Tak Sesuai Harapan

1445 Kata
Jika kau pernah merasa kecewa, patah hati yang teramat sangat. Maka itulah Nisa sekarang. Pertemuan dengan sosok yang sangat penting bagi hidupnya, ternyata tak seindah ekspetasinya. Setelah sekian lama tak saling bertatap wajah. Kini pertemuan itu terasa hambar. Entah apa yang terjadi. Semua diluar pengetahuannya. Kenyataan bahwa pertemuannya dengan sang bunda yang sudah lama terpisah tak semanis yang di bayangkannya. Hatinya bertanya- tanya, ada apa ini sebenarnya? Bahkan tak jarang, ia dapati tentangan terhadap sesuatu hal, yang menyangkut dirinya, Anisha Shanum... padahal sudah di setujui bapaknya. Entahlah... Apapun itu... Biarkanlah waktu yang lagi- lagi menjawabnya. *** Saat ini 10 hari pertama bulan Ramadhan. Sekolahnya di liburkan hingga 7 hari setelah idul fitri. Namun dengan syarat, mereka harus menyerahkan bukti mengikuti kegiatan pesantren Ramadhan. Di sinilah Anisha dan Erika sekarang, di sebuah acara yang mereka ikuti bersama. Bertajuk 'Pesantren Sastra'. Acara itu digagas oleh beberapa muda mudi yang berkecimpung dalam bidang sastra. Anisha dan Erika memiliki ketertarikan yang sama di bidang itu. Bahkan mereka pun terlibat di dalam salah satu sanggar teater di kotanya. Dari sanalah mereka mendapatkan informasi mengenai program 'Pesantren Sastra' ini. Satu hal yang Anisha sukai. Sehingga ia bisa larut berjam- jam tenggelam dalam buku yang tengah ia selami. Terlebih jika itu sebuah karya sastra. Itulah salah satu cara untuknya sekedar mengalihkan diri dari dunia kelabunya. Bisa membawanya melanglang buana kemana saja yang diinginkannya. Untuk sekedar melepas penatnya. Singkat cerita, program yang hanya berlangsung tiga hari pun berjalan. Berbagai muda mudi sebayanya dari berbagai latar belakang terkumpul dalam wadah itu. Ada yang sekedar suka dengan karya sastra, ada yang mulai berani menulis, ada yang bahkan sudah mengasuh sebuah redaksi sastra di majalah lokal atau sekedar buletin mingguan, bakan ada seorang yang mengaku berasal dari dunia entertain yang tengah menapaki karier, meskipun masih dalam tahap mendaki, belum terlalu tinggi. Afriza namanya, seorang entertainer muda yang mengikuti program 'Pesantren Sastra'. Ia memiliki ketertarikan khusus, sejak pertama kali berinteraksi dengan Anisha. Selalu saja ada alasannya untuk membangun interaksi dengan tersebut, membuat Anisha merasa risih karenanya. "Kayaknya, dia suka kamu Nis..." Ujar Erika. "Shutt.., ngarang kamu Ka.." Sahut Anisha menyebarkan pandangannya. Takut kalau saja ada yang mendengar celetukan Erika. "Oops, lupa sorry Mario...." Gumam Erika, seolah- olah Mario ada di tempat yang sama. Anisha hanya menggelengkan kepalanya, meneruskan aktivitas buka puasa bersama dengan para peserta 'Pesantren Sastra' yang lain. "Ini aku bawain minum, khusus untuk Anisha seorang..." Tiba- tiba saja Afriza sudah ada di antara Anisha dan Erika. Sontak Anisha terbatuk- batuk, tersedak makan yang belum siap ditelannya. Erika segera menyodorkan minum pada Anisha. "Hati- hati Nis, tenang Mario gak kemana- mana kok..." Goda Erika, mendapat delikan tajam dari Anisha. "Uuhh... Kamu sih, bikin kaget.." Kesal Erika yang di balas cengiran Afriza. "Sorry..." Cicit Afriza. Menggaruk tengkuknya. --- Selepas Isya, acara hari pertama itu pun selesai. Erika dan Anisha berbeda arah pulang. Anisha tinggal seorang diri menunggu kendaraan yang akan membawanya pulang. Hingga Afriza menghampiri. "Pulang Sha..?" Sapa Afriza sembari mengambil tempat di sebelah Anisha duduk. "Ya". Jawaban singkat Anisha. Dengan mata tetap fokus pada jalanan. "Kemana pulangnya?" "Arah alun- alun kota". Anisha tak sepenuhnya berbohong. Hanya menyebutkan sebuah tempat yang jadi patokannya. Meskipun itu cukup jauh, masih harus di tempuh dengan 10 hingga 15 menit jalan kaki. "O..., kebetulan satu tujuan kita, aku pun menuju ke sana. Ada sesuatu yang harus dilakukan.." Papar Afriza. Anisha kikuk, tentunya dengan jawabannya tadi, merasa salah bicara. Terlebih risih, karena anak yang usianya beberapa tahun di bawahnya ini, begitu kentara, tak segan- segan menunjukkan perasaannya, meski baru saja bertemu hari ini. Dan itu pun di sini. Tak berapa lama, yang di tunggunya tiba. Angkutan umum yang dimaksud Anisha. Lagi- lagi Afriza masih saja ngintil. Memilih tempat di samping Anisha. Beberapa kalimat percakapan Afriza di jawab singkat oleh Anisha. Nyaris tanpa minat, bila saja Anisha tak terfikir tentang sopan santun. Tiba- tiba alun- alun kota, Anisha tak turun. Namun Afriza yang sudah terlanjur menyetop laju kendaraan itu, terpaksa turun. Mungkin takut kena makian si supir. Anisha bernafas lega. "Loh Sha kenapa ga turun..?" Tanya Afriza kaget. Saat dilihatnya Alisha masih duduk manis, tak ada ciri- ciri beranjak. "Di depan, sedikit lagi.." Sahut Anisha. Lantas kendaraan pun kembali melaju. Tinggalkan Afriza dengan kekecewaannya. Salah strategi. --- Hari kedua dalam program 'Pesantren Sastra'. Suasana lebih mencair dari hari sebelumnya. Mungkin karena mereka sudah mulai saling mengenal satu dan lainnya. Afriza pun lebih gencar dengan maksud dan tujuannya. Menciptakan opini publik, seolah ia dan Anisha benar- benar dekat. Program yang di pandu oleh Lisna dan Fadhil, selaku penggagas program tersebut pun berjalan dengan sangat baik. "Besok, hari terakhir program ini, di harapkan akan lahir penerus yang akan mengembangkan program ini. Tentunya untuk pelaksanaan di tahun- tahun seterusnya. Maka untuk agenda besok setelah materi, akan di tetapkan susunan kepengurusan inti dari program 'Pesantren Sastra' ini... " papar Fadhil. "Dan untuk pertemuan hari ini di cukupkan sekian. Untuk besok mungkin acara usai lebih malam. Jangan lupa izin kepada orang tua kalian.." Timpal Lisna. Acara hari itupun usai setelah di tutup lantunan do'a. --- Tak ada Afriza ngintil hari ini. Karena selepas bubar acara tadi, terlihat anak itu dibonceng seorang peserta lainnya. Dan itu buat Alisha lega. Seperti biasa rutinitas kepulangan Alisha, menuju rumah dengan rute biasanya. --- Hari ketiga program 'Pesantren Sastra'. Acara demi acara telah berlangsung. Hingga saat ini, Anisha terpilih sebagai ketua pertama dari generasi pertama Pesantren Sastra. Bukan atas keinginannya. Karena seorang Anisha tak pernah menyukai posisi itu. Seluruh rekan mendesaknya. Hingga tak ada pilihan lain selain, ia harus menerimanya. "Ayo lah Sha... Aku dukung kamu jadi ketuanya". Bujuk Afriza. "Aku gak bisa.., biar aku jadi apapun, selain menjadi ketuanya..". Anisha mencoba bernegosiasi. "Tak apa Nis, kita semua tentu saja akan selalu membantu dan mendukung kamu". Sahut, yang lain. "Kamu yakin Nis?" Tanya Erika. "Entahlah Ka...". "Ok, berhubung adzan maghrib telah berkumandang, kita lanjut setelah isya nanti". Putus Fadhil. Pioneer dari Pesantren Sastra. "Anisha, mudah- mudahan sudah punya keputusannya setelah isya nanti ya.." Sambung Lisna. Seusai sholat berjama'ah di lanjutkan dengan berbuka puasa bersama, seperti biasanya. Tampak dari tempat Anisha dan Erika duduk saat ini, Afriza tengah mengemas beberapa makanan, yang kemudian dibawanya ke arah Anisha dan Erika. "Kok yang di bagi cuman Anisha doang Za..?!" Teriak peserta lain. "Khusus... Special for her" Jawab Afriza sekenanya. Mendapat cibiran dari peserta yang lainnya. "Kayaknya bentar lagi ada moment Katakan Cinta nih.." Gurau Lisna. Mendapatkan sorakkan meriah dari hadirin. "Shuuutttt..." Tukas Afriza dengan kerlingan menggoda ke arah Lisna. Momen buka puasa bersama pun di isi keriuhan dari para peserta yang mulai saling akrab. Hingga tiba saat pengesahan susunan kepengurusan yang telah terbentuk. Dengan hasil final. Alisha sebagai ketuanya. Dan tentu saja Afriza bersorak paling Antusias. Karena itu tak lepas dari ulahnya. Melobi peserta yang lain agar jatuhkan pilihan mereka pada Anisha. Hampir tengah malam acara pun akhirnya selesai. Erika baru saja di jemput ayahnya beberapa saat yang lalu. Tinggallah Anisha seperti biasa menunggu kendaraan yang akan membawanya pulang. Kembali Afriza nimbrung. Memecah kecemasan yang mulai terasa mencekam di hati Anisha. Tentu saja. Ini hampir tengah malam, ia masih berada di luar rumah. Sendirian pula. Andai Mario ada, pasti dengan senang hati mengantarnya pulang. "Sha. Aku temani ya.." izin Afriza. Mau tak mau di angguki Anisha. Karena ia pun takut jika menunggu sendiri. Tak lama kendaraan yang di tunggunya tiba. Namun naasnya. Tak bisa mengantarkan sampai ke tempat tujuan Anisha, karena kata si sopir, mau masuk garasi. Jadilah Anisha dan Afriza menempuh sisa perjalanan dengan berjalan kaki. Suasana malam yang lengang. Karena itu bukan kota besar. Hanya kota krcil yang tercatat namanya saja dalam peta negara Indonesia tercinta ini. Banyak yang Afriza ceritakan sepanjang perjalanan, namun tak sepenuhnya tertangkap di telinga Anisha. Karena fokusnya ingin segera sampai di rumah dan bebas dari bocil yang baru saja blak- blakan mengatakan cinta itu. "Gimana Sha, mau ya? Biar aku tenang. Aku harus berangkat ke Jakarta, malam ini juga. Ada kontrak kerja yang harus aku tanda tangani.." Tanya Afriza. "Gak bisa Za.." "Kenapa?" "Dah ada seseorang.." "Ok, gak papa. Biar nanti aku kapan- kapan main ke sekolah kamu. Mungkin kamu butuh waktu.." Afriza masih tak mau menyerah. Hingga tiba di depan pintu rumahnya. Anisha sangat bersyukur. "Makasih Za.." tutur Anisha. Sengaja tak tawarkan Afriza mampir, karena dia pasti mau. "Gak ajak aku masuk?" Tuh kan bener. "Maaf, sudah malam.." Pungkas Anisha menutup percakapan. --- "Baru pulang Nis.." Sambut Bramantyo. Anisha mengangguk lantas mencium takjim punggung tangan Bapaknya itu. Mengalirlah cerita singkat dari mulut Anisha kepada kedua orang tua tercintanya itu. Ada secercah harapan dalam hatinya, bahwa keduanya merasa bangga terhadap dirinya. Namun harapannya harus pupus ketika mendengar respon Ibunya. "Cih.., jadi ketua 'Pesantren Sastra'. Mimpin diri sendiri aja belum bisa..". Deg... Adakah patah-hati yang lebih besar daripada ini... ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN