10. Ketua dan Wakilnya

1086 Kata
Remaja perempuan yang sedang memegang cangkir dengan motif hati serta ada gambar sepasang kekasih yang sedang duduk berdua di atas ayunan itu menatap bagaimana mendungnya kota metropolitan yang sudah hampir lima belas tahun ini menjadi latar hidupnya. Dalam mendung yang tak selamanya menandakan akan selalu hujan itu pun di kota serba ada ini masih padat rayap, bahkan waktu sudah mau menandakan solat keempat akan datang. Mungkin sebagian besar dari mereka yang sedang mencari jalan pintas di ibu kota adalah para pegawai kantor atau orang kerja yang baru saja kembali dari aktivitas mencari uangnya. Mungkin juga sebagian besar dari mereka adalah anak sekolahan yang baru saja pulang dari tempat les.   Coklat panas saat ini menjadi saksi bagaimana hati Rintik sama persis suasananya dengan kota ini, mendung. Ya, sama-sama mendung. Percakapan kemarin dengan Naya masih bisa Rintik pikirkan, padahal dua puluh empat jam pun sudah berlalu. Memang ya, masalah masa lalu selalu menjadi pembahasan paling sensitif bagi remaja ayu itu. Segalanya yang pernah membuat ia sakit hati selalu ia berusaha untuk lupakan seolah menghindar dari serangan. Dua tahun lalu adalah masa di mana Rintik berubah seratus delapan puluh derajat, Rintik yang semula care pada orang lain saat ini menjadi tidak peduli bahkan dingin dan dijuluki bodo amat. Rintik yang dulunya selalu tersenyum manis sehingga membuat semua orang nyaman padanya saat ini yang ada justru senyuman dingin bak tak tersentuh sedikit pun. Itulah awal mulanya, awal mula Rintik menjadi seperti sekarang.   “Rin!”   Rintik benci masa itu, Rintik benci masa di mana ia sakit hati karena seorang lelaki b******k yang mempermainkan hatinya. Apakah lelaki di dunia ini tidak ada yang seperti ayahnya? Lelaki baik nan gigih dalam mencari uang untuk menghidupi keluarganya, lelaki yang tak suka tebar pesona di mana-mana. Nampaknya yang Rintik temui selalu si b******k yang membuatnya mati rasa terus-terusan. Masalah cinta yang semula Rintik anggap menyenangkan, saat ini Rintik anggap beban. Hanya menambah pikiran saja. Tidak ada gunanya. Masih banyak tujuan yang harus Rintik capai, dan cinta tidak akan membuatnya mencapai tujuan itu semua. Sudah dua tahun lamanya Rintik berusaha menutup hati dan kini buktinya berhasil juga. Semuanya bisa terlaksana sesuai dengan yang Rintik inginkan.   “Rintik!” Tepukan pada pundak Rintik serta panggilan membuat gadis itu kaget bukan main, tangannya ia usap dengan lembut. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang bak maling yang ketahuan.   “Astaghfirullah, Tera. Lo mau bikin gue mati karena kaget apa gimana, sih? Ngagetin aja perasaan,” keluh gadis yang masih memegang cangkir itu.   “Gue udah manggil lo dari tadi, Sayang. Lo aja yang asik bengong.” Tera, gadis dengan rambut hitam legam yang membawa satu nampan berisikan dua mangkuk mie rebus itu duduk di sebelah Rintik. “Emang sahabat gue yang satu ini lagi mikirin apa sih? Kok kayaknya fokus banget gitu sampai gue panggil berkali-kali enggak denger,” lanjutnya dengan bertanya.   Rintik menghiraukan apa yang ditanyakan oleh Teratai, ia justru langsung mengambil mangkuk kesayangannya dan memakan mie rebus yang sudah dibuatkan khusus oleh sahabatnya itu. “Thank you, Babe. Mie rebus di mendung kayak gini emang paling enak.”   “Udah enggak mendung lagi, udah ujan malah,” koreksi Teratai sembari menunjuk jendela yang ada di belakang Rintik.   Benar ternyata apa yang Teratai katakan, hujan sudah tiba tak lagi sebatas mendung saja. Agaknya langit sedang tidak baik-baik saja dan turut menangis seperti perasaan Rintik saat ini.   “Mendung aja udah ujan, tapi gue sama dia masih belum jadian. Emang ya manusia, bilangnya berjuang tapi enggak pernah kasih kepastian. Sebel banget gue,” gerutu Teratai dengan sedikit membanting sumpitnya. Wajah anak remaja sepantaran Rintik itu memerah, namun bukan karena semuan, tetapi karena amarah yang nampaknya membendung. “Huh ... astaghfirullah, andai aja gue enggak cinta sama lo, udah gue buang lo jauh-jauh dari hidup gue, gak bakalan gue bales chat lo lagi, tapi sayangnya gue b**o binti bucin sama dia.”   Astaga, tidak bisakah Rintik dijauhi sebentar dari orang-orang bucin seperti Tera dan Naya? Rintik saja masih galau seperti ini pasca mengingat masa lalu, ditambah para orang-orang bucin yang sedang sakit hati curhat kepadanya. Rintik saja tidak tahu solusi untuk dirinya sendiri bagaimana, apalagi solusi untuk orang lain, Tuhan.   “Si kakak kelas itu?” respon Rintik dengan menikmati sesuap mie rebus buatan Tera yang tak ada tandingannya. Tera memang pandai memasak, ia selalu menjadi andalan di saat seperti ini. Rintik pun jauh menyukai masakan Tera yang memang terbukti enak dibandingkan dengan masakannya sendiri yang hanya ala kadarnya saja.   “Kakak kelas sih kakak kelas, tapi dia punya nama kali, Rin. Lo kan sahabat gue, masa lo gak tau siapa doi gue, sih?” sembur Tera dengan nada kesal.   “Ya kan yang sahabatan sama gue itu lo, bukan doi lo, jadi enggak ada kewajiban buat gue tau nama doi lo, dong? Gue enggak tau sama sekali dan enggak mau tau juga, sih!”   Teratai mengambil napas panjang, memiliki sahabat seperti Rintik memang membutuhkan banyak kesabaran. Bodo amat dan dingin serta tak lupa juga tidak dapat tersentuh. Rintik bahkan tak pernah peduli jika ada orang yang sakit hati atau patah hati karena sifatnya, tak pernah pandang bulu menandakan ketangguhan dalam diri Rintik memang kentara dan ada buktinya.   “Yang ketua futsal itu, kan? Siapa sih namanya? Alya atau siapa?” Tabokan di kepala Rintik berasal dari Tera yang sedang menggeram kesal. Gadis itu sampai memelototkan matanya tajam pada sang ketua tim jurnalistik itu.   “Lo bisa gak sih bikin gue enggak emosi? Sebel banget deh gue sama lo, perasaan gue lagi cerita supaya lo dengerin, syukur-syukur aja bisa kasih solusi atau saran, bukannya malah bikin gue makin kesel gini astaga!” omel Tera dengan kepalan tangan yang dibarengi kepala dibenturkan ke meja. “Arya, namanya Arya. Bukan Alya, si anak emas guru masa iya sih enggak bisa bedain mana nama buat cewek dan mana nama buat cowok? Masa gak ngerti hal sesimpel itu, hah?”   Rintik semakin membuat Tera sebal dengan mengangkat kedua bahunya tanda tak mengerti. Gadis itu justru semakin nikmat melanjutkan makanannya sampai habis tanpa memedulikan omelan Tera yang semakin membabi buta. Memang seharusnya Rintik bisa memfilter apa yang harus ia lakukan dan sikap apa yang harus ia tampilkan sesuai dengan lawan bicaranya. Cari mati saja dengan orang yang sedang kesal nan galau justru disengiti demikian. Kendati begitu, nampaknya Rintik tak pernah kapok sama sekali membuat Tera kesal, dibuktikan dengan gadis itu yang meringis tak berdosa. “Nanti gue kasih tau sama Alya deh ya supaya kasih lo kepastian, kasian banget sahabat gue ini digantung kayak jemuran yang enggak kering-kering.”   “Arya, Rintik! Bukan Alya!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN