Disaat teman sebayanya tengah asyik dengan segala aktivitas dunia remaja sepulang sekolah, Anisha harus bergegas pulang ke rumah, menyiapkan segala keperluan adik- adiknya. Hanya kepentingan organisasi yang tak ia hentikan. Itulah aktivitas yang bisa sedikit menghiburnya.
Disaat teman sebayanya masih bergumul manja dengan selimut di tempat tidur mereka, Anisha telah bangkit menyiapkan segala keperluan ketiga adiknya. Ia harus memastikan bahwa semua aman terkendali, selama ia tinggalkannya sekolah nanti.
Tapi bukan hal itu ujian Anisha yang sebenarnya.
Waktu terus berjalan, berbagai konflik singgah di harinya, biarlah fisiknya lelah, itu tak mengapa. Toh ia pun bisa jalani dengan seimbang antara kesibukan disekolah dan rumahnya.
Sungguh dalamnya dasar hati manusia tak ada yang mampu menduganya.
Anisha fikir isi dunia ini hanya dua jenis manusia saja, yakni jahat dan baik. Tapi ternyata kehidupan membukakan tabir itu di depan matanya. gadis rapuh itu mulai mengenal jenis manusia baru, dan itu adalah jenis manusia yang pura- pura baik.
Emosinya benar- benar dipermainkan saat itu. Tanpa ia tahu dengan siapa ia dapat berbagi segala kemelut di hatinya.
Wajah dunia terpampang nyata di depan matanya. Tak jarang orang yang ia hormati, malah menjerumuskannya dalam masalah, hanya untuk menarik simpati dari sosok Bramantyo.
Sungguh fase labil masa remaja yang benar- benar penuh dengan goncangan
***
"Berhenti menyentuh apa yang bukan pekerjaan mu..!" Amarah Anisha memuncak, saat menyaksikan kekacauan di rumahnya.
Nasi gosong dan teko air yang bagian plastiknya telah luruh kedasar teko.
Sontak Mak Iroh, yang ternyata, orang yang memiliki ulah itu bangkit angkat kaki tanpa kata.
---
Muak..?!
Tentu saja. Itu yang dirasakannya. Bukan karena materi yang rusak di hadapan hadapannya. Namun sifat Mak Iroh. Terlebih saat di ketahuinya Mak Iroh yang tiada lain adalah adik kembar dari kakeknya sendiri, memutar balikan fakta yang sebenarnya di hadapan Bramantyo.
---
"Anisha! Jaga sopan santun mu! Kamu itu harus belajar hargai orang yang membantu mu. Bukan malah kurang ajar seperti ini..!!" Bentak Bramantyo geram.
Anisha ternganga, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Bapaknya, membentaknya untuk sebuah kesalahan yang sama sekali tidak dicari kebenarannya dulu dari mulut Anisha.
Hancur?!
Sudahlah tentu. Biduk hati remajanya terluka. Dadanya sesak melebihi apapun rasa sakit yang pernah di alaminya sepanjang hidup.
Bukan hanya satu, dua atau tiga kali kejadian itu terulang. Bahkan seluruh warga desanya mendapatkan kabar yang berasal dari mulut busuk Mak Iroh.
Berbagai karangan bebas Mak Iroh mengalir, meluncur dengan lancar dari mulutnya. Begitu lihai merangkai setiap kalimat. Seolah tanpa beban, telah memilih lawan yang usianya berlipat kali jauh di bawahnya. Bagaimana tidak Anisha memang cucunya, meskipun salah satu dari kedua orang tuanya tidak lahir dari rahimnya.
Sungguh bukan lawan yang sepadan.
Hanya air mata yang selalu temani Anisha saat itu.
Menangis dalam diam.
Menjerit dalam keheningan.
Tak ada yang bisa ia percaya untuk sekedar ungkapkan bahwa 'aku tak bersalah'. Karena bahkan Bapaknya sendiripun tak mempercayainya.
Terpuruk, seorang diri. Tanpa ada yang menguatkan.
Namun...
Pada akhirnya ia sadar. Tak ada gunanya ratapi semua itu. Karena yang dapat menolongnya hanyalah Dia. Bukan manusia lain yang memiliki keterbatasan pandangan, bahkan tak bisa membedakan mana kebohongan, dan mana kebenaran.
Sejak saat itu, tak pernah lagi Anisha membuka vokalnya, menceritakan kondisinya pada siapapun. Hilanglah sosok periang yang menyenangkan itu, sosok gadis yang mampu seketika menarik hati Anton Si Pria Populer dengan seejuta pesona. Karena ternyata banyak Mak iroh lain disekitarnya. Yang dengan senang hati kembali mengorbankan Anisha demi tercapai tujuan pribadinya.
Bahkan hingga Bobby yang notabene adik tiri ibu kandungnya sendiri berusaha melecehkannya secara seksual. Anisha menggenggam semuanya seorang diri. Ia bertahan dengan caranya sendiri. Menjerit memohon pertolongan-Nya.
Hampir setiap malam teror itu terjadi, suara godoran dipintu gubuk reot yang merupakan rumah keluarganya. Tentu saja Anisha tahu siapa pelakunya. Tubuh ringkih itu menggigil ketakutan. Memeluk erat lututnya sendiri.
Ingin menjerit?!
Meminta tolong?!
Rasanya itu bukan pilihan yang tepat.
Tak ada gunanya ia berkoar meminta perlindungan kepada siapapun, kepada manusia mana pun. Karena yang ada dia sendiri yang akan dipojokkan pada akhirnya.
Mengapa?!
Tentu saja, karena seluruh penduduk desa tahu se'alim' apa sosok Bobby, yang selalu aktif dalam kegiatan sosial, keagamaan mulai dari pengajian anak- anak, hingga dewasa, bahkan memegang beberapa jabatan penting karang taruna dan kepengurusan desa. Lalu siapa Anisha dibandingkan semua itu?.
'Hanya gadis kecil yang lemah'.
Begitulah yang ia rasakan saat itu.
***
Waktu terus berjalan, hingga pada akhirnya Anisha terpaksa harus meninggalkan adik adiknya. Karena meneruskan pendidikannya ke jenjang SMA, sementara sang Ibu belum tiba dibatas waktu yang dijanjikannya untuk kembali.
Dilema, bimbang, takut dan lainnya bergulung- gulung membuat pusara kegelisahan dalamnya hati Anisha.
Di satu sisi ia tidak kuasa tinggalkan adik- adiknya. Disisi lain ia tak boleh menyerah untuk masa depannya, karena di desa itu masih sangat jarang sebayanya yang mendapat kesempatan sekolah lebih tinggi. Bahkan Maharani, si siswi langganan juara umum di sekolahnya. Tak seberuntung Anisha.
Namun...
Pada akhirnya, hanya harus selalu ada satu pilihan yang jadi keputusan. Hidup tak izinkan kita genggam dua hal secara bersamaan. Dan Anisha memilih lanjutkan sekolahnya.
---
"Nis, kenapa kamu harus sekolah jauh- jauh?! Tempat yang jadi sekolah kamu itu jauh, hampir dekat perbatasan kota.., sudahlah cari yang dekat saja" Ujar Bramantyo. Saat Anisha memberikan surat bukti dirinya di terima dari SMA Negeri 3.
Anisha yang tak tahu apapun. Hanya termangu. Kerena memang ia tak tahu dimana tepatnya lokasi itu. Hanya berharap yang terbaik untuk masa depannya.
---
Diluar dugaan akhirnya Bramantyo menyetujui Anisha masuk SMA Negeri 3. Kerena ternyata tempatnya cukup dekat dengan lokasi tempat usaha yang dijalankannya.
Kemarin Bram hanya salah persepsi, mengira tempat itu di perbatasan kota. Padahal ternyata tempatnya tak jauh dari pusat kota. Ia salah mengira. Hanya karena nama kedua tempat itu hampir sama.
---
"Bi, titip adik- adikku ya..." Anisha memeluk Bibinya, sebelum berangkat. Bulir bening mengiringi prosesi perpisahan itu, dengan rasa yang hanya dia sendiri yang tahu. Setidaknya bibirnya ini bisa sedikit ia percaya.
"Ck.., kaya yang mo pergi kemana aja, pake nangis segala.." Cibrian tetangga mendarat sempurna di telinga Anisha. Namun diabaikannya. Ada hal jauh lebih penting daripada mengurusi semua nyinyiran itu.
Dipeluknya satu persatu ketiga adiknya. Dibisikan pesan khas seorang kakak terhadap adiknya. Tak ada air mata lagi yang menemaninya. Seolah semua air matanya habis mengering.
Hatinya bertekad untuk lebih kuat hadapi semua ini.
***