Author pov
Selama perjalan ke bogor, mereka habiskan waktu untuk mengobrol, Andre pun tau bahwa Suci berasal dari jogja, begitupun Suci yg tau bahwa Andre berasal dari bogor.
"Kamu ke bogor mau ngapain?" tanya Andre.
"Aku mau ngantar buku milik bos ditempat aku kerja untuk anaknya yg sekarang lagi mondok di pesantren" ucap Suci menjelaskan.
Andre pun teringat sesuatu saat ia menyebutkan pesantren, ia ingat sahabat lamanya yg tinggal juga dipesantren, namun ia tak berani menanyakan pada Suci, takut ia dianggap terlalu ingin tau.
"Kenapa harus diantar? Kenapa tidak dikirim melalui pos aja? Kan kasihan kamu harus jauh jauh kesana hanya untuk mengantar buku" Andre berkata begitu hanya karena ia melihat sedikit wajah lelah dari gadis yg ia kagumi sejak lama itu.
"Aku dibogor tidak sebentar, sampai 10 hari, sekaligus mengikuti pengajian di pesantren, udah lama aku ingin mengunjungi pesantren itu, tapi baru ini aku dapat cuti, jadi akan aku manfaatin waktunya dengan sebaik mungkin" Suci menerangkan dengan tersenyum manis, membuat pria di depannya menjadi salah tingkah.
Sementara dilain tempat...
Azzam sedang siap siap pergi ke stasiun untuk menjemput karyawan abi nya, tadi pagi ia dapat sms dari sekretaris abinya bahwa karyawannya sudah berangkat dari 3 setengah jam yg lalu, mungkin sekitar 15 menit lagi dia akan sampai pikir azzam.
Suci pov
Kreta api sudah sampai ke stasiun bogor, alhamdulillah, begitulah aku, selalu berucap syukur dengan hal hal kecil yg aku jalanin, itu akan membuatku menjadi orang yg tidak sombong.
Aku segera bangkit, dan menurunkan kotak yg berisi buku, tapi kotak itu terasa begitu berat menurutku.
"Sini biar aku ambilin" mas Andre menghampiriku, akupun segera bergeser karna tak ingin bersentuhan dengannya.
"Tidak usah mas, biar aku saja" ucapku karena tak ingin merepotkannya.
"Menariknya saja kamu tak bisa, apa mau kotak ini menimpa badanmu yg mungil itu?" kata Andre yg membuatku jadi merasa takut.
"Baiklah" aku hanya mengangguk malu.
Author pov
Andre berjalan duluan sambil membawa kotak berisi buku milik Suci, dan Suci hanya mengikutinya dari belakang.
"Jemputan kamu udah datang?" tanya Andre saat mereka sudah turun dari kreta.
"Astaghfirullah, sebentar mas" ucap Suci kaget, yah, ia lupa melihat hp nya karna terlalu sibuk memikirkan yang ia sendiri tidak tau, lucu memang.
"Astaghfirullah, aku lupa ngecas hp aku, hpnya mati, ya ampun aku harus gimana" ucap Suci sedikit panik, dia pun tak tau harus bagaimana.
Tiba tiba Andre menyodorkan hp nya kepada Suci, setelah melihat wanita itu begitu paniknya karna hp nya mati.
Andre pov
"Pakailah" aku menyerahkan hp ku pada Suci setelah ku lihat dia begitu panik.
"Maaf mas aku merepotkanmu" ucapnya sedikit menunduk, mungkin dia berfikir aku selalu merepotkannya, padahal aku sangat senang bisa membantunya.
"Tak apa, bukankan manusia harus saling tolong menolong?" ucapku meyakinkannya.
"Baiklah, terima kasih" kulihat dia mulai mengetikkan nomor di hp ku, dan menelfon entah siapa aku pun tak tau, dan sedikit ku dengar pembicaraannya.
Suci pov
Aku pun menghubungi abi Ridwan, karna aku tak tahu lagi harus menghubungi siapa, karna hanya nomornya saja yg aku ingat.
"Hallo abi, assalumalaikum"
"Waalaikumsalam, dengan siapa?"
"Ini Suci abi, Suci sudah di stasiun bogor abi, tapi hp suci mati, jadi suci tidak tau harus mencari anak abi, suci tidak punya nomornya, tadi pagi Andi hanya bilang kalau dia hanya memberi nomor Suci saja ke mas Azzam"
"Yasudah, abi akan hubungi Azzam, kamu tunggu saja disitu"
"Baik abi, maafin Suci"
"Iya tak apa, kamu pakai pakaian warna apa?"
"Suci pakai hijab warna ungu muda, dan baju gamis hitam"
"Baik abi hubungi Azzam dulu"
"Baik abi, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Aku mematikan telfon abi, dan mengembalikan hp nya mas Andre.
"Terima kasih mas kamu mau menolong saya" ucapku sambil menunduk, aku tak berani menatap wajahnya lagi, entah mengapa jantungku selalu berdetak sangat kencang saat menatap wajahnya.
"Sama sama Suci" ucap mas Andre.
"Mas tidak pulang duluan? Ini sudah mau sore" tanya ku padanya.
"Tidak, aku tak mungkin meninggalkan gadis sepertimu disini sendirian" ucapnya yg membuat jantungku kembali berdetak sangat kencang, (Ya Allah, perasaan apakah ini) ucapku dalam hati.
Azzam pov
Aku sudah berkali kali menelfon nomor yg diberikan Andi tadi pagi, tapi nomor itu pun tidak aktif sampai sekarang, aku pun mulai kesal dan emosi, sudah 15 menit aku menunggu disini tapi aku sendiri pun tak tau seperti apa karyawan abi ku, yah aku baru teringat abi, aku harus menelfonnya.
Saat ingin mengetik nomor abi, tiba tiba ada panggilan masuk, yah itu dari abi, segera ku angkat dengan perasaan kesal.
"Hallo abi"
"Assalamualaikum Zam"
"Walaikumsalam, abi bagaimana ini, nomor yg diberikan Andi tak aktif, aku sudah menunggunya daritadi, bahkan aku tak tau seperti apa orangnya"
"Barusan dia telfon abi, hp nya mati, dia telfon dari nomor orang lain, coba kamu cari, dia pakai hijab ungu muda dan gamis warna hitam, namanya Suci"
Sedikit aku mencari orang yg ciri cirinya dijelaskan abi, dan tunggu dulu.
"Tunggu abi, abi bilang dia pakai hijab ungu muda dan gamis hitam, jadi karyawan abi perempuan?" ucapku sedikit kesal, karna abi tak pernah bilang bahwa dia mengirim wanita hanya untuk mengantarkan buku, dan menyuruhnya menemani selama 10 hari dibogor, apa apaan ini pikirku, pasti ada yg tidak beres.
"Iya, maaf abi baru kasih tau kamu sekarang, kamu masih disana kan?"
"Iya aku masih disini abi, baiklah aku akan mencarinya"
"Baiklah, Assalamuaikum"
"Walaikumsalam"
Akupun menutup telfon dengan sangat kesalnya, terpaksa aku mencarinya karna abi memaksaku mencarinya. Tiba tiba saja aku menangkap sosok wanita yg ciri cirinya seperti yg disebutkan abi tadi, tapi tiba tiba langkahku berhenti saat aku melihat seorang pria disampingnya, pria yg dulu pernah menjadi sahabatku, namun menghianati persahabatannya, tapi mengapa wanita itu bersamanya, apakah mereka dekat, tapi kulihat mereka berbincang sangat dekat, apa abi mengirim mereka berdua, tapi abi hanya menyebutkan satu saja, dan baru aku tau tadi bahwa namanya Suci.
Aku memberanikan diri berjalan menuju tempat Suci bersama lelaki itu, dan dengan cepat aku pun menarik tangannya.
Suci pov
Aku kaget saat tiba tiba seseorang yg tak ku kenal menarik tanganku dengan kuat dan hampir membuatku jatuh.
"Hey apa apaan ini lepasin aku" aku pun melepaskan tanganku dari genggamannya dengan keras sehingga membuatnya sedikit marah.
"Ikut aku pulang" dia mengatakan itu seolah dia adalah suamiku, tapi siapa dia, aku tak mengenalinya, tapi tunggu.
"Kamu Azzam?" tanyaku padanya karna aku baru ingat bahwa yg menjemputku adalah anak abi.
"Hmm" dia mengangguk dan tak melihatku.
Andre pov
Aku melihat Suci yg tiba tiba ditarik oleh seorang pria dengan sangat kasar, tapi saat aku ingin mencegahnya akupun langsung terdiam karna aku mengenalinya, yah dia adalah Azzam, sahabatku dulu, tapi sekarang, mungkin dia menganggapku mantan sahabat.
Kulihat mereka bertengkar, apakah mereka saling dekat, pikiranku pun dipenuhi pertanyaan yg masih aku bingung bagaimana mencernanya. Ku beranikan diri untuk menghampiri mereka yg sepertinya sudah saling diam.
"Apakabar Zam?" ucapku pada Azzam sambil mengulurkan tanganku untuk menyalaminya, namun sepertinya dia enggan membalasnya dan malah membuang wajahnya kesamping.
" Mas Andre kenal dengannya?" tanya Suci kepadaku.
"Aku mengenalinya, tapi mungkin dua sudah tak mengenaliku, apakah dia yg menjemputmu?" tanyaku pada Suci dan kulihat dia hanya mengangguk dengan wajah yg sedih dan sedikit takut menurutku.
" Tak perlu takut padanya, dia orang baik, pulanglah, sudah mau maghrib, aku juga sudah dijemput" ucapku sambil memberikan kotak miliknya.
"Terima kasih mas, hati hati dijalan, Assalammualaikum" ucapnya menunduk, akupun sedih melihatnya, entah kapan aku bisa bertemu dengannya lagi.
"Walaikumsalam" ucapku sambil melirik Azzam yg kulihat dia sedang memperhatikan Suci. Aku pun membalik badanku dan pergi, namun beberapa langkah aku berjalan, Azzam tiba tiba memanggilku.
Suci pov
"Tunggu!"
Kulihat Azzam tiba tiba memanggil mas Andre, ada apa sebenarnya dengan mereka, kulihat tatapan mereka begitu saling merindukan seperti saudara, tapi disisi lain kulihat mereka seperti saling bermusuhan, otakku pun dipenuhi oleh begitu banyak pertanyaan yg aku bingung harus bagaimana.
"Dia calon istriku, aku harap kau tak mengambil milikku lagi" ucap Azzam kepada mas Andre yg membuatku sedikit kaget dan bingung apa maksud dari perkataannya. kulihat mas Andre pun berbalik menghampiriku dan Azzam.
"Aku tak pernah mengambil apapun darimu, jagalah dia dengan baik, jangan sia sia kan lagi untuk yg kedua kalinya, aku pamit, assalamualaikum" dia pergi dengan ucapan yg meninggalkan sejuta pertanyaan diotakku.
Andre pov
Dia masih sama seperti dahulu, berkata seolah itu miliknya tapi dia selalu menyianyiakan pada akhirnya, memberikan luka yg teramat sakit dan berlalu seperti orang yg tak bersalah, dan melemparkan kesalahan itu padaku, padahal semua yang dia ketahui hanya satu keegoisannya yg tak pernah mau mendengarkan penjelasanku.
Akupun pergi dengan menatap sekali lagi wanitaku, yah wanitaku yg dia sebut miliknya, hatiku sedih, apakah kali ini aku harus merelakan wanitaku untukknya yg egois.
Tak terasa air mataku menetes dengan sendirinya.
Azzam pov
Entah apa yg sudah ku ucapkan tadi, aku pun tak tau, emosi seolah olah telah mengusai hatiku lagi, sakit yg dulu sudah susah payah kuhilangkan kini muncul lagi sesaat setelah aku melihat wajahnya, Andre.
Dia datang dengan wanita yang menurutku begitu sederhana namun matanya bisa menghipnotis siapa saja yg melihatnya, begitu indah.
Pikiran jahatku langsung menguasai hatiku, aku ingin membalaskan rasa sakit hatiku kepadanya, kepada Andre yg dulu pernah merebut wanita yg kucintai, dan dengan mudahnya dia pergi membawa wanitaku, dan sekarang, kulihat tatapannya begitu menyukai wanita disebelahku ini, takkan kubiarkan dia mengambil wanita ini dariku dengan cara yang kotor seperti dulu.
Aku akan tunjukkan padanya bahwa aku juga bisa merebut apa yg dimilikinya, karna dengan begitu, sakit hati yang selama ini ku pendam akan terbalaskan.