"Astaga, Di. Kamu nggak apa-apa, Nak?" Suara ayah Diandra membuat kedua orang yang tertidur sambil saling bersandar itu pun akhirnya terbangun. "Ayah?!" pekik Diandra. Qiandra yang sebelumnya belum begitu sadar dengan kehadiran ayah Diandra itu ikut terperanjat karena pekikan wanita di sebelahnya. "Ya Tuhan. Maaf, Tuan. Saya terjebak bersama putri anda di sini." Namun, perkataan Qiandra tak serta merta dipercaya oleh ayah Diandra yang melirik jas hujan dan payung yang tersimpan di sudut gazebo. Menyadari hal itu, Qiandra langsung mencari alasan selogis mungkin. "Saya tengah mencari kalung saya yang terjatuh tadi. Lalu, tidak sengaja bertemu dengan putri anda di sini. Karena hujan deras dan putri anda tampak ketakutan, jadi saya tidak tega meninggalkannya di sini." Qiandra mengambil

