernah kulihat di mesjid, sekarang berada di depanku, ya Tuhan inikah rencanamu mempertemukanku, sampai aku tak sadar ada yg memanggil manggilku. Suci pov Aku membuka al-Qur'an yg biasa ku bawa kemana mana, untuk menenangkan jantungku yg sedaritadi tak bisa berhenti, namun saat aku sedang sibuk dengan bacaanku, seorang laki laki duduk didepanku, saat aku melihatnya entah mengapa saat itu pun dia sedang melihatku, mata kami sempat bertatapan sebentar, namun aku tersadar dan langsung membuang pandanganku saat seorang ibu ibu memanggil manggil lelaki itu. "Dek, kok senyum senyum sendiri, awas kesambet loh, yg diliatin udah merah gitu mukanya" kata ibu ibu itu, membuatku makin malu dan tak berani lagi melihatnya, kulihat dia pun langsung membuang pandangannya ke arah jendela, namun aku masih bisa melihat dengan ekor mataku bahwa dia pun masih melirikku sedikit. Kami sama sama diam, dan tak ada yg menyapa satu sama lain, sampai kreta berhenti di stasiun yg lain, dan si ibu yg berada disampingku pun turun dari kreta, kulirik pria di depanku sedikit bergerak dari duduknya agak tegak, aku pun tetap menundukkan pandanganku dengan pura pura terus membaca al-Qur'an kecilku, padahal aku tak membaca apapun karna pikiranku entah sudah terbang kemana. "Mau kemana mbak" tanya laki laki di depanku yg membuatku sedikit kaget dan mendongakkan kepalaku sedikit. Aku berfikir bahwa dia tidak bisa berbicara karna dari tadi yg kulihat dia hanya diam saja, ternyata bisa ngomong juga, aku pun tersenyum sedikit. "Mau ke bogor" jawabku sedikit cuek, karna aku bingung mau jawab apa, jantungku terus berdetak lebih kencang. Andre pov Aku memberanikan bertanya pada wanita didepanku, meski agak gugup tapi tetap ku beranikan karna ini kesempatanku untuk mengenalnya, tapi sepertinya dia wanita yg cuek, terlihat dari caranya menjawab pertanyaanku tadi dia hanya menjawab sedikit dan lebih sibuk membaca al-Qur'an kecil. Aku berfikir bahwa dia mungkin tak mau diganggu, sampai kereta berjalan kembali susana terasa sepi. "Saya Andre, boleh tau nama mbak?" tanyaku sedikit gugup karna sedikit menyesuaikan suasana detak jantungku yg sepertinya mau meloncat keluar. "Suci" tuhkan, dia cuma jawab apa adanya. akupun makin bingung harus tanya apa lagi, cuma bisa garuk kepala. Suci pov Kulihat dia seperti orang kebingungan, apa mungkin dia tersinggung dengan jawabanku yg sedikit, atau dia risih dengan keberadaanku disini, akupun menutup al-Qur'anku dan menimpannya di tasku yg ku bawa. "Maaf mas, kamu kenapa?" tanyaku padanya karna kulihat dia seperti menahan sesuatu. Andre pov Tiba tiba perutku terasa nyeri, sepertinya magh ku kambuh. "Mas kamu kenapa?" tanya Suci kepadaku, sepertinya wajahnya ketakutan begitu. "Ma..gh... Ku kambuh, awwww" jawabku terbata sambil memegang perutku. "Aduh, sebentar mas saya carikan obat" dia terlihat sangat panik, aku pun melihat wajahnya yg begitu cantik saat terlihat seperti itu. "Ga perlu, di tas ku ada obatnya" ucapku sambil menunjuk tasku yg ada diatas. "Sebentar saya ambilkan" jawabnya sambil berdiri dari duduknya. Suci pov Aku mencari cari obat yg dikatakan sma mas mas yg didepanku dengan panik, wajahnya begitu pucat, aku pun bingung harus bagaimana, aku terus mencari obatnya. "Nah, ketemu akhirnya" ucapku sambil memegang obatnya. "Sebentar aku ambilkan minum" aku pun mencari air putih ditasku yg tadi aku bawa dari rumah. Aku memberikan obat itu kepadanya dan dia langsung meminumnya, terlihat diwajahnya sedikit lega, dia menegakkan duduknya dan mendongakkan kepalanya ke atas. Aku pun memperhatikan wajahnya, sangat tampan, ucapku dalam hati. "Astaghfirullah" aku pun tersadar telah memperhatikannya dengan serius, aku langsung istighfar dan mengalihkan pandanganku, kulihat dari ekor mataku dia melihatku, mungkin dia kaget karna aku mengucapkan istighfar, kulihat dia hanya tersenyum, senyum yg sangat manis, menurutku. Andre pov Sedikit demi sedikit sakitku pun hilang, alhamdulillah, ucapku dalam hati, kulihat dia begitu memperhatikanku saat aku sedang menyesuaikan tubuhku setelah minum obat, dan tiba tiba dia mengucapkan istighfar, mungkin dia tersadar bahwa tatapannya bisa menimbulkan zina mata, aku pun membuka mataku dan tersenyum padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN