Kilas balik Anisha

1939 Kata
Dulu Anisha bukanlah gadis penyendiri dan tertutup. Ia adalah gadis sederhana, manis, periang saat bersama teman- temannya, namun begitu pemalu saat berhadapan dengan cintanya. Anisha datang sebagai murid baru di sekolah Anton, ketika itu. Dengan karakter yang dimilikinya, dalam waktu singkat ia mampu berbaur dengan banyak teman barunya. Sungguh hal itu benar- benar perpaduan yang sempurna, untuk menarik perhatian seorang pria sepopuler Anton Pramudya. Sosok tegap, rupawan, cerdas, dengan bakat bejibun yang mengagumkan. Lambat laun pertemanan yang terjalin di antara Anisha dan Anton berubah menjadi ikatan cinta. Dan di situlah awal segalanya, Anton yang merasa sudah memiliki Anisha menuntut perhatian dan sikap yang lebih dari saat mereka sebagai teman, sementara gadis itu, yang bahkan baru saja mengenal cinta, tak tahu harus berbuat apa, bahkan ia gugup dan takut, saat Anton memintanya untuk bertemu berdua. Hanya berdua saja. Ia risih mendengar cerita tentang Yuli dan Farid, dan cara interaksi mereka saat bertemu berdua. Dan Anisha tahu itu perbuatan Amoral. Ia pun takut itu pula yang Anton inginkan darinya. Berulang kali Anton meminta, sebanyak itu pula Anisha menolak. Hingga suatu kejadian membuat Nisa dalam dilema. Anton memainkan peran bersama Putri, di depan matanya. Padahal saat itu Anisha sudah mulai memupuk keberaniannya untuk menghadapi Anton. Ya Anisha sudah sudah jatuh cinta sepenuhnya pada sosok Anton, namun ia berharap Anton menghargai keputusannya, andai kata hal macam Yuli dan Farid yang diinginkan Anton darinya. --- "Hei Anton, ngapain sih Lo masih di sini. Noh temen- temen Lo dah jauh. Risih gue.." protes Herna saat mereka di jam olahraga. "Biarin aja lagi Na. Orang Anton sama pawangnya, ceweknya ada sini.. Tenang aja lagi". Timpal yang Leni. Seerrr... Hawa dingin serasa merasuk ke sekujur tubuh Nisa, seketika gugup, malu dan takut itu kembali menguasai dirinya.. Namun ada secercah rasa bahagia, mengingat Anton mau mengalah, menemuinya terlebih dahulu. "O ya bener juga. Kenapa gue gak ngomong ke ceweknya.. Eh Put, bawa gih cowok Lo agak jauhan, risih kita masa dia ikut nimbrung di obrolan cewek sih.." lanjut Herna lagi pada Putri. Deg.. Serasa beban ribuan ton menghimpit tubuh Nisa. Seketika membuatnya mematung, menatap Putri yang mulai meraih lengan Anton. Beberapa saat nertanya bergantian menatap Putri dan Anton. Mencari kebohongan dari adegan itu. Tapi Anton tak bergeming. Bahkan membiarkan tangannya Putri melingkar di lengannya. Sekilas tatapnya bertemu dengan Anton, seolah meminta kejelasan, tapi lagi- lagi Anton diam. Luruh lantaklah semua asa yang telah di bangun Anisha. Tanpa menunggu lebih lama reaksi Anton, Anisha menghambur, berlari sejadi- jadinya. Meninggalkan para pemeran di panggung itu. Tanpa hiraukan panggilan Anton setelahnya. Air matanya sudah tak bisa lagi dibendung. Dadanya sesak, sakit, terluka, merasa dihianati. Namun hati kecilnya masih berharap Anton mengejarnya, bukan sekedar meneriakan namanya. Namun harapannya tinggallah harapan, kenyataannya tak kunjung terwujud. Anton tak juga mengejarnya. Rosita, yang menyaksikan langsung peristiwa yang terjadi pada sahabatnya itu, lantas mengejar Nisa. Coba menenangkannya. Akhirnya Nisa berhasil kembali menguasai dirinya, tangisnya mereda, menyisakan sembab di matanya. Mencoba tersenyum kepada Rosita sahabatnya. Seolah mengatakan 'aku baik- baik saja'. "Nis, tenang, mungkin mereka cuma bercanda..." hibur Rosita. Anisha mengangguk faham. Tak lama Putri datang, mendekat ke arah Anisha. Rosita faham, memberikan mereka ruang untuk selesaikan apa yang baru saja terjadi. "Nis, aku minta maaf. Aku dan Anton sungguh gak ada hubungan apa- apa. Kami cuma pura- pura. Kami hanya teman. Semua ini cuma sandiwara.." jelas Putri. Di luar dugaan Putri, Anisha justru tersenyum. Mengusap bahunya.. "Beneran juga gak apa- apa kok. Santai aja kali..." Lantas beranjak menuju Rosita. Tak hiraukan lagi panggilan Putri setelahnya. Tiba- tiba tubuh Anisha oleng, seketika ambruk sebelum mencapai Rosita. Gelap. Kakinya seakan kehilangan daya, untuk menopang tubuhnya. Begitu sadar, ia tengah berada di tengah teman- temannya. Diam- diam diedarkan pandangannya, mencari sosok Anton. Namun hanya kekecewaan yang didapatkan. Tak ada Anton di sana. 'Jikalau semua itu hanya sandiwara, lantas di mana ia sekarang?' lirih batinnya. *** Waktu terus bergulir, membawa berbagai kisah dan episode berikutnya. Menyambangi berbagai tempat. Hingga berlabu di tempat ini. Tempat yang tentu berbeda dengan Anton. Meski segala hal tentangnnya tak mudah di Enyahkan dari benak Anisha. Bakhan bayang- bayangnya terkadang tertangkap netra Anisha. --- "Tunggu tunggu Nis, Anton yang kamu maksud itu..., Anton Pramudya, si ganteng kalem juara puisi itu?" Tanya Yuni sahabat dekatnya. Ya Anisha ceritakan semuanya pada Yuni. Anisha mengangguk, tersenyum samar. "Aku kenal dia. Dia sodara jauhku. Bahkan, dia tak jarang dia datang ke desaku, ngasih materi di kajian jum'at". Jelas Yuni. *** Tetttt teeeetttt teettttt Bel tanda istirahat usai nyaring terdengar. Anisha, Yuni, Melin dan Ushi, segera beranjak meninggalkan kantin. Bergegas menuju kelasnya. Segera mereka menuju tempatnya masing- masing. "Eh guys, perhatian- perhatian, gue mo minta saran nih. Si Anton ngajak gue balikan lagi loh, terima at--tau g--". Kalimat Putri yang terdengar seantero kelas terhenti. Saat netranya menangkap keberadaan Nisa. Yuni mengelus pundak Nisa, menatap penuh rasa empati. Sesaat memang Nisa terpengaruh. Namun detik berikutnya tersenyum ke arah Yuni. "So... Sory Nis gue gak da maksud bu--" sesal Putri, terpotong kalimat Nisa. "Gak papa tenang aja..." sahut Anisha. Menutup rapat semua gejolak di hatinya. Tak biarkan siapapun mengendusnya. Termasuk ketiga sahabatnya yang kini menatapnya prihatin. --- Begitu tiba dirumah, lekas Anisha mengurung diri di kamarnya, tangis yang sedari tadi disembunyikan dari semua orang, pecah seketika. Sesak yang ditepisnya sedari tadi, merasuk begitu saja ke dadanya. Hanya keheningan yang temaninya tergugu dalam tangis. "Ya Rabb, mengapa sesakit ini. Jika dia memang bukan takdirku. Bawaku pada penyembuh lukaku". Lirih Nisa dalam bait do'anya. Hingga kelelahan merengut kesadarannya. --- Dirasakannya sebuah lengan kokoh melingkar diperutnya. Membuat gundah yang sedari tadi merundung serasa lepas begitu saja. Anisha tersentak seketika kembali ke alam nyata, dan ternyata... Hanyalah mimpi. Diusap wajahnya, kepalanya terasa berdenyut, matanya terasa perih. Sesaat tercenung, mengingat mimpinya baru saja.. "Ya Rabb, jika itu jawaban dari-Mu, sungguh hamba hanyalah mahluk-Mu yang lemah ilmu, mohon petunjuk dengan cara yang mampu hamba pahami". Lirih Anisha. Tak lama lelah kembali rengut kesadarannya. Nampak begitu nyata... Seraut wajah teduh menatapnya, dengan senyuman yang menentramkan hati, mengangguk ke arah Anisha, seakan menyakinkan. 'Ya, ini aku. Takdir mu'. --- Anisha tertegun merenungi apa yang di alaminya semalam. Dua mimpi yang seolah berkaitan menjawab rintihannya pada Sang Maha Kasih. "Sudahlah Nis, jangan terus di pikirin si Anton itu. Kamu juga berhak bahagia. Kalau memang dia gak ada di jalan mu saat ini, berarti dia bukan yang terbaik terbaik buat kamu.." bujuk Yuni saat temukan kembali sahabatnya ini melamun. "Siapa lagi yang ngelamun Yun.., orang aku lagi liatin Aldiano main basket. Hebat ya dia" elak Nisa. Diam- diam mencoba merekam wajah Aldiano, mencocokkannya dengan raut yang semalam di lihatnya dalam mimpi. 'Apa itu Aldiano orangnya?' lirih batin Nisa. *** Siapa sangka pertemuan dengan sosok pemilik senyum manis yang menurut Anisha berlebihan itu, membawanya pada jawaban sebenarnya dari pencarian yang berkaitan dengan istikharohnya tempo hari. Meski kian Nisa menentang, menghindari dan bahkan menjauh. Maka sekeras itu pula Sang Pemilik waktu mendukung Mario untuk terus bersabar, maju dan bertahan. *** Lagi dan lagi bayangan Anton mengusik ketenangan Anisha. Tadi, saat dalam perjalanan pulang bersama Mario, netranya tanpa sengaja bersibobrok dengan Anton. Beberapa saat saling menyelami arti tatapan satu sama lain. Hingga kesadaran kembali menguasai diri, Anisha dan memutus tatapannya. Tentu semua itu terjadi diluar perhatian Mario, saking singkatnya peristiwa itu. Namun mampu mengobrak- abrik pertahanan Anisha. Buktinya hingga selarut ini, matanya belum juga terpejam. Gelisah tak menentu. Namun kali ini tak ada lagi air mata dan emosi berlebihan. *** Anisha POV on Puluhan kali ku coba cari posisi nyaman untuk mulai terpejam, namun masih juga belum menemukannya. Segala cara ku lakukan untuk sekedar dapat segera terpejam. Namun kantuk itu tak kunjung datang menjemput. Berbagai kilasan memenuhi kepala ku. Segala hal yang buat ku mengerti tentang berbagai rasa sakit, rindu, senang, sedih, kecewa serta lainnya, dan kalian tahu? Semua itu sangat menyiksaku. Hingga cara terakhir ku lakukan. Ku tenggelamkan diriku dipelukan-Nya, ku adukan segala kegundahan jiwaku pada-Nya, ku lepaskan segala rasa yang mengikat hatiku. Bersimpuh memohon ampun atas segala ke jahilan dan kesombonganku. Hingga 1 hal terbersit di benakku. 'Aku ikhlas dengan segala ketetapan-Mu' Itulah kunci kehidupan yang sebenarnya. Ya benar, selama ini terlalu erat ku genggam egoku untuk sekedar fahami makna sebuah keikhlasan. Menganggap diri layaknya seorang korban. Aku terlalu sombong untuk mengakui bahwa semua itu adalah ketetapan-Nya. Tanpa berfikir inilah cara indah-Nya untuk selalu melindungi ku dari hal- hal buruk. Memapah ku tuk lalui sebaik- baiknya jalan ini. Jalan hidup yang harus ku lalui sesuai garis yang di tentukan-Nya. 1 hal yang ku lupakan, bahwa Dia tak akan pernah mendzalimi makhluk-Nya. Tak kan menguji di luar batas kemampuan hamba-Nya. Dan tak ada hal sia- sia dalam setiap ketetapan-Nya. Ku renungkan semuanya, ku tanggalkan segala kesombonganku di hadapan Dia yang paling berhak untuk itu. Aku benar- benar telah terlampau jauh, mengklaim apa yang bukan hak ku. Dan akhirnya aku putuskan berdamai dengan diriku sendiri, dengan rasa sakit, dan lainnya. Aku terima semua sebagai proses pendewasaan diri. 'Aku butuh seorang yang akan selalu ingatkan ini Ya Rabb, membimbingku ke arah ridho Mu' lirihku menutup segala keluh kesahku pada-Nya. Hampir dini hari, barulah mata ku berhasil terpejam. Dengan rasa seolah bersandar dalam pangkuan seseorang yang sangat ku kenal. Dengan senyum khas yang juga sudah sangat ku kenal, mengangguk seolah memberikan ku izin untuk bersandar di pangkuannya. Hingga bawa ku terlelap semakin dalam. Suara khas pembuka hari begitu nyaring tertangkap daun telingaku. Pujian untuk segala ke Mahaan-Nya begitu merdu, merayu ku untuk segera kembali ke alam nyata, mengingatkan seluruh manusia akan tujuan penciptaannya. Perlahan kembalikan kesadaranku seutuhnya. Sejenak ku termenung mengingat apa yang membuat tidurku terasa begitu nyenyak. Dan temukan jawabannya. 'Ya itu dia pria yang selalu cari identitasnya. Tunggu jadi dia... Mario?!' gumam ku, lebih seperti sebuah pertanyaan untuk diriku sendiri. 'Jadi, selama ini, Mario-lah yang ku cari? Mario yang sekuat tenaga selalu aku hindari?' 'Mario yang selalu ku tutup segala aksesnya untuk masuk kedalam hatiku?' 'Mario yang tak pernah menyerah atas segala sikap absurd dan ribuan penolakan ku?' 'Mario yang telah membuat ku merasa nyaman, dihargai, dilindungi?' 'Apa aku mendzaliminya?' Ah... Biarlah semua ini seperti ini dulu. Hingga ku benar- benar siap dengan segala prosesnya. Aku tak ingin kembali terjebak di situasi yang sama seperti dulu. Anisha POV end *** Peristiwa tentang Anton hanyalah sebagian kecil dari misteri kehidupan Anisha. Hingga benar- benar ia kehilangan sisi periangnya, bahkan mungkin kehilangan masa remajanya. Kerasnya kehidupan menempa gadis itu, di saat ia memerlukan sosok seorang ibu, namun waktu memaksanya untuk malah memerankan tugas seorang ibu. Semuanya terjadi begitu saja, tanpa gadis itu sadari, tanpa ia mengerti. Hanya satu kalimat yang dia terima saat itu. Satu kalimat yang merubah segalanya. Satu kalimat, yang ternyata harus ditebusnya dengan luka dan air mata yang tak sedikit. "Semakin cepat Ibu pergi, maka akan semakin cepat pula kembali. Ibu titip adik- adik mu". --- Dia hanya gadis polos yang belum mengerti arti kehidupan saat itu, secara tiba- tiba harus menghadapi kerasnya dunia. Ibunya harus pergi merantau, menyempurnakan ikhtiar, untuk kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka. Seperti beberapa warga lain di desanya, yang juga telah lebih dulu pergi sebagai pejuang real. Mengadu nasib di Negeri yang terkenal gersang itu. Waktu dua tahun, sungguh masa yang sangat sulit baginya. Namun hatinya di paksa kuat, menggantikan tugas ibu, merawat ketiga adiknya. Seolah tak pernah diberi waktu untuk sekedar meratapi nasibnya. Sementara Bapaknya Bramantyo, tengah sibuk merintis usaha yang selama ini di andalkan menghidupi keluarga dengan empat orang anak itu. Disaat teman sebayanya tengah asyik dengan segala aktivitas dunia remaja sepulang sekolah, Anisha harus bergegas pulang ke rumah, menyiapkan segala keperluan adik- adiknya. Disaat teman sebayanya masih bergumul manja dengan selimut di tempat tidur mereka, Anisha telah bangkit menyiapkan segala keperluan ketiga adik. Ia harus memastikan bahwa semua aman terkendali, selama ia tinggalkan sekolah nanti. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN